2 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
in Esai
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

I Gusti Made Darma Putra

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin jarang kita bicarakan, yakni ketika sebuah festival seni  benar-benar menjadi ruang perjumpaan berbagai kesenian dengan segala kekhasan, karakter, dan akar kebudayaan yang melahirkannya. Sebuah perhelatan yang memungkinkan kita mengenali dari mana suatu kesenian berasal, bagaimana ia tumbuh, siapa yang menjaganya, dan mengapa ia masih penting untuk dihadirkan di tengah kehidupan masyarakat hari ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika kita mencoba mengingat kembali wajah festival seni budaya kabupaten baudng pada masa lalu. Berbagai kesenian hadir membawa identitasnya masing-masing. Ada yang sederhana dalam penyajian, tetapi kaya akan nilai. Ada yang mungkin tidak begitu memukau secara visual, tetapi menyimpan kedalaman artistik dan jejak panjang perjalanan tradisi. Kehadiran berbagai kesenian tersebut tidak selalu menuntut keseragaman estetika. Justru keberagaman itulah yang membentuk karakter sebuah festival seni . Kita tidak hanya datang untuk menonton pertunjukan, tetapi juga untuk mengenali kekayaan ekspresi kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat.

Tentu, kerinduan terhadap masa lalu tidak harus dimaknai sebagai keinginan untuk mengembalikan segala sesuatu pada bentuknya yang lama. Seni selalu bergerak, kebudayaan selalu bernegosiasi dengan zaman, dan festival seni  tentu perlu menemukan cara-cara baru untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya. Namun, dalam semangat pembaruan tersebut, ada pertanyaan yang rasanya perlu terus diajukan: apakah festival seni dan budaya hari ini sedang memperkuat akar kebudayaan, atau justru semakin sibuk memperindah permukaannya?

Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita menyaksikan bagaimana sebuah festival seni  terkadang begitu serius memikirkan sisi dekoratifnya. Panggung dirancang sedemikian megah, instalasi visual dibangun dengan biaya yang tidak sedikit, dan berbagai perangkat teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman yang spektakuler. Semua itu tentu bukan sesuatu yang keliru. Kemajuan teknologi dan kreativitas visual merupakan bagian dari perkembangan seni pertunjukan. Akan tetapi, persoalan muncul ketika kemegahan tersebut justru lebih mudah dikenali daripada karakter kesenian yang hendak diperkenalkan. Festival seni  akhirnya berpotensi menjadi ruang yang indah untuk dipandang, tetapi kurang memberikan kesempatan bagi

Di sinilah saya melihat pentingnya membangun fondasi karakteristik sebuah festival seni. Setiap festival seni  semestinya memiliki alasan kebudayaan yang jelas mengenai mengapa ia diselenggarakan. Bukan sekadar menjawab kapan dilaksanakan, siapa yang tampil, atau berapa banyak pengunjung yang datang, tetapi juga menjawab persoalan yang lebih mendasar: kebudayaan apa yang sedang dibicarakan, nilai apa yang hendak diwariskan, kesenian apa yang perlu mendapatkan ruang, dan perubahan apa yang diharapkan terjadi setelah festival seni  berakhir?

Festival seni  yang memiliki karakter tidak harus selalu tampil besar.

Ia justru dapat tumbuh dari kesadaran untuk memberikan ruang yang layak bagi kesenian-kesenian yang selama ini hidup dalam masyarakat. Kesenian yang mungkin jarang mendapatkan sorotan, tradisi yang hanya muncul dalam momentum tertentu, kelompok-kelompok seni yang bertahan melalui proses regenerasi, hingga praktik artistik baru yang lahir dari pergulatan seniman dengan lingkungannya. Semuanya memiliki kemungkinan untuk membangun percakapan kebudayaan yang jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi susunan acara pertunjukan.

Saya membayangkan sebuah festival seni  yang memungkinkan kesenian hadir dengan identitasnya sendiri. Ketika sebuah kesenian tradisi dipentaskan, masyarakat tidak hanya disuguhi bentuk akhirnya, tetapi juga diberikan kesempatan mengenali proses, pengetahuan, dan nilai yang menyertainya. Ketika karya seni kontemporer dihadirkan, publik tidak hanya diajak mengagumi kebaruannya, tetapi juga memahami kegelisahan dan pemikiran yang melatarbelakangi penciptaannya. Dengan demikian, festival seni  tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpulnya berbagai pertunjukan, melainkan sebuah ruang dialektika tempat tradisi, kreativitas, dan kehidupan masyarakat saling berbicara.

Barangkali inilah salah satu persoalan yang perlu kita renungkan bersama. Kita sering begitu bersemangat membicarakan keberhasilan festival seni  melalui jumlah penonton, kemeriahan pembukaan, kehadiran tokoh penting, atau luasnya jangkauan publikasi. Ukuran-ukuran tersebut tentu memiliki arti, terutama dalam konteks penyelenggaraan dan pertanggungjawaban sebuah kegiatan. Namun, keberhasilan festival seni dan budaya semestinya tidak berhenti pada hal-hal yang dapat dihitung. Ada capaian lain yang mungkin tidak segera terlihat, tetapi justru menentukan masa depan kebudayaan: bertambahnya pengetahuan masyarakat, tumbuhnya kesadaran generasi muda, terbukanya ruang bagi seniman, munculnya gagasan penciptaan baru, dan semakin kuatnya hubungan antara kesenian dengan komunitas yang melahirkannya.

Sebab, festival seni  yang berhasil menghadirkan keramaian belum tentu berhasil membangun kesadaran kebudayaan.

Saya juga kerap berpikir tentang apa yang sebenarnya tersisa setelah sebuah festival seni  selesai diselenggarakan. Panggung akan dibongkar, dekorasi akan diturunkan, lampu-lampu akan dipadamkan, dan keramaian perlahan menghilang. Foto serta video dokumentasi mungkin masih beredar di media sosial untuk beberapa waktu. Laporan kegiatan disusun, evaluasi dilaksanakan, dan penyelenggara mulai mempersiapkan agenda berikutnya. Namun, di luar seluruh aktivitas administratif tersebut, adakah sesuatu yang benar-benar tumbuh dalam kehidupan kesenian kita?

Apakah setelah festival seni  berakhir, sebuah kelompok seni mendapatkan kesempatan untuk berkembang? Apakah seniman memperoleh pengetahuan baru dari perjumpaannya dengan seniman lain? Apakah generasi muda mulai tertarik mempelajari kesenian yang sebelumnya tidak mereka kenal? Apakah masyarakat menjadi lebih memahami nilai dari tradisi yang selama ini hidup di sekitarnya? Atau jangan-jangan, setelah seluruh kemeriahan itu berlalu, kita hanya menyisakan kenangan tentang sebuah acara yang pernah berlangsung?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengecilkan kerja keras para penyelenggara festival seni . Saya memahami bahwa menghadirkan sebuah perhelatan seni bukan pekerjaan sederhana. Ada banyak tenaga, pemikiran, waktu, dan sumber daya yang harus dipertemukan. Justru karena besarnya usaha itulah, sebuah festival seni  selayaknya memiliki dampak yang lebih panjang daripada usia penyelenggaraannya.

Dalam pandangan saya, festival seni dan budaya seharusnya tidak diperlakukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan yang berkelanjutan. Festival seni  ini semestinya memiliki keterhubungan antara pengetahuan yang dikumpulkan, gagasan yang dikembangkan, persoalan yang dievaluasi, dan kemungkinan artistik yang terus dibuka. Dengan cara demikian, festival seni  tidak sekadar mengulang perayaan tahunan, melainkan membangun perjalanan panjang pembentukan karakter kebudayaan.

Di sinilah pentingnya kurasi yang tidak hanya bekerja memilih siapa yang layak tampil, tetapi juga membaca arah perkembangan kesenian. Kurasi semestinya mampu mempertemukan kekhasan tradisi dengan kebutuhan zaman tanpa harus mengorbankan identitasnya. Sebab, memperbarui kesenian tidak selalu berarti mengubah bentuknya menjadi lebih modern. Terkadang, pembaruan justru lahir ketika kita menemukan cara baru untuk membaca, memahami, dan menghadirkan kembali nilai-nilai yang selama ini tersimpan dalam tradisi.

Saya percaya bahwa akar kebudayaan yang kuat tidak akan menghalangi tumbuhnya kreativitas. Sebaliknya, akar itulah yang memungkinkan kreativitas memiliki pijakan. Sebuah pohon dapat tumbuh tinggi, mengembangkan cabang, dan menghadirkan bentuk yang berbeda dari waktu ke waktu karena ia memiliki akar yang mampu menopangnya. Demikian pula sebuah festival seni . Ia boleh berkembang menjadi perhelatan yang megah, terbuka terhadap teknologi, menjangkau publik internasional, bahkan melahirkan berbagai bentuk ekspresi artistik baru. Namun, seluruh perkembangan tersebut akan jauh lebih bermakna ketika tetap memiliki hubungan dengan karakter kebudayaan yang menjadi landasannya.

Barangkali yang sedang saya rindukan bukanlah festival seni  masa lalu itu sendiri, melainkan semangat kebudayaan yang pernah saya rasakan di dalamnya. Semangat ketika kesenian tidak semata-mata ditempatkan sebagai pengisi acara, melainkan sebagai pengetahuan yang patut dihormati. Ketika keberagaman tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hadir melalui berbagai karakter artistik yang memperoleh ruang. Ketika seniman bukan sekadar pihak yang diundang untuk tampil, melainkan menjadi bagian penting dari percakapan mengenai arah kebudayaan.

Pada akhirnya, saya berharap festival seni dan budaya mampu menjadi lebih dari sekadar kalender perayaan. Ia harus menjadi tempat bertemunya ingatan dan imajinasi, tempat tradisi menemukan relevansinya, tempat seniman mempertanyakan kembali praktik penciptaannya, dan tempat masyarakat membangun hubungan yang lebih dekat dengan kebudayaannya sendiri.

Saya hanya ingin sebuah festival seni meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada tepuk tangan. Sesuatu yang tetap hidup ketika panggung telah kosong dan seluruh kemeriahan berakhir. Mungkin berupa pengetahuan, mungkin berupa kegelisahan, mungkin pula berupa percakapan yang terus berkembang di antara para seniman dan masyarakat.

Dan ketika tahun berikutnya tiba, pertanyaan yang muncul semestinya bukan lagi sekadar siapa yang akan tampil, seberapa megah panggung yang akan dibangun, atau dekorasi seperti apa yang akan dihadirkan.

 Melainkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar “Setelah semua yang kita rayakan tahun ini, apa yang telah tumbuh dalam kebudayaan kita?”

Jika pertanyaan itu terus hidup, barangkali di sanalah sebuah festival seni  benar-benar menemukan maknanya. Bukan hanya sebagai perhelatan seni yang dinantikan setiap tahun, melainkan sebagai perjalanan kebudayaan yang senantiasa memiliki sesuatu untuk diwariskan, dipertanyakan, dan dikembangkan. [T]

Tags: festivalseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

Next Post

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails
Next Post
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co