30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Tri Nugroho Adi by Tri Nugroho Adi
August 9, 2026
in Kuliner
Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi ‘Sambelan’

Ilustrasi pinterest

“BU, kulo mung mbekto kuluban godhong kates nggih? Lha ya mung niku sing wonten teng  nggriyo .” (Bu, saya hanya membawa lalaban daun pepaya ya? Lha hanya itu yang ada di rumah.)

“Mboten  nopo-nopo. Mengko njenengan nggih dhahar tempe bacem, walang goreng, jangan  lombok ijo. Yen kumpul ngene kabeh nggo barengan.” (Tidak apa-apa. Nanti bapak silakan menikmati tempe bacem, belalang goreng, sayur lombok ijo. Kalau kumpul begini semua untuk  kita bersama.)

Lelaki tua itu tersenyum. Tikar pandan mulai dipenuhi besek, tampah, dan rantang yang datang dari berbagai arah. Ada yang membawa tiwul hangat, ada pula yang hanya membawa rebusan daun pepaya dan daun kenikir yang dipetik dari halaman rumah.  Untuk sambal bawang biasanya dibuat mendadak ketika  warga sudah berkumpul dan siap menata makanan yang  dibawa. Jadi, dari rumah warga membawa cobek, ulekan, beserta kroni-kroni keluarga sambal: cabai rawit, bawang putih, dan garam.

Tak ada daftar siapa membawa apa. Tak ada hitung-hitungan siapa memberi lebih banyak. Semua makanan itu kemudian diletakkan di atas selembar pelepah daun pisang yang lebar  di atas tikar. Warga kemudian duduk bersila di depannya, lalu menyantap bersama.

Di Wonosari, Gunungkidul, tradisi sederhana itu dikenal sebagai Sambelan. Barangkali bagi orang luar, Sambelan hanyalah makan bersama dengan sambal bawang sebagai menu utama. Namun, bagi masyarakat yang menjalaninya, ia jauh lebih dalam daripada sekadar aktivitas mengisi perut. Sambelan adalah cara masyarakat memelihara kerukunan melalui sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Fenomenologi mengajarkan bahwa makna tidak pernah melekat begitu saja pada sebuah benda. Makna lahir dari pengalaman hidup manusia ketika berjumpa dengan benda tersebut. Sambal, dalam tradisi Sambelan, bukan lagi sekadar campuran cabai, bawang, garam, dan terasi. Ia berubah menjadi pengalaman bersama. Pedasnya bukan hanya sensasi di lidah, melainkan pengikat percakapan yang membuat orang bertahan duduk lebih lama di atas tikar.

Di sinilah semiotika mulai berbicara. Secara denotatif, sambal hanyalah pelengkap makanan. Tetapi pada tingkat konotasi, sambal menjadi penanda kehidupan masyarakat Gunungkidul sendiri. Cabai yang pedas seolah melambangkan kerasnya alam karst yang selama berabad-abad membentuk karakter warganya. Hidup mungkin tidak selalu mudah, tetapi selalu ada cara untuk membuatnya terasa nikmat.

Bahkan menu yang dibawa masing-masing warga pun merupakan simbol yang kaya makna. Tiwul, misalnya. Dahulu ia sering dipandang sebagai makanan pengganti nasi ketika masa paceklik. Kini dalam Sambelan, tiwul justru hadir dengan penuh kebanggaan. Ia menjadi penanda ingatan kolektif bahwa masyarakat Gunungkidul pernah bertahan dari keterbatasan tanpa kehilangan martabat.

Sego abang dan nasi jagung juga berbicara dalam bahasa yang sama. Keduanya mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada beras. Alam mengajarkan manusia untuk bersahabat dengan apa yang tersedia.

Lalu ada kuluban. Barangkali inilah menu yang paling jujur dalam seluruh rangkaian Sambelan. Daun pepaya, daun katuk, daun singkong, daun kates, daun kenikir, atau dedaunan apa pun yang tumbuh di sekitar rumah direbus lalu dibawa ke lokasi makan bersama.

Dalam pembacaan semiotik, kuluban merupakan penanda kedekatan manusia dengan lingkungannya. Alam bukan sekadar penyedia bahan makanan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Apa yang tumbuh di pekarangan hari ini dapat menjadi hidangan bersama esok hari.

***

Yang menarik justru bukan pada jenis makanannya, melainkan cara makanan itu dipertemukan. Ada orang yang hanya mampu membawa kuluban. Ada yang membawa sambal bawang. Ada yang membawa ayam kampung goreng. Ada pula yang membawa tempe bacem atau sayur lombok ijo. Semuanya diletakkan menjadi satu.

Di sinilah Sambelan menghadirkan sebuah sistem “subsidi silang” yang berlangsung tanpa proposal, tanpa panitia, bahkan tanpa pembukuan. Orang yang hanya memiliki daun pepaya tetap menikmati lauk ayam kampung. Sebaliknya, orang yang membawa lauk terbaik tetap menikmati kuluban sederhana milik tetangganya.

Yang berpindah sebenarnya bukan hanya makanan. Yang berpindah adalah rasa memiliki. Dalam perspektif antropologi, praktik semacam ini memiliki akar panjang dalam kebudayaan Jawa. Berbagai penelitian mengenai kenduri, slametan, dan tradisi makan bersama menunjukkan bahwa pangan sering kali menjadi media untuk membangun solidaritas sosial. Clifford Geertz pernah menunjukkan bahwa slametan bukan sekadar jamuan makan, melainkan mekanisme budaya untuk menjaga keseimbangan hubungan antarmanusia.

Sambelan tampaknya berjalan pada logika yang serupa, meskipun tampil dalam bentuk yang lebih cair, lebih santai, dan lebih egaliter. Tidak ada tuan rumah yang benar-benar menjadi pusat. Tidak ada tamu yang merasa dilayani. Semua adalah pemilik acara sekaligus penikmatnya.

Fenomenolog Alfred Schutz menyebut dunia seperti ini sebagai lifeworld, dunia kehidupan sehari-hari yang dipenuhi makna karena dialami bersama. Sambelan bukan tradisi yang lahir dari aturan tertulis, melainkan dari kebiasaan yang terus diulang hingga menjadi kesadaran kolektif. Orang datang bukan karena diundang secara resmi, tetapi karena merasa menjadi bagian dari “kami”.

Menariknya lagi, hampir semua simbol dalam Sambelan justru menolak kemewahan. Tikar lebih penting daripada meja makan. Besek lebih akrab daripada piring porselen. Sambal lebih utama daripada menu yang mahal. Mengapa? Karena inti ritual ini bukan apa yang dimakan, melainkan dengan siapa makanan itu disantap.

Maurice Merleau-Ponty mengatakan bahwa tubuh manusia adalah cara utama kita mengalami dunia. Sambelan memperlihatkan hal itu secara nyata. Orang duduk lesehan dengan tubuh saling berdekatan. Tangan mengambil makanan dari hamparan yang sama. Mata saling bertemu. Tawa mengalir tanpa protokol. Tubuh menjadi medium pertama yang menghadirkan rasa kebersamaan.

Mungkin karena itu pula, kalimat yang paling sering terdengar dalam Sambelan bukanlah pujian terhadap makanannya. Melainkan ungkapan sederhana:

“Wareg kabeh…”

“Seneng kabeh…”

Kalimat itu tampak biasa saja. Namun sesungguhnya ia merangkum seluruh filsafat Sambelan. “Wareg” bukan semata-mata kenyang secara fisik. “Seneng” bukan hanya gembira karena makan enak. Keduanya berbicara tentang rasa cukup yang lahir karena manusia tidak sedang makan sendirian.

***

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, ketika makan sering dilakukan tergesa-gesa sambil menatap layar telepon genggam, Sambelan mengingatkan kita pada sesuatu yang mulai langka: bahwa makanan terbaik bukan selalu yang paling mahal, melainkan yang dimakan bersama orang-orang yang membuat kita merasa menjadi keluarga.

Barangkali itulah sebabnya masyarakat Gunungkidul tidak pernah benar-benar menyebut Sambelan sebagai sebuah ritual. Mereka hanya menyebutnya makan bersama.

Jika diamati sepintas, orang mungkin mengira Sambelan adalah bentuk sedekah. Seseorang membawa ayam kampung goreng, yang lain hanya membawa kuluban daun pepaya. Ada yang datang dengan tempe bacem, ada pula yang sekadar membawa sambal bawang hasil ulekan pagi itu. Bukankah yang membawa lebih banyak seolah “memberi” kepada yang membawa lebih sedikit?

Namun, ternyata bukan demikian cara masyarakat memaknainya. Antropolog Prancis Marcel Mauss, dalam karya monumentalnya The Gift (1925), menjelaskan bahwa pemberian dalam masyarakat tradisional hampir tidak pernah benar-benar “gratis”. Sebuah pemberian bukanlah transaksi ekonomi, tetapi juga bukan amal yang berhenti pada tindakan memberi. Di dalamnya terkandung tiga kewajiban sosial yang berjalan bersamaan: kewajiban memberi, kewajiban menerima, dan kewajiban membalas. Bukan balasan yang harus sama nilainya, melainkan kesediaan untuk tetap berada dalam lingkaran hubungan sosial.

Melalui kacamata Mauss, makanan yang dibawa ke Sambelan sesungguhnya adalah sebuah gift—hadiah sosial. Ketika seorang warga membawa kuluban karena hanya itu yang tersedia di rumahnya, ia tetap sedang memenuhi kewajiban sosialnya untuk hadir dan berbagi. Ketika warga lain membawa lauk yang lebih lengkap, ia pun tidak sedang menunjukkan kemurahan hati, melainkan sedang merawat ikatan yang suatu hari juga akan kembali kepadanya dalam bentuk yang mungkin berbeda.

Yang dipertukarkan sesungguhnya bukanlah lauk pauk. Yang dipertukarkan adalah kepercayaan. Tidak ada seorang pun yang mencatat siapa membawa ayam dan siapa membawa daun singkong. Tidak ada pula yang menghitung berapa rupiah nilai makanan yang terhidang di atas tikar. Namun seluruh warga menyimpan apa yang oleh sosiolog Pierre Bourdieu kemudian disebut sebagai modal sosial: keyakinan bahwa ketika seseorang mengalami kekurangan, komunitas akan menjadi penyangganya.

Karena itu Sambelan tidak pernah melahirkan hubungan antara pemberi dan penerima. Yang lahir justru hubungan antarsesama.

Hari ini seseorang mungkin hanya membawa sambal bawang. Bulan depan ia bisa saja membawa belalang goreng hasil panen musiman. Tahun depan, ketika panen singkong melimpah, ia membawa tiwul untuk seluruh tetangga. Tidak pernah ada rasa malu karena membawa sedikit, sebab ukuran penghargaan bukan terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada kesediaan untuk tetap ikut duduk dalam lingkaran kebersamaan.

Dalam perspektif inilah Sambelan menjadi bentuk ekonomi yang berbeda dengan logika pasar. Pasar bertanya, “Berapa yang harus saya bayar agar memperoleh sesuatu?” Sambelan justru bertanya, “Apa yang bisa saya bawa agar kita semua dapat makan bersama?” Nilai sebuah makanan tidak lagi ditentukan oleh harga, tetapi oleh kemampuannya menghadirkan perjumpaan.

Mungkin karena itulah tradisi ini mampu bertahan dari generasi ke generasi. Ia tidak diwariskan melalui kitab atau peraturan desa, melainkan melalui pengalaman sederhana yang terus berulang. Seorang anak melihat ibunya membungkus tempe bacem untuk dibawa ke Sambelan. Ia melihat ayahnya memetik daun pepaya di belakang rumah. Ia menyaksikan semua makanan itu bercampur tanpa pernah dipersoalkan asal-usulnya. Tanpa disadari, ia sedang belajar bahwa hidup bermasyarakat bukan pertama-tama soal memiliki banyak, melainkan soal bersedia berbagi apa yang ada.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi logika kompetisi dan kepemilikan pribadi, Sambelan menghadirkan pelajaran yang terasa nyaris revolusioner: kekayaan sebuah komunitas tidak selalu diukur dari melimpahnya sumber daya, melainkan dari kuatnya kesediaan warganya untuk saling mempercayai.

Manusia memang tidak hanya hidup dari makanan. Manusia hidup dari perasaan bahwa di sekelilingnya masih ada orang-orang yang bersedia duduk dalam satu lingkaran, berbagi satu hidangan, dan berkata dengan tulus,“Wareg kabeh… seneng kabeh.” (Kenyang bersama-sama…senang bersama-sama)[T]

Penulis: Tri Nugroho Adi
Editor: Jaswanto

Tags: GunungkidulTradisi SambelanWonosari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

Next Post

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi-Fisip, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
0
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails
Next Post
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026
Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru
Pendidikan

Agung Ngurah Astara, Kepala Sekolah SMKN 5 Denpasar dengan Perubahan dan Harapan Baru

SEMUA berawal dari kesungguhan, keteguhan, disiplin dan upaya kreatif dalam menggapai sebuah kemuliaan. Tidak mudah melewati dan menghadapi  tantangan dalam...

by Nyoman Budarsana
August 27, 2026
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar
Esai

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

by Chusmeru
August 27, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

by Andre Syahreza
August 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co