3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
in Esai
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Putu Arya Nugraha

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan jawaban yang jelas. Menariknya lagi, ilmu kedokteran menyebutkan penyakit lupus dan berbagai penyakit autoimun lainnya di sebabkan oleh diri sendiri. Ini memberikan kebingungan lebih besar buat kita. Sistem pertahanan tubuh atau yang sering dikenal dengan sistem imun rupanya lebih banyak dilatih secara alami maupun dengan rekayasa untuk melawan musuh dri luar. Umpamanya, seseorang akan kebal setelah mengidap penyakit cacar air. Atau banyak infeksi kuman yang tak sampai menimbulkan gejala namun tubuh telah membentuk kekebalan alaminya.

Vaksinasi adalah sebuah rekayasa mengaktifkan kekebalan tubuh secara artifisial yaitu dengan sengaja menyuntikkan kuman penyakit yang dilemahkan agar tubuh membentuk kekebalan atau imun. Namun, tubuh tak pernah berlatih menciptakan kekebalan terhadap sistem imunnya sendiri, terutama sistem imun yang nyeleweng. Maka terjadilah penyakit autoimun atau autoantibodi, penyakit yang disebabkan oleh musuh dalam diri sendiri, oleh respon imun yang meledak dalam dirinya sendiri. Dan tak sedikit yang bergejala berat, mematikan.

Saat sains tak menjawab dengan gamblang, filsafat membantu. Dalam spektrum luas, filsafat dalam hal ini menyangkut agama, tradisi atau kearifan lokal. Filsuf agung Sokrates mengatakan “Pertempuran yang paling besar adalah melawan diri sendiri.” Ia menegaskan bahwa, musuh terberat kita bukanlah orang lain, bukan keadaan, bahkan bukan dunia yg tampak menentang kita, melainkan diri kita sendiri, ego, amarah, ketakutan, kemalasan, dan hawa nafsu yang bergejolak dalam hati dan pikiran kita.

Oleh karena itu, semboyan Gnothi Seauton atau “Know thyself” (kenalilah dirimu sendiri) menjadi fondasi utama perjalanan intelektual dan moral. Buddha pernah menyampaikan tentang pikiran, dengan mengatakan, “Tidak ada musuh yang dapat menyakiti manusia sebesar pikiran mereka sendiri melalui nafsu serakah, kebencian, dan ketidaktahuan batin.” Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Dalam Hindu, secara lugas disebutkan musuh-musuh dalam diri sendiri dalam ajaran Sad Ripu. Sad Ripu hanya dapat dikendalikan oleh manusia itu sendiri dengan mengendalikan pikirannya. Sebab semua berawal dari pikiran (idep) yang kemudian dilaksanakan melalui perkataan (sabda) dan perbuatan (bayu). Dengan demikian manusia harus melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisuda untuk mengendalikan Sad Ripu melalui pikiran (manacika), perkataan (wacika) dan perbuatan (kayika).

Seperti disebutkan dalam kakawin Ramayana “Ragadi musuh mapara, riati ya tonggwania tan madoh ri awak.” Musuh itu sangat dekat dengan badan kita, tempatnya di hati yang tak jauh dari badan kita. Jadi, dengan demikian musuh dari dalam hatilah yang harus kita taklukkan terlebih dahulu, karena besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dunia ini. Namun seperti dalam dunia medis, yang sangat fokus melatih kekuatan tubuh terhadap ancaman penyakit dari luar, dalam kehidupan duniawi pun manusia lebih banyak menyiapkan diri untuk melawan peperangan dengan manusia lain sebagai musuh.

Penyakit-penyakit autoimun seperti penyakit lupus, artritis reumatoid, dan lain-lain, diobati dengan menekan ledakan respon imun dari tubuh sendiri dengan obat-obat yang disebut sebagai imunosupresan. Proses pengobatannya tidak singkat. Itu memerlukan waktu yang lama dan pemantauan yang ketat. Syukurnya saat ini, baik jenis-jenis obat penekan imun tersebut semakin lengkap dan dokter yang ahli di bidang itu pun sudah semakin banyak. Asuransi kesehatan pemerintah (BPJS) juga turut menjamin pembiayaan pengobatan penyakit autoimun tersebut.

Jika tak ditangani dengan baik, kemarahan respon imun yang keliru tersebut dapat merusak otak, ginjal dan organ-organ vital yang lain sebagai komplikasinya. Oh ya, BPJS akan menanggung biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh “kemarahan” sistem imun sendiri namun tidak menjamin penyakit yang disebabkan oleh karena “kemauan” diri sendiri seperti percobaan bunuh diri, luka akibat perkelahian atau kebut-kebutan. Ini pun sejatinya adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh kekalahan melawan diri sendiri.

Filsafat pun mungkin belum memberi jawaban yang pasti. Namun itu dapat membantu kita menjadi lebih mudah memahami berbagai misteri. Seperti sebuah percakapan dalam novel best seller Angels and Demons karya Dan Brown, antara seorang pasukan garda Swiss bernama Rocher dengan seorang Carmelengo (pelayan Paus.) Sang prajurit mengungkapkan keraguannya terhadap kasih Tuhan. Baginya, sulit memahami konsep Tuhan yang penuh kasih ketika di dunia terdapat begitu banyak penderitaan, ketidakadilan, penyakit, dan kematian.

Jika Tuhan benar-benar penuh kasih dan berkuasa, mengapa Tuhan membiarkan manusia menderita? Camerlengo menjawab bahwa penderitaan dan kejahatan bukan bukti bahwa Tuhan tidak mengasihi manusia. Justru manusia memiliki kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan. Tetapi keberatan Rocher lebih mendasar, bagaimana dengan penderitaan yang bukan akibat pilihan manusia? Anak-anak yang sakit, orang yang tidak bersalah yang menjadi korban, bencana, dan berbagai penderitaan yang tidak mereka pilih. Mengapa Tuhan yang penuh kasih membiarkannya terjadi? Camerlengo mengatakan, pada intinya, bahwa manusia tidak selalu dapat memahami rencana Tuhan. Apa yang tampak sebagai penderitaan atau kejahatan dari perspektif manusia belum tentu dapat dipahami secara utuh dalam perspektif Tuhan.

Camerlengo memintanya membayangkan bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Apakah ia mencintai anak itu? Tentu. Kemudian ia bertanya, apakah sebagai ayah ia akan membiarkan anaknya bermain skateboard? Rocher menjawab, bahwa ia akan mengizinkannya, sambil memperingatkannya agar berhati-hati. Camerlengo lalu bertanya jika anak itu jatuh dan lututnya terluka, bukankah sang ayah sebenarnya mempunyai kemampuan untuk mencegah rasa sakit itu, tetapi memilih untuk tidak terus-menerus mengintervensi karena anak tersebut harus belajar dari pengalamannya sendiri?

Rocher menjawab bahwa rasa sakit merupakan bagian dari proses tumbuh dan belajar. Camerlengo kemudian menyimpulkan demikian pula dengan Tuhan, sang pengawal mulai paham. Mungkin betul, penyakit autoimun dan berbagai fenomena dalam kehidupan manusia bukanlah suatu kebetulan. Jika sains belum mampu menerangkan, filsafat atau agama mungkin dapat membantu. Lalu mengapa mempelajari diri sendiri itu hal penting? Karena zat dan energi dalam tubuh manusia yang mungil adalah representasi raksasa alam semesta yang penuh misteri. [T]

Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dokter Arya Nugrahakesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Next Post

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co