1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
in Kuliner
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Ilustrasi pinterest

“BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo .” (Bu, saya hanya membawa lalaban daun pepaya ya? Lha hanya itu yang ada di rumah.)

“Mboten  nopo-nopo. Mengko njenengan nggih dhahar tempe bacem, walang goreng, jangan  lombok ijo. Yen kumpul ngene kabeh nggo barengan.” (Tidak apa-apa. Nanti bapak silakan menikmati tempe bacem, belalang goreng, sayur lombok ijo. Kalau kumpul begini semua untuk  kita bersama.)

Lelaki tua itu tersenyum. Tikar pandan mulai dipenuhi besek, tampah, dan rantang yang datang dari berbagai arah. Ada yang membawa tiwul hangat, ada pula yang hanya membawa rebusan daun pepaya dan daun kenikir yang dipetik dari halaman rumah.  Untuk sambal bawang biasanya dibuat mendadak ketika  warga sudah berkumpul dan siap menata makanan yang  dibawa. Jadi, dari rumah warga membawa cobek, ulekan, beserta kroni-kroni keluarga sambal: cabai rawit, bawang putih, dan garam.

Tak ada daftar siapa membawa apa. Tak ada hitung-hitungan siapa memberi lebih banyak. Semua makanan itu kemudian diletakkan di atas selembar pelepah daun pisang yang lebar  di atas tikar. Warga kemudian duduk bersila di depannya, lalu menyantap bersama.

Di Wonosari, Gunungkidul, tradisi sederhana itu dikenal sebagai Sambelan. Barangkali bagi orang luar, Sambelan hanyalah makan bersama dengan sambal bawang sebagai menu utama. Namun, bagi masyarakat yang menjalaninya, ia jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas mengisi perut. Sambelan adalah cara masyarakat memelihara kerukunan melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Fenomenologi mengajarkan bahwa makna tidak pernah melekat begitu saja pada sebuah benda. Makna lahir dari pengalaman hidup manusia ketika berjumpa dengan benda tersebut. Sambal, dalam tradisi Sambelan, bukan lagi sekadar campuran cabai, bawang, garam, dan terasi. Ia berubah menjadi pengalaman bersama. Pedasnya bukan hanya sensasi di lidah, melainkan pengikat percakapan yang membuat orang bertahan duduk lebih lama di atas tikar.

Di sinilah semiotika mulai berbicara. Secara denotatif, sambal hanyalah pelengkap makanan. Tetapi pada tingkat konotasi, sambal menjadi penanda kehidupan masyarakat Gunungkidul sendiri. Cabai yang pedas seolah melambangkan kerasnya alam karst yang selama berabad-abad membentuk karakter warganya. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu ada cara untuk membuatnya terasa nikmat.

Bahkan menu yang dibawa masing-masing warga pun merupakan simbol yang kaya makna. Tiwul, misalnya. Dahulu ia sering dipandang sebagai makanan pengganti nasi ketika masa paceklik. Kini dalam Sambelan, tiwul justru hadir dengan penuh kebanggaan. Ia menjadi penanda ingatan kolektif bahwa masyarakat Gunungkidul pernah bertahan dari keterbatasan tanpa kehilangan martabat.

Sego abang dan nasi jagung juga berbicara dalam bahasa yang sama. Keduanya mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada beras. Alam mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan apa yang tersedia.

Lalu ada kuluban. Barangkali inilah menu yang paling jujur dalam seluruh rangkaian Sambelan. Daun pepaya, daun katuk, daun singkong, daun kates, daun kenikir, atau dedaunan apa pun yang tumbuh di sekitar rumah direbus lalu dibawa ke lokasi makan bersama.

Dalam pembacaan semiotik, kuluban merupakan penanda kedekatan manusia dengan lingkungannya. Alam bukan sekadar penyedia bahan makanan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Apa yang tumbuh di pekarangan hari ini dapat menjadi hidangan bersama esok hari.

***

Yang menarik justru bukan pada jenis makanannya, melainkan cara makanan itu dipertemukan. Ada orang yang hanya mampu membawa kuluban. Ada yang membawa sambal bawang. Ada yang membawa ayam kampung goreng. Ada pula yang membawa tempe bacem atau sayur lombok ijo. Semuanya diletakkan menjadi satu.

Di sinilah Sambelan menghadirkan sebuah sistem “subsidi silang” yang berlangsung tanpa proposal, tanpa panitia, bahkan tanpa pembukuan. Orang yang hanya memiliki daun pepaya tetap menikmati lauk ayam kampung. Sebaliknya, orang yang membawa lauk terbaik tetap menikmati kuluban sederhana milik tetangganya.

Yang berpindah sebenarnya bukan hanya makanan. Yang berpindah adalah rasa memiliki. Dalam perspektif antropologi, praktik semacam ini memiliki akar panjang dalam kebudayaan Jawa. Berbagai penelitian mengenai kenduri, slametan, dan tradisi makan bersama menunjukkan bahwa pangan sering kali menjadi media untuk membangun solidaritas sosial. Clifford Geertz pernah menunjukkan bahwa slametan bukan sekadar jamuan makan, melainkan mekanisme budaya untuk menjaga keseimbangan hubungan antarmanusia.

Sambelan tampaknya berjalan pada logika yang serupa, meskipun tampil dalam bentuk yang lebih cair, lebih santai, dan lebih egaliter. Tidak ada tuan rumah yang benar-benar menjadi pusat. Tidak ada tamu yang merasa dilayani. Semua adalah pemilik acara sekaligus penikmatnya.

Fenomenolog Alfred Schutz menyebut dunia seperti ini sebagai lifeworld, dunia kehidupan sehari-hari yang dipenuhi makna karena dialami bersama. Sambelan bukan tradisi yang lahir dari aturan tertulis, melainkan dari kebiasaan yang terus diulang hingga menjadi kesadaran kolektif. Orang datang bukan karena diundang secara resmi, tetapi karena merasa menjadi bagian dari “kami”.

Menariknya lagi, hampir semua simbol dalam Sambelan justru menolak kemewahan. Tikar lebih penting daripada meja makan. Besek lebih akrab daripada piring porselen. Sambal lebih utama daripada menu yang mahal. Mengapa? Karena inti ritual ini bukan apa yang dimakan, melainkan dengan siapa makanan itu disantap.

Maurice Merleau-Ponty mengatakan bahwa tubuh manusia adalah cara utama kita mengalami dunia. Sambelan memperlihatkan hal itu secara nyata. Orang duduk lesehan dengan tubuh saling berdekatan. Tangan mengambil makanan dari hamparan yang sama. Mata saling bertemu. Tawa mengalir tanpa protokol. Tubuh menjadi medium pertama yang menghadirkan rasa kebersamaan.

Mungkin karena itu pula, kalimat yang paling sering terdengar dalam Sambelan bukanlah pujian terhadap makanannya. Melainkan ungkapan sederhana:

“Wareg kabeh…”

“Seneng kabeh…”

Kalimat itu tampak biasa saja. Namun sesungguhnya ia merangkum seluruh filsafat Sambelan. “Wareg” bukan semata-mata kenyang secara fisik. “Seneng” bukan hanya gembira karena makan enak. Keduanya berbicara tentang rasa cukup yang lahir karena manusia tidak sedang makan sendirian.

***

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, ketika makan sering dilakukan tergesa-gesa sambil menatap layar telepon genggam, Sambelan mengingatkan kita pada sesuatu yang mulai langka: bahwa makanan terbaik bukan selalu yang paling mahal, melainkan yang dimakan bersama orang-orang yang membuat kita merasa menjadi keluarga.

Barangkali itulah sebabnya masyarakat Gunungkidul tidak pernah benar-benar menyebut Sambelan sebagai sebuah ritual. Mereka hanya menyebutnya makan bersama.

Jika diamati sepintas, orang mungkin mengira Sambelan adalah bentuk sedekah. Seseorang membawa ayam kampung goreng, yang lain hanya membawa kuluban daun pepaya. Ada yang datang dengan tempe bacem, ada pula yang sekadar membawa sambal bawang hasil ulekan pagi itu. Bukankah yang membawa lebih banyak seolah “memberi” kepada yang membawa lebih sedikit?

Namun, ternyata bukan demikian cara masyarakat memaknainya. Antropolog Prancis Marcel Mauss, dalam karya monumentalnya The Gift (1925), menjelaskan bahwa pemberian dalam masyarakat tradisional hampir tidak pernah benar-benar “gratis”. Sebuah pemberian bukanlah transaksi ekonomi, tetapi juga bukan amal yang berhenti pada tindakan memberi. Di dalamnya terkandung tiga kewajiban sosial yang berjalan bersamaan: kewajiban memberi, kewajiban menerima, dan kewajiban membalas. Bukan balasan yang harus sama nilainya, melainkan kesediaan untuk tetap berada dalam lingkaran hubungan sosial.

Melalui kacamata Mauss, makanan yang dibawa ke Sambelan sesungguhnya adalah sebuah gift—hadiah sosial. Ketika seorang warga membawa kuluban karena hanya itu yang tersedia di rumahnya, ia tetap sedang memenuhi kewajiban sosialnya untuk hadir dan berbagi. Ketika warga lain membawa lauk yang lebih lengkap, ia pun tidak sedang menunjukkan kemurahan hati, melainkan sedang merawat ikatan yang suatu hari juga akan kembali kepadanya dalam bentuk yang mungkin berbeda.

Yang dipertukarkan sesungguhnya bukanlah lauk pauk. Yang dipertukarkan adalah kepercayaan. Tidak ada seorang pun yang mencatat siapa membawa ayam dan siapa membawa daun singkong. Tidak ada pula yang menghitung berapa rupiah nilai makanan yang terhidang di atas tikar. Namun seluruh warga menyimpan apa yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu kemudian disebut sebagai modal sosial: keyakinan bahwa ketika seseorang mengalami kekurangan, komunitas akan menjadi penyangganya.

Karena itu Sambelan tidak pernah melahirkan hubungan antara pemberi dan penerima. Yang lahir justru hubungan antarsesama.

Hari ini seseorang mungkin hanya membawa sambal bawang. Bulan depan ia bisa saja membawa belalang goreng hasil panen musiman. Tahun depan, ketika panen singkong melimpah, ia membawa tiwul untuk seluruh tetangga. Tidak pernah ada rasa malu karena membawa sedikit, sebab ukuran penghargaan bukan terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada kesediaan untuk tetap ikut duduk dalam lingkaran kebersamaan.

Dalam perspektif inilah Sambelan menjadi bentuk ekonomi yang berbeda dengan logika pasar. Pasar bertanya, “Berapa yang harus saya bayar agar memperoleh sesuatu?” Sambelan justru bertanya, “Apa yang bisa saya bawa agar kita semua dapat makan bersama?” Nilai sebuah makanan tidak lagi ditentukan oleh harga, tetapi oleh kemampuannya menghadirkan perjumpaan.

Mungkin karena itulah tradisi ini mampu bertahan dari generasi ke generasi. Ia tidak diwariskan melalui kitab atau peraturan desa, melainkan melalui pengalaman sederhana yang terus berulang. Seorang anak melihat ibunya membungkus tempe bacem untuk dibawa ke Sambelan. Ia melihat ayahnya memetik daun pepaya di belakang rumah. Ia menyaksikan semua makanan itu bercampur tanpa pernah dipersoalkan asal-usulnya. Tanpa disadari, ia sedang belajar bahwa hidup bermasyarakat bukan pertama-tama soal memiliki banyak, melainkan soal bersedia berbagi apa yang ada.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi logika kompetisi dan kepemilikan pribadi, Sambelan menghadirkan pelajaran yang terasa nyaris revolusioner: kekayaan sebuah komunitas tidak selalu diukur dari melimpahnya sumber daya, melainkan dari kuatnya kesediaan warganya untuk saling mempercayai.

Manusia memang tidak hanya hidup dari makanan. Manusia hidup dari perasaan bahwa di sekelilingnya masih ada orang-orang yang bersedia duduk dalam satu lingkaran, berbagi satu hidangan, dan berkata dengan tulus,“Wareg kabeh… seneng kabeh.” (Kenyang bersama-sama…senang bersama-sama)[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Jaswanto

Tags: GunungkidulTradisi SambelanWonosari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Next Post

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

by I Wayan Artika
October 31, 2026
0
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
0
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

Read moreDetails

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

Read moreDetails

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
September 4, 2026
0
Maklor dan Cilor, Jajanan Jadul yang Bertahan di Tikungan Jalan Merak Singaraja

MATAHARI pagi belum genap sejengkal naik ketika sebuah gerobak biru berhenti di pinggir Jalan Merak, Singaraja. Di belakangnya, truk-truk besar...

Read moreDetails

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
0
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

Read moreDetails

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co