Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Pameran yang menjadi bagian dari rangkaian Bali-Bhuwana Rupa #2 ini dibuka oleh tokoh seni Bali sekaligus pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), Anak Agung Gde Rai, pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Dikuratori oleh Prof. Koh Young Hun dan Warih Wisatsana, BURU-JIWA-BUMI mempertemukan Wayan Kun Adnyana dan I Ketut Muka Pendet dari Bali dengan Young Choi dan Hyonsun Kim dari Korea Selatan. Keempat seniman tersebut menghadirkan karya melalui medium lukisan, gerabah, keramik, dan fotografi.
Dalam pameran ini, Hyonsun Kim menampilkan lima karya keramik, I Ketut Muka Pendet memamerkan delapan karya gerabah dan sembilan karya keramik, Young Choi menghadirkan 38 karya fotografi, sedangkan Wayan Kun Adnyana memajang 32 lukisan abstrak dari seri Pulung Pelung.


BURU-JIWA-BUMI menjadi ruang dialog budaya yang mempertemukan pengalaman, tradisi, dan cara pandang dari kedua negara. Melalui karya-karya tersebut, para seniman mengajak pengunjung merenungkan kehidupan, kedalaman batin, serta hubungan manusia dengan alam.
Prof. Dr. Koh Young Hun, Direktur The Korea–Indonesia Center, menjelaskan bahwa pameran bertajuk Cipta Puitika Rupa: Buru-Jiwa-Bumi ini mempertemukan empat seniman dengan latar belakang dan pendekatan artistik yang berbeda.
Menurutnya, seni memiliki kemampuan menjembatani perbedaan, membuka percakapan, dan membangun saling pengertian. Pameran ini menjadi kesempatan bagi tradisi dan pengalaman budaya Korea Selatan dan Indonesia untuk saling mengenal sekaligus menginspirasi.
Hubungan kedua negara yang telah terjalin selama lebih dari lima dekade juga menjadi landasan penting bagi pertukaran budaya ini. Melalui program Bali–Seoul on Dialogue, seni diharapkan dapat mempererat persahabatan sekaligus memperluas kerja sama kebudayaan.
Atas nama The Korea–Indonesia Center, Koh menyampaikan apresiasi kepada para seniman, kurator, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran. Ia berharap inisiatif ini terus berkembang menjadi jembatan persahabatan yang menjunjung keberagaman dan kemanusiaan.
Memburu Makna Kehidupan
Dalam katalog pameran, kurator Warih Wisatsana menceritakan bahwa gagasan BURU-JIWA-BUMI bermula dari percakapan informal antara dirinya, Prof. Wayan Kun Adnyana, dan Prof. Koh Young Hun.
Pembicaraan mengenai kemungkinan mempertemukan empat seniman dengan medium dan pengalaman berbeda itu kemudian membawa mereka pada ingatan tentang puisi dan penyair Umbu Landu Paranggi.
Bagi Warih, puisi bukan sekadar susunan kata atau bentuk visual, melainkan cara mengalami kehidupan: mencari kemungkinan, menyelami jiwa, dan mengolah kenyataan menjadi pengalaman yang lebih dalam. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi BURU-JIWA-BUMI, yang memandang penciptaan seni sebagai perjalanan untuk mengenali diri dan menemukan makna kehidupan.
Warih juga mengaitkan pameran ini dengan konsep wabi-sabi, yakni cara pandang estetika yang menghargai ketidaksempurnaan, kefanaan, dan perubahan. Dalam pendekatan ini, keindahan tidak harus hadir dalam bentuk yang sempurna. Ketidakteraturan, kerapuhan, dan ketidakseimbangan justru dapat menjadi bagian dari harmoni.
Melalui keramik, gerabah, fotografi, dan lukisan, keempat seniman menafsirkan alam dan kehidupan dengan cara masing-masing. Seni tidak sekadar meniru kenyataan, tetapi mengolahnya melalui pengalaman batin dan kebebasan artistik hingga melahirkan makna baru.
Dengan medium dan pendekatan yang berbeda, Hyonsun Kim, Young Choi, I Ketut Muka Pendet, dan Wayan Kun Adnyana menghadirkan beragam cara untuk memahami hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan pengalaman batin.



Karya-karya Hyonsun Kim memperlihatkan bagaimana tanah liat dapat diolah menjadi bentuk yang mengundang perenungan. Latar belakangnya dalam desain komunikasi visual tampak melalui perhatiannya terhadap komposisi, warna, tekstur, dan bentuk.
Namun, proses berkarya dengan tanah liat tidak hanya bergantung pada rancangan. Sentuhan, pembentukan, pengeringan, dan pembakaran turut menentukan hasil akhirnya. Dalam proses tersebut, gagasan seniman bertemu dengan karakter material yang memiliki sifat dan kemungkinan tersendiri.
Dalam Fragmented Bowl (2019), kepingan-kepingan keramik disatukan menjadi bentuk melengkung. Sambungan dan permukaan yang tidak rata dibiarkan terlihat sebagai bagian dari karakter karya. Fragmen-fragmen yang semula terpisah itu kemudian membentuk satu kesatuan.
Sementara itu, Journey of the Kiwis (2021) menampilkan deretan figur menyerupai burung kiwi dalam susunan berirama dengan ukuran yang semakin mengecil. Pointillist Reptile (2020) menghadirkan bunglon bergaya jenaka dengan titik-titik warna yang membuat permukaannya menyerupai lukisan pointilisme.
Dalam The Blue Harvest (2022), Kim mengolah bentuk labu menjadi objek keramik berlapis glasir biru keabu-abuan. Garis-garis vertikal yang lembut dan tangkai berpilin memberikan kesan tenang sekaligus playful.
Karya-karya tersebut menunjukkan bagaimana material tanah liat dapat berkembang menjadi pengalaman visual yang kaya melalui pengolahan bentuk, warna, dan permukaan.
Sementara itu, Warih Wisatsana menyoroti daya tarik pendekatan Young Choi dalam menghadirkan kembali karya keramik Hyonsun Kim melalui fotografi. Dalam pendekatan ini, fotografi bukan sekadar merekam objek, tetapi juga membentuk pengalaman visual melalui pencahayaan, sudut pandang, pembingkaian, serta hubungan antara benda dan ruang di sekitarnya.

Pada Pure Fullness (2026), sebuah Moon Jar—keramik porselen putih tradisional Korea dari masa Dinasti Joseon—ditampilkan dengan latar hitam. Kontras tersebut membuat bentuk putihnya tampak seolah-olah memancarkan cahaya dari dalam.
Golden Stardust (2026) mempertemukan jejak keemasan pada keramik hitam dengan permukaan putih hanji, kertas tradisional Korea yang memiliki tekstur serat halus. Perpaduan warna, cahaya, dan tekstur itu menciptakan suasana hening.
Dalam Echoes of Grace (2022), lipatan kain putih berpadu dengan lekuk wadah porselen. Choi juga mengeksplorasi imaji hujan, embun, salju, dedaunan, pantulan air, dan kaca untuk membangun hubungan baru antara objek dan latarnya.
Eksperimen visual juga terlihat dalam Pixelated Full Moon (2026) dan Veil of Rain and Grid (2026). Pada kedua karya ini, lapisan di antara kamera dan objek mengaburkan bentuk sehingga menghadirkan sudut pandang berbeda. Sementara itu, Embracing Nature (2024) mempertemukan bentuk keramik dengan kehijauan hutan.
Warih menyebut bahwa dalam karya-karya tersebut, ruang kosong memiliki peran penting. Ruang itu bukan sekadar latar, tetapi bagian dari komposisi yang memberi kesempatan bagi mata untuk mengamati dan pikiran untuk merenung. Melalui permainan cahaya dan bayangan, Young Choi mengolah kembali objek menjadi pengalaman fotografis yang melampaui dokumentasi.
Dalam tulisannya di katalog pameran, Warih juga menjelaskan bahwa melalui karya gerabah Kumba Carat, I Ketut Muka Pendet berangkat dari bentuk kumba, wadah air suci yang dikenal dalam ritual Hindu Bali. Selain memiliki fungsi ritual, benda ini menyimpan makna tentang air sebagai sumber kehidupan, sarana penyucian, dan penghubung manusia dengan alam semesta.
Melalui tanah liat, bentuk kumba dihadirkan dengan lengkung organik, tekstur alami, dan jejak hias yang mengingatkan pada tradisi spiritual Bali. Namun, karya ini tidak sekadar mengulang bentuk masa lalu. Tradisi justru menjadi sumber gagasan untuk membicarakan kehidupan dalam konteks masa kini.

Proses pembakaran mengubah tanah liat yang lunak menjadi benda yang lebih kokoh. Perubahan tersebut dapat dibaca sebagai gambaran perjalanan hidup, ketika pengalaman membentuk manusia tanpa harus menghapus asal-usulnya.
Pendekatan serupa terlihat dalam karya-karya keramik Muka Pendet. Gerabah dan keramik tidak hanya dipandang sebagai benda pakai atau warisan tradisi, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara material, ingatan, kepercayaan, dan kesadaran manusia terhadap alam.
Melalui bentuk-bentuk tersebut, Muka Pendet mengajak pengunjung kembali memikirkan makna air sekaligus pentingnya menjaga sumber kehidupan.
Warih kemudian menjelaskan bahwa perjalanan abstraksi Wayan Kun Adnyana telah berkembang sejak seri Hana Tan Hana (2008), yang mengeksplorasi gagasan Ada dan Tiada melalui ribuan garis rapat dan berlapis.
Pada seri berikutnya, seperti Citra Yuga dan Wastu Waktu, abstraksi hadir sebagai latar yang menghidupkan figur, relief, dan metafora visual. Sapuan warna dan guratan garis secara bertahap membangun dunia rupa yang mandiri.


Pada 2025, figur dan simbol mulai meluruh dari bidang kanvas, memberi ruang bagi warna dan gestur garis untuk menjadi unsur utama. Perkembangan ini terlihat dalam seri Guwung Suwung, ketika Kun mendalami abstraksi bukan dengan meninggalkan kenyataan, tetapi dengan menyelami bentuk dan pengalaman yang tersembunyi di baliknya.
Melalui tumpukan warna, torehan, kikisan, dan lapisan yang saling berkelindan, Kun membangun lanskap visual yang mengingatkan pada bebatuan, tanah, dan jejak alam purba. Kanvas seolah-olah menjadi situs arkeologis yang menyimpan lapisan pengalaman dan ingatan.
Proses menumpuk dan mengikis warna menghadirkan gambaran tentang waktu yang terus berubah. Lapisan-lapisan tersebut bukan sekadar tekstur, tetapi juga rekaman perjalanan kreatif yang mempertemukan masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan.
Eksplorasi ini berlanjut dalam seri Blue–Purple atau Pulung-Pelung, yang menempatkan warna biru sebagai unsur utama. Dalam Voyage of Blue Purple (2026) berukuran 150 × 150 sentimeter, lapisan biru membentuk labirin visual yang diperkaya warna ungu, putih, dan gelap. Perpaduan tersebut menciptakan irama warna yang dinamis sekaligus menghadirkan kesan ruang dan waktu.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto





























