Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap, dan bertukar pikiran tentang film, mulai dari jalan cerita dan akting para pemain hingga pesan yang ingin disampaikan melalui sinema. Suasana yang semula santai perlahan menjadi lebih serius ketika pemutaran film dimulai. Meski demikian, ruang diskusi tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin menyampaikan pendapat.
Suasana tersebut mewarnai pemutaran perdana lima film pendek hasil Lensa Iklim Bali Short Film Fellowship dalam Festival Rakyat Pekan Iklim Bali, Sabtu, 17 Oktober 2026. Tak sekadar menjadi wadah belajar membuat film, program ini juga berfungsi sebagai ruang edukasi sekaligus jembatan antara gerakan aksi iklim di tingkat lokal dan penceritaan kreatif. Fellowship ini merupakan inisiatif Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bersama Minikino (Yayasan Kino Media).
Kelima film yang diputar mengangkat beragam persoalan lingkungan dan kehidupan sehari-hari di Bali. Salah satunya adalah Satu Pemberhentian Lagi, karya Amrita Dharma dari Amrita Studio, yang bercerita tentang bus dan kemacetan. Sementara itu, Viewfinders, yang dimentori Putu Kusuma Wijaya dari FEUGEE, mengajak penonton melihat persoalan sampah di balik keindahan Bali.
Film Memanen Matahari, yang diproduseri Dian Suryantini dari Singaraja Menonton, mengangkat kisah mata air sakti di Desa Bondalem, Singaraja. Film dokumenter Dapur Laut karya Rio Kharisma dari Niskala Studio menyoroti kehidupan laut dan nelayan di Kusamba yang kini semakin kesulitan mendapatkan hasil tangkapan. Adapun Berlayar, film animasi yang ditulis dan disutradarai I Made Suarbawa dari Minikino Studio, mengikuti perjalanan seorang anak di Serangan yang berusaha menemukan jalannya sendiri di tengah tekanan perubahan lingkungan dan industri pariwisata.

Salah satu film yang mengundang diskusi adalah Satu Pemberhentian Lagi. Film ini diputar dalam sesi “Kota dan Segudang Masalahnya” bersama Viewfinders. Keduanya mengangkat keresahan warga perkotaan di Bali, mulai dari persoalan transportasi hingga masalah lingkungan. Setelah pemutaran, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama sutradara Satu Pemberhentian Lagi, Amrita Dharma.
Bagi Fadli, salah satu aktor dalam film Satu Pemberhentian Lagi, proses syuting menjadi pengalaman tersendiri. Ia bahkan baru pertama kali naik bus saat mengikuti proses tersebut. Hari pertama syuting terasa menyenangkan, meski ada kenyataan di lapangan yang cukup menggelitik: busnya sudah bagus dan bersih, tetapi penumpangnya masih sedikit.
“Aku baru pertama kali naik bus, jadi pengalaman shooting di transportasi umum ini menarik banget. Day 1 terasa menyenangkan. Tapi, sangat disayangkan busnya sudah bagus dan bersih, tetapi penumpangnya masih belum ada. Mungkin fasilitas haltenya juga perlu ditambah sedikit,” ujarnya.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa penyediaan transportasi umum yang nyaman belum tentu cukup untuk menarik minat masyarakat. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, mulai dari ketersediaan halte hingga kemudahan akses dan informasi rute, agar masyarakat semakin tertarik beralih ke transportasi publik.
Kemacetan yang Terasa Dekat dengan Rumah
Gagasan film ini berangkat dari persoalan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, yakni kemacetan. Bagi Amrita, masalah tersebut bukan sekadar isu perkotaan yang jauh dari keseharian, tetapi sesuatu yang bisa ia temui tepat di depan rumahnya.
“Aku lebih melihat isu kemacetan karena itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di depan rumahku saja sering macet. Aku juga sempat bertemu dengan penulis Anya dan membahas soal transportasi dan kemacetan. Sebenarnya, aku suka menggunakan transportasi umum, tetapi sekarang masih ada kesulitan dalam menemukan rute dan halte yang sesuai,” ungkapnya.
Kedekatan dengan persoalan itulah yang menjadi titik berangkat cerita. Amrita juga memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan sasaran penonton dan genre filmnya. Ia melihat semakin banyak anak usia sekolah dasar dan menengah pertama yang sudah difasilitasi sepeda motor. Dari pengamatan tersebut, ia ingin mengajak para remaja meninjau kembali pilihan transportasi yang mereka gunakan.
“Sekarang banyak anak SD dan SMP yang sudah difasilitasi motor. Berangkat dari isu itu, aku menargetkan remaja sebagai penonton film ini. Makanya, aku mengemasnya dengan genre romansa supaya pesannya bisa lebih dekat dan sampai kepada mereka,” tambahnya.

Melalui pendekatan romansa, isu kemacetan dan transportasi publik diharapkan tidak terasa seperti ceramah. Persoalan tersebut justru disampaikan melalui cerita yang dekat dengan kehidupan anak muda, sehingga pesan yang dibawa film dapat diterima melalui pengalaman para tokohnya.
Ketika Penonton Ikut Mengkritisi Cerita
Diskusi setelah pemutaran tidak berhenti pada apresiasi. Penonton turut mengajukan pertanyaan dan menyampaikan kritik terhadap cara film membangun ceritanya.
Ari, salah satu penonton, menangkap pesan tentang pentingnya menggunakan transportasi publik. Namun, ia mempertanyakan pilihan alur yang menjadikan motor mogok sebagai alasan tokoh beralih naik bus.
“Sebenarnya, aku menangkap pesan film ini bahwa kita harus menggunakan transportasi publik. Cuma, mohon maaf, film ini dimulai dari motor yang mogok, lalu tokohnya beralih ke bus. Padahal, seharusnya transportasi umum bisa menjadi pilihan sejak awal, bukan hanya ketika motor mogok,” ujarnya.
Bagi Ari, persoalan tersebut berkaitan dengan cara pesan film dibangun melalui cerita. Ia juga menyoroti pentingnya dialog dalam film pendek, yang menuntut setiap percakapan memiliki fungsi dan tidak sekadar mengisi adegan.
“Dialog dalam film pendek benar-benar harus dipertimbangkan. Kemacetan memang bisa menjadi sumber ketegangan dalam cerita, tetapi menurutku, persoalan itu juga seharusnya menjadi sesuatu yang perlu dipecahkan,” lanjutnya.
Kritik tersebut menjadi bagian penting dari diskusi. Film tidak hanya menjadi medium untuk menyampaikan pesan, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk mempertanyakan cara pesan itu disampaikan. Cerita pun dapat menjadi titik awal untuk memikirkan persoalan yang lebih luas, termasuk bagaimana masyarakat merespons masalah transportasi dan mencari kemungkinan jalan keluarnya.
Menjelang akhir diskusi, Amrita kembali mengajak peserta melihat persoalan transportasi dari sudut pandang yang lebih luas. Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat dapat mulai mengubah kebiasaan bertransportasi di tengah kemacetan yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Dengan adanya isu yang sangat hangat hari ini, sekarang bagaimana kita mengatur cara pemanfaatan transportasi? Mungkin kita bisa mulai dengan berjalan kaki untuk jarak dekat atau memanfaatkan transportasi umum untuk mengurangi kepadatan lalu lintas,” tutupnya.[T]
Reporter/Penulis: Ingga Adelia
Editor: Jaswanto




























