13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
in Esai
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Lukisan karya Made Mahendra Mangku

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini.

Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal.

Tetapi entah mengapa, semakin banyak orang yang melewatinya, semakin sedikit yang benar-benar hadir di sana.

Kita bergerak.

Terus bergerak.

Seolah-olah berhenti adalah sebuah kesalahan.

Motor, mobil, truk, turis, pekerja, pengantar makanan, anak sekolah, upacara, ambulans, pembangunan—semuanya bergerak dalam satu arus besar yang tidak pernah benar-benar tahu ke mana ia pergi.

Dan di tengah semua itu, Bali berdiri.

Diam.

Atau mungkin sedang sekarat.

Kehancuran tidak selalu datang dengan suara ledakan.

Kadang ia datang sebagai izin pembangunan.

Sebagai sebuah pagar baru.

Sebagai sebidang sawah yang tiba-tiba menjadi tanah kosong.

Sebagai pohon yang hilang dari tikungan jalan.

Sebagai sebuah rumah tua yang digantikan oleh bangunan yang lebih tinggi.

Sebagai sebuah jalan kecil yang perlahan menjadi terlalu sempit untuk kehidupan yang dahulu menghuninya.

Tidak ada yang benar-benar merasa bersalah.

Sebab setiap perubahan memiliki alasan.

Ekonomi.

Pekerjaan.

Investasi.

Pariwisata.

Kemajuan.

Kebutuhan.

Masa depan.

Kata-kata yang terdengar begitu rasional sehingga hampir tidak mungkin dilawan.

Maka kehancuran terbesar mungkin bukan ketika sesuatu dihancurkan.

Melainkan ketika kehancuran berhasil mendapatkan alasan yang masuk akal.

Bali tidak hilang dalam satu hari.

Ia menghilang dalam pecahan-pecahan kecil.

Sedikit sawah.

Sedikit hutan.

Sedikit air.

Sedikit ruang.

Sedikit kesunyian.

Sedikit rasa malu.

Sedikit rasa cukup.

Dan yang paling berbahaya:

sedikit demi sedikit kita belajar untuk tidak memperhatikannya.

Kita terbiasa.

Itulah mungkin bentuk kehancuran yang paling sempurna.

Bukan ketika sesuatu mati,

tetapi ketika kematian menjadi pemandangan biasa.

Saya berjalan di jalan Bali.

Tidak mencari apa-apa.

Hanya berjalan.

Di depan saya seorang perempuan tua membawa sesajen.

Di belakang saya sebuah mobil besar membawa wisatawan menuju sebuah tempat yang mungkin disebut paradise.

Di sebelah kanan sebuah vila berdiri di atas tanah yang dulu mungkin ditanami padi.

Di kejauhan terdengar gamelan.

Suaranya tipis.

Hampir tenggelam oleh mesin.

Tetapi ia masih ada.

Saya berhenti.

Bukan karena suara itu keras.

Justru karena ia hampir tidak terdengar.

Mungkin begitulah kebudayaan bertahan.

Bukan dengan berteriak.

Tetapi dengan terus berbunyi meskipun dunia sudah terlalu bising untuk mendengarnya.

Jalan adalah tempat yang aneh.

Ia tidak memiliki rumah.

Tetapi semua rumah terhubung olehnya.

Ia tidak memiliki identitas.

Tetapi semua identitas melewatinya.

Ia tidak memiliki ingatan.

Tetapi segala sesuatu yang terjadi meninggalkan jejak di atasnya.

Kaki.

Ban.

Darah.

Air hujan.

Sampah.

Canang.

Minyak.

Debu.

Bayangan.

Jalan menyimpan semuanya tanpa pernah memilikinya.

Mungkin karena itu jalan adalah tempat paling jujur untuk melihat Bali.

Bukan dari pura.

Bukan dari hotel.

Bukan dari restoran.

Bukan dari galeri.

Bukan dari ruang konferensi.

Tetapi dari pinggir jalan.

Di sana segala sesuatu bertemu tanpa izin.

Yang kaya dan yang miskin.

Yang datang dan yang tinggal.

Yang sakral dan yang profan.

Yang lama dan yang baru.

Yang memiliki tanah dan yang hanya memiliki tubuhnya sendiri.

Bali yang sesungguhnya tidak berada di satu tempat.

Ia berada di antara semuanya.

Dan mungkin Street Solace adalah pencarian terhadap sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu namanya.

Bukan kebahagiaan.

Bukan nostalgia.

Bukan masa lalu.

Mungkin hanya sebuah jeda.

Sebuah ruang kecil di antara dua kendaraan.

Di antara dua suara.

Di antara dua generasi.

Di antara apa yang telah hilang dan apa yang belum sempat hilang.

Kita berdiri di sana sebentar.

Tidak melakukan apa-apa.

Tidak membeli apa-apa.

Tidak memotret apa-apa.

Tidak mengunggah apa-apa.

Hanya hadir.

Dan dalam dunia yang telah mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas, tidak melakukan apa-apa mungkin menjadi tindakan terakhir yang belum berhasil dijual.

Bali hari ini terlalu sering dipaksa menjadi sesuatu.

Destinasi.

Brand.

Komoditas.

Panggung.

Identitas.

Pengalaman.

Konten.

Surga.

Tetapi sebuah tempat yang terus dipaksa menjadi simbol akhirnya kehilangan hak untuk menjadi tempat.

Kita ingin Bali terlihat indah.

Maka kita membersihkan gambar.

Kita menghapus sampah dari kamera.

Kita memilih sudut terbaik.

Kita menunggu matahari yang tepat.

Kita membuatnya sempurna.

Tetapi kesempurnaan selalu membutuhkan sesuatu untuk disembunyikan.

Di belakang gambar yang indah ada sungai yang membawa sampah.

Di belakang vila ada tanah yang kehilangan sawah.

Di belakang restoran ada pekerja yang pulang larut malam.

Di belakang kemewahan ada air yang semakin diperebutkan.

Di belakang kata paradise ada sebuah pulau yang harus membayar harga untuk menjadi surga bagi orang lain.

Saya tidak ingin kembali ke Bali yang lama.

Masa lalu juga bukan tempat yang sempurna.

Saya hanya ingin sebuah Bali yang masih memiliki kemampuan untuk berkata:

cukup.

Cukup membangun.

Cukup mengambil.

Cukup menjual.

Cukup mengubah.

Cukup mempercepat.

Cukup menjadikan setiap ruang sebagai kesempatan ekonomi.

Karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada pertumbuhan.

Kemampuan untuk tetap hidup.

Pada akhirnya, mungkin persoalan Bali bukan tentang bagaimana menyelamatkan kebudayaan.

Kebudayaan tidak membutuhkan penyelamat.

Ia membutuhkan ruang untuk bernapas.

Dan mungkin yang sedang kita bunuh bukan kebudayaan.

Melainkan ruang tempat kebudayaan dapat terjadi secara alami.

Ruang untuk berkumpul.

Ruang untuk bermain.

Ruang untuk berjalan.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk tidak menghasilkan apa-apa.

Ruang untuk menjadi manusia tanpa harus menjadi konsumen.

Ketika semua ruang telah memiliki harga, apa yang tersisa dari kehidupan?

Malam turun.

Lampu jalan menyala.

Kendaraan terus bergerak.

Seorang lelaki tua duduk sendirian di depan sebuah warung.

Ia tidak melihat telepon.

Tidak sedang memotret.

Tidak sedang terburu-buru.

Ia hanya duduk.

Barangkali ia tidak sedang memikirkan masa depan Bali.

Barangkali ia bahkan tidak memikirkan apa pun.

Tetapi dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang hampir hilang dari zaman kita:

kehadiran.

Ia ada.

Jalan ada.

Malam ada.

Suara kendaraan ada.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang perlu ditambahkan.

Mungkin inilah solace.

Bukan keselamatan.

Bukan kemenangan.

Bukan harapan.

Hanya sebuah kesadaran yang sangat sederhana:

bahwa sesuatu masih ada.

Dan karena itu ia masih mungkin kita dengarkan.

Besok jalan akan kembali penuh.

Mesin akan kembali hidup.

Pembangunan akan kembali berjalan.

Tanah akan kembali dijual.

Turis akan kembali datang.

Kamera akan kembali mengarah ke matahari terbenam.

Bali akan kembali tersenyum.

Dan mungkin tidak seorang pun akan melihat bahwa di balik senyum itu sesuatu sedang perlahan-lahan menghilang.

Maka saya memilih berjalan.

Bukan untuk mencari Bali yang lama.

Bukan untuk melawan masa depan.

Saya berjalan untuk melihat apa yang masih tersisa.

Sebuah suara.

Sebuah pohon.

Sebuah gang.

Sebuah wajah.

Sebuah ritual.

Sebuah kesunyian kecil di antara dua kendaraan.

Sebuah ruang yang belum dijual.

Sebuah kehidupan yang belum menjadi tontonan.

Saya berjalan.

Dan jalan tidak menjanjikan apa-apa.

Ia hanya berkata:

teruslah berjalan.

Sebab mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang telah hilang

adalah dengan cukup pelan untuk melihatnya.

Dan mungkin,

di tengah kehancuran yang berlangsung perlahan,

ketenangan terakhir bukanlah tempat untuk bersembunyi.

Ia adalah kemampuan

untuk tetap melihat.

.

Kubu Art Space

11Sept 2026

Tags: balimanifesto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co