Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung
DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan pasien, bukan pula tenaga medis. Mereka adalah para pendukung sebaya, orang-orang yang selama bertahun-tahun menemani ribuan Orang dengan HIV (ODHIV) menjalani hidup: mengingatkan jadwal minum obat, mendengarkan keluh kesah, dan menjadi sandaran ketika stigma masyarakat terasa begitu berat untuk dipikul sendiri.
Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Spirit Paramacitta, yang berdiri sejak 2001, kini menaungi 26 petugas pendukung sebaya yang mendampingi lebih dari 5.900 ODHIV di Kota Denpasar. Selama ini, peran mereka sangat vital. ODHIV kerap enggan terbuka kepada tenaga medis formal karena takut dihakimi atau distigma. Di titik inilah pendukung sebaya menjadi jembatan pertama teman yang lebih memahami, karena pernah berada di posisi yang sama.
Namun ada satu persoalan yang selama ini luput dari perhatian: siapa yang menjaga kesehatan mental para pendukung sebaya itu sendiri, dan seberapa siap mereka mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental pada orang yang mereka dampingi?
Beban yang Sering Tak Terlihat
HIV bukan sekadar persoalan medis. Orang yang hidup dengannya menanggung tekanan emosional, stigma, diskriminasi, hingga isolasi sosial yang bisa memicu stres, kecemasan berlebihan, sampai depresi. Sebuah studi di Puskesmas IV Denpasar Selatan bahkan mencatat bahwa sekitar seperempat lebih ODHIV pernah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, angka yang semestinya membuat siapa pun tersentak.
Sayangnya, pendampingan yang berjalan selama ini lebih banyak mengandalkan intuisi dan pengalaman personal, tanpa alat bantu yang terstandar untuk mendeteksi dini masalah kesehatan mental. Belum ada instrumen skrining yang mudah diakses, apalagi yang memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan kondisi para ODHIV secara sistematis.
Ikhtiar Sebuah Program Pengabdian
Menjawab tantangan itulah tim dari Universitas Dhyana Pura, bekerja sama dengan KDS Spirit Paramacitta Kota Denpasar, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemdiktisaintek melakukan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan tema kerja “Pemberdayaan Pendukung Sebaya ODHIV melalui Pelatihan Kesadaran Kesehatan Mental dan Digitalisasi Skrining DASS-21”.
Tim PkM itu diketuai Dr. dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ dengan anggota Gerson Feoh, S.Kom., M.T dan Ni Wayan Putri Larassita Parwangsa, S.KM., M.Epid. dengan dukungan penuh dari Ketua Yayasan Spirit Paramacitta Putu Ayu Utami Dewi
Kegiatan dilaksanakan pada Juli 2026. Tim dari Universitas Dhyana Pura itu melibatkan dosen dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik dan Informatika itu melaksanakan program pemberdayaan bagi para pendukung sebaya di KDS Spirit Paramacitta.

“Programnya sederhana namun menyasar akar masalah: melatih kesadaran kesehatan mental, mengajarkan keterampilan komunikasi empatik, sekaligus memperkenalkan alat skrining mandiri berbasis digital, instrumen yang sudah teruji untuk mengukur tingkat depresi, kecemasan, dan stres seseorang,” kata Dr. dr. Putu Asih Primatanti, SpKJ. yang akrab disapa dengan nama Asih Primatanti itu.
Pelatihan berlangsung secara partisipatif, ada ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan simulasi menghadapi kasus nyata. Materinya mencakup konsep dasar kesehatan mental pada ODHIV, cara mengenali dan merespons tanda-tanda gangguan mental, keterampilan mendampingi, penanganan situasi krisis, hingga cara menjaga diri sendiri (self-care) agar pendukung sebaya tak ikut terbebani secara berlebihan.
Yang menarik, kata Asih, alat skrining berupa kuisioner ini bisa diisi lewat telepon pintar secara anonim. Hasilnya otomatis terhitung dan dikelompokkan ke dalam lima kategori normal, ringan, sedang, berat, hingga sangat berat, lengkap dengan rekomendasi langkah lanjutan. Kerahasiaan identitas ODHIV tetap terjaga, sementara data hasil skrining dapat digunakan pengurus KDS untuk memetakan tren kesehatan mental anggotanya dan menentukan kapan seseorang perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan mental.
Hasil yang Menggembirakan, Sekaligus Mengingatkan
Setelah pelatihan, pemahaman peserta tentang kesehatan mental melonjak signifikan rata-rata meningkat hampir 87 persen dibandingkan sebelum pelatihan. Seluruh peserta (15 orang) juga berhasil menguasai cara menggunakan instrumen skrining digital serta memahami batas kewenangan mereka saat memberi pendampingan awal.

Asih Primatanti mengatakan, temuan paling menggugah justru datang ketika para pendukung sebaya mencoba skrining itu pada diri mereka sendiri. Hasilnya beberapa dari mereka ternyata mengalami gejala kecemasan, sedangkan gejala depresi dan stres relatif lebih terkendali.
“Temuan ini menyingkap sisi yang jarang dibicarakan: mereka yang setiap hari menopang beban emosional orang lain, ternyata juga menanggung beban serupa untuk dirinya sendiri, seringkali tanpa disadari dan tanpa ruang untuk memprosesnya,” kata Asih Primatanti.
Pelajaran untuk Kita Semua
Menurut Asih, kisah dari Denpasar ini menyisakan pesan sederhana namun penting. Pertama, pendampingan psikososial bagi ODHIV tidak bisa lagi mengandalkan niat baik semata, dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan alat bantu yang tepat agar deteksi dini masalah kesehatan mental berjalan efektif. Kedua, dan mungkin lebih penting, mereka yang berperan sebagai “penopang” bagi orang lain juga layak mendapat perhatian dan dukungan yang sama besarnya.
Ke depan, Asih berharap program semacam ini diharapkan dapat terus dijalankan secara rutin, dengan alat skrining digital yang sudah diserahterimakan kepada pengurus KDS Spirit Paramacitta, serta jejaring rujukan yang lebih kuat ke layanan kesehatan mental profesional bagi kasus-kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Sebab pada akhirnya, memberdayakan komunitas ODHIV agar hidup lebih sehat dan bermartabat, harus dimulai dari memastikan bahwa mereka yang berdiri di garis depan pendampingan pun tidak berjalan sendirian menanggung bebannya,” kata Asih. [T][Ad]
Penulis: IM Adnyana
Editor: Jaswanto






























