9 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
in Kuliner
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Ilustrasi pinterest

“BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo .” (Bu, saya hanya membawa lalaban daun pepaya ya? Lha hanya itu yang ada di rumah.)

“Mboten  nopo-nopo. Mengko njenengan nggih dhahar tempe bacem, walang goreng, jangan  lombok ijo. Yen kumpul ngene kabeh nggo barengan.” (Tidak apa-apa. Nanti bapak silakan menikmati tempe bacem, belalang goreng, sayur lombok ijo. Kalau kumpul begini semua untuk  kita bersama.)

Lelaki tua itu tersenyum. Tikar pandan mulai dipenuhi besek, tampah, dan rantang yang datang dari berbagai arah. Ada yang membawa tiwul hangat, ada pula yang hanya membawa rebusan daun pepaya dan daun kenikir yang dipetik dari halaman rumah.  Untuk sambal bawang biasanya dibuat mendadak ketika  warga sudah berkumpul dan siap menata makanan yang  dibawa. Jadi, dari rumah warga membawa cobek, ulekan, beserta kroni-kroni keluarga sambal: cabai rawit, bawang putih, dan garam.

Tak ada daftar siapa membawa apa. Tak ada hitung-hitungan siapa memberi lebih banyak. Semua makanan itu kemudian diletakkan di atas selembar pelepah daun pisang yang lebar  di atas tikar. Warga kemudian duduk bersila di depannya, lalu menyantap bersama.

Di Wonosari, Gunungkidul, tradisi sederhana itu dikenal sebagai Sambelan. Barangkali bagi orang luar, Sambelan hanyalah makan bersama dengan sambal bawang sebagai menu utama. Namun, bagi masyarakat yang menjalaninya, ia jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas mengisi perut. Sambelan adalah cara masyarakat memelihara kerukunan melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Fenomenologi mengajarkan bahwa makna tidak pernah melekat begitu saja pada sebuah benda. Makna lahir dari pengalaman hidup manusia ketika berjumpa dengan benda tersebut. Sambal, dalam tradisi Sambelan, bukan lagi sekadar campuran cabai, bawang, garam, dan terasi. Ia berubah menjadi pengalaman bersama. Pedasnya bukan hanya sensasi di lidah, melainkan pengikat percakapan yang membuat orang bertahan duduk lebih lama di atas tikar.

Di sinilah semiotika mulai berbicara. Secara denotatif, sambal hanyalah pelengkap makanan. Tetapi pada tingkat konotasi, sambal menjadi penanda kehidupan masyarakat Gunungkidul sendiri. Cabai yang pedas seolah melambangkan kerasnya alam karst yang selama berabad-abad membentuk karakter warganya. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu ada cara untuk membuatnya terasa nikmat.

Bahkan menu yang dibawa masing-masing warga pun merupakan simbol yang kaya makna. Tiwul, misalnya. Dahulu ia sering dipandang sebagai makanan pengganti nasi ketika masa paceklik. Kini dalam Sambelan, tiwul justru hadir dengan penuh kebanggaan. Ia menjadi penanda ingatan kolektif bahwa masyarakat Gunungkidul pernah bertahan dari keterbatasan tanpa kehilangan martabat.

Sego abang dan nasi jagung juga berbicara dalam bahasa yang sama. Keduanya mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada beras. Alam mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan apa yang tersedia.

Lalu ada kuluban. Barangkali inilah menu yang paling jujur dalam seluruh rangkaian Sambelan. Daun pepaya, daun katuk, daun singkong, daun kates, daun kenikir, atau dedaunan apa pun yang tumbuh di sekitar rumah direbus lalu dibawa ke lokasi makan bersama.

Dalam pembacaan semiotik, kuluban merupakan penanda kedekatan manusia dengan lingkungannya. Alam bukan sekadar penyedia bahan makanan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Apa yang tumbuh di pekarangan hari ini dapat menjadi hidangan bersama esok hari.

***

Yang menarik justru bukan pada jenis makanannya, melainkan cara makanan itu dipertemukan. Ada orang yang hanya mampu membawa kuluban. Ada yang membawa sambal bawang. Ada yang membawa ayam kampung goreng. Ada pula yang membawa tempe bacem atau sayur lombok ijo. Semuanya diletakkan menjadi satu.

Di sinilah Sambelan menghadirkan sebuah sistem “subsidi silang” yang berlangsung tanpa proposal, tanpa panitia, bahkan tanpa pembukuan. Orang yang hanya memiliki daun pepaya tetap menikmati lauk ayam kampung. Sebaliknya, orang yang membawa lauk terbaik tetap menikmati kuluban sederhana milik tetangganya.

Yang berpindah sebenarnya bukan hanya makanan. Yang berpindah adalah rasa memiliki. Dalam perspektif antropologi, praktik semacam ini memiliki akar panjang dalam kebudayaan Jawa. Berbagai penelitian mengenai kenduri, slametan, dan tradisi makan bersama menunjukkan bahwa pangan sering kali menjadi media untuk membangun solidaritas sosial. Clifford Geertz pernah menunjukkan bahwa slametan bukan sekadar jamuan makan, melainkan mekanisme budaya untuk menjaga keseimbangan hubungan antarmanusia.

Sambelan tampaknya berjalan pada logika yang serupa, meskipun tampil dalam bentuk yang lebih cair, lebih santai, dan lebih egaliter. Tidak ada tuan rumah yang benar-benar menjadi pusat. Tidak ada tamu yang merasa dilayani. Semua adalah pemilik acara sekaligus penikmatnya.

Fenomenolog Alfred Schutz menyebut dunia seperti ini sebagai lifeworld, dunia kehidupan sehari-hari yang dipenuhi makna karena dialami bersama. Sambelan bukan tradisi yang lahir dari aturan tertulis, melainkan dari kebiasaan yang terus diulang hingga menjadi kesadaran kolektif. Orang datang bukan karena diundang secara resmi, tetapi karena merasa menjadi bagian dari “kami”.

Menariknya lagi, hampir semua simbol dalam Sambelan justru menolak kemewahan. Tikar lebih penting daripada meja makan. Besek lebih akrab daripada piring porselen. Sambal lebih utama daripada menu yang mahal. Mengapa? Karena inti ritual ini bukan apa yang dimakan, melainkan dengan siapa makanan itu disantap.

Maurice Merleau-Ponty mengatakan bahwa tubuh manusia adalah cara utama kita mengalami dunia. Sambelan memperlihatkan hal itu secara nyata. Orang duduk lesehan dengan tubuh saling berdekatan. Tangan mengambil makanan dari hamparan yang sama. Mata saling bertemu. Tawa mengalir tanpa protokol. Tubuh menjadi medium pertama yang menghadirkan rasa kebersamaan.

Mungkin karena itu pula, kalimat yang paling sering terdengar dalam Sambelan bukanlah pujian terhadap makanannya. Melainkan ungkapan sederhana:

“Wareg kabeh…”

“Seneng kabeh…”

Kalimat itu tampak biasa saja. Namun sesungguhnya ia merangkum seluruh filsafat Sambelan. “Wareg” bukan semata-mata kenyang secara fisik. “Seneng” bukan hanya gembira karena makan enak. Keduanya berbicara tentang rasa cukup yang lahir karena manusia tidak sedang makan sendirian.

***

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, ketika makan sering dilakukan tergesa-gesa sambil menatap layar telepon genggam, Sambelan mengingatkan kita pada sesuatu yang mulai langka: bahwa makanan terbaik bukan selalu yang paling mahal, melainkan yang dimakan bersama orang-orang yang membuat kita merasa menjadi keluarga.

Barangkali itulah sebabnya masyarakat Gunungkidul tidak pernah benar-benar menyebut Sambelan sebagai sebuah ritual. Mereka hanya menyebutnya makan bersama.

Jika diamati sepintas, orang mungkin mengira Sambelan adalah bentuk sedekah. Seseorang membawa ayam kampung goreng, yang lain hanya membawa kuluban daun pepaya. Ada yang datang dengan tempe bacem, ada pula yang sekadar membawa sambal bawang hasil ulekan pagi itu. Bukankah yang membawa lebih banyak seolah “memberi” kepada yang membawa lebih sedikit?

Namun, ternyata bukan demikian cara masyarakat memaknainya. Antropolog Prancis Marcel Mauss, dalam karya monumentalnya The Gift (1925), menjelaskan bahwa pemberian dalam masyarakat tradisional hampir tidak pernah benar-benar “gratis”. Sebuah pemberian bukanlah transaksi ekonomi, tetapi juga bukan amal yang berhenti pada tindakan memberi. Di dalamnya terkandung tiga kewajiban sosial yang berjalan bersamaan: kewajiban memberi, kewajiban menerima, dan kewajiban membalas. Bukan balasan yang harus sama nilainya, melainkan kesediaan untuk tetap berada dalam lingkaran hubungan sosial.

Melalui kacamata Mauss, makanan yang dibawa ke Sambelan sesungguhnya adalah sebuah gift—hadiah sosial. Ketika seorang warga membawa kuluban karena hanya itu yang tersedia di rumahnya, ia tetap sedang memenuhi kewajiban sosialnya untuk hadir dan berbagi. Ketika warga lain membawa lauk yang lebih lengkap, ia pun tidak sedang menunjukkan kemurahan hati, melainkan sedang merawat ikatan yang suatu hari juga akan kembali kepadanya dalam bentuk yang mungkin berbeda.

Yang dipertukarkan sesungguhnya bukanlah lauk pauk. Yang dipertukarkan adalah kepercayaan. Tidak ada seorang pun yang mencatat siapa membawa ayam dan siapa membawa daun singkong. Tidak ada pula yang menghitung berapa rupiah nilai makanan yang terhidang di atas tikar. Namun seluruh warga menyimpan apa yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu kemudian disebut sebagai modal sosial: keyakinan bahwa ketika seseorang mengalami kekurangan, komunitas akan menjadi penyangganya.

Karena itu Sambelan tidak pernah melahirkan hubungan antara pemberi dan penerima. Yang lahir justru hubungan antarsesama.

Hari ini seseorang mungkin hanya membawa sambal bawang. Bulan depan ia bisa saja membawa belalang goreng hasil panen musiman. Tahun depan, ketika panen singkong melimpah, ia membawa tiwul untuk seluruh tetangga. Tidak pernah ada rasa malu karena membawa sedikit, sebab ukuran penghargaan bukan terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada kesediaan untuk tetap ikut duduk dalam lingkaran kebersamaan.

Dalam perspektif inilah Sambelan menjadi bentuk ekonomi yang berbeda dengan logika pasar. Pasar bertanya, “Berapa yang harus saya bayar agar memperoleh sesuatu?” Sambelan justru bertanya, “Apa yang bisa saya bawa agar kita semua dapat makan bersama?” Nilai sebuah makanan tidak lagi ditentukan oleh harga, tetapi oleh kemampuannya menghadirkan perjumpaan.

Mungkin karena itulah tradisi ini mampu bertahan dari generasi ke generasi. Ia tidak diwariskan melalui kitab atau peraturan desa, melainkan melalui pengalaman sederhana yang terus berulang. Seorang anak melihat ibunya membungkus tempe bacem untuk dibawa ke Sambelan. Ia melihat ayahnya memetik daun pepaya di belakang rumah. Ia menyaksikan semua makanan itu bercampur tanpa pernah dipersoalkan asal-usulnya. Tanpa disadari, ia sedang belajar bahwa hidup bermasyarakat bukan pertama-tama soal memiliki banyak, melainkan soal bersedia berbagi apa yang ada.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi logika kompetisi dan kepemilikan pribadi, Sambelan menghadirkan pelajaran yang terasa nyaris revolusioner: kekayaan sebuah komunitas tidak selalu diukur dari melimpahnya sumber daya, melainkan dari kuatnya kesediaan warganya untuk saling mempercayai.

Manusia memang tidak hanya hidup dari makanan. Manusia hidup dari perasaan bahwa di sekelilingnya masih ada orang-orang yang bersedia duduk dalam satu lingkaran, berbagi satu hidangan, dan berkata dengan tulus,“Wareg kabeh… seneng kabeh.” (Kenyang bersama-sama…senang bersama-sama)[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Jaswanto

Tags: GunungkidulTradisi SambelanWonosari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’
Kuliner

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

"BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo ." (Bu, saya hanya...

by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia
Esai

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz
Khas

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.
Ulas Rupa

Bhisma yang Tak Pernah Mati di Kurukshetra: Membaca “Satya–Tyagya–Dharma” Karya Prof. Dr. Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

DI Bali, mitos tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia tidak hanya tinggal dalam lembar-lembar lontar atau cerita yang dituturkan...

by Angga Wijaya
August 7, 2026
Sudahi Isme-Ismemu Itu!
Kritik Seni

Sudahi Isme-Ismemu Itu!

ADA satu pertanyaan yang masih menjadi survei teratas ketika publik bertanya tentang karya seorang seniman. Karyamu ini gayanya apa? Abstrak,...

by Made Chandra
August 7, 2026
Indonesia dalam Secangkir Kopi
Esai

Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!
Pendidikan

Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali, Lepas 67 Sarjana dan Magister—‘Jangan Jadi Sarjana Kertas!

“HARI ini saya tidak sedang melihat sekelompok calon wisudawan. Saya sedang melihat sekumpulan wajah yang menyimpan cerita perjalanan yang berbeda-beda.”...

by Dede Putra Wiguna
August 7, 2026
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan
Ulas Film

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

by Satria Aditya
August 7, 2026
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co