PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah warung kopi yang sejak lama menjadi tempat persinggahan warga kota. Tidak ada papan nama. Tidak ada desain interior untuk menarik pengunjung. Tidak ada promosi di media sosial. Bahkan, orang-orang yang datang ke sana sepertinya tidak terlalu peduli dengan pertanyaan tentang siapa pemiliknya, sejak kapan warung itu berdiri, atau apa nama kedainya. Mereka cukup tahu tempatnya. Mereka datang, duduk, memesan kopi, berbincang, tertawa, kemudian pulang.
Warung ini mungkin sudah melewati tiga atau empat generasi. Ia berada di bawah sebuah blok pertokoan tua peninggalan zaman Belanda. Letaknya di sebelah timur gedung Bank BNI, berhadapan dengan gardu listrik peninggalan masa kolonial. Bangunannya mungkin tidak pernah masuk dalam daftar tempat bersejarah di Singaraja. Namun, justru di tempat yang tidak banyak diperhatikan inilah salah satu sejarah kecil kebudayaan kota terus berlangsung.
Ada yang datang dengan cerita, ada yang membawa kabar, ada yang sekadar menanyakan keadaan seseorang. Percakapan berlangsung tanpa susunan acara. Canda dan pertanyaan basa-basi menjadi bagian dari kenikmatan pagi. Tidak ada tuntutan untuk selalu membicarakan sesuatu yang penting. Tidak ada keharusan untuk menunjukkan pengetahuan atau kesibukan. Orang-orang duduk berdekatan, saling menyapa, dan tertawa. Kopi terasa semakin nikmat ketika ditemani dua atau tiga telur ayam kampung setengah matang. Telur itu diberi sedikit garam halus dan merica bubuk. Sederhana, tetapi nikmatnya tidak memerlukan penjelasan panjang.
Jauh sebelum Singaraja berkembang sebagai pusat pemerintahan kolonial, pesisir Bali utara telah menjadi bagian dari jaringan perhubungan maritim internasional era prasejarah. Pada awal abad pertama Masehi, kawasan pesisir timur Buleleng, dari sekitar Kubutambahan hingga Pacung dan Tejakula, telah memiliki sejumlah pelabuhan alam yang memungkinkan berlangsungnya hubungan perdagangan. Laut merupakan jalan yang menghubungkan dengan berbagai wilayah perdagangan di Asia.
Kehadiran para pedagang dari Tiongkok dalam sejarah perdagangan Bali utara merupakan bagian dari hubungan panjang tersebut. Barang-barang dari luar masuk melalui jalur laut, sementara berbagai hasil bumi Bali dibawa keluar. Pelabuhan Buleleng kemudian berkembang menjadi salah satu pintu penting bagi hubungan perdagangan dan pergerakan manusia. Berbagai komoditas, mulai dari hasil perkebunan hingga ternak, menjadi bagian dari kegiatan perdagangan. Barang-barang seperti porselen, ranjang kayu berukir, keramik, guci, kain, dan candu masuk melalui jaringan perdagangan tersebut. Bahkan, perdagangan budak belian Bali juga menjadi bagian kelam dari sejarah perdagangan masa lalu.
Dengan letaknya di tepi laut, Singaraja memiliki karakter sebagai kota yang berpintu depan ke perairan. Dalam pengertian ini, Singaraja dapat dirancang sebagai sebuah waterfront city, kota yang kehidupan sosial dan ekonominya memiliki hubungan erat dengan pelabuhan. Orang datang dan pergi melalui laut. Barang-barang bergerak melintasi pelabuhan. Kebudayaan pun tumbuh melalui perjumpaan berbagai kelompok manusia.
Ketika pemerintahan kolonial Belanda berkembang di Bali utara, posisi Pelabuhan Buleleng semakin penting. Pelabuhan ini melayani perdagangan, menjadi pintu masuk bagi orang-orang Eropa yang datang ke Bali. Pada masa awal perkembangan pariwisata, wisatawan Eropa, terutama Belanda, mulai memasuki Bali melalui pelabuhan ini. Dari Singaraja, perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju kawasan pegunungan, termasuk Kintamani, sebelum berkembangnya jalur-jalur wisata yang lebih berorientasi ke Bali selatan.

Singaraja kota administratif kolonial merupakan ruang perjumpaan berbagai manusia dan kebudayaan. Orang Tionghoa, Bugis, India, Madura, Jawa, dan Melayu, bagian dari kehidupan kota pesisir ini. Mereka membawa bahasa, kebiasaan, pekerjaan, makanan, dan tradisi masing-masing. Dalam suasana kota yang kosmopolitan semacam itulah minum kopi di warung-warung kecil dapat dipahami sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Kopi sendiri memiliki hubungan erat dengan sejarah perkebunan kolonial di Bali utara. Di kawasan pegunungan Buleleng, perkebunan kopi berkembang dan menghasilkan komoditas yang diperdagangkan melalui Pelabuhan Buleleng. Dari perkebunan-perkebunan itu, kopi bergerak menuju pelabuhan, kemudian masuk ke dalam jaringan perdagangan yang lebih luas.
Namun, kopi tidak selalu harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh nilai guna. Sebagian dapat diolah dan dikonsumsi di kota ini. Biji kopi disangrai, kemudian ditumbuk hingga menghasilkan bubuk kopi yang siap seduh. Dari kegiatan sederhana ini, kebiasaan menikmati kopi di warung kecil menemukan ruang hidup. Warga kota terbiasa mendatangi warung kopi sejak pagi.
Dalam sejarah kecil warung kopi di sekitar Pelabuhan Buleleng, warga keturunan Tionghoa patut mendapat perhatian. Mereka merupakan bagian dari masyarakat yang telah lama bermukim dan menjalankan kegiatan perdagangan di kawasan tersebut. Sangat mungkin bahwa keterampilan mengolah dan memperdagangkan kopi, bersama dengan kebiasaan membuka usaha makanan dan minuman, ikut membentuk perkembangan warung-warung kopi di Singaraja. Warung yang kini masih bertahan di Jalan Surapati dapat dibaca sebagai salah satu jejak kehidupan sosial tersebut. Tentu saja, sejarah pendiriannya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Menariknya, Bali tidak dikenal memiliki tradisi warung kopi setua dan sekuat beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Sumatera. Akan tetapi, kenyataan itu tidak berarti masyarakat Singaraja baru mengenal kebiasaan minum kopi pada zaman sekarang. Warung tua di Jalan Surapati menjadi pengingat bahwa tradisi tersebut telah memiliki sejarahnya sendiri. Sejarah yang tidak selalu tertulis dalam buku, tidak selalu dikenang dalam perayaan kota, dan bahkan tidak memiliki nama tempat yang bisa disebutkan kepada orang lain.
Hari ini, Singaraja berubah. Pasar Senggol mengalami perubahan bentuk dan pengelolaan. Tempat-tempat makan dan minum tumbuh dengan berbagai konsep baru. Coffee shop hadir di banyak sudut kota, menggunakan nama-nama yang menarik, menawarkan desain ruang yang modern, dan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau pengunjung. Kopi menjadi bagian dari gaya hidup generasi baru. Orang datang untuk menikmati racikan tertentu, mengambil gambar, mengunggah pengalaman, atau bekerja dengan laptop di antara suara musik dan jaringan internet.
Di warung tua Jalan Surapati, orang tidak datang untuk mengasingkan diri di balik layar laptop. Mereka tidak perlu mencari sudut yang paling nyaman untuk bekerja sendirian. Tidak ada kebutuhan untuk membangun citra diri melalui foto secangkir kopi. Mereka datang untuk bertemu. Percakapan menjadi bagian utama dari pengalaman minum kopi. Bahkan, orang yang semula tidak saling mengenal dapat terlibat dalam obrolan yang mengalir begitu saja.
Perbedaan kebudayaan ruang itu terasa. Di satu tempat, kopi dapat menjadi teman kesendirian. Di tempat lain, kopi justru menjadi alasan untuk mengakhiri kesendirian. Yang satu memberi ruang bagi individu untuk menikmati dunianya sendiri, sedangkan yang lain mempertemukan orang-orang dalam kehidupan bersama.
Warung kopi tak bernama itu mungkin tidak menawarkan banyak pilihan menu. Ia juga tidak memiliki fasilitas yang membuatnya mudah dipromosikan sebagai destinasi gaya hidup. Ia memiliki sesuatu yang semakin sulit ditemukan di tengah kehidupan digital: kehangatan dan perjumpaan yang berlangsung tanpa perantara layar.
Warung tua tersebut menyimpan nilai kebudayaan yang penting. Ia mempertahankan kebiasaan minum kopi. Ia merawat cara lama manusia membangun hubungan sosial. Orang tidak perlu membuat janji melalui aplikasi untuk bertemu. Tidak perlu mengirim pesan terlebih dahulu untuk memastikan siapa yang hadir. Cukup datang pada pagi hari. Kemungkinan besar, beberapa wajah yang dikenal sudah duduk di sana.
Singaraja pernah menjadi kota yang menerima manusia dari berbagai penjuru dunia melalui pelabuhannya. Kini, di sebuah warung kecil di Jalan Surapati, keterbukaan itu masih dapat ditemukan dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: orang-orang yang datang dari berbagai kehidupan, duduk berdekatan, berbagi cerita, dan menikmati kopi.
Dari pelabuhan menuju warung kopi, sejarah Singaraja seolah memperlihatkan dua macam pintu. Pelabuhan dahulu menjadi pintu masuk barang, manusia, dan kebudayaan dari dunia luar. Warung kopi hari ini menjadi pintu masuk bagi percakapan, persahabatan, dan ingatan bersama.
Tidak perlu mengetahui nama warung itu untuk keberadaannya. Sebab, ada tempat-tempat yang justru bertahan bukan karena namanya terkenal, melainkan karena orang-orang terus datang dan menghidupkannya.
Pagi itu, kopi kembali ditubruk. Telur ayam kampung setengah matang kembali disajikan. Orang-orang kembali bercanda dan tertawa. Di luar sana, Singaraja terus bergerak mengikuti zaman. Namun, di bawah bangunan toko tua Jalan Surapati, kehidupan kota memiliki denyut yang tidak digantikan layar digital.
Kopi adalah cara orang-orang Singaraja merawat kebersamaan.[T]





























