Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan para generasi muda mampu menenangkan pikiran dari rutinitas kehidupan yang serba cepat di zaman ini. Pedoman hidup kembali diingatkan, terutama untuk membedakan mana yang baik (dharma) dan mana yang buruk (adharma). Semua yang hadir juga diajak memahami sastra Bali yang menjadi akar kebudayaan Bali.
Itulah suasana yang terasa ketika menyaksikan berbagai lomba sastra dan budaya Bali dalam kegiatan Utsawa Dharmagita (UDG) XXXIII pada hari kedua, Sabtu, 12 September 2026. Dengan tema “Dharmagita Atmanam Dharma” yang bermakna Menuntun Jiwa Menuju Kesucian, kegiatan ini menghadirkan 11 bidang lomba sastra dengan total 37 kategori dan berlangsung pada 11–16 September 2026.
Di hari kedua ini, lomba yang digelar meliputi Membaca Sloka Anak-Anak Putra di Gedung Kriya, Dharmawacana Bahasa Inggris Dewasa Putri di Gedung Ksirarnawa, Membaca Palawakya Remaja Putra di Kalangan Angsoka, Membaca Kakawin Remaja Putra di Kalangan Ayodya, Menghafal Sloka Anak-Anak Putra di Wantilan, serta Dharmawacana Bahasa Bali Anak-Anak Putra di Kalangan Ratna Kanda.

Dari seluruh lomba tersebut, Membaca Palawakya Remaja Putra menjadi perhatian para pengunjung. Para peserta membawakan prosa Jawa Kuna/Kawi dengan suara yang tegas. Karakter vokal yang kuat, pembawaan, hingga pemaknaan dinilai mampu memberikan kesan tersendiri sekaligus berkontribusi terhadap pelestarian sastra Bali. Para pengunjung seakan tidak percaya bahwa Palawakya tersebut dibawakan oleh generasi muda Bali.
Salah satu dewan juri, Nengah Medera, mengaku bangga dengan antusiasme generasi muda dalam mengikuti lomba Membaca Palawakya. Menurut dia, para peserta tampil dengan kualitas yang menunjukkan perkembangan cukup tinggi. “Itu barangkali karena para pembinanya sudah berpengalaman bertahun-tahun. Namun, masalahnya sekarang bagaimana kita selalu memotivasi anak-anak muda itu supaya senang dan mencintai warisan ini,” ucapnya.
Perkembangan para remaja tersebut memang masih memerlukan banyak pembinaan. Artinya, pembinaan tidak hanya untuk tampil dalam ajang Utsawa, tetapi juga bagaimana memotivasi mereka agar terus menekuni sastra sehingga menjadi aset bagi kebudayaan Bali. Sebab, tanpa memahami nilai-nilai yang bersumber dari ajaran suci, kebudayaan seolah-olah hanya dilihat sebagai sesuatu yang bersifat lahiriah. “Kalau kita berpikir tentang budaya Bali, sesungguhnya inilah yang menjadi akar dari apa yang diwarisi oleh para leluhur Bali,” tegasnya.

Medera menambahkan, jika direnungkan, susastra bersumber dari tattwa yang terdapat dalam kitab-kitab suci. Tattwa tersebut kemudian diformulasikan dan diturunkan menjadi sastra, lalu berkembang menjadi satua. Hal inilah yang dahulu dikuasai oleh para orang tua, sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. “Sampai pada pelaksanaan yang ke-33 ini, pemahaman para pembina, khususnya, sudah mulai kelihatan peningkatannya dibandingkan dengan awal lomba ini dimulai,” ujarnya.
Para pengunjung, utamanya anak-anak muda, juga meramaikan lomba Dharmawacana Bahasa Inggris kategori Dewasa Putri yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa. Kualitas para peserta dinilai sangat baik sehingga penampilan mereka terlihat ngelangenin (menawan hati). “Lomba Dharmawacana Bahasa Inggris mengalami perkembangan yang sangat baik setiap tahunnya. Hanya saja, secara kuantitas mengalami penurunan,” kata salah satu dewan juri, Ketut Sutama.
Hampir semua peserta memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, termasuk dalam penguasaan materi. Mereka tampaknya antusias belajar dan mempersiapkan diri untuk bersaing agar mampu terpilih mewakili Bali di tingkat nasional. “Sayangnya, dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya empat yang bisa kita seleksi untuk masuk ke tingkat nasional. Sebanyak empat peserta berasal dari Kabupaten Badung, Karangasem, Tabanan, dan Kota Denpasar. Maka, dari segi kuantitas memang menurun,” bebertnya.
Sementara itu, lomba Menghafal Sloka Anak-Anak Putra yang berlangsung di Wantilan juga memikat perhatian. Meski hanya diikuti empat peserta, yakni dari Kabupaten Gianyar, Badung, Karangasem, dan Kota Denpasar, lomba tersebut tetap memiliki daya tarik. Anak-anak mampu menghafal sloka secara utuh dengan baik. Mereka juga berani tampil dan tetap tenang ketika berada di atas panggung. “Persaingan di kategori putra ini cukup ketat, khususnya untuk juara satu dan dua,” ucap salah satu dewan juri, Jero Arum.

Namun, yang menjadi catatan adalah pengucapan atau lafal. Karena dalam membaca sloka menggunakan bahasa Sanskerta, teknik pelafalannya harus benar. Salah dalam melafalkan dapat menyebabkan perubahan makna. Hal kedua adalah menerjemahkan sloka ke dalam bahasa Bali yang harus sesuai dengan aturan-aturan yang ada, seperti sor singgih basa, kata ganti orang, dan lainnya.
“Misalnya, kata ‘dia’ dalam bahasa Indonesia sangat umum, tetapi dalam bahasa Bali bisa menjadi ‘ida’, ‘dane’, atau ‘ipun’. Maka, dalam konsep menerjemahkan sloka ini perlu ada konteks makna dan etika kebahasaan dalam sor singgih basa. Di sini yang masih kurang,” sebutnya.
Jero Arum menegaskan, pembina perlu lebih jeli dalam memperhatikan proses penerjemahan. Bahasa Indonesia tidak bisa serta-merta langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Bali karena bahasa Bali memiliki istilah-istilah tersendiri. “Misalnya, ‘membuka mata’ seharusnya diterjemahkan menjadi ‘ngedat’, bukan ‘ngeranjingan penyikakan’,” jelasnya.
Selain itu, dalam membaca sloka terdapat aturan wirama yang ditentukan oleh guru dan lagu. Menurut Jero Arum, dalam hal ini pembina perlu lebih jeli ketika memberikan wewiletan atau wirama agar tetap memperhatikan guru lagu. Hal tersebut berpengaruh terhadap ketepatan dalam membaca sloka.

“Secara umum, dalam lomba ini yang paling penting adalah keutuhan pembacaan dan ketepatan terjemahan, bukan kecepatan membaca. Kebanyakan anak-anak yang tampil terlalu cepat temponya, sehingga maknanya tidak jelas. Banyak pula yang salah dalam pengucapan dan akhirnya menjadi kelemahan bagi peserta,” ungkap Jero Aru. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































