JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan yang mengusung tema besar “What the Body Remembers”, digelar dalam skala yang tak main-main untuk sebuah edisi perdana.
Art & Bali hadir bukan sekadar sebagai pameran seni biasa. Ia diposisikan sebagai ruang temu,tempat di mana beragam ekspresi kreatif, kolaborasi lintas bidang, serta gagasan tentang masa depan yang lebih berkelanjutan dirayakan bersama. Dan Nuanu Creative City, dengan segala eksperimen ruang dan komunitasnya, dipilih menjadi rumah pertama bagi perhelatan ini.

“This exhibition carries the theme ‘What the Body Remembers’ and is presented on an exceptionally large scale, featuring 23 galleries, more than 300 artists, and 23 performances from 7 countries, 70% of which remain focused on Indonesian art. In addition, there is a public program consisting of 6 discussion sessions with more than 20 speakers, which is expected to attract 10,000 visitors over the three-day event. What makes this exhibition unique is its key investment in media installations and the use of recycled materials, along with the presence of the Labyrinth Dome, which offers visitors an immersive 360° experience,” ujar Kelsang Dolma, Director of Art & Bali.
Usai Kelsang Dolma selaku Director of Art & Bali membuka acara dengan sambutan resmi, memaparkan skala dan visi besar di balik edisi perdana ini, sesi berlanjut dengan penjelasan dari tim kurator, yang mengupas lebih dalam gagasan yang melandasi tema “What the Body Remembers”.
“This exhibition is not a comparison between Indonesia and India, but rather a cultural dialogue,putting them in conversation through shared cultural memories, material knowledge, and the act of making. The exhibition focuses on shared collective memories expressed through textiles, crafts, handicrafts, and intergenerational knowledge. Through the concept of the hand as an archive and a pathway for cultural exchange, audiences are not only invited to observe traces of the past, but also encouraged to reflect on an important question: If the exhibition asks us to look at what the body remembers, the next question is: what do we do with that knowledge today?”jelas Bandana Tewari, Kurator Art & Bali.
Setelah pemaparan tersebut, rombongan tamu undangan diajak menyusuri pameran langsung bersama tim kuratorial dalam sesi tur, menelusuri karya-karya tekstil, kriya, dan kerajinan tangan yang menjadi representasi dari gagasan “tangan sebagai arsip” yang baru saja dijelaskan.
Di balik skala besar itu, Art & Bali juga menaruh perhatian pada isu keberlanjutan lewat pilihan material dan pendekatan instalasi yang digunakan sepanjang pameran sebuah komitmen yang sejalan dengan cara Labyrinth Dome menghadirkan pengalaman imersif tanpa mengorbankan kesadaran lingkungan.

Sebagai edisi perdana, Art & Bali 2026 menempatkan Nuanu Creative City bukan hanya sebagai lokasi acara, tetapi sebagai bagian dari narasi besar: bagaimana seni, ruang, dan gagasan dapat tumbuh bersama membentuk wajah baru ekosistem kreatif Bali dan mungkin, Asia. [T]
Penulis: Ingga Adelia
Editor: Budarsana































