2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
in Pameran
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

Pameran "Garbha Wedana: A Story Before It Begins" berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

“GARBHA Wedana: A Story Before It Begins” menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan 20 perupa muda Bali ini berlangsung di Simple Mind Art Space, lantai dua Old Table (eks Simple Mind Artspace), Kuta, Badung, Bali. Muralis Dwymabim membuka pameran pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Pameran ini berlangsung hingga 10 November 2026.

Bagi Dyurupa, pameran ini bukan sekadar perayaan kreativitas, melainkan juga kesempatan untuk merenungkan proses penciptaan. Sore itu, para seniman, terutama perupa muda, berkumpul untuk menyaksikan karya sekaligus bertukar gagasan. Pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana seni menjadi bahasa yang menghubungkan beragam pengalaman dan pemikiran.

Sebelum pembukaan resmi, pengunjung berkumpul di area depan Old Table, restoran yang berada tepat di bawah ruang pamer. Sambil menikmati kopi, teh, dan kudapan, mereka berbincang tentang seni dan pengalaman berkarya. Percakapan santai itu mengawali kunjungan mereka ke ruang pameran.

Dari restoran, pengunjung menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana, 20 karya dari 20 seniman tersaji dengan pendekatan visual, medium, dan gagasan yang beragam. Meskipun berangkat dari persoalan berbeda, karya-karya tersebut bertemu dalam satu gagasan utama Garbha Wedana: ruang kemungkinan sebelum sesuatu dilahirkan.

Keragaman itu terlihat dari bentuk dan ukuran karya yang dipamerkan. Ada karya yang terpajang di dinding, ada pula yang digantung pada tiang. Sejumlah instalasi menawarkan pendekatan visual yang menggelitik sekaligus mengundang rasa ingin tahu.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Perupa sekaligus penulis pengantar pameran, I Wayan Suma Bagia, melihat daya tarik pameran ini pada cara setiap seniman menafsirkan ruang sebelum kelahiran. Romantisme, simbol, elemen visual, dan rekaman emosi menjadi bagian dari perenungan mereka. “Mari kita kembali ke titik nol dan meresapi Garbha Wedana,” ajaknya.

Melalui medium dan sudut pandang yang berbeda, para seniman berusaha menyelami momen ketika sebuah gagasan belum menjelma menjadi sesuatu yang nyata. Proses penciptaan tidak selalu bermula dari bentuk yang sudah jelas. Kegelisahan, ingatan, pengalaman, bahkan sesuatu yang belum dapat dijelaskan sepenuhnya, bisa menjadi titik awal sebuah karya.

“Karya-karya di ruang ini bukanlah muara akhir dari sebuah narasi, melainkan undangan terbuka bagi penikmatnya untuk merenung bahwa jangan-jangan bagian paling penting dari sebuah cerita justru terjadi tepat sebelum cerita itu dimulai?” ungkap Suma Bagia.

Menurut Suma Bagia, karya-karya tersebut mengajak pengunjung memikirkan bagaimana sebuah kisah dapat hadir sebelum bentuknya terbentuk. Peserta pameran terdiri atas anggota resmi Dyurupa dan perupa yang diundang secara khusus. Dengan perspektif, kedalaman pemaknaan, dan medium artistik masing-masing, mereka menafsirkan tema pameran melalui cara yang beragam.

Ragam Tafsir tentang Asal Mula Kehidupan

Salah satu tafsir hadir melalui karya Ajung atau Nilam Biru yang mengangkat cerita rakyat Timun Mas. Dengan menghadirkan sosok ibu Timun Mas, karya ini menelusuri asal mula kehidupan melalui kisah yang telah hidup dalam tradisi tutur Nusantara.

Seniman lain mengembangkan gagasan yang lebih luas. Aristya Purnama, misalnya, menghadirkan Episode 0, sebuah refleksi tentang bencana dan anugerah yang, menurut penafsirannya, berakar pada nafsu. Sementara itu, Tridanapvtera memandang cinta sebagai asal mula penciptaan.

Ciggy mempertanyakan apakah kelahiran manusia ke dunia merupakan berkah atau justru kesialan bagi individu yang mengalaminya. Ugi Gayali memaknai perjalanan menuju kelahiran sebagai zona antara, sedangkan Giri Arnaga mengangkat kisah awal penciptaan manusia melalui pendekatan visual yang megah.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Simbol-simbol tertentu juga menjadi pintu masuk untuk membicarakan penciptaan. Cartdz dan Yubin, misalnya, menghadirkan burung sebagai pembawa benih sekaligus simbol persiapan kehidupan. Adapun Con menampilkan simbol tangan yang seolah hidup di antara sosok-sosok tubuh yang gelap dan samar.

Pendekatan berbeda tampak dalam karya I Wayan Ady Surya Pratama. Ia mengeksplorasi akar, air, daun, kristal, dan lumut sebagai bentuk-bentuk yang menyerupai organisme, tetapi belum menjadi sosok utuh. Unsur-unsur tersebut menggambarkan kehidupan yang masih berada dalam tahap pembentukan.

Prangga Wardana memilih Catur Muka, representasi Dewa Brahma sebagai dewa penciptaan sekaligus ikon yang berkaitan dengan titik nol Kota Denpasar. Sementara itu, Putu Winata menghadirkan Jatiluwih dalam bentuk baru melalui pengolahan rasa dan pengalaman artistik.

Tafsir yang berpijak pada tradisi spiritual muncul dalam karya Sri, yang mengangkat konsep Catur Sanak sebagai pembimbing spiritual dalam proses menuju kelahiran. Windu Septayana, di sisi lain, memandang ketidaksempurnaan dalam proses kelahiran sebagai bagian dari perjalanan seseorang untuk menemukan bentuk dirinya sebagai manusia.

“Terakhir, kita juga dapat menilik karya-karya yang lebih intrinsik, dengan pendekatan-pendekatan yang lebih personal,” papar Suma Bagia.

Pendekatan personal itu terlihat dalam karya Anik Argianti, Karin Puspitasari, dan Kendisan, yang menelusuri proses sebelum proses itu sendiri dalam penciptaan karya seni. Ichalecir dan Novi Sumariani mengangkat fase-fase kehidupan yang menjadi titik awal kelahiran kembali diri mereka dalam pengertian personal.

Pengalaman personal yang lebih intim hadir dalam karya Teratai Api. Ia merefleksikan fase kelahirannya sendiri, yang diwarnai trauma dan kepedihan akibat pengalaman sang ibu selama masa kehamilan. Melalui karya tersebut, kelahiran berkelindan dengan ingatan dan jejak emosional yang menyertainya.

Dari Tradisi Kelahiran ke Proses Penciptaan

Ketua panitia pameran, Prangga Wardana, menjelaskan bahwa Garbha Wedana merupakan langkah awal Dyurupa untuk membangun ruang kreatif yang terbuka, organik, dan terus berkembang melalui pertemuan berbagai gagasan serta praktik artistik.

“Melalui tema A Story Before It Begins, Garbha Wedana mengangkat gagasan tentang fase sebelum kelahiran, bukan hanya sebagai proses biologis, tetapi sebagai ruang tempat sesuatu tumbuh, dipersiapkan, dirawat, dan perlahan menemukan bentuknya,” ujarnya.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Gagasan tersebut berangkat dari tradisi Hindu Bali, khususnya Magedong-gedongan, ritual yang berkaitan dengan kehidupan bayi di dalam kandungan. Dalam tradisi ini, kandungan tidak hanya dipahami sebagai ruang biologis, tetapi juga sebagai ruang sakral tempat kehidupan dijaga dan dipersiapkan sebelum hadir ke dunia.

Pemaknaan terhadap masa sebelum kelahiran juga ditemukan dalam tradisi Mitoni atau Tingkeban di Jawa, yakni rangkaian upacara kehamilan yang menandai fase penting menjelang kelahiran. Kedua tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana kebudayaan Nusantara memberi arti pada masa penantian melalui doa, persiapan, perawatan, restu, dan harapan.

Dalam Garbha Wedana, pemaknaan itu diperluas ke ranah penciptaan seni. Sebuah karya juga memiliki masa sebelum kelahirannya, ketika gagasan mulai tumbuh dari keresahan, pengalaman, ingatan, percobaan, atau sesuatu yang belum memiliki bentuk jelas.

Gagasan tersebut kemudian disimpan, dirawat, diuji, dan dipertanyakan sebelum perlahan berkembang menjadi karya. Proses ini menunjukkan bahwa penciptaan membutuhkan waktu, pergulatan batin, serta keberanian untuk menghadapi berbagai kemungkinan.

“Pameran ini tidak hanya berbicara mengenai apa yang telah lahir, tetapi juga mengenai apa yang terjadi sebelum kelahiran itu sendiri,” papar Prangga Wardana.

Karya sebagai Ruang Kandungan

Sebanyak 20 seniman berpartisipasi dalam pameran ini dengan menghadirkan lukisan dan instalasi melalui eksplorasi material serta pendekatan visual yang beragam. Masing-masing membawa tafsir tentang fase sebelum kelahiran sesuai dengan pengalaman dan cara pandang mereka.

Ada yang menelusuri asal mula kehidupan, merekam proses penciptaan, mengungkap pergulatan batin, mengeksplorasi material, atau mencari kemungkinan bentuk yang masih terus berkembang.

Karya-karya itu tidak hanya menunjukkan hasil akhir dari proses kreatif, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan yang mendahuluinya. Setiap karya menjadi semacam ruang kandungan bagi gagasan, tempat sesuatu yang belum sepenuhnya terbentuk dapat tumbuh dan perlahan menemukan arahnya.

Pameran “Garbha Wedana: A Story Before It Begins” berlangsung di Simple Mind Art Space, Badung, Bali | Foto: tatkala.co/Budarsana

Dari sudut pandang ini, karya seni tidak hanya berbicara melalui bentuk yang terlihat. Di dalamnya tersimpan proses, keraguan, pengalaman, dan berbagai kemungkinan yang mengiringi penciptaannya. Pengunjung diajak melihat lebih jauh daripada apa yang sudah terwujud, lalu membayangkan perjalanan yang mendahului bentuk tersebut.

Episode Nol dalam Perjalanan Dyurupa

Ketua Umum Dyurupa, Aristya Purnama, mengibaratkan perjalanan kreatif komunitas ini sebagai sebuah cerita berseri. Dalam perumpamaan tersebut, Garbha Wedana bukanlah episode pertama, melainkan episode nol: bab sebelum cerita dimulai, ketika gagasan masih berada dalam ruang penciptaan dan berbagai kemungkinan belum tertutup.

A Story Before It Begins berbicara tentang apa yang berlangsung sebelum sesuatu menjadi nyata. Gagasan masih tumbuh, proses belum tuntas, dan kemungkinan belum menemukan bentuknya. Pameran ini menjadi pernyataan awal Dyurupa dalam memasuki ruang seni rupa sekaligus pijakan untuk membangun perjalanan kreatif bersama.

Aristya menjelaskan, Dyurupa merupakan komunitas seniman rupa berbasis di Bali yang tumbuh dari semangat untuk berkembang bersama dalam lingkungan kreatif yang terbuka, organik, dan saling mendukung.

Cara kerja komunitas ini terinspirasi oleh prinsip agroforestri, sistem yang mengandalkan hubungan antarelemen untuk membentuk ekosistem hidup, adaptif, dan berkelanjutan. Prinsip tersebut diterapkan dalam kegiatan berkarya, berdiskusi, dan menyusun program seni. Setiap anggota diberi ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan karakter individualnya.

Bagi Dyurupa, hutan bukan sekadar sumber inspirasi visual, melainkan gambaran tentang keberagaman, keterhubungan, dan keseimbangan. Setiap anggota memiliki latar belakang, gaya, perhatian, dan pendekatan artistik yang berbeda. Perbedaan itu menjadi modal untuk saling menguatkan sekaligus memperluas kemungkinan berkarya.

“Melalui pameran, kolaborasi, dan berbagai inisiatif kreatif, Dyurupa berupaya menghadirkan ruang seni yang dinamis, relevan, dan mampu membangun hubungan yang lebih luas antara seniman, karya, ruang, dan publik,” ujar Aristya Purnama.

Lewat Garbha Wedana: A Story Before It Begins, Dyurupa memperkenalkan diri sebagai komunitas seni rupa baru di Bali sekaligus menawarkan pemahaman tentang penciptaan sebagai proses yang terus bertumbuh. Sebagaimana kehidupan yang bermula di dalam kandungan, gagasan artistik membutuhkan ruang untuk dirawat, dipertanyakan, dan dikembangkan sebelum menemukan bentuknya.

Garbha Wedana mengajak pengunjung kembali ke titik nol, ke ruang ketika segala sesuatu belum memiliki nama, bentuk, dan makna. Kelahiran yang tampak di hadapan dunia hanyalah satu bagian dari perjalanan; sebelum itu, ada proses panjang yang berlangsung dalam senyap, membentuk kemungkinan hingga sesuatu siap hadir.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: DyurupaGarbha Wedana: A Story Before It BeginsPameran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

Next Post

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

Read moreDetails

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
0
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

Read moreDetails

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
0
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

Read moreDetails

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

by tatkala
October 14, 2026
0
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

Read moreDetails

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
0
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

Read moreDetails

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
0
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

Read moreDetails

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman ---Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Esai

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co