1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
in Pameran
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect│Foto: Dok. UAC

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan dengan karya kontemporer, seniman lintas generasi berada dalam satu ruang, sementara pengunjung dapat berhenti di depan karya sekaligus berbincang langsung dengan orang yang membuatnya.

Ubud Art Collect menghadirkan 39 seniman dari Ubud dan sekitarnya. Sebanyak 4.863 pengunjung tercatat datang sepanjang penyelenggaraan untuk melihat karya, bertemu para seniman, dan mengenal lebih dekat beragam ekosistem kreatif yang hidup di kawasan ini.

Pertemuan langsung antara karya, seniman, dan publik itulah yang sejak awal menjadi gagasan utama acara ini. Formatnya sengaja dibuat sebagai mini art market, bukan pameran yang berjarak dengan publik. Pertemuan menjadi bagian penting dari pengalaman. Karya dapat dilihat dan dikoleksi, tetapi percakapan antara seniman dan pengunjung mendapat tempat yang sama besarnya.

“Ubud Art Collect kami bayangkan sebagai ruang yang tidak terlalu formal, sehingga orang bisa datang, melihat karya, berbincang langsung dengan seniman, dan menemukan karya yang mereka sukai. Bagi kami, proses bertemu dan bertukar ini sama pentingnya dengan transaksi karya seni itu sendiri,” ujar Bagus Ari Maruta, Co-founder Ubud Art Collect.

Ubud Art Collect 2026 di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Gagasan tentang pertemuan itu menjadi relevan ketika ditempatkan dalam perjalanan panjang Ubud sebagai ruang hidup bagi seni. Ubud telah dikenal selama puluhan tahun sebagai salah satu pusat seni dan budaya Indonesia—tempat seniman, penulis, kolektor, pelaku budaya, dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia bertemu. Menjelang satu abad perjalanan pariwisata Bali pada 2027, Ubud Art Collect mencoba merayakan sekaligus memperkenalkan kembali wajah seni Ubud hari ini. Didukung Desa Adat Ubud, acara ini mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan, mulai dari tradisi lukisan Ubud, gaya Batuan dan Keliki, perkembangan Young Artist di Penestanan, hingga praktik kontemporer.

Dengan demikian, sejarah tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berhenti di masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang terus bergerak.

“Ubud memiliki sejarah seni yang sangat panjang, tetapi yang menarik adalah bagaimana ekosistem ini terus berkembang dan melahirkan praktik-praktik baru. Kami ingin Ubud Art Collect menjadi ruang yang mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan tersebut, sekaligus membuat seni terasa lebih dekat dan mudah diakses oleh publik,” kata Gustra Adnyana, Co-founder Ubud Art Collect.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

 

Pertemuan antara sejarah, generasi, dan pendekatan artistik tersebut kemudian terlihat konkret melalui para seniman yang terlibat. Rentang generasi itu terlihat dari Ketut Sumadi dan Wayan Mandiyasa, saudara kembar asal Banjar Kutuh Kaja, Ubud, yang dikenal sebagai “magic twins”, dan menjadi salah satu yang menarik perhatian pengunjung. Kehadiran mereka memperlihatkan bagaimana karakter personal, hubungan antarseniman, dan tradisi lokal turut membentuk pengalaman publik dalam menikmati seni.

Jalur kesinambungan tradisi juga muncul dalam bentuk yang berbeda pada sejumlah peserta lainnya. Ada Agung Dewi Monalisa, seniman perempuan asal Ubud yang merepresentasikan kesinambungan tradisi seni Ubud melalui gaya lukis yang dipengaruhi Walter Spies. I Gusti Nyoman Darta, cucu maestro seni Ubud I Gusti Nyoman Lempad, meneruskan hubungan panjang keluarganya dengan tradisi seni Ubud melalui karya-karyanya. Sementara jejak generasi Young Artist hadir melalui Ngurah KK, yang mendapat bimbingan langsung dari Arie Smit, maestro pelukis kelahiran Belanda yang menetap dan berkarya di Ubud.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Namun, wajah seni Ubud yang ditampilkan tidak berhenti pada kesinambungan tradisi. Di sisi lain, praktik yang lebih kontemporer hadir melalui I Made Arya Palguna, yang memadukan estetika dan tradisi Bali dengan perspektif kontemporer dalam praktik multidisiplinernya. Sakde Oka mengeksplorasi kain, benang, jahit, dan sulam sebagai medium utama, sedangkan Made Aswino Aji, generasi muda penerus Sika Gallery, membawa pengalaman membangun ruang dan inisiatif seni alternatif di Indonesia.

Spektrum tersebut semakin lebar ketika melihat praktik dan medium lain yang hadir selama tiga hari penyelenggaraan. Keragaman itu berlanjut lewat tradisi Batuan yang diwakili Made Griyawan dan Aris Sarmanta serta tradisi Keliki melalui karya Nano Ari. Sekarputi Sidhiawati hadir dengan medium keramik, bersama Agugn dan A Jasmine—seniman yang juga menetap dan berkarya di Ubud. Kehadiran mereka memperlihatkan sebuah ekosistem yang tidak semata bertumpu pada sejarah, tetapi terus bertambah melalui orang-orang yang memilih Ubud sebagai tempat hidup, bekerja, dan mengembangkan praktik artistiknya.

Pengunjung mengamati karya yang ditampilkan dalam Ubud Art Collect di Wantilan Ubud│Foto: Dok. UAC

Keragaman yang berada dalam satu ruang itu pada akhirnya tidak hanya terbaca melalui daftar nama atau karya yang dipamerkan, tetapi juga melalui cara publik berinteraksi dengannya. Suasana tersebut terasa dalam penyelenggaraan Ubud Art Collect. Di antara panel-panel pameran dan karya yang memenuhi Wantilan, pengunjung bergerak dari satu karya ke karya lainnya. Sebagian berhenti cukup lama, sebagian berdiskusi, sementara yang lain mengamati dari dekat atau mengabadikan karya yang menarik perhatian. Ruang pamer bersinggungan langsung dengan arsitektur Wantilan dan lingkungan Ubud di sekelilingnya, membuat kegiatan seni hadir sebagai bagian dari keseharian, bukan sesuatu yang sepenuhnya terpisah darinya.

Dari interaksi-interaksi kecil semacam itulah fungsi Ubud Art Collect sebagai ruang pertemuan mendapatkan bentuknya. Selama tiga hari, pertemuan langsung itu membuka peluang bagi seniman dan publik untuk membangun koneksi serta memperluas apresiasi terhadap seni. Pada saat yang sama, Ubud Art Collect diarahkan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem seni dan ekonomi kreatif lokal. Suasana yang terbuka dan intim menjadi pembeda dari pengalaman di ruang seni yang lebih formal.

Ubud Art Collect│Foto: Dok. UAC

Karena itu, ukuran pertemuan ini tidak semata berada pada transaksi atau jumlah karya yang berpindah tangan. Di situlah gagasan Ubud Art Collect menemukan bentuknya. Bukan hanya pada karya yang berpindah tangan, tetapi pada kemungkinan pertemuan yang tercipta di sekeliling karya tersebut. Di sebuah wilayah dengan sejarah seni yang panjang, pertanyaan yang dihadapi bukan semata bagaimana menjaga warisan, melainkan juga bagaimana memberi ruang bagi praktik baru untuk tumbuh dan bertemu publik.

Pada titik tersebut, apa yang berlangsung selama tiga hari di Wantilan Ubud dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan yang lebih panjang tentang masa depan ekosistem seni di kawasan ini. Ubud Art Collect menempatkan keduanya dalam satu ruang: tradisi yang diwariskan lintas generasi dan praktik kontemporer yang terus bereksperimen. Dari pertemuan itulah terbuka percakapan mengenai bagaimana ekosistem seni Ubud dapat terus tumbuh menghadapi perubahan zaman. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaUbudUbud Art Collect
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

Next Post

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

by Satria Aditya
August 30, 2026
0
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails
Next Post
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata,
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co