2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
in Esai
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Foto ilustrasi: Canva

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika seorang anak gagal memenuhi target pembelajaran, siapa sesungguhnya yang harus lebih dahulu dievaluasi—muridnya, gurunya, sekolahnya, atau sistem pendidikannya?

Pertanyaan ini penting karena pendidikan bukan sekadar urusan memindahkan anak dari kelas satu ke kelas dua, dari kelas tujuh ke kelas delapan, atau dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Pendidikan adalah proses memastikan bahwa setiap anak memperoleh kesempatan yang layak untuk belajar, berkembang, dan mencapai kemampuan terbaiknya. Kebijakan kenaikan kelas tidak semestinya berhenti pada persoalan siapa yang naik dan siapa yang tertinggal. Yang jauh lebih penting adalah mengapa seorang anak tertinggal dan apa yang telah dilakukan sekolah untuk membantunya.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka peluang penerapan kebijakan siswa tidak otomatis naik kelas mulai 2027. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan hal tersebut dalam Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali. Meski demikian, kebijakan tersebut masih memerlukan kajian akademik bersama para ahli. Dengan demikian, yang sedang dibicarakan adalah rencana kebijakan, bukan keputusan final yang telah berlaku.

Gagasan ini tampaknya berangkat dari keinginan mengembalikan kesungguhan belajar dan memastikan kenaikan kelas mencerminkan pencapaian kompetensi. Menteri bahkan menyinggung fenomena rajin malas sama saja, sebuah ungkapan yang menyindir anggapan bahwa kesungguhan belajar tidak lagi berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh siswa.

Sekilas, gagasan tersebut terdengar masuk akal. Bagaimana mungkin sekolah dapat menjamin mutu pendidikan apabila kenaikan kelas tidak benar-benar mempertimbangkan perkembangan kemampuan peserta didik? Bagaimana siswa akan terdorong untuk belajar apabila mereka merasa bahwa apa pun hasilnya, mereka tetap akan naik kelas?

Namun, pendidikan tidak sesederhana logika penghargaan dan hukuman. Anak yang belum mencapai kompetensi bukan selalu anak yang malas. Bisa jadi ia tidak memperoleh pendampingan yang memadai, menghadapi kesulitan belajar tertentu, hidup dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung, atau mengikuti pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan cara belajarnya. Menyamakan seluruh kegagalan akademik dengan kurangnya kesungguhan belajar merupakan cara pandang yang terlalu sederhana untuk persoalan pendidikan yang kompleks.

Mengoreksi Murid atau Mengoreksi Sistem?

Kita perlu berhati-hati agar kebijakan tidak otomatis naik kelas tidak berubah menjadi cara mudah untuk memindahkan tanggung jawab kegagalan pendidikan kepada anak.

Selama ini, perdebatan tentang mutu pendidikan kerap berpusat pada nilai, ujian, standar kelulusan, dan capaian akademik. Ketika hasil belajar rendah, murid dianggap kurang berusaha. Ketika banyak siswa belum menguasai materi, guru dituntut meningkatkan kinerja. Namun, tidak selalu ada pertanyaan yang sama seriusnya mengenai kondisi kelas, ketersediaan sarana, rasio guru dan murid, beban administrasi pendidik, serta kemampuan sekolah menyediakan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Jika pemerintah ingin mengembalikan makna kenaikan kelas sebagai penanda pencapaian kompetensi, evaluasi seharusnya berjalan dua arah. Kemampuan murid perlu dinilai, tetapi mutu proses pembelajaran juga harus diperiksa.

Jangan sampai sekolah memiliki kewenangan untuk menahan siswa di kelas yang sama, tetapi tidak memiliki cukup waktu, sumber daya, dan strategi untuk memperbaiki kesulitan belajar yang menyebabkan siswa tersebut tertahan.Pelaksanaan kebijakan ini menuntut guru mengenali kemampuan awal murid, memantau perkembangannya, dan menyesuaikan pembelajaran ketika kesulitan muncul. Guru juga membutuhkan keterampilan, pilihan strategi mengajar, serta kesempatan berkolaborasi yang didukung kepala sekolah.

Peringatan tersebut semestinya menjadi inti perumusan kebijakan. Sebab, keputusan untuk tidak menaikkan seorang siswa bukanlah pekerjaan administratif yang selesai dengan mencentang kolom nilai di rapor. Keputusan itu harus lahir dari proses evaluasi yang cermat, bukti perkembangan belajar, pendampingan yang telah diberikan, dan pertimbangan mengenai langkah terbaik bagi anak.

Menahan siswa di kelas yang sama tanpa memperbaiki cara mengajarnya sama saja dengan mengulang persoalan yang sama, hanya dengan kalender akademik yang berbeda.Jika pada tahun pertama seorang anak kesulitan memahami materi karena metode pembelajaran tidak sesuai dengan kebutuhannya, apa jaminannya bahwa pada tahun berikutnya ia akan belajar dengan lebih baik apabila metode yang digunakan tetap sama? Mengulang kelas bukan dengan sendirinya menyelesaikan kesulitan belajar. Tanpa intervensi yang tepat, sekolah justru berisiko mengulang kegagalan yang sama.

Naik Kelas Bukan Berarti Kompeten, Tinggal Kelas Bukan Berarti Gagal

Kita juga perlu membongkar dua anggapan yang sama-sama berbahaya: bahwa semua anak yang naik kelas pasti telah menguasai kompetensi, dan bahwa semua anak yang tinggal kelas pasti tidak berhasil belajar. Dalam Kurikulum Merdeka, kenaikan kelas tidak semestinya dipahami sebagai proses otomatis tanpa pertimbangan. Pertimbangan kenaikan kelas mencakup laporan kemajuan belajar pada seluruh mata pelajaran, proyek penguatan profil Pelajar Pancasila, kegiatan ekstrakurikuler, serta prestasi lain. Penentuan siswa yang tinggal kelas juga melibatkan musyawarah antarpendidik dengan mempertimbangkan keseluruhan proses belajar peserta didik.

Artinya, persoalan yang perlu diperiksa bukan sekadar apakah siswa boleh naik kelas secara otomatis, melainkan bagaimana sekolah melaksanakan penilaian secara bermakna, konsisten, dan adil.

Kenaikan kelas seharusnya menjadi keputusan pendidikan yang didasarkan pada perkembangan murid, bukan hadiah karena telah menyelesaikan satu tahun kalender sekolah. Sebaliknya, tinggal kelas tidak boleh menjadi hukuman bagi anak yang belum mencapai standar tertentu tanpa mempertimbangkan penyebab dan kebutuhan belajarnya.

Sekolah yang bermutu bukan sekolah yang sekadar berani menahan murid. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu mendeteksi kesulitan sejak dini, memberikan intervensi yang tepat, dan memastikan bahwa setiap keputusan pendidikan membawa anak lebih dekat pada tujuan pembelajaran.

Jangan Ciptakan Generasi yang Belajar karena Takut

Ada bahaya lain yang tidak boleh diabaikan: kebijakan tinggal kelas dapat mendorong semangat belajar, tetapi juga dapat menumbuhkan ketakutan apabila diterapkan dengan pendekatan yang keliru. Anak memang perlu belajar bertanggung jawab. Ketekunan, disiplin, dan kesungguhan merupakan bagian penting dari pendidikan. Akan tetapi, membangun tanggung jawab berbeda dengan menanamkan rasa takut terhadap kegagalan.

Jika siswa belajar hanya karena takut tidak naik kelas, pendidikan berisiko berubah menjadi perlombaan menghindari hukuman. Anak akan lebih sibuk mengejar angka daripada memahami pengetahuan. Ia mungkin berusaha memperoleh nilai yang memenuhi standar, tetapi belum tentu mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian.

Padahal, pendidikan yang baik seharusnya membentuk manusia yang mampu belajar sepanjang hayat, bukan sekadar siswa yang patuh terhadap ancaman penilaian. Keputusan tinggal kelas tanpa pertimbangan dan pendampingan yang memadai dapat menimbulkan stigma, mengurangi rasa percaya diri, menambah biaya pendidikan keluarga, bahkan meningkatkan kerentanan putus sekolah. Lebih jauh, kesulitan belajar dapat tetap bertahan apabila bantuan dan metode pengajaran tidak diperbaiki.

Peringatan ini sangat penting, terutama bagi anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian keluarga, tambahan satu tahun sekolah bukan persoalan kecil. Ada biaya transportasi, kebutuhan belajar, waktu pendampingan, serta kesempatan anak untuk membantu keluarga yang ikut dipertaruhkan. Pemerintah tidak boleh hanya menghitung manfaat kebijakan berdasarkan kemungkinan meningkatnya kedisiplinan atau pencapaian akademik. Pemerintah juga harus memperhitungkan dampak sosial, psikologis, dan ekonomi yang mungkin ditanggung anak serta keluarganya. Jangan sampai kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan justru memperbesar ketimpangan antara anak yang memiliki dukungan belajar memadai dan anak yang sejak awal menghadapi lebih banyak hambatan.

Guru Jangan Diberi Beban Tanpa Diberi Dukungan

Kebijakan pendidikan yang baik tidak cukup dirumuskan melalui perubahan aturan. Ia membutuhkan kesiapan orang-orang yang akan menjalankannya. Jika keputusan kenaikan kelas harus semakin ketat dan berbasis bukti, guru akan memikul tanggung jawab yang lebih besar. Mereka harus mengidentifikasi kesulitan belajar, mendokumentasikan perkembangan setiap siswa, menentukan bentuk pendampingan, berkomunikasi dengan orang tua, serta menyusun rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Semua itu memerlukan waktu dan kompetensi. Dalam kenyataan sekolah, guru juga harus mengajar banyak siswa dengan kebutuhan yang beragam, menyelesaikan tugas administratif, melakukan penilaian, dan menjalankan tanggung jawab lainnya. Pemerintah perlu menjawab pertanyaan yang sangat konkret: apakah guru telah memperoleh pelatihan yang memadai? Apakah sekolah mempunyai mekanisme pendampingan bagi siswa yang tertinggal? Apakah jumlah siswa dalam kelas memungkinkan guru memberikan perhatian individual?

Tanpa jawaban yang meyakinkan, kebijakan ini berisiko menambah beban guru. Risiko tersebut dapat muncul apabila waktu, kemampuan, dan tenaga pendukung tidak disiapkan, sementara kriteria kenaikan kelas tidak jelas. Jangan menuntut guru membuat keputusan yang berat tanpa memberikan perangkat yang memadai untuk mengambil keputusan tersebut. Jangan pula menjadikan guru satu-satunya pihak yang menanggung konsekuensi ketika sistem pendidikan belum mampu memberikan layanan belajar yang dibutuhkan anak. Jika pemerintah serius hendak memperbaiki mutu pendidikan, penguatan kapasitas guru dan layanan pendampingan harus berjalan beriringan dengan perubahan kebijakan kenaikan kelas.

Orang Tua Bukan Hakim, Sekolah Bukan Ruang Penghukuman

Keberhasilan kebijakan ini juga bergantung pada hubungan antara sekolah dan keluarga.Orang tua perlu memahami perkembangan belajar anak, berkomunikasi dengan guru, serta mengetahui dukungan yang dapat diberikan di rumah. Sebaliknya, sekolah wajib menyampaikan perkembangan dan kesulitan belajar anak secara terbuka, tidak hanya menjelang pembagian rapor.

Jika seorang siswa berpotensi tinggal kelas, orang tua berhak memperoleh penjelasan mengenai dasar keputusan, bentuk pendampingan yang telah dilakukan, alternatif yang tersedia, dan rencana pembelajaran berikutnya. Transparansi semacam ini bukan sekadar formalitas. Ia merupakan bentuk penghormatan terhadap anak dan keluarganya.

Hubungan antara sekolah dan keluarga seharusnya dibangun sebagai kemitraan. Guru memahami proses pembelajaran di sekolah, sedangkan orang tua mengenali pengalaman anak di rumah. Keduanya perlu bertukar informasi agar bantuan yang diberikan tidak saling bertentangan.

Sebelum Menahan Anak, Pastikan Negara Sudah Membantunya

Rencana penerapan kebijakan tidak otomatis naik kelas mulai 2027 seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki sistem penilaian dan layanan pembelajaran. Namun, pemerintah harus memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak berhenti pada perubahan aturan administratif.

Pertama, perlu ada kriteria kenaikan kelas yang jelas, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Penilaian harus mempertimbangkan bukti pencapaian kompetensi, perkembangan individual, serta proses pembelajaran yang telah dilalui siswa.

Kedua, sekolah perlu mengutamakan deteksi dini dan pendampingan sebelum kesulitan belajar menumpuk. Remediasi, pembelajaran berdiferensiasi, pengajaran tambahan, dan komunikasi dengan keluarga perlu menjadi bagian dari mekanisme yang terencana, bukan tindakan mendadak ketika tahun ajaran berakhir.

Ketiga, keputusan tinggal kelas harus menjadi pilihan yang dipertimbangkan secara hati-hati setelah alternatif yang relevan dievaluasi. Apabila anak tetap harus mengulang kelas, sekolah wajib mempunyai rencana yang menjelaskan apa yang akan diperbaiki, bagaimana pendampingan dilakukan, dan bagaimana kemajuan anak diukur.

Keempat, pemerintah perlu memperkuat kompetensi guru, memberikan dukungan kepada sekolah, dan memastikan kebijakan tidak menambah kesenjangan pendidikan. Sekolah di wilayah dengan sumber daya terbatas tidak boleh dituntut menerapkan standar prosedural yang sama tanpa dukungan yang sepadan.

Kelima, pelaksanaan kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan dampaknya. Ukurannya bukan hanya berapa banyak siswa yang tinggal kelas atau meningkatnya nilai rata-rata, melainkan juga apakah kompetensi benar-benar membaik, kesulitan belajar dapat diatasi, kesenjangan berkurang, dan risiko putus sekolah tidak meningkat.

Dengan demikian, keberhasilan kebijakan tidak boleh dinilai dari ketegasan pemerintah dalam menolak kenaikan kelas otomatis semata. Ukuran sesungguhnya adalah apakah sekolah semakin mampu membantu anak mencapai kompetensi yang dibutuhkan.

Pendidikan Harus Tegas, tetapi Tetap Berpihak kepada Anak

Tidak otomatis naik kelas bukan gagasan yang harus langsung ditolak. Pendidikan memang memerlukan standar, penilaian yang dapat dipercaya, dan tanggung jawab terhadap hasil belajar. Membiarkan kesulitan akademik berlalu dari satu jenjang ke jenjang berikutnya tanpa intervensi yang memadai juga bukan solusi. Namun, ketegasan pendidikan harus disertai keadilan. Standar yang tinggi kehilangan maknanya apabila anak tidak diberi kesempatan yang layak untuk mencapainya. Penilaian kehilangan fungsinya apabila hanya menghasilkan label gagal tanpa menunjukkan jalan untuk memperbaiki keadaan.

Kita tidak sedang memilih antara sekolah yang tegas dan sekolah yang memanjakan murid. Kita sedang menentukan apakah sekolah akan menjadi tempat anak bertumbuh atau sekadar tempat mereka diseleksi berdasarkan kemampuan memenuhi tuntutan yang tersedia.

Negara tentu berhak menuntut kesungguhan belajar dari siswa. Namun, negara juga harus bersedia mengevaluasi kualitas pengajaran, kesiapan sekolah, kapasitas guru, dan dukungan yang tersedia bagi keluarga. Tanggung jawab pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada anak yang sedang belajar.

Sebab, seorang anak yang belum mencapai kompetensi bukan berarti masa depannya telah gagal. Ia mungkin hanya membutuhkan waktu, metode, atau pendampingan yang berbeda. Tugas pendidikan adalah menemukan kebutuhan itu dan merancang jalan untuk memenuhinya. Maka, sebelum pemerintah menetapkan siapa yang boleh naik kelas dan siapa yang harus tinggal, ada satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar: sudahkah kita memberikan kepada setiap anak kesempatan yang adil untuk berhasil?

Jika jawabannya belum, kebijakan tidak otomatis naik kelas berisiko menjadi mekanisme untuk menentukan yang mana siswa yang gagal dalam mengikuti proses pembelajaran kegagalan, bukan menyelesaikannya. Tetapi jika disertai penilaian yang adil, pendampingan yang nyata, guru yang didukung, dan sekolah yang bertanggung jawab, kebijakan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi perbaikan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa selanjutnya.[T]

Penulis: Suar Adnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

Next Post

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails
Next Post
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

Panggung Megah, Akar Goyah -- Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co