BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul di Cheese Boutique by Rosalie, Denpasar, Sabtu, 3 Oktober 2026, kegiatan mencicipi keju menjadi lebih dari sekadar mencari mana yang enak dan mana yang tidak.
Ada yang datang sendiri, bersama teman, hingga membawa keluarga. Mereka duduk mengelilingi meja yang dipenuhi berbagai jenis keju beserta pendampingnya. Satu per satu keju dicicipi dan dipasangkan mengikuti panduan Rosalie Cheese. Peserta mengamati bagaimana rasa keju berubah ketika bertemu dengan pendamping yang berbeda, sekaligus mengenali karakter rasa, tekstur, dan aromanya.


Menikmati keju tidak selalu harus dimulai dari jenis yang paling kuat. Dalam pengalaman mencicipi yang dipandu Rosalie Cheese, peserta diperkenalkan pada cara mengenali karakter setiap keju sekaligus mencari pasangan yang sesuai. Rosalie menawarkan berbagai pengalaman pairing, antara lain dengan fruit preserves, madu, dan bahan-bahan lain. Beberapa produknya juga dipadukan dengan buah, crackers, dan Arenga nectar.
Setelah sesi pairing, pengalaman berlanjut dengan roti-roti yang akrab dalam tradisi kuliner Prancis, seperti croissant, baguette, dan olive bread. Keju kemudian dicicipi bersama roti, menghadirkan pengalaman lain tentang bagaimana tekstur dan rasa dapat berubah ketika disantap bersama makanan pendamping.
Pintu Masuk Mengenal Budaya
Bagi Verarika Sidabutar, pengalaman mencicipi makanan Prancis bukan sesuatu yang ingin ia simpan untuk dirinya sendiri. Sejak 2011, ia bekerja sebagai tour guide berbahasa Prancis. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di bidang Pendidikan Bahasa Prancis. Pengalaman tersebut membuatnya ingin membawa anak dan keluarganya lebih dekat dengan budaya Prancis melalui makanan.
“Memberi kenangan positif dan membuka jendela untuk mereka lebih berani bermimpi lebih luas,” ujar Verarika ketika menceritakan kesannya mengikuti kegiatan tersebut.


Menurutnya, keju juga dapat menjadi cara sederhana untuk mengenalkan bahwa setiap budaya memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Keju mungkin bukan makanan yang umum dikonsumsi sehari-hari oleh banyak orang Indonesia, tetapi Indonesia sendiri memiliki tradisi olahan susu yang khas. Salah satunya adalah Dali ni Horbo, makanan tradisional masyarakat Batak di Sumatra Utara yang dibuat dari susu kerbau dan kerap disebut sebagai keju Batak.
Karena itu, menurut Verarika, mengenal keju tidak berarti harus langsung menyukai semua jenisnya. Ia sendiri bersyukur pernah mencicipi berbagai keju, seperti Gorgonzola, Gouda, Camembert, Comté, dan Brie.
Mengenal keju, baginya, merupakan perjalanan yang dilakukan sedikit demi sedikit sampai lidah terbiasa dengan rasa yang sebelumnya terasa asing. Pengalaman itu juga ia bawa kepada anak-anaknya. Bagi mereka, mencoba berbagai jenis keju menjadi kesempatan untuk mengenal beragam rasa sejak dini. Mereka dapat menemukan sendiri makanan yang disukai tanpa harus menganggap bahwa setiap rasa baru harus langsung diterima.
Ada yang Suka, Ada yang Belum Terbiasa
Pengalaman mencicipi keju memang tidak selalu berakhir dengan setiap orang menemukan keju favoritnya.
Trishna, misalnya, menyukai Lucie in Bali versi Camembert, serta Chevre dan Black & White. Sementara itu, Valerie mencoba hampir semuanya sedikit demi sedikit, meskipun sebagian besar cicipannya kemudian diberikan kepada sang papa.
“Kalau saucisson, jangan ditanya, akan lenyap, tak akan berjejak. Demikian juga dengan pâté,” ujar Verarika sambil bercerita tentang makanan yang justru cepat habis di keluarganya.



Bagi Verarika, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tidak menyukai keju bukan berarti seseorang tidak dapat menikmati gastronomi Prancis. Bahkan, orang Prancis sendiri memiliki selera yang berbeda-beda.
Gastronomi Prancis memang dikenal luas melalui makanan seperti baguette, keju, anggur, dan croissant. Namun, kekayaan kulinernya juga tumbuh dari keberagaman setiap daerah, yang memiliki makanan dan tradisinya sendiri.
Begitu pula dengan cara seseorang menikmati rasa. Bagi sebagian orang Indonesia, keju dengan aroma dan rasa yang kuat mungkin terasa asing. Verarika mengibaratkannya dengan pengalaman sebagian orang Prancis ketika mencicipi durian untuk pertama kali. Keduanya sama-sama membutuhkan kebiasaan dan pengalaman sebelum dapat diterima oleh lidah.
“Semua hanya soal kebiasaan dan bagaimana lidah kita sudah terbiasa dengan rempah-rempah, bukan dengan keju,” katanya.
Mengenal Keju yang Dibuat di Bali
Pengalaman di Cheese Boutique by Rosalie juga mempertemukan peserta dengan keju yang diproduksi secara lokal. Rosalie Cheese membuat berbagai jenis keju menggunakan susu yang bersumber dari peternak di Jawa dan Bali, kemudian mengolahnya menjadi produk dengan karakter yang berbeda-beda.
Karena itu, Cheese Tasting & Pairing tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenal cara menikmati keju, tetapi juga melihat bagaimana produk gastronomi dapat dibuat dan dikembangkan di Indonesia.

Dua belas peserta yang datang pada sore itu mungkin pulang dengan kesukaan yang berbeda. Ada yang menemukan keju favorit, ada yang lebih menyukai roti dan saucisson, dan mungkin ada pula yang masih belum terbiasa dengan rasa keju tertentu.
Namun, pengalaman tersebut meninggalkan satu hal yang sama: kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa asing.
Rangkaian Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week 2026 di Bali ditutup melalui pertemuan kecil di meja makan. Dari keju lokal, roti Prancis, hingga cerita tentang keluarga dan perjalanan budaya, gastronomi menjadi ruang untuk saling mengenal, mencoba, dan menemukan rasa yang mungkin sebelumnya belum pernah ditemui.[T]
Sumber/Penulis: Rilis/Rusdy Ulu
Editor: Jaswanto






























