Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah pertunjukan seni membuka acara, sebelum peserta dari sembilan kabupaten/kota di Bali diperkenalkan di hadapan para undangan dan peserta.
Tahun ini, Utsawa Dharmagita mengangkat tema “Atma Kerthi Atmanam Dharma”, yang dimaknai sebagai menuntun jiwa menuju kesucian. Tema itu tidak hanya berbicara tentang kegiatan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai agama dipahami dan diterapkan dalam kehidupan, terutama oleh generasi muda Bali.
Dalam sambutannya, Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M. berbicara tentang satu hal yang menurutnya penting untuk masa depan Bali: sumber daya manusia yang unggul.
Menurut Koster, Bali tidak cukup hanya membangun dari sisi fisik dan ekonomi. Kemajuan Bali harus berjalan bersama dengan pembangunan manusia yang memiliki kemampuan, moral, integritas, dan tetap memahami identitas budayanya.
Koster mengatakan, dirinya pernah membaca berbagai dokumen lama tentang Bali. Dari sana, ia menemukan gambaran mengenai karakter manusia Bali yang memiliki sejumlah nilai, seperti unggul, jujur, terampil, berjiwa kesatria, rendah hati, toleran, serta menghormati pemerintah dan sesama.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari karakter yang perlu terus dijaga. Sebab, perkembangan zaman juga membawa persoalan baru. Di tengah kemajuan ekonomi dan perubahan kehidupan masyarakat, persoalan moral dan integritas tetap menjadi tantangan.
Namun, Koster mengingatkan bahwa masyarakat Bali tidak boleh hanya melihat sisi buruknya. “Yang nakal dan yang jahat ada, tetapi tetap lebih banyak yang baik, moralnya, integritasnya. Kita tetap mendapatkan cap pada umumnya orang Bali masih baik,” ujarnya.

Bagi Koster, pendidikan juga mempunyai peran penting dalam persoalan tersebut. Pendidikan selama ini membangun kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tetapi, menurutnya, pembangunan manusia Bali juga perlu dibarengi dengan penguatan identitas dan nilai-nilai budaya Bali. “Orang Bali harus pintar secara kognitif dan juga memiliki nilai moral,” katanya.
Karena itu, ia mendorong pembangunan sumber daya manusia Bali dalam jangka panjang. Bukan hanya untuk menghadapi kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk mempersiapkan generasi Bali dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
Penguatan aksara Bali, bahasa Bali, pembelajaran bahasa Bali, hingga penggunaan busana adat Bali disebut sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem budaya Bali.
“Ini adalah ekosistem nak Bali untuk membangun totalitas Bali,” ujarnya.
Utsawa Bukan Sekadar Soal Agama
Pandangan mengenai pentingnya Utsawa Dharmagita juga disampaikan Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si. Menurut Duija, kegiatan ini tidak tepat jika hanya dilihat sebagai kegiatan agama dalam pengertian yang sempit. “Kegiatan ini bukan soal agama, tetapi soal bagaimana kita menjadikan atau memahami agama,” katanya.
Menurutnya, dalam Utsawa terdapat interaksi, aktivitas, pendalaman, dan penghayatan. Hal tersebut menjadi penting karena generasi muda tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengalami dan mempraktikkan nilai-nilai yang mereka pelajari.
Utsawa Dharmagita juga menjadi ruang bagi generasi muda Bali untuk berkompetisi. Bahkan, Duija melihat kegiatan ini bisa menjadi salah satu jalan untuk membuka kesempatan yang lebih besar bagi mereka. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, pembangunan pemerintah tidak semestinya hanya berfokus pada pembangunan fisik.
“Semestinya lebih semarak, karena pemerintah punya kewajiban membangun dari sisi rohaninya dan tidak hanya semata-mata dari aspek fisik,” ujarnya.
Menurut Duija, kondisi fisik yang baik tidak selalu cukup jika kehidupan rohani seseorang bermasalah. Persoalan tersebut, katanya, dapat berkembang menjadi berbagai masalah sosial. Karena itu, ia berharap pemerintah daerah ke depan lebih banyak berdiskusi dan berkonsultasi mengenai pengembangan kegiatan seperti Utsawa Dharmagita.
Prestasi Jangan Berhenti di Sertifikat
Duija juga melihat ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu bagaimana prestasi peserta Utsawa dapat dikembangkan setelah perlombaan selesai. Ia berharap sertifikat dan prestasi yang diperoleh peserta tidak hanya menjadi bukti pernah menjadi juara, tetapi juga dapat masuk dalam sistem manajemen talenta.
Dengan begitu, peserta yang memiliki kemampuan dapat dipetakan dan mendapat kesempatan untuk berkembang lebih jauh, termasuk melalui fasilitas pendidikan atau beasiswa. “Kami berharap berapa pun hasilnya, akan masuk pemetaan kompetensi. Ini yang terpenting,” katanya.
Menurut Duija, generasi muda yang memiliki kemampuan harus didorong agar bisa masuk dalam manajemen talenta unggul yang sedang dikembangkan pemerintah. Artinya, Utsawa Dharmagita tidak berhenti ketika pengumuman juara selesai. Ada pekerjaan berikutnya: bagaimana pemerintah dan pihak terkait membina mereka agar kemampuan yang dimiliki tidak hilang begitu saja.
Seni dan Agama
Bagi Duija, berbicara tentang budaya Bali juga tidak bisa memisahkan seni dan agama. “Agama ini di Bali tidak akan bisa lepas dari seni. Jangan hanya bicara seni saja, tanpa agama, karena roh dari seni itu adalah agama,” katanya.

Ia mengibaratkan seni sebagai badan, sedangkan agama adalah rohnya. Pandangan itu terasa relevan dengan Utsawa Dharmagita. Apa yang ditampilkan bukan hanya soal kemampuan seni atau suara, tetapi juga berkaitan dengan nilai dan penghayatan yang ada di baliknya.
Dukungan Pemerintah Daerah
Duija juga menyoroti dukungan pemerintah terhadap kegiatan Utsawa Dharmagita.
Menurutnya, beberapa daerah di luar Bali justru memberikan perhatian yang cukup besar terhadap kegiatan serupa. Ia menyebut DKI Jakarta, Papua, dan Sulawesi Tengah sebagai contoh daerah yang memberikan dukungan. Bahkan, kata Duija, di Morowali, kepala daerahnya ikut terlibat langsung dalam kepanitiaan Utsawa.
“Orang lain kok bisa seperti itu, kenapa kita enggak?” ujarnya. Pertanyaan itu menjadi catatan tersendiri bagi Bali. Sebagai daerah yang kehidupan budayanya sangat kuat dan banyak bertumpu pada sektor pariwisata serta ekonomi kreatif, dukungan terhadap generasi yang menjaga budaya tentu menjadi hal penting.
Bukan Hanya Tentang Siapa yang Menang
Utsawa Dharmagita akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Di dalamnya ada proses belajar, berlatih, tampil, berkompetisi, dan menghayati nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali. Gagasan Gubernur Koster tentang manusia Bali yang unggul bertemu dengan pandangan Duija tentang pentingnya membangun manusia dari sisi jasmani sekaligus rohani.
Keduanya sama-sama berbicara tentang masa depan generasi Bali. Bali membutuhkan orang yang pintar. Tetapi kepintaran saja tidak cukup. Generasi muda juga membutuhkan moral, karakter, identitas, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.
Sebab, pada akhirnya, pembangunan Bali bukan hanya tentang seberapa tinggi gedung dibangun atau seberapa besar ekonomi tumbuh. Ada manusia yang harus dipersiapkan untuk mengisi semua itu.
Dan dari panggung Utsawa Dharmagita XXXIII, pesan itu terdengar sederhana: “Jadilah orang baik, bukan sekadar orang penting.” [T]
Reporter/Penulis: Ayu Kahuatu Tamar
Editor: Adnyana Ole






























