“Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke hadapan generasi sekarang.“
GUNUNG Batur di Kintamani, Bangli, tidak hanya menyimpan keindahan. Catatan para pengunjung Bali pada dekade 1920-an menggambarkan gunung ini sebagai lanskap yang sekaligus mempesona dan menggentarkan. Asap keluar dari kawah, gemuruh terdengar, dan gempa sesekali mengguncang kawasan Kintamani. Bagi masyarakat Batur, tanda-tanda alam tersebut merupakan bagian dari kehidupan mereka bersama gunung yang juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan spiritual.
Pada tanggal 2 Agustus 1926 tengah malam, gempa vulkanik menandai dimulainya erupsi besar. Aktivitas gunung sempat mereda pada siang hari berikutnya, tetapi kembali meningkat pada malam harinya. Lava pijar kemudian bergerak menuju permukiman Desa Batur Let yang berada di lereng Gunung Batur. Dalam waktu singkat, kehidupan masyarakat berubah. Desa lama hancur dan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggal mereka. Peristiwa itulah yang kemudian dikenang sebagai Rarud Batur.
Namun, Rarud Batur bukan hanya cerita tentang kehancuran. Di dalamnya terdapat kisah tentang bagaimana masyarakat menyelamatkan kehidupan, menjaga warisan spiritual, menjalani pengungsian, dan akhirnya membangun kembali kehidupan di tempat yang baru. Karena itu, satu abad kemudian, yang diperingati bukan semata-mata bencana, tetapi juga daya hidup masyarakat Batur setelah bencana.
Semangat itulah yang diangkat dalam Cipta Pagelaran Intermedium Rena, yang dipentaskan pada 3 Agustus 2026 di Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur dalam rangka memperingati 100 tahun Rarud Batur. Rena tidak mencoba menghadirkan sejarah dalam bentuk kronologi yang lengkap. Karya ini memilih satu garis perjalanan yang sederhana, tetapi kuat: kehidupan, kehancuran, pengungsian, dan kebangkitan.

Pertunjukan dimulai dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batur. Penonton diperlihatkan suasana kehidupan sebelum bencana, kondisi masyarakat yang bekerja, berinteraksi, dan menjalani kesehariannya. Bagian ini menjadi penting karena memperlihatkan apa yang kemudian hilang ketika gunung meletus. Kemudian suasana berubah, ketika Gunung Batur meletus. Ketenangan berubah menjadi kepanikan. Kehidupan yang sebelumnya tertata menjadi porak-poranda. Masyarakat tercerai-berai dan harus meninggalkan tempat tinggal mereka.
Perubahan tersebut tidak disampaikan melalui cerita verbal semata. Di sinilah pendekatan intermedium menjadi kekuatan Rena. Tari, karawitan, seni rupa, teater, tata rias, dan tata cahaya dipertemukan untuk memvisualisasikan perjalanan masyarakat Batur. Tari menjadi bahasa tubuh. Gerak dan formasi penari berubah mengikuti perjalanan cerita: dari aktivitas keseharian, kepanikan akibat bencana, masyarakat yang tercerai-berai, hingga kebersamaan yang kembali tumbuh. Tubuh penari menjadi representasi masyarakat yang mengalami perubahan drastis dalam waktu singkat.
Karawitan membangun perjalanan suasana melalui bunyi. Musik tidak hanya mengiringi tari, tetapi ikut membentuk ketegangan, kepanikan, kesunyian pengungsian, hingga energi kebangkitan. Perubahan musikal membantu penonton mengikuti perubahan emosional yang terjadi di atas panggung. Seni rupa melalui ogoh-ogoh memperkuat dimensi visual. Ogoh-ogoh hadir sebagai bagian dari bahasa rupa pertunjukan dan membantu menghadirkan kekuatan simbolik serta suasana dramatik. Kehadirannya memperluas pengalaman penonton dari sekadar melihat gerak dan mendengar musik menjadi berhadapan dengan objek visual yang memiliki daya tarik tersendiri.
Teater menghadirkan pengalaman manusia di balik peristiwa sejarah. Ketakutan, kehilangan, perpindahan, dan usaha untuk bertahan menjadi pengalaman dramatik yang membuat Rarud Batur terasa lebih dekat sebagai kisah manusia, bukan sekadar catatan sejarah. Sementara itu, tata rias dan tata cahaya memperkuat perubahan karakter dan suasana. Tata rias membantu membangun tampilan para pelaku, sedangkan tata cahaya mengarahkan fokus penonton dan mempertegas perubahan atmosfer dari kehidupan normal menuju bencana, pengungsian, dan kebangkitan.
Pertemuan berbagai medium tersebut kemudian membawa pertunjukan memasuki fase pengungsian. Masyarakat Batur digambarkan meninggalkan tempat tinggal mereka dan menuju tempat sementara di Desa Bayung Gede.
Bagian ini memiliki pijakan sejarah yang kuat. Ketika Rarud Batur terjadi, masyarakat tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi juga menyelamatkan benda-benda sakral dan pusaka Pura Ulun Danu Batur. Arca, pusaka, pustaka rajapurana, bahkan bagian dari struktur jero agung pura berhasil dievakuasi dan untuk sementara ditempatkan di Bayung Gede. Kehidupan spiritual pun tetap berjalan; upacara seperti Ngusaba Kadasa sempat dilaksanakan di tempat pengungsian. Artinya, perpindahan tersebut bukan sekadar perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Masyarakat Batur membawa kebudayaan dan keyakinan mereka bersama mereka.
Setelah sekitar dua tahun, masyarakat kemudian direlokasi ke Kalanganyar, lokasi Desa Batur yang sekarang. Nama Kalanganyar, diambil dari kata kalangan berarti panggung dan anyar berarti baru, seolah-olah menggambarkan semangat untuk memulai kehidupan dari awal.
Di tempat baru inilah masyarakat kembali membangun kehidupan. Mereka membangun rumah, menata kembali lingkungan, dan yang sangat penting, membangun kembali Pura Ulun Danu Batur dengan menyesuaikan tatanannya dengan pura lama di kaki Gunung Batur. Pembangunan pura tersebut rampung pada 1935 dan kemudian disertai rangkaian upacara keagamaan.
Perjalanan inilah yang menjadi klimaks Rena. Setelah bencana dan pengungsian, masyarakat tidak digambarkan sebagai korban yang terus-menerus berada dalam kesedihan. Mereka bangkit. Mereka membangun kembali desa. Mereka membangun kembali ruang spiritual. Mereka menyatukan kembali kehidupan sosial yang sempat tercerai-berai.
Kebangkitan menjadi pesan utama karya. Dengan demikian, Rena tidak menempatkan Rarud Batur hanya sebagai kisah tentang sesuatu yang pernah hancur. Karya ini justru mengarahkan perhatian pada apa yang terjadi sesudah kehancuran: bagaimana manusia menemukan kekuatan untuk memulai kembali.
Menariknya, pesan tersebut tidak hanya sampai kepada penonton yang telah mengetahui sejarah Batur. Anak-anak yang menyaksikan pertunjukan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Bagi sebagian anak, Rarud Batur mungkin sebelumnya hanya berupa cerita yang mereka dengar dari orang tua atau para tetua. Namun di atas panggung, cerita itu menjadi nyata dalam imajinasi mereka. Mereka melihat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari, menyaksikan gunung meletus, melihat kepanikan dan pengungsian, kemudian menyaksikan bagaimana masyarakat tersebut bangkit. Mereka terpesona bukan karena sedang mengikuti pelajaran sejarah, tetapi karena sejarah hadir sebagai pertunjukan.
Mereka belajar melalui gerak penari, bunyi karawitan, bentuk ogoh-ogoh, adegan teater, cahaya, dan tata visual. Mereka mungkin belum mengingat seluruh tanggal dan detail sejarah Rarud Batur, tetapi mereka mulai memahami sebuah cerita penting: bahwa Batur yang mereka kenal hari ini dibangun melalui perjalanan panjang dan perjuangan masyarakatnya. Di sinilah Rena menemukan fungsi lainnya. Ia menjadi ruang belajar sejarah melalui pengalaman artistik.
Bagi generasi yang lebih tua, pertunjukan ini dapat membangkitkan kembali cerita yang diwariskan oleh para tetua. Bagi generasi yang lebih muda, terutama anak-anak, pertunjukan menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah leluhurnya. Di antara keduanya, seni menjadi jembatan yang menghubungkan ingatan masa lalu dengan generasi yang akan mewarisinya.

Pemilihan Jaba Tengah Pura Ulun Danu Batur sebagai lokasi pertunjukan juga memperkuat pengalaman tersebut. Rena hadir bukan di ruang yang netral, tetapi di lingkungan yang memiliki hubungan langsung dengan sejarah dan kehidupan spiritual masyarakat Batur. Ruang pertunjukan sekaligus menjadi bagian dari cerita yang sedang dihidupkan kembali.
Karya ini merupakan luaran Penelitian dan Penciptaan Seni Desain (P2SD) Berdampak yang dilaksanakan oleh dosen Institut Seni Indonesia Bali. Karya tersebut diketuai oleh Anak Agung Ayu Mayun Artati, dengan anggota I Gede Oka Surya Negara, Ni Nyoman Kasih, Made Ayu Desiari, I Gede Radiana Putra, dan Sang Nyoman Gede Adhi Santika.
Melalui proses penelitian dan penciptaan, sejarah, kebudayaan, nilai lokal, dan ingatan masyarakat diterjemahkan menjadi pengalaman artistik. Penelitian menjadi pijakan untuk memahami peristiwa, sementara seni menjadi bahasa untuk menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada masyarakat.
Seratus tahun setelah Rarud Batur, masyarakat Batur tidak hanya mengenang apa yang pernah hilang. Mereka juga mengingat apa yang berhasil dibangun kembali. Rena mengingatkan bahwa bencana memang dapat menghancurkan tempat, tetapi tidak selalu mampu menghentikan kehidupan. Ada kebudayaan yang dapat diselamatkan. Ada ingatan yang dapat diwariskan. Ada masyarakat yang dapat membangun kembali dirinya. Dan mungkin, ada pula anugerah yang baru terlihat setelah semuanya berlalu.
Dari Rarud Batur menuju Rena, yang dirawat bukan hanya ingatan tentang sebuah bencana, tetapi ingatan tentang keberanian untuk bangkit. Ketika anak-anak menyaksikan kisah itu dengan mata penuh kekaguman, sejarah Batur pun menemukan cara baru untuk terus hidup bukan hanya dalam cerita para tetua, tetapi juga dalam imajinasi generasi yang akan meneruskannya.[T]
Penulis: Anak Agung Ayu Mayun Artati
Editor: Adnyana Ole































