13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
in Esai
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Putu Arya Nugraha

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan jawaban yang jelas. Menariknya lagi, ilmu kedokteran menyebutkan penyakit lupus dan berbagai penyakit autoimun lainnya di sebabkan oleh diri sendiri. Ini memberikan kebingungan lebih besar buat kita. Sistem pertahanan tubuh atau yang sering dikenal dengan sistem imun rupanya lebih banyak dilatih secara alami maupun dengan rekayasa untuk melawan musuh dri luar. Umpamanya, seseorang akan kebal setelah mengidap penyakit cacar air. Atau banyak infeksi kuman yang tak sampai menimbulkan gejala namun tubuh telah membentuk kekebalan alaminya.

Vaksinasi adalah sebuah rekayasa mengaktifkan kekebalan tubuh secara artifisial yaitu dengan sengaja menyuntikkan kuman penyakit yang dilemahkan agar tubuh membentuk kekebalan atau imun. Namun, tubuh tak pernah berlatih menciptakan kekebalan terhadap sistem imunnya sendiri, terutama sistem imun yang nyeleweng. Maka terjadilah penyakit autoimun atau autoantibodi, penyakit yang disebabkan oleh musuh dalam diri sendiri, oleh respon imun yang meledak dalam dirinya sendiri. Dan tak sedikit yang bergejala berat, mematikan.

Saat sains tak menjawab dengan gamblang, filsafat membantu. Dalam spektrum luas, filsafat dalam hal ini menyangkut agama, tradisi atau kearifan lokal. Filsuf agung Sokrates mengatakan “Pertempuran yang paling besar adalah melawan diri sendiri.” Ia menegaskan bahwa, musuh terberat kita bukanlah orang lain, bukan keadaan, bahkan bukan dunia yg tampak menentang kita, melainkan diri kita sendiri, ego, amarah, ketakutan, kemalasan, dan hawa nafsu yang bergejolak dalam hati dan pikiran kita.

Oleh karena itu, semboyan Gnothi Seauton atau “Know thyself” (kenalilah dirimu sendiri) menjadi fondasi utama perjalanan intelektual dan moral. Buddha pernah menyampaikan tentang pikiran, dengan mengatakan, “Tidak ada musuh yang dapat menyakiti manusia sebesar pikiran mereka sendiri melalui nafsu serakah, kebencian, dan ketidaktahuan batin.” Walaupun seseorang dapat menaklukkan ribuan musuh dalam ribuan kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Dalam Hindu, secara lugas disebutkan musuh-musuh dalam diri sendiri dalam ajaran Sad Ripu. Sad Ripu hanya dapat dikendalikan oleh manusia itu sendiri dengan mengendalikan pikirannya. Sebab semua berawal dari pikiran (idep) yang kemudian dilaksanakan melalui perkataan (sabda) dan perbuatan (bayu). Dengan demikian manusia harus melaksanakan ajaran Tri Kaya Parisuda untuk mengendalikan Sad Ripu melalui pikiran (manacika), perkataan (wacika) dan perbuatan (kayika).

Seperti disebutkan dalam kakawin Ramayana “Ragadi musuh mapara, riati ya tonggwania tan madoh ri awak.” Musuh itu sangat dekat dengan badan kita, tempatnya di hati yang tak jauh dari badan kita. Jadi, dengan demikian musuh dari dalam hatilah yang harus kita taklukkan terlebih dahulu, karena besar pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dunia ini. Namun seperti dalam dunia medis, yang sangat fokus melatih kekuatan tubuh terhadap ancaman penyakit dari luar, dalam kehidupan duniawi pun manusia lebih banyak menyiapkan diri untuk melawan peperangan dengan manusia lain sebagai musuh.

Penyakit-penyakit autoimun seperti penyakit lupus, artritis reumatoid, dan lain-lain, diobati dengan menekan ledakan respon imun dari tubuh sendiri dengan obat-obat yang disebut sebagai imunosupresan. Proses pengobatannya tidak singkat. Itu memerlukan waktu yang lama dan pemantauan yang ketat. Syukurnya saat ini, baik jenis-jenis obat penekan imun tersebut semakin lengkap dan dokter yang ahli di bidang itu pun sudah semakin banyak. Asuransi kesehatan pemerintah (BPJS) juga turut menjamin pembiayaan pengobatan penyakit autoimun tersebut.

Jika tak ditangani dengan baik, kemarahan respon imun yang keliru tersebut dapat merusak otak, ginjal dan organ-organ vital yang lain sebagai komplikasinya. Oh ya, BPJS akan menanggung biaya pengobatan penyakit yang disebabkan oleh “kemarahan” sistem imun sendiri namun tidak menjamin penyakit yang disebabkan oleh karena “kemauan” diri sendiri seperti percobaan bunuh diri, luka akibat perkelahian atau kebut-kebutan. Ini pun sejatinya adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh kekalahan melawan diri sendiri.

Filsafat pun mungkin belum memberi jawaban yang pasti. Namun itu dapat membantu kita menjadi lebih mudah memahami berbagai misteri. Seperti sebuah percakapan dalam novel best seller Angels and Demons karya Dan Brown, antara seorang pasukan garda Swiss bernama Rocher dengan seorang Carmelengo (pelayan Paus.) Sang prajurit mengungkapkan keraguannya terhadap kasih Tuhan. Baginya, sulit memahami konsep Tuhan yang penuh kasih ketika di dunia terdapat begitu banyak penderitaan, ketidakadilan, penyakit, dan kematian.

Jika Tuhan benar-benar penuh kasih dan berkuasa, mengapa Tuhan membiarkan manusia menderita? Camerlengo menjawab bahwa penderitaan dan kejahatan bukan bukti bahwa Tuhan tidak mengasihi manusia. Justru manusia memiliki kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan. Tetapi keberatan Rocher lebih mendasar, bagaimana dengan penderitaan yang bukan akibat pilihan manusia? Anak-anak yang sakit, orang yang tidak bersalah yang menjadi korban, bencana, dan berbagai penderitaan yang tidak mereka pilih. Mengapa Tuhan yang penuh kasih membiarkannya terjadi? Camerlengo mengatakan, pada intinya, bahwa manusia tidak selalu dapat memahami rencana Tuhan. Apa yang tampak sebagai penderitaan atau kejahatan dari perspektif manusia belum tentu dapat dipahami secara utuh dalam perspektif Tuhan.

Camerlengo memintanya membayangkan bahwa ia mempunyai seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Apakah ia mencintai anak itu? Tentu. Kemudian ia bertanya, apakah sebagai ayah ia akan membiarkan anaknya bermain skateboard? Rocher menjawab, bahwa ia akan mengizinkannya, sambil memperingatkannya agar berhati-hati. Camerlengo lalu bertanya jika anak itu jatuh dan lututnya terluka, bukankah sang ayah sebenarnya mempunyai kemampuan untuk mencegah rasa sakit itu, tetapi memilih untuk tidak terus-menerus mengintervensi karena anak tersebut harus belajar dari pengalamannya sendiri?

Rocher menjawab bahwa rasa sakit merupakan bagian dari proses tumbuh dan belajar. Camerlengo kemudian menyimpulkan demikian pula dengan Tuhan, sang pengawal mulai paham. Mungkin betul, penyakit autoimun dan berbagai fenomena dalam kehidupan manusia bukanlah suatu kebetulan. Jika sains belum mampu menerangkan, filsafat atau agama mungkin dapat membantu. Lalu mengapa mempelajari diri sendiri itu hal penting? Karena zat dan energi dalam tubuh manusia yang mungil adalah representasi raksasa alam semesta yang penuh misteri. [T]

Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dokter Arya Nugrahakesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

Next Post

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails
Next Post
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co