26 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Putu Gangga Pradipta by Putu Gangga Pradipta
April 12, 2026
in Kuliner
Seporsi Nasi Cokot dan Senyum Fadillah —Menggigit Harapan di Trotoar Dewi Sartika Singaraja

Lapak Nasi Cokot Fadillah di Jalan Dewi Sartika Singaraja

MATAHARI baru saja mengintip di ufuk timur Kota Singaraja. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA, namun denyut nadi di Jalan Dewi Sartika sudah berdetak kencang. Di sela-sela deru mesin motor yang terburu-buru mengejar absen kantor dan klakson angkutan kota yang memecah hening, sebuah kesibukan kecil tampak di depan Jalan Jatayu, persis di samping Indomaret.

Di sana, sebuah meja kayu sederhana menjadi panggung bagi drama kehidupan pagi. Di atas meja itu, tertata rapi gundukan bungkus nasi berbentuk bulat mungil yang dibalut kertas minyak putih bersih. Sebuah papan menu berdiri tegak, memajang deretan nama masakan yang membuat perut keroncongan: Ayam Rendang, Ayam Kecap, Ayam Betutu, hingga Daging Mercon.

Itulah lapak Nasi Cokot Fadillah.

Seorang wanita paruh baya dengan hijab berwarna abu-abu tampak cekatan melayani pembeli. Senyumnya tak pernah lepas, meski peluh mulai nampak di pelipisnya. Di sampingnya, seorang pemuda dengan kaos biru muda yang tampak kontras dengan warna langit pagi yang masih pucat membantu dengan sigap. Ia adalah Fadillah, sang anak, yang namanya kini diabadikan menjadi doa dalam setiap suapan nasi yang terjual.

Kehangatan di Balik Kertas Putih

“Satu yang ayam betutu ya, Bu,” ujar saya, bergabung dalam antrean yang mulai mengular.

Sambil menunggu giliran, saya memperhatikan bagaimana Ibu Aminah (nama yang terasa pas untuk keramahtamahannya) bergerak. Tangannya yang terampil memasukkan nasi cokot ke dalam plastik putih tipis. “Nasi cokot itu sebenarnya nasi yang ukurannya pas satu genggaman, Nak. Dinamakan ‘cokot’ karena cara makannya praktis, tinggal digigit atau dalam bahasa Jawa dicokot sambil jalan pun bisa,” jelasnya lembut saat saya bertanya tentang asal-usul nama dagangannya.

Lapak Nasi Cokot Fadillah di Jalan Dewi Sartika Singaraja

Nasi Cokot Fadillah adalah pendatang baru di kuliner pagi Singaraja. Baru mulai menggelar lapak sejak Januari 2026 lalu, namun magnetnya luar biasa. Harganya yang hanya Rp5.000 per porsi menjadikannya idola baru bagi mahasiswa yang kantongnya sedang tipis, maupun pekerja yang tak sempat sarapan di rumah. Meski menyediakan nasi kuning dan nasi campur, primadonanya tetaplah si nasi bulat “cokot” ini.

Fadillah: Sebuah Nama, Sebuah Doa

Sambil menyerahkan uang pas, saya mencoba berbincang lebih dalam. Fadillah, sang anak, sesekali menyeka meja. Ia adalah seorang pelajar yang mendedikasikan waktu paginya untuk membantu sang ibu sebelum ia berangkat ke sekolah.

“Fadillah itu artinya keutamaan atau anugerah,” ujar Bu Aminah sambil melirik bangga ke arah putranya. “Usaha ini lahir karena kami ingin Fadillah tetap bisa sekolah tinggi. Bapaknya bekerja jadi buruh bangunan, kerjanya tidak menentu. Kadang ada proyek di luar kota, kadang di rumah saja menunggu panggilan. Jadi, nasi cokot inilah yang menyambung napas dapur kami.”

Cerita di balik Nasi Cokot Fadillah adalah potret perjuangan kelas pekerja di sudut utara Bali. Saat sektor konstruksi kadang tak memberikan kepastian, Bu Aminah memilih untuk tidak berpangku tangan. Dengan modal keberanian dan resep masakan rumahan yang otentik, ia turun ke jalanan Dewi Sartika.

Keputusan membuka lapak pada awal tahun 2026 bukan tanpa risiko. Persaingan kuliner pagi di Singaraja sangat ketat. Namun, Bu Aminah percaya pada satu hal: rasa dan ketulusan. “Saya masak bumbu betutu ini dari jam tiga subuh, Nak. Rempahnya harus berasa, supaya yang beli merasa puas meski harganya cuma lima ribu,” tambahnya.

Aroma yang Bicara

Saya akhirnya mendapatkan pesanan saya. Nasi cokot ayam betutu. Saat bungkusan putih itu saya buka, uap tipis mengepul membawa aroma base genep yang tajam dan menggugah selera. Nasinya pulen, membungkus suwiran ayam betutu yang basah oleh bumbu kuning kemerahan.

Setiap gigitan adalah perpaduan antara pedasnya cabai rawit, aroma kencur, dan gurihnya terasi yang menyatu sempurna. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kualitas rasa yang disajikan melampaui harga yang dibayarkan. Di dalam bungkusan kecil itu, ada dedikasi seorang ibu yang bangun sebelum fajar dan harapan seorang anak laki-laki yang rela tangannya berbau bumbu demi masa depan.

Lapak Nasi Cokot Fadillah di Jalan Dewi Sartika Singaraja

Keramaian di depan Jalan Jatayu pagi itu seolah membuktikan bahwa sesuatu yang dibuat dengan cinta akan selalu menemukan penikmatnya. Para pembeli mulai dari tukang ojek, pegawai bank, hingga mahasiswa yang masih bermata mengantuk setia menunggu giliran mereka. Mereka bukan hanya membeli sarapan, tapi juga menjadi bagian dari rantai harapan keluarga Bu Aminah.

Tentang Bertahan dan Berjalan

Matahari kini sudah lebih tinggi. Lapak Nasi Cokot Fadillah mulai terlihat lowong, tanda dagangan hampir ludes. Fadillah mulai merapikan kursi-kursi plastik, bersiap untuk perannya yang lain sebagai siswa. Sementara Bu Aminah, dengan hijab abunya yang kini sedikit basah oleh keringat, tetap tersenyum melayani pembeli terakhir.

Perjalanan Nasi Cokot Fadillah mungkin baru berjalan beberapa bulan. Namun, di atas meja sederhana di trotoar Dewi Sartika itu, kita belajar bahwa hidup adalah tentang terus bergerak. Bahwa lima ribu rupiah bisa menjadi jembatan menuju mimpi seorang anak sekolah, dan sepotong nasi cokot bisa menjadi penyemangat paling jujur untuk memulai hari yang berat.

Lapak Nasi Cokot Fadillah di Jalan Dewi Sartika Singaraja

Bagi Anda yang kebetulan melintasi Jalan Dewi Sartika di Singaraja saat mentari baru bangun, sempatkanlah menoleh ke arah Jalan Jatayu. Di sana, ada kehangatan yang dibungkus plastik putih, ada rasa yang tak berkhianat, dan ada perjuangan seorang ibu yang patut kita rayakan dengan satu gigitan besar. [T]

Reporter/Penulis: Putu Gangga Pradipta
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengkulinerSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Koperasi Merah Putih Harus Merah Putih

Next Post

Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Putu Gangga Pradipta

Putu Gangga Pradipta

Lahir di Surabaya, kini sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Singaraja.

Related Posts

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

by Jaswanto
June 17, 2026
0
Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan,...

Read moreDetails

Serangga dalam Piring Makan Kita

by Jaswanto
April 25, 2026
0
Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

Read moreDetails

Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

by Jaswanto
April 2, 2026
0
Sepincuk Semanggi, Sepotong Kisah dari Surabaya

“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi...

Read moreDetails

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
0
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

Read moreDetails

Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026: Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Pameran Kuliner Bulan Bahasa Bali 2026:  Padukan Menu Tradisional dengan Menu Terkini

Satu hal yang baru dalam perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 adalah pameran kuliner yang berlokasi sebelah barat Gedung...

Read moreDetails

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
0
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

LANGIT masih gelap ketika aroma kayu bakar mulai menyelinap dari sebuah dapur sederhana di Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. Matahari belum...

Read moreDetails

Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 21, 2025
0
Kentongan Pak Mbung di Pasar Blahkiuh dan Tipat Tahu yang Tak Pernah Sepi

PAGI di Pasar Blahkiuh selalu dimulai dengan suara yang sama sejak puluhan tahun lalu. Bukan teriakan pedagang, bukan pula deru...

Read moreDetails

Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

by Dede Putra Wiguna
November 22, 2025
0
Dugong 21: Dari Kaset ke Lawar

“Mbok, nasi lawarnya tiga porsi, ekstra sate, minumnya temulawak ya!” ucap seorang pemuda saat memesan makanan, lalu tergesa masuk ke...

Read moreDetails

Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

by I Gede Teddy Setiadi
November 11, 2025
0
Twntytoo Coffee, Kopi dan Perjalanan Ical dari Kota ke Kota di Indonesia

KESAN friendly langsung terasa saat bertemu dengan Muhamad Faisal. Ia pemuda asal Pekanbaru, Riau, tapi kami bertemu di di Jalan...

Read moreDetails

Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

by Putu Ayu Ariani
October 16, 2025
0
Kisah Bu Jero, Penjual Jaja Laklak yang Tetap Bertahan dengan Tungku Kayu di Desa Banjar

DINI hari di Desa Banjar, Kabupaten Buleleng, suasana masih diselimuti udara dingin. Namun di depan sebuah warung sederhana, cahaya api...

Read moreDetails
Next Post
Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Dari Asumsi ke Pembuktian: Telaah Logis atas Fenomena Rojali dan Rohana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 26, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur
Budaya

Menapak Jejak Rarud Batur, Mengenang Seratus Tahun Ketangguhan dari Lereng Gunung Batur

DI kaki Gunung Batur, sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau cerita para tetua; tapi hidup di jalan-jalan yang pernah...

by tatkala
July 25, 2026
Orkestra Warna Kun Adnyana
Ulas Rupa

Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

by Hartanto
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co