Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini.
Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal.
Tetapi entah mengapa, semakin banyak orang yang melewatinya, semakin sedikit yang benar-benar hadir di sana.
Kita bergerak.
Terus bergerak.
Seolah-olah berhenti adalah sebuah kesalahan.
Motor, mobil, truk, turis, pekerja, pengantar makanan, anak sekolah, upacara, ambulans, pembangunan—semuanya bergerak dalam satu arus besar yang tidak pernah benar-benar tahu ke mana ia pergi.
Dan di tengah semua itu, Bali berdiri.
Diam.
Atau mungkin sedang sekarat.
Kehancuran tidak selalu datang dengan suara ledakan.
Kadang ia datang sebagai izin pembangunan.
Sebagai sebuah pagar baru.
Sebagai sebidang sawah yang tiba-tiba menjadi tanah kosong.
Sebagai pohon yang hilang dari tikungan jalan.
Sebagai sebuah rumah tua yang digantikan oleh bangunan yang lebih tinggi.
Sebagai sebuah jalan kecil yang perlahan menjadi terlalu sempit untuk kehidupan yang dahulu menghuninya.
Tidak ada yang benar-benar merasa bersalah.
Sebab setiap perubahan memiliki alasan.
Ekonomi.
Pekerjaan.
Investasi.
Pariwisata.
Kemajuan.
Kebutuhan.
Masa depan.
Kata-kata yang terdengar begitu rasional sehingga hampir tidak mungkin dilawan.
Maka kehancuran terbesar mungkin bukan ketika sesuatu dihancurkan.
Melainkan ketika kehancuran berhasil mendapatkan alasan yang masuk akal.
Bali tidak hilang dalam satu hari.
Ia menghilang dalam pecahan-pecahan kecil.
Sedikit sawah.
Sedikit hutan.
Sedikit air.
Sedikit ruang.
Sedikit kesunyian.
Sedikit rasa malu.
Sedikit rasa cukup.
Dan yang paling berbahaya:
sedikit demi sedikit kita belajar untuk tidak memperhatikannya.
Kita terbiasa.
Itulah mungkin bentuk kehancuran yang paling sempurna.
Bukan ketika sesuatu mati,
tetapi ketika kematian menjadi pemandangan biasa.
Saya berjalan di jalan Bali.
Tidak mencari apa-apa.
Hanya berjalan.
Di depan saya seorang perempuan tua membawa sesajen.
Di belakang saya sebuah mobil besar membawa wisatawan menuju sebuah tempat yang mungkin disebut paradise.
Di sebelah kanan sebuah vila berdiri di atas tanah yang dulu mungkin ditanami padi.
Di kejauhan terdengar gamelan.
Suaranya tipis.
Hampir tenggelam oleh mesin.
Tetapi ia masih ada.
Saya berhenti.
Bukan karena suara itu keras.
Justru karena ia hampir tidak terdengar.
Mungkin begitulah kebudayaan bertahan.
Bukan dengan berteriak.
Tetapi dengan terus berbunyi meskipun dunia sudah terlalu bising untuk mendengarnya.
Jalan adalah tempat yang aneh.
Ia tidak memiliki rumah.
Tetapi semua rumah terhubung olehnya.
Ia tidak memiliki identitas.
Tetapi semua identitas melewatinya.
Ia tidak memiliki ingatan.
Tetapi segala sesuatu yang terjadi meninggalkan jejak di atasnya.
Kaki.
Ban.
Darah.
Air hujan.
Sampah.
Canang.
Minyak.
Debu.
Bayangan.
Jalan menyimpan semuanya tanpa pernah memilikinya.
Mungkin karena itu jalan adalah tempat paling jujur untuk melihat Bali.
Bukan dari pura.
Bukan dari hotel.
Bukan dari restoran.
Bukan dari galeri.
Bukan dari ruang konferensi.
Tetapi dari pinggir jalan.
Di sana segala sesuatu bertemu tanpa izin.
Yang kaya dan yang miskin.
Yang datang dan yang tinggal.
Yang sakral dan yang profan.
Yang lama dan yang baru.
Yang memiliki tanah dan yang hanya memiliki tubuhnya sendiri.
Bali yang sesungguhnya tidak berada di satu tempat.
Ia berada di antara semuanya.
Dan mungkin Street Solace adalah pencarian terhadap sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu namanya.
Bukan kebahagiaan.
Bukan nostalgia.
Bukan masa lalu.
Mungkin hanya sebuah jeda.
Sebuah ruang kecil di antara dua kendaraan.
Di antara dua suara.
Di antara dua generasi.
Di antara apa yang telah hilang dan apa yang belum sempat hilang.
Kita berdiri di sana sebentar.
Tidak melakukan apa-apa.
Tidak membeli apa-apa.
Tidak memotret apa-apa.
Tidak mengunggah apa-apa.
Hanya hadir.
Dan dalam dunia yang telah mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas, tidak melakukan apa-apa mungkin menjadi tindakan terakhir yang belum berhasil dijual.
Bali hari ini terlalu sering dipaksa menjadi sesuatu.
Destinasi.
Brand.
Komoditas.
Panggung.
Identitas.
Pengalaman.
Konten.
Surga.
Tetapi sebuah tempat yang terus dipaksa menjadi simbol akhirnya kehilangan hak untuk menjadi tempat.
Kita ingin Bali terlihat indah.
Maka kita membersihkan gambar.
Kita menghapus sampah dari kamera.
Kita memilih sudut terbaik.
Kita menunggu matahari yang tepat.
Kita membuatnya sempurna.
Tetapi kesempurnaan selalu membutuhkan sesuatu untuk disembunyikan.
Di belakang gambar yang indah ada sungai yang membawa sampah.
Di belakang vila ada tanah yang kehilangan sawah.
Di belakang restoran ada pekerja yang pulang larut malam.
Di belakang kemewahan ada air yang semakin diperebutkan.
Di belakang kata paradise ada sebuah pulau yang harus membayar harga untuk menjadi surga bagi orang lain.
Saya tidak ingin kembali ke Bali yang lama.
Masa lalu juga bukan tempat yang sempurna.
Saya hanya ingin sebuah Bali yang masih memiliki kemampuan untuk berkata:
cukup.
Cukup membangun.
Cukup mengambil.
Cukup menjual.
Cukup mengubah.
Cukup mempercepat.
Cukup menjadikan setiap ruang sebagai kesempatan ekonomi.
Karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada pertumbuhan.
Kemampuan untuk tetap hidup.
Pada akhirnya, mungkin persoalan Bali bukan tentang bagaimana menyelamatkan kebudayaan.
Kebudayaan tidak membutuhkan penyelamat.
Ia membutuhkan ruang untuk bernapas.
Dan mungkin yang sedang kita bunuh bukan kebudayaan.
Melainkan ruang tempat kebudayaan dapat terjadi secara alami.
Ruang untuk berkumpul.
Ruang untuk bermain.
Ruang untuk berjalan.
Ruang untuk diam.
Ruang untuk tidak menghasilkan apa-apa.
Ruang untuk menjadi manusia tanpa harus menjadi konsumen.
Ketika semua ruang telah memiliki harga, apa yang tersisa dari kehidupan?
Malam turun.
Lampu jalan menyala.
Kendaraan terus bergerak.
Seorang lelaki tua duduk sendirian di depan sebuah warung.
Ia tidak melihat telepon.
Tidak sedang memotret.
Tidak sedang terburu-buru.
Ia hanya duduk.
Barangkali ia tidak sedang memikirkan masa depan Bali.
Barangkali ia bahkan tidak memikirkan apa pun.
Tetapi dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang hampir hilang dari zaman kita:
kehadiran.
Ia ada.
Jalan ada.
Malam ada.
Suara kendaraan ada.
Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang perlu ditambahkan.
Mungkin inilah solace.
Bukan keselamatan.
Bukan kemenangan.
Bukan harapan.
Hanya sebuah kesadaran yang sangat sederhana:
bahwa sesuatu masih ada.
Dan karena itu ia masih mungkin kita dengarkan.
Besok jalan akan kembali penuh.
Mesin akan kembali hidup.
Pembangunan akan kembali berjalan.
Tanah akan kembali dijual.
Turis akan kembali datang.
Kamera akan kembali mengarah ke matahari terbenam.
Bali akan kembali tersenyum.
Dan mungkin tidak seorang pun akan melihat bahwa di balik senyum itu sesuatu sedang perlahan-lahan menghilang.
Maka saya memilih berjalan.
Bukan untuk mencari Bali yang lama.
Bukan untuk melawan masa depan.
Saya berjalan untuk melihat apa yang masih tersisa.
Sebuah suara.
Sebuah pohon.
Sebuah gang.
Sebuah wajah.
Sebuah ritual.
Sebuah kesunyian kecil di antara dua kendaraan.
Sebuah ruang yang belum dijual.
Sebuah kehidupan yang belum menjadi tontonan.
Saya berjalan.
Dan jalan tidak menjanjikan apa-apa.
Ia hanya berkata:
teruslah berjalan.
Sebab mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang telah hilang
adalah dengan cukup pelan untuk melihatnya.
Dan mungkin,
di tengah kehancuran yang berlangsung perlahan,
ketenangan terakhir bukanlah tempat untuk bersembunyi.
Ia adalah kemampuan
untuk tetap melihat.
.
Kubu Art Space
11Sept 2026































