ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang dalang berhadapan dan berbicara dengan Sanghyang Kala. Ganjil, karena dalang yang selama ini kita kenal sebagai pencerita tiba-tiba masuk ke dalam cerita yang sedang ia ceritakan. Menegangkan, karena lawan bicaranya bukan tokoh biasa, melainkan Sanghyang Kala. Dan sangat teatrikal, karena pada saat itu batas antara dalang sebagai pencerita, dalang sebagai manusia, dan dalang sebagai tokoh dalam cerita menjadi sangat tipis.
Momentum semacam ini, menurut saya, memiliki kekhasan tersendiri karena ia hadir dalam kisah Sapuh Leger. Sebuah kisah yang jika dibaca secara mistis, tidak hanya berbicara tentang hubungan antartokoh, tetapi juga tentang nasib manusia, waktu kelahiran, kekuatan niskala, dan sebuah keputusan yang kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan panglukatan Sapuh Leger.
Kisahnya berangkat dari pengejaran Sanghyang Rare Kumara terhadap kakaknya, Sanghyang Kala. Dalam perjalanan pengejaran tersebut, berlangsung sebuah pertemuan antara sang dalang dan Sanghyang Kala.Di sinilah persoalannya menjadi menarik, mengapa dalang bisa berada di dalam kisah yang sedang ia ceritakan?
Dan lebih jauh lagi, bagaimana mungkin seorang dalang mengejawantahkan dirinya sendiri ke dalam dunia mitologis yang sedang ia bangun di hadapan penonton?
Bagi saya, pertanyaan tersebut membuka sebuah wilayah penting dalam membaca pedalangan sebagai praktik teater.
KETIKA DALANG MASUK KE DALAM CERITANYA SENDIRI
Pada umumnya kita memahami dalang sebagai orang yang menceritakan cerita. Ia berada di balik kelir, menarikan wayang, mengisi suara tokoh, mengatur dramatikal, memberikan narasi, dan membangun hubungan dengan penonton. Dengan demikian, secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa dalang berada di luar cerita, sementara tokoh-tokoh berada di dalam cerita.
Tetapi dalam kisah Sapuh Leger membuat pembagian tersebut menjadi tidak sesederhana itu. Ketika kisah sampai pada pertemuan dengan Sanghyang Kala, dalang tidak lagi hanya menceritakan bahwa “tokoh A bertemu dengan tokoh B”. Ia menghadirkan dirinya sendiri sebagai bagian dari peristiwa tersebut.
Di sinilah terjadi sebuah paradoks teatrikal. Dalang memainkan cerita, tetapi dirinya sendiri kemudian masuk sebagai bagian dari cerita yang ia ciptakan, ia berada di luar, tetapi sekaligus berada di dalam, ia adalah pencerita, tetapi juga menjadi bagian dari yang diceritakan. Kalau mau sedikit nakal, kita bisa bertanya Siapa sebenarnya yang sedang bercerita kepada siapa? Apakah dalang sedang bercerita tentang Kala? Atau dalang sedang menceritakan dirinya sendiri yang pernah berhadapan dengan Kala? Atau justru, melalui cerita itu, dalang sedang mempertemukan penonton dengan sesuatu yang berada di luar dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat kisah Sapuh Leger menarik bukan hanya sebagai cerita tradisi, tetapi sebagai peristiwa teatrikal.
RARE KUMARA, KALA, DAN SEBUAH PERTEMUAN YANG MENGUBAH CERITA
Kekuatan dramaturgi kisah Sapuh Leger sesungguhnya sudah dibangun sejak awal melalui hubungan antara Sanghyang Rare Kumara dan Sanghyang Kala. Sanghyang Rare Kumara dikejar oleh kakaknya, Sanghyang Kala. Pengejaran tersebut bukan sekadar perpindahan tokoh dari satu tempat ke tempat lain. Ia membangun tegangan cerita, ada yang mengejar, ada yang dikejar, ada sesuatu yang belum selesai di antara keduanya. Kemudian, dalam perjalanan itu, muncul sosok dalang, pertemuan dengan dalang menjadi penting karena setelah pertemuan tersebut lahir sebuah keputusan yang memiliki konsekuensi, manusia yang lahir pada Wuku Wayang sebelum mendapatkan panglukatan Sapuh Leger akan terus berada dalam pengejaran Sanghyang Kala.
Dengan demikian, pertemuan dalang dan Sanghyang Kala menjadi titik balik dramaturgi. Sebelum pertemuan itu, kita berhadapan dengan konflik dan pengejaran dan sesudah pertemuan itu, lahir sebuah konsekuensi yang kemudian menghubungkan dunia cerita dengan kehidupan manusia.
Cerita tidak berhenti di dalam wayang, ia keluar dari kelir. ia masuk ke dalam kehidupan dan di sinilah kisah Sapuh Leger menjadi menarik sebagai sebuah konstruksi teatrikal, cerita menciptakan aturan yang kemudian dipercaya memiliki konsekuensi di luar cerita itu sendiri.
DALANG SEBAGAI AKTOR YANG TIDAK PERNAH BENAR-BENAR MENJADI TOKOH
Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik dengan perkembangan pemikiran teater Barat. Dalam teater Barat, persoalan hubungan antara aktor dan tokoh telah menjadi perdebatan panjang. Apakah aktor harus benar-benar “menjadi” tokohnya? Apakah ia harus menghilangkan dirinya sendiri demi karakter? Ataukah justru harus mempertahankan jarak agar penonton menyadari bahwa yang mereka lihat adalah sebuah konstruksi pertunjukan?
Pemikiran Bertolt Brecht, misalnya, mengembangkan jarak antara aktor dan tokoh sebagai bagian penting dari pengalaman teatrikal. Penonton tidak sepenuhnya dibiarkan tenggelam dalam ilusi. Dalam konsep metatheatre, pertunjukan bahkan dapat menyadari dan memperlihatkan dirinya sebagai pertunjukan. Menariknya, dalam pedalangan, persoalan tersebut dapat ditemukan dalam bentuk yang berbeda.
Dalang tidak perlu menghancurkan “dinding keempat”, karena sejak awal tidak ada dinding keempat yang benar-benar tertutup. Penonton tahu bahwa dalang sedang memainkan banyak karakter. Mereka tahu bahwa suara Kala berasal dari dalang, mereka tahu bahwa suara Rare Kumara juga berasal dari dalang. Tetapi pada saat yang sama, mereka dapat masuk ke dalam dunia cerita tersebut.
Dalang tidak perlu menyembunyikan kenyataan bahwa ia adalah dalang untuk membuat cerita menjadi hidup, justru karena identitasnya sebagai dalang tetap terlihat, transformasinya menjadi berbagai tokoh menjadi sebuah pengalaman teatrikal tersendiri dan dalam kisah Sapuh Leger, keadaan ini menjadi semakin kompleks ketika dalang sendiri masuk menjadi bagian dari cerita.
KETEGANGAN YANG LAHIR DARI TUBUH DALANG
Saya kira inilah yang membuat momentum pertemuan dalang dan Sanghyang Kala terasa menegangkan. Ketegangan tersebut bukan hanya karena Kala adalah sosok yang mengancam, ada ketegangan lain yang jauh lebih subtil, penonton tahu bahwa dalang adalah orang yang memerankan sanghyang Kala dalam kisah sapuh leger, tetapi sekarang dalang ditempatkan berhadapan dengan Kala. Dengan kata lain, pencipta berhadapan dengan ciptaannya sendiri.
Ini hampir seperti seorang sutradara tiba-tiba masuk ke panggung dan bertemu dengan karakter yang ia ciptakan. Tetapi dalam pedalangan, peristiwa itu bukan sesuatu yang terasa janggal, justru di situlah kekuatan sistem pedalangan. Dalang dapat menciptakan dunia sekaligus hidup di dalam dunia tersebut.
Ia dapat menjadi penguasa cerita sekaligus menjadi bagian dari cerita. Ia dapat mengendalikan Kala, tetapi dalam narasi tertentu ia juga harus berhadapan dengan Kala. Sebuah paradoks yang, kalau dipikir-pikir, cukup menggelitik.
Yang membuat Kala hidup adalah dalang. Tetapi dalang kemudian harus berhadapan dengan Kala. Lalu siapa yang sebenarnya lebih berkuasa?
KETIKA CERITA KELUAR DARI KELIR
Yang lebih menarik lagi adalah konsekuensi dari pertemuan tersebut.
Keputusan bahwa orang yang lahir pada Wuku Wayang sebelum mendapatkan panglukatan Sapuh Leger akan terus dikejar oleh Sanghyang Kala membuat cerita tidak berhenti pada dunia pertunjukan.
Ia seolah keluar dari kelir.
Di sinilah kita melihat hubungan yang sangat khas antara seni pertunjukan, keyakinan, dan ritual. Kelahiran manusia yang berlangsung dalam kalender waktu tertentu kemudian memperoleh makna tertentu. Makna tersebut dihubungkan dengan cerita.
Cerita kemudian dihubungkan dengan ritual, dan ritual menjadi tindakan yang dilakukan dalam kehidupan nyata. Dalam lingkaran tersebut, dalang memiliki posisi yang sangat penting. Maka ketika dalang bertemu dengan Kala dalam cerita, peristiwa tersebut memiliki bobot dramaturgis yang lebih besar. Ia menjadi jembatan antara dunia mitologis dan dunia ritual.
ANTARA SEKALA DAN NISKALA
Di sinilah konsep sekala dan niskala menjadi penting.
Pada wilayah sekala, kita melihat seorang dalang, sebuah pertunjukan, wayang, suara, musik, dan penonton. Tetapi pada wilayah niskala, kisah tersebut membawa konsekuensi yang lebih jauh.
Kala tidak lagi hanya hadir sebagai karakter. Ia hadir sebagai bagian dari sistem makna.
Wuku Wayang tidak lagi hanya menjadi penanda waktu. Ia menjadi bagian dari konstruksi hubungan manusia dengan dunia niskala.
Dan panglukatan Sapuh Leger tidak lagi hanya menjadi adegan dalam cerita. Ia menjadi tindakan ritual.
Maka peristiwa teatrikal tersebut memiliki dua wajah sekaligus. Ia dapat dibaca sebagai seni pertunjukan, tetapi juga bekerja dalam ruang keyakinan.
Justru karena dua wilayah itu tidak selalu dapat dipisahkan secara tegas, ketegangan artistiknya menjadi menarik.
DALANG YANG MENGEJAWANTAHKAN DIRINYA
Pada akhirnya, saya melihat momentum pertemuan dalang dengan Sanghyang Kala dalam Sapuh Leger sebagai sebuah bentuk pengejawantahan diri.
Dalang tidak hanya mengejawantahkan tokoh. Ia mengejawantahkan dirinya sendiri ke dalam cerita. Ia membawa tubuhnya, identitasnya, dan posisinya sebagai dalang masuk ke dalam dunia yang selama ini ia kendalikan.
Dalam perspektif ini, dalang bukan sekadar “orang yang memainkan wayang”.
Ia adalah subjek yang sewaktu-waktu dapat masuk ke dalam objek ceritanya sendiri.
Dan ketika itu terjadi, batas antara diri dan tokoh, pencipta dan ciptaan, cerita dan pengalaman, pertunjukan dan ritual menjadi kabur.
Kaburnya batas tersebut bukan kelemahan.
Justru di sanalah kekuatan teatrikalnya.
SIAPA YANG SEBENARNYA BERBICARA DENGAN KALA?
Mungkin kita akhirnya kembali kepada pertanyaan paling sederhana.
Ketika dalang berbicara dengan Sanghyang Kala dalam kisah Sapuh Leger, siapa sebenarnya yang sedang berbicara? Dalangkah? Tokoh dalam cerita? Atau sebuah tubuh yang untuk sesaat menjadi semuanya?
Saya kira tidak perlu buru-buru menjawabnya, Sebab justru ketidakpastian itulah yang membuat momentum tersebut menarik.
Dalam teater, batas antara kenyataan dan permainan memang tidak selalu harus jelas. Yang penting adalah bagaimana sebuah peristiwa mampu membuat penonton merasakan sesuatu.
Dan dalam Sapuh Leger, perasaan itu hadir melalui sebuah ketegangan yang sangat khas, dalang menghadirkan Kala, kemudian dirinya sendiri masuk ke dalam cerita dan berhadapan dengan Kala.
Ia menciptakan dunia, tetapi kemudian menjadi bagian dari dunia tersebut. Ia menjadi pengendali cerita sekaligus pelaku cerita. Ia berada di balik kelir, tetapi sekaligus masuk ke dalam kisah.
Mungkin inilah salah satu bentuk teater total yang paling menarik, bukan ketika semua cabang seni dikumpulkan dalam satu panggung, melainkan ketika seluruh fungsi teatrikal aktor, narator, tokoh, pencipta, pengalaman, dan peristiwa bertemu dalam satu tubuh.
Dan akhirnya kita boleh sedikit curiga, jangan-jangan bukan dalang yang sedang berbicara dengan Kala. Jangan-jangan, pada saat itu, Kala sedang berbicara melalui dalang. Di situlah teater berhenti menjadi sekadar tontonan. Ia menjadi peristiwa. Dan ketika peristiwa itu menyentuh wilayah sekala dan niskala, kita pun tidak lagi sepenuhnya tahu, apakah kita sedang menonton sebuah cerita, atau sedang menyaksikan sebuah cerita yang sedang mempercayai dirinya sendiri. [T]



























