2 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

AA Ayu Mayun Artati by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
in Panggung
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

“Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke hadapan generasi sekarang.“

GUNUNG Batur di Kintamani, Bangli, tidak hanya menyimpan keindahan. Catatan para pengunjung Bali pada dekade 1920-an menggambarkan gunung ini sebagai lanskap yang sekaligus mempesona dan menggentarkan. Asap keluar dari kawah, gemuruh terdengar, dan gempa sesekali mengguncang kawasan Kintamani. Bagi masyarakat Batur, tanda-tanda alam tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka bersama gunung yang juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan spiritual.

Pada tanggal 2 Agustus 1926 tengah malam, gempa vulkanik menandai dimulainya erupsi besar. Aktivitas gunung sempat mereda pada siang hari berikutnya, tetapi kembali meningkat pada malam harinya. Lava pijar kemudian bergerak menuju permukiman Desa Batur Let yang berada di lereng Gunung Batur. Dalam waktu singkat, kehidupan masyarakat berubah. Desa lama hancur dan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Peristiwa itulah yang kemudian dikenang sebagai Rarud Batur.

Namun, Rarud Batur bukan hanya cerita tentang kehancuran. Di dalamnya terdapat kisah tentang bagaimana masyarakat menyelamatkan kehidupan, menjaga warisan spiritual, menjalani pengungsian, dan akhirnya membangun kembali kehidupan di tempat yang baru. Karena itu, satu abad kemudian, yang diperingati bukan semata-mata bencana, tetapi juga daya hidup masyarakat Batur setelah bencana.

Semangat itulah yang diangkat dalam Cipta Pagelaran Intermedium Rena, yang dipentaskan pada 3 Agustus 2026 di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur dalam rangka memperingati 100 tahun Rarud Batur. Rena tidak mencoba menghadirkan sejarah dalam bentuk kronologi yang lengkap. Karya ini memilih satu garis perjalanan yang sederhana, tetapi kuat: kehidupan, kehancuran, pengungsian, dan kebangkitan.

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

Pertunjukan dimulai dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batur. Penonton diperlihatkan suasana kehidupan sebelum bencana, kondisi masyarakat yang bekerja, berinteraksi, dan menjalani kesehariannya. Bagian ini menjadi penting karena memperlihatkan apa yang kemudian hilang ketika gunung meletus. Kemudian suasana berubah, ketika Gunung Batur meletus. Ketenangan berubah menjadi kepanikan. Kehidupan yang sebelumnya tertata menjadi porak-poranda. Masyarakat tercerai-berai dan harus meninggalkan tempat tinggal mereka.

Perubahan tersebut tidak disampaikan melalui cerita verbal semata. Di sinilah pendekatan intermedium menjadi kekuatan Rena. Tari, karawitan, seni rupa, teater, tata rias, dan tata cahaya dipertemukan untuk memvisualisasikan perjalanan masyarakat Batur. Tari menjadi bahasa tubuh. Gerak dan formasi penari berubah mengikuti perjalanan cerita: dari aktivitas keseharian, kepanikan akibat bencana, masyarakat yang tercerai-berai, hingga kebersamaan yang kembali tumbuh. Tubuh penari menjadi representasi masyarakat yang mengalami perubahan drastis dalam waktu singkat.

Karawitan membangun perjalanan suasana melalui bunyi. Musik tidak hanya mengiringi tari, tetapi ikut membentuk ketegangan, kepanikan, kesunyian pengungsian, hingga energi kebangkitan. Perubahan musikal membantu penonton mengikuti perubahan emosional yang terjadi di atas panggung. Seni rupa melalui ogoh-ogoh memperkuat dimensi visual. Ogoh-ogoh hadir sebagai bagian dari bahasa rupa pertunjukan dan membantu menghadirkan kekuatan simbolik serta suasana dramatik. Kehadirannya memperluas pengalaman penonton dari sekadar melihat gerak dan mendengar musik menjadi berhadapan dengan objek visual yang memiliki daya tarik tersendiri.

Teater menghadirkan pengalaman manusia di balik peristiwa sejarah. Ketakutan, kehilangan, perpindahan, dan usaha untuk bertahan menjadi pengalaman dramatik yang membuat Rarud Batur terasa lebih dekat sebagai kisah manusia, bukan sekadar catatan sejarah. Sementara itu, tata rias dan tata cahaya memperkuat perubahan karakter dan suasana. Tata rias membantu membangun tampilan para pelaku, sedangkan tata cahaya mengarahkan fokus penonton dan mempertegas perubahan atmosfer dari kehidupan normal menuju bencana, pengungsian, dan kebangkitan.

Pertemuan berbagai medium tersebut kemudian membawa pertunjukan memasuki fase pengungsian. Masyarakat Batur digambarkan meninggalkan tempat tinggal mereka dan menuju tempat sementara di Desa Bayung Gede.

Bagian ini memiliki pijakan sejarah yang kuat. Ketika Rarud Batur terjadi, masyarakat tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga menyelamatkan benda-benda sakral dan pusaka Pura Ulun Danu Batur. Arca, pusaka, pustaka rajapurana, bahkan bagian dari struktur jero agung pura berhasil dievakuasi dan untuk sementara ditempatkan di Bayung Gede. Kehidupan spiritual pun tetap berjalan; upacara seperti Ngusaba Kadasa sempat dilaksanakan di tempat pengungsian. Artinya, perpindahan tersebut bukan sekadar perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Masyarakat Batur membawa kebudayaan dan keyakinan mereka bersama mereka.

Setelah sekitar dua tahun, masyarakat kemudian direlokasi ke Kalanganyar, lokasi Desa Batur yang sekarang. Nama Kalanganyar, diambil dari kata kalangan berarti panggung dan anyar berarti baru, seolah-olah menggambarkan semangat untuk memulai kehidupan dari awal.

Di tempat baru inilah masyarakat kembali membangun kehidupan. Mereka membangun rumah, menata kembali lingkungan, dan yang sangat penting, membangun kembali Pura Ulun Danu Batur dengan menyesuaikan tatanannya dengan pura lama di kaki Gunung Batur. Pembangunan pura tersebut rampung pada 1935 dan kemudian disertai rangkaian upacara keagamaan.

Perjalanan inilah yang menjadi klimaks Rena. Setelah bencana dan pengungsian, masyarakat tidak digambarkan sebagai korban yang terus-menerus berada dalam kesedihan. Mereka bangkit. Mereka membangun kembali desa. Mereka membangun kembali ruang spiritual. Mereka menyatukan kembali kehidupan sosial yang sempat tercerai-berai.

Kebangkitan menjadi pesan utama karya. Dengan demikian, Rena tidak menempatkan Rarud Batur hanya sebagai kisah tentang sesuatu yang pernah hancur. Karya ini justru mengarahkan perhatian pada apa yang terjadi sesudah kehancuran: bagaimana manusia menemukan kekuatan untuk memulai kembali.

Menariknya, pesan tersebut tidak hanya sampai kepada penonton yang telah mengetahui sejarah Batur. Anak-anak yang menyaksikan pertunjukan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Bagi sebagian anak, Rarud Batur mungkin sebelumnya hanya berupa cerita yang mereka dengar dari orang tua atau para tetua. Namun di atas panggung, cerita itu menjadi nyata dalam imajinasi mereka. Mereka melihat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, menyaksikan gunung meletus, melihat kepanikan dan pengungsian, kemudian menyaksikan bagaimana masyarakat tersebut bangkit. Mereka terpesona bukan karena sedang mengikuti pelajaran sejarah, tetapi karena sejarah hadir sebagai pertunjukan.

Mereka belajar melalui gerak penari, bunyi karawitan, bentuk ogoh-ogoh, adegan teater, cahaya, dan tata visual. Mereka mungkin belum mengingat seluruh tanggal dan detail sejarah Rarud Batur, tetapi mereka mulai memahami sebuah cerita penting: bahwa Batur yang mereka kenal hari ini dibangun melalui perjalanan panjang dan perjuangan masyarakatnya. Di sinilah Rena menemukan fungsi lainnya. Ia menjadi ruang belajar sejarah melalui pengalaman artistik.

Bagi generasi yang lebih tua, pertunjukan ini dapat membangkitkan kembali cerita yang diwariskan oleh para tetua. Bagi generasi yang lebih muda, terutama anak-anak, pertunjukan menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah leluhurnya. Di antara keduanya, seni menjadi jembatan yang menghubungkan ingatan masa lalu dengan generasi yang akan mewarisinya.

Cipta Pagelaran Intermedium Rena di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur | Foto: Istimewa

Pemilihan Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur sebagai lokasi pertunjukan juga memperkuat pengalaman tersebut. Rena hadir bukan di ruang yang netral, tetapi di lingkungan yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah dan kehidupan spiritual masyarakat Batur. Ruang pertunjukan sekaligus menjadi bagian dari cerita yang sedang dihidupkan kembali.

Karya ini merupakan luaran Penelitian dan Penciptaan Seni Desain (P2SD) Berdampak yang dilaksanakan oleh dosen Institut Seni Indonesia Bali. Karya tersebut diketuai oleh Anak Agung Ayu Mayun Artati, dengan anggota I Gede Oka Surya Negara, Ni Nyoman Kasih, Made Ayu Desiari, I Gede Radiana Putra, dan Sang Nyoman Gede Adhi Santika.

Melalui proses penelitian dan penciptaan, sejarah, kebudayaan, nilai lokal, dan ingatan masyarakat diterjemahkan menjadi pengalaman artistik. Penelitian menjadi pijakan untuk memahami peristiwa, sementara seni menjadi bahasa untuk menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada masyarakat.

Seratus tahun setelah Rarud Batur, masyarakat Batur tidak hanya mengenang apa yang pernah hilang. Mereka juga mengingat apa yang berhasil dibangun kembali. Rena mengingatkan bahwa bencana memang dapat menghancurkan tempat, tetapi tidak selalu mampu menghentikan kehidupan. Ada kebudayaan yang dapat diselamatkan. Ada ingatan yang dapat diwariskan. Ada masyarakat yang dapat membangun kembali dirinya. Dan mungkin, ada pula anugerah yang baru terlihat setelah semuanya berlalu.

Dari Rarud Batur menuju Rena, yang dirawat bukan hanya ingatan tentang sebuah bencana, tetapi ingatan tentang keberanian untuk bangkit. Ketika anak-anak menyaksikan kisah itu dengan mata penuh kekaguman, sejarah Batur pun menemukan cara baru untuk terus hidup bukan hanya dalam cerita para tetua, tetapi juga dalam imajinasi generasi yang akan meneruskannya.[T]

Penulis: Anak Agung Ayu Mayun Artati
Editor: Adnyana Ole

Tags: BaturBatur Village FestivalBatur Village Festival 2026ISI BaliPura Baturseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

Next Post

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

AA Ayu Mayun Artati

AA Ayu Mayun Artati

Seniman akademik yang sering mendapatkan kepercayaan ikut serta dalam kegiatan penjurian pada event lomba tari Bali sejak tahun 2005. Dia adalah seorang dosen Prodi Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Bali. Terlibat sebagai koreografer dalam pertunjukan kolosal ISI Bali. Koreografer Tari Murdanata Dewi Prawrddhi 2025, Tari Stuti Puja tahun 2014

Related Posts

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan
Tualang

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu
Esai

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana
Khas

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan
Khas

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
Perkara Anarkis dan Anarkistis
Bahasa

Perkara Anarkis dan Anarkistis

Pernahkah Anda berpikir bahwa kata anarkis dan anarkistis itu sama saja? Walaupun kedua kata anarkis dan anarkistis sudah banyak ditulis,...

by I Made Sudiana
August 30, 2026
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?
Esai

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co