SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan jawaban yang jelas. Menariknya lagi, ilmu kedokteran menyebutkan penyakit lupus dan berbagai penyakit autoimun lainnya di sebabkan oleh diri sendiri. Ini memberikan kebingungan lebih besar buat kita. Sistem pertahanan tubuh atau yang sering dikenal dengan sistem imun rupanya lebih banyak dilatih secara alami maupun dengan rekayasa untuk melawan musuh dri luar. Umpamanya, seseorang akan kebal setelah mengidap penyakit cacar air. Atau banyak infeksi kuman yang tak sampai menimbulkan gejala namun tubuh telah membentuk kekebalan alaminya.
Vaksinasi adalah sebuah rekayasa mengaktifkan kekebalan tubuh secara artifisial yaitu dengan sengaja menyuntikkan kuman penyakit yang dilemahkan agar tubuh membentuk kekebalan atau imun. Namun, tubuh tak pernah berlatih menciptakan kekebalan terhadap sistem imunnya sendiri, terutama sistem imun yang nyeleweng. Maka terjadilah penyakit autoimun atau autoantibodi, penyakit yang disebabkan oleh musuh dalam diri sendiri, oleh respon imun yang meledak dalam dirinya sendiri. Dan tak sedikit yang bergejala berat, mematikan.
Saat sains tak menjawab dengan gamblang, filsafat membantu. Dalam spektrum luas, filsafat dalam hal ini menyangkut agama, tradisi atau kearifan lokal. Filsuf agung Sokrates mengatakan “Pertempuran yang paling besar adalah melawan diri sendiri.” Ia menegaskan bahwa, musuh terberat kita bukanlah orang lain, bukan keadaan, bahkan bukan dunia yg tampak menentang kita, melainkan diri kita sendiri, ego, amarah, ketakutan, kemalasan, dan hawa nafsu yang bergejolak dalam hati dan pikiran kita.
Oleh karena itu, semboyan Gnothi Seauton atau “Know thyself” (kenalilah dirimu sendiri) menjadi fondasi utama perjalanan intelektual dan moral. Buddha pernah menyampaikan tentang pikiran, dengan mengatakan, “Tidak ada musuh yang dapat menyakiti manusia sebesar pikiran mereka sendiri melalui nafsu serakah, kebencian, dan ketidaktahuan batin.” Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.
Dalam Hindu, secara lugas disebutkan musuh-musuh dalam diri sendiri dalam ajaran Sad Ripu. Sad Ripu hanya dapat dikendalikan oleh manusia itu sendiri dengan mengendalikan pikirannya. Sebab semua berawal dari pikiran (idep) yang kemudian dilaksanakan melalui perkataan (sabda) dan perbuatan (bayu). Dengan demikian manusia harus melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisuda untuk mengendalikan Sad Ripu melalui pikiran (manacika), perkataan (wacika) dan perbuatan (kayika).
Seperti disebutkan dalam kakawin Ramayana “Ragadi musuh mapara, riati ya tonggwania tan madoh ri awak.” Musuh itu sangat dekat dengan badan kita, tempatnya di hati yang tak jauh dari badan kita. Jadi, dengan demikian musuh dari dalam hatilah yang harus kita taklukkan terlebih dahulu, karena besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dunia ini. Namun seperti dalam dunia medis, yang sangat fokus melatih kekuatan tubuh terhadap ancaman penyakit dari luar, dalam kehidupan duniawi pun manusia lebih banyak menyiapkan diri untuk melawan peperangan dengan manusia lain sebagai musuh.
Penyakit-penyakit autoimun seperti penyakit lupus, artritis reumatoid, dan lain-lain, diobati dengan menekan ledakan respon imun dari tubuh sendiri dengan obat-obat yang disebut sebagai imunosupresan. Proses pengobatannya tidak singkat. Itu memerlukan waktu yang lama dan pemantauan yang ketat. Syukurnya saat ini, baik jenis-jenis obat penekan imun tersebut semakin lengkap dan dokter yang ahli di bidang itu pun sudah semakin banyak. Asuransi kesehatan pemerintah (BPJS) juga turut menjamin pembiayaan pengobatan penyakit autoimun tersebut.
Jika tak ditangani dengan baik, kemarahan respon imun yang keliru tersebut dapat merusak otak, ginjal dan organ-organ vital yang lain sebagai komplikasinya. Oh ya, BPJS akan menanggung biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh “kemarahan” sistem imun sendiri namun tidak menjamin penyakit yang disebabkan oleh karena “kemauan” diri sendiri seperti percobaan bunuh diri, luka akibat perkelahian atau kebut-kebutan. Ini pun sejatinya adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh kekalahan melawan diri sendiri.
Filsafat pun mungkin belum memberi jawaban yang pasti. Namun itu dapat membantu kita menjadi lebih mudah memahami berbagai misteri. Seperti sebuah percakapan dalam novel best seller Angels and Demons karya Dan Brown, antara seorang pasukan garda Swiss bernama Rocher dengan seorang Carmelengo (pelayan Paus.) Sang prajurit mengungkapkan keraguannya terhadap kasih Tuhan. Baginya, sulit memahami konsep Tuhan yang penuh kasih ketika di dunia terdapat begitu banyak penderitaan, ketidakadilan, penyakit, dan kematian.
Jika Tuhan benar-benar penuh kasih dan berkuasa, mengapa Tuhan membiarkan manusia menderita? Camerlengo menjawab bahwa penderitaan dan kejahatan bukan bukti bahwa Tuhan tidak mengasihi manusia. Justru manusia memiliki kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan. Tetapi keberatan Rocher lebih mendasar, bagaimana dengan penderitaan yang bukan akibat pilihan manusia? Anak-anak yang sakit, orang yang tidak bersalah yang menjadi korban, bencana, dan berbagai penderitaan yang tidak mereka pilih. Mengapa Tuhan yang penuh kasih membiarkannya terjadi? Camerlengo mengatakan, pada intinya, bahwa manusia tidak selalu dapat memahami rencana Tuhan. Apa yang tampak sebagai penderitaan atau kejahatan dari perspektif manusia belum tentu dapat dipahami secara utuh dalam perspektif Tuhan.
Camerlengo memintanya membayangkan bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Apakah ia mencintai anak itu? Tentu. Kemudian ia bertanya, apakah sebagai ayah ia akan membiarkan anaknya bermain skateboard? Rocher menjawab, bahwa ia akan mengizinkannya, sambil memperingatkannya agar berhati-hati. Camerlengo lalu bertanya jika anak itu jatuh dan lututnya terluka, bukankah sang ayah sebenarnya mempunyai kemampuan untuk mencegah rasa sakit itu, tetapi memilih untuk tidak terus-menerus mengintervensi karena anak tersebut harus belajar dari pengalamannya sendiri?
Rocher menjawab bahwa rasa sakit merupakan bagian dari proses tumbuh dan belajar. Camerlengo kemudian menyimpulkan demikian pula dengan Tuhan, sang pengawal mulai paham. Mungkin betul, penyakit autoimun dan berbagai fenomena dalam kehidupan manusia bukanlah suatu kebetulan. Jika sains belum mampu menerangkan, filsafat atau agama mungkin dapat membantu. Lalu mengapa mempelajari diri sendiri itu hal penting? Karena zat dan energi dalam tubuh manusia yang mungil adalah representasi raksasa alam semesta yang penuh misteri. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole































