MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan Dewi Sartika sudah berdetak kencang. Di sela-sela deru mesin motor yang terburu-buru mengejar absen kantor dan klakson angkutan kota yang memecah hening, sebuah kesibukan kecil tampak di depan Jalan Jatayu, persis di samping Indomaret.
Di sana, sebuah meja kayu sederhana menjadi panggung bagi drama kehidupan pagi. Di atas meja itu, tertata rapi gundukan bungkus nasi berbentuk bulat mungil yang dibalut kertas minyak putih bersih. Sebuah papan menu berdiri tegak, memajang deretan nama masakan yang membuat perut keroncongan: Ayam Rendang, Ayam Kecap, Ayam Betutu, hingga Daging Mercon.
Itulah lapak Nasi Cokot Fadillah.
Seorang wanita paruh baya dengan hijab berwarna abu-abu tampak cekatan melayani pembeli. Senyumnya tak pernah lepas, meski peluh mulai nampak di pelipisnya. Di sampingnya, seorang pemuda dengan kaos biru muda yang tampak kontras dengan warna langit pagi yang masih pucat membantu dengan sigap. Ia adalah Fadillah, sang anak, yang namanya kini diabadikan menjadi doa dalam setiap suapan nasi yang terjual.
Kehangatan di Balik Kertas Putih
“Satu yang ayam betutu ya, Bu,” ujar saya, bergabung dalam antrean yang mulai mengular.
Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan bagaimana Ibu Aminah (nama yang terasa pas untuk keramahtamahannya) bergerak. Tangannya yang terampil memasukkan nasi cokot ke dalam plastik putih tipis. “Nasi cokot itu sebenarnya nasi yang ukurannya pas satu genggaman, Nak. Dinamakan ‘cokot’ karena cara makannya praktis, tinggal digigit atau dalam bahasa Jawa dicokot sambil jalan pun bisa,” jelasnya lembut saat saya bertanya tentang asal-usul nama dagangannya.

Nasi Cokot Fadillah adalah pendatang baru di kuliner pagi Singaraja. Baru mulai menggelar lapak sejak Januari 2026 lalu, namun magnetnya luar biasa. Harganya yang hanya Rp5.000 per porsi menjadikannya idola baru bagi mahasiswa yang kantongnya sedang tipis, maupun pekerja yang tak sempat sarapan di rumah. Meski menyediakan nasi kuning dan nasi campur, primadonanya tetaplah si nasi bulat “cokot” ini.
Fadillah: Sebuah Nama, Sebuah Doa
Sambil menyerahkan uang pas, saya mencoba berbincang lebih dalam. Fadillah, sang anak, sesekali menyeka meja. Ia adalah seorang pelajar yang mendedikasikan waktu paginya untuk membantu sang ibu sebelum ia berangkat ke sekolah.
“Fadillah itu artinya keutamaan atau anugerah,” ujar Bu Aminah sambil melirik bangga ke arah putranya. “Usaha ini lahir karena kami ingin Fadillah tetap bisa sekolah tinggi. Bapaknya bekerja jadi buruh bangunan, kerjanya tidak menentu. Kadang ada proyek di luar kota, kadang di rumah saja menunggu panggilan. Jadi, nasi cokot inilah yang menyambung napas dapur kami.”
Cerita di balik Nasi Cokot Fadillah adalah potret perjuangan kelas pekerja di sudut utara Bali. Saat sektor konstruksi kadang tak memberikan kepastian, Bu Aminah memilih untuk tidak berpangku tangan. Dengan modal keberanian dan resep masakan rumahan yang otentik, ia turun ke jalanan Dewi Sartika.
Keputusan membuka lapak pada awal tahun 2026 bukan tanpa risiko. Persaingan kuliner pagi di Singaraja sangat ketat. Namun, Bu Aminah percaya pada satu hal: rasa dan ketulusan. “Saya masak bumbu betutu ini dari jam tiga subuh, Nak. Rempahnya harus berasa, supaya yang beli merasa puas meski harganya cuma lima ribu,” tambahnya.
Aroma yang Bicara
Saya akhirnya mendapatkan pesanan saya. Nasi cokot ayam betutu. Saat bungkusan putih itu saya buka, uap tipis mengepul membawa aroma base genep yang tajam dan menggugah selera. Nasinya pulen, membungkus suwiran ayam betutu yang basah oleh bumbu kuning kemerahan.
Setiap gigitan adalah perpaduan antara pedasnya cabai rawit, aroma kencur, dan gurihnya terasi yang menyatu sempurna. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kualitas rasa yang disajikan melampaui harga yang dibayarkan. Di dalam bungkusan kecil itu, ada dedikasi seorang ibu yang bangun sebelum fajar dan harapan seorang anak laki-laki yang rela tangannya berbau bumbu demi masa depan.

Keramaian di depan Jalan Jatayu pagi itu seolah membuktikan bahwa sesuatu yang dibuat dengan cinta akan selalu menemukan penikmatnya. Para pembeli mulai dari tukang ojek, pegawai bank, hingga mahasiswa yang masih bermata mengantuk setia menunggu giliran mereka. Mereka bukan hanya membeli sarapan, tapi juga menjadi bagian dari rantai harapan keluarga Bu Aminah.
Tentang Bertahan dan Berjalan
Matahari kini sudah lebih tinggi. Lapak Nasi Cokot Fadillah mulai terlihat lowong, tanda dagangan hampir ludes. Fadillah mulai merapikan kursi-kursi plastik, bersiap untuk perannya yang lain sebagai siswa. Sementara Bu Aminah, dengan hijab abunya yang kini sedikit basah oleh keringat, tetap tersenyum melayani pembeli terakhir.
Perjalanan Nasi Cokot Fadillah mungkin baru berjalan beberapa bulan. Namun, di atas meja sederhana di trotoar Dewi Sartika itu, kita belajar bahwa hidup adalah tentang terus bergerak. Bahwa lima ribu rupiah bisa menjadi jembatan menuju mimpi seorang anak sekolah, dan sepotong nasi cokot bisa menjadi penyemangat paling jujur untuk memulai hari yang berat.

Bagi Anda yang kebetulan melintasi Jalan Dewi Sartika di Singaraja saat mentari baru bangun, sempatkanlah menoleh ke arah Jalan Jatayu. Di sana, ada kehangatan yang dibungkus plastik putih, ada rasa yang tak berkhianat, dan ada perjuangan seorang ibu yang patut kita rayakan dengan satu gigitan besar. [T]
Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole





























