25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
in Panggung
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan gamelan kreatif dan spektakuler ini bukan sekadar pertunjukan pembuka, melainkan simbol sakral yang merepresentasikan manifestasi Dewa Siwa sebagai Raja Kosmik sekaligus Dewa Seni dan Tari. Kehadirannya menandai dimulainya siklus penciptaan karya-karya seni yang agung selama sebulan penuh pelaksanaan PKB.

Pada PKB ke-48, Tari Siwanataraja hadir dalam garapan bertajuk Mahamredangga Kalpa, hasil kolaborasi Komunitas Seni Usadhi Langu dan ISI Bali. Karya ini memadukan komposisi musikal gamelan Bali dengan koreografi Siwa Nataraja yang memaknai tema Atma Kerthi sebagai pemuliaan mahajnana atau kebijaksanaan agung.

Sebagai karya yang tergolong anyar, Mahamredangga Kalpa memancarkan karisma melodi Bali purwa yang mengembalikan nada sebagai bunyi semesta dalam balutan filsafat tarian kosmik Siwanataraja. Karya ini menjadi refleksi tentang kewaktuan yang abadi dan vibrasi semesta yang membentuk tatanan sakral kehidupan.

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Melalui perpaduan gerak tari, bunyi gamelan, dan visual teatrikal guwung karang gumi—energi pembentuk ruang alam semesta—Mahamredangga Kalpa menghadirkan harmoni antara alam, manusia, dan kebudayaan dalam dimensi spiritual yang suci.

Garapan ini dikoreografi oleh I Gede Oka Surya Negara, Kadek Diah Pramanasari, dan Ni Nyoman Ayu Kunti Aryani. Sementara itu, komposisi musik digarap oleh Putu Tiodore Adi Bawa dan I Wayan Diana Putra. Penanggung jawab kegiatan adalah Prof. Dr. I Komang Sudirga, dengan Prof. Dr. Ni Made Arshiniwati sebagai ketua, serta Rektor ISI Bali Prof. Dr. I Wayan Adnyana sebagai pelindung.

Prof. Sudirga menjelaskan, setiap tahun ISI Bali selalu menawarkan gagasan artistik yang baru dalam Peed Aya PKB. Pada PKB ke-48, eksplorasi dilakukan dengan menghadirkan berbagai instrumen perkusi, tidak hanya dari Bali tetapi juga dari berbagai daerah di Nusantara.

Beberapa instrumen yang digunakan antara lain kendang belig, kendang dol, kendang Sulawesi, berbagai instrumen pencon, jimbe, kendang jedugan, kendang angklung, tambur, serta sejumlah jenis rebana. Keseluruhan instrumen tersebut diramu menjadi satu kesatuan musikal yang dinamis dan kolosal.

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Menariknya, inovasi kali ini dilakukan tanpa mengandalkan instrumen melodis. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para komposer untuk menghadirkan komposisi prosesi yang kuat dan mampu mendukung kemegahan sosok Siwa Nataraja sebagai ikon PKB.

“Seluruh proses persiapan telah dilakukan sejak tiga bulan lalu. Hari ini kami melaksanakan gladi di panggung utama Taman Budaya Art Centre Denpasar sebagai bagian dari upaya menghadirkan sajian monumental bagi ISI Bali dan PKB ke-48,” ujar Prof. Sudirga, yang juga menjabat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama ISI Bali.

Siwanataraja, Simbol Kreativitas dan Spiritualitas dalam Pesta Kesenian Bali

Tim Kurator PKB 2026, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha menjelaskan, Tari Siwanataraja selalu ditampilkan dalam setiap pawai pembukaan PKB melalui garapan seni pertunjukan yang atraktif dan inovatif. Siwanataraja telah menjadi maskot PKB karena dalam konteks kesenian Bali, sosok ini merupakan manifestasi Dewa Siwa sebagai raja para raja yang menciptakan keteraturan dunia melalui tarian kosmik.

“Karena itu, pada logo PKB pun Siwanataraja digambarkan Dewa Siwa sedang menari. Melalui hentakan kaki dan gerak mudra, Dewa Siwa memutar dunia yang sebelumnya statis. Dari gerak tari itulah kehidupan mulai tercipta,” ujar Prof. Arya Sugiartha.

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Sebelum dunia berputar, kehidupan belum ada. Keadaan semesta masih kacau dan tidak stabil. Ketika Dewa Siwa menari, lahirlah keteraturan kosmis yang kemudian memungkinkan tumbuhnya kehidupan. Tumbuhan mulai berkembang, diikuti kehidupan hewan, hingga akhirnya manusia hadir untuk menjaga dan mengelola keseimbangan dunia. “Dengan cara menari itulah Dewa Siwanataraja menciptakan keteraturan dunia,” tegas mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersebut.

Meski figur Siwa Nataraja selalu dipertahankan sebagai ikon utama, setiap penyajiannya dalam PKB senantiasa hadir dalam bentuk garapan baru. Institut Seni Indonesia (ISI) Bali secara konsisten menawarkan kreativitas dan inovasi berbeda dari tahun ke tahun, baik dari sisi koreografi maupun komposisi musik pengiringnya.

“Yang tetap adalah figur Siwanataraja. Namun, penggarapannya selalu diperbarui. Perbedaan setiap tahun muncul dari kreativitas para seniman, termasuk inovasi dalam iringan musiknya, sehingga selalu menghadirkan sajian baru yang tidak menjemukan,” jelasnya.

Tradisi ini telah berlangsung sejak era Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian berlanjut pada masa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), hingga kini menjadi ISI Bali. Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pembukaan PKB.

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Sebelum lahirnya konsep Adi Mredangga, pembuka pawai budaya PKB justru diisi oleh drum band Universitas Udayana yang menggunakan instrumen musik modern. Tradisi tersebut berlangsung sejak tahun 1979. Baru pada tahun 1984, atas gagasan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra, lahirlah Adi Mredangga sebagai bentuk “drum band tradisional” yang bersifat kolosal. Saat itu, Ida Bagus Mantra meminta Prof. I Made Bandem yang menjabat Ketua ASTI saat itu untuk merancang format pertunjukan tersebut.

Seiring waktu, Adi Mredangga terus berkembang. Berbagai instrumen baru ditambahkan, mulai dari bedug, tambur, hingga pereret, sehingga bentuk penyajiannya selalu mengalami pembaruan sesuai perkembangan kreativitas seni Bali.

Guru Besar Ilmu Pariwisata Budaya dan Agama Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof. Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par., mengatakan, seni tari sejak zaman prasejarah hingga era modern memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Tari tidak semata-mata menjadi sarana hiburan, melainkan juga media spiritual, penguat solidaritas sosial, serta sarana mengekspresikan nilai-nilai budaya dan keagamaan.

Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, seni merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas keagamaan. Berbagai bentuk kesenian, seperti tari, tabuh, seni suara, seni rupa, dan kriya dipersembahkan sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Keindahan dalam seni merupakan salah satu manifestasi kemahakuasaan Tuhan. Karena itu, seni tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali,” ujar Prof. Sumadi.

Siwanataraja merupakan manifestasi Dewa Siwa sebagai Raja Tari yang menampilkan tarian kosmis atau cosmic dance. Tarian tersebut melambangkan proses penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan alam semesta yang berlangsung secara harmonis. Gerak tari Siwanataraja menggambarkan dinamika kehidupan yang terus bergerak dan berubah, namun tetap berada dalam keseimbangan kosmis. Simbol ini menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai bentuk ekspresi seni dan budaya di Bali.

Makna filosofis Siwanataraja sangat relevan dengan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali. Karena itu, sejak awal penyelenggaraannya, Siwanataraja dipilih sebagai lambang PKB karena mencerminkan semangat kreativitas yang tidak pernah berhenti.

Melalui berbagai pertunjukan tari, karawitan, teater, seni rupa, sastra, dan seni tradisi lainnya, PKB menjadi ruang aktualisasi semangat tersebut. Para seniman Bali terus menggali inspirasi dari alam, tradisi, kehidupan sosial, hingga perkembangan zaman untuk melahirkan karya-karya yang inovatif tanpa meninggalkan akar budayanya. “Siwanataraja mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sesuatu yang statis. Kebudayaan harus terus hidup melalui proses penciptaan, pelestarian, dan pembaruan,” tegasnya.

Tari Siwanataraja pada Peed Aya Pesta Kesenian Bali | Foto: Adrian

Dalam tradisi seni Bali dikenal klasifikasi Tari Wali, Tari Bebali, dan Tari Balih-balihan. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, namun saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya Bali. Karya-karya Balih-balihan yang banyak ditampilkan dalam PKB menunjukkan bagaimana tradisi dapat terus berkembang melalui revitalisasi dan aktualisasi budaya. Setiap gerak tari, irama musik, dan ekspresi artistik menjadi refleksi upaya manusia memahami serta merayakan keindahan alam semesta.

Di tengah derasnya arus globalisasi, lanjut Prof. Sumadi, inovasi dan pembaruan seni yang berlangsung dalam PKB memiliki peran strategis dalam menjaga sistem nilai budaya bangsa. “Pesta Kesenian Bali bukan hanya festival seni atau tontonan budaya. PKB merupakan perwujudan filosofi Siwanataraja yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah tarian kosmis yang terus bergerak. Melalui seni, masyarakat diajak memahami keindahan, keharmonisan, dan dinamika kehidupan serta hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesamanya,” ujarnya.

Siwanataraja sebagai lambang PKB mengandung pesan bahwa kreativitas merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual dan kebudayaan manusia. Selama semangat berkarya, melestarikan, dan memperbarui tradisi terus hidup, kebudayaan Bali akan tetap tumbuh dan berkembang di tengah perubahan zaman. [T]

Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tags: ISI Balikesenian baliPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026seni pertunjukanTari Siwa Nataraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

Next Post

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

Read moreDetails

Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

RASA rindu terhadap lagu-lagu Bali yang sempat mewarnai awal dekade 2000-an terobati dalam Pergelaran Musik "Bintang 5 Musik Jani" persembahan...

Read moreDetails

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

TAWA penonton sesekali pecah mengikuti dialog-dialog jenaka yang menghidupkan panggung. Namun perlahan suasana berubah. Musik mengalun semakin sendu, puisi dilantunkan...

Read moreDetails

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

Read moreDetails

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

Read moreDetails

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

Read moreDetails

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
0
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

Read moreDetails
Next Post
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co