24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
in Esai
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Lukisan karya Made Mahendra Mangku

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini.

Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal.

Tetapi entah mengapa, semakin banyak orang yang melewatinya, semakin sedikit yang benar-benar hadir di sana.

Kita bergerak.

Terus bergerak.

Seolah-olah berhenti adalah sebuah kesalahan.

Motor, mobil, truk, turis, pekerja, pengantar makanan, anak sekolah, upacara, ambulans, pembangunan—semuanya bergerak dalam satu arus besar yang tidak pernah benar-benar tahu ke mana ia pergi.

Dan di tengah semua itu, Bali berdiri.

Diam.

Atau mungkin sedang sekarat.

Kehancuran tidak selalu datang dengan suara ledakan.

Kadang ia datang sebagai izin pembangunan.

Sebagai sebuah pagar baru.

Sebagai sebidang sawah yang tiba-tiba menjadi tanah kosong.

Sebagai pohon yang hilang dari tikungan jalan.

Sebagai sebuah rumah tua yang digantikan oleh bangunan yang lebih tinggi.

Sebagai sebuah jalan kecil yang perlahan menjadi terlalu sempit untuk kehidupan yang dahulu menghuninya.

Tidak ada yang benar-benar merasa bersalah.

Sebab setiap perubahan memiliki alasan.

Ekonomi.

Pekerjaan.

Investasi.

Pariwisata.

Kemajuan.

Kebutuhan.

Masa depan.

Kata-kata yang terdengar begitu rasional sehingga hampir tidak mungkin dilawan.

Maka kehancuran terbesar mungkin bukan ketika sesuatu dihancurkan.

Melainkan ketika kehancuran berhasil mendapatkan alasan yang masuk akal.

Bali tidak hilang dalam satu hari.

Ia menghilang dalam pecahan-pecahan kecil.

Sedikit sawah.

Sedikit hutan.

Sedikit air.

Sedikit ruang.

Sedikit kesunyian.

Sedikit rasa malu.

Sedikit rasa cukup.

Dan yang paling berbahaya:

sedikit demi sedikit kita belajar untuk tidak memperhatikannya.

Kita terbiasa.

Itulah mungkin bentuk kehancuran yang paling sempurna.

Bukan ketika sesuatu mati,

tetapi ketika kematian menjadi pemandangan biasa.

Saya berjalan di jalan Bali.

Tidak mencari apa-apa.

Hanya berjalan.

Di depan saya seorang perempuan tua membawa sesajen.

Di belakang saya sebuah mobil besar membawa wisatawan menuju sebuah tempat yang mungkin disebut paradise.

Di sebelah kanan sebuah vila berdiri di atas tanah yang dulu mungkin ditanami padi.

Di kejauhan terdengar gamelan.

Suaranya tipis.

Hampir tenggelam oleh mesin.

Tetapi ia masih ada.

Saya berhenti.

Bukan karena suara itu keras.

Justru karena ia hampir tidak terdengar.

Mungkin begitulah kebudayaan bertahan.

Bukan dengan berteriak.

Tetapi dengan terus berbunyi meskipun dunia sudah terlalu bising untuk mendengarnya.

Jalan adalah tempat yang aneh.

Ia tidak memiliki rumah.

Tetapi semua rumah terhubung olehnya.

Ia tidak memiliki identitas.

Tetapi semua identitas melewatinya.

Ia tidak memiliki ingatan.

Tetapi segala sesuatu yang terjadi meninggalkan jejak di atasnya.

Kaki.

Ban.

Darah.

Air hujan.

Sampah.

Canang.

Minyak.

Debu.

Bayangan.

Jalan menyimpan semuanya tanpa pernah memilikinya.

Mungkin karena itu jalan adalah tempat paling jujur untuk melihat Bali.

Bukan dari pura.

Bukan dari hotel.

Bukan dari restoran.

Bukan dari galeri.

Bukan dari ruang konferensi.

Tetapi dari pinggir jalan.

Di sana segala sesuatu bertemu tanpa izin.

Yang kaya dan yang miskin.

Yang datang dan yang tinggal.

Yang sakral dan yang profan.

Yang lama dan yang baru.

Yang memiliki tanah dan yang hanya memiliki tubuhnya sendiri.

Bali yang sesungguhnya tidak berada di satu tempat.

Ia berada di antara semuanya.

Dan mungkin Street Solace adalah pencarian terhadap sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu namanya.

Bukan kebahagiaan.

Bukan nostalgia.

Bukan masa lalu.

Mungkin hanya sebuah jeda.

Sebuah ruang kecil di antara dua kendaraan.

Di antara dua suara.

Di antara dua generasi.

Di antara apa yang telah hilang dan apa yang belum sempat hilang.

Kita berdiri di sana sebentar.

Tidak melakukan apa-apa.

Tidak membeli apa-apa.

Tidak memotret apa-apa.

Tidak mengunggah apa-apa.

Hanya hadir.

Dan dalam dunia yang telah mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas, tidak melakukan apa-apa mungkin menjadi tindakan terakhir yang belum berhasil dijual.

Bali hari ini terlalu sering dipaksa menjadi sesuatu.

Destinasi.

Brand.

Komoditas.

Panggung.

Identitas.

Pengalaman.

Konten.

Surga.

Tetapi sebuah tempat yang terus dipaksa menjadi simbol akhirnya kehilangan hak untuk menjadi tempat.

Kita ingin Bali terlihat indah.

Maka kita membersihkan gambar.

Kita menghapus sampah dari kamera.

Kita memilih sudut terbaik.

Kita menunggu matahari yang tepat.

Kita membuatnya sempurna.

Tetapi kesempurnaan selalu membutuhkan sesuatu untuk disembunyikan.

Di belakang gambar yang indah ada sungai yang membawa sampah.

Di belakang vila ada tanah yang kehilangan sawah.

Di belakang restoran ada pekerja yang pulang larut malam.

Di belakang kemewahan ada air yang semakin diperebutkan.

Di belakang kata paradise ada sebuah pulau yang harus membayar harga untuk menjadi surga bagi orang lain.

Saya tidak ingin kembali ke Bali yang lama.

Masa lalu juga bukan tempat yang sempurna.

Saya hanya ingin sebuah Bali yang masih memiliki kemampuan untuk berkata:

cukup.

Cukup membangun.

Cukup mengambil.

Cukup menjual.

Cukup mengubah.

Cukup mempercepat.

Cukup menjadikan setiap ruang sebagai kesempatan ekonomi.

Karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada pertumbuhan.

Kemampuan untuk tetap hidup.

Pada akhirnya, mungkin persoalan Bali bukan tentang bagaimana menyelamatkan kebudayaan.

Kebudayaan tidak membutuhkan penyelamat.

Ia membutuhkan ruang untuk bernapas.

Dan mungkin yang sedang kita bunuh bukan kebudayaan.

Melainkan ruang tempat kebudayaan dapat terjadi secara alami.

Ruang untuk berkumpul.

Ruang untuk bermain.

Ruang untuk berjalan.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk tidak menghasilkan apa-apa.

Ruang untuk menjadi manusia tanpa harus menjadi konsumen.

Ketika semua ruang telah memiliki harga, apa yang tersisa dari kehidupan?

Malam turun.

Lampu jalan menyala.

Kendaraan terus bergerak.

Seorang lelaki tua duduk sendirian di depan sebuah warung.

Ia tidak melihat telepon.

Tidak sedang memotret.

Tidak sedang terburu-buru.

Ia hanya duduk.

Barangkali ia tidak sedang memikirkan masa depan Bali.

Barangkali ia bahkan tidak memikirkan apa pun.

Tetapi dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang hampir hilang dari zaman kita:

kehadiran.

Ia ada.

Jalan ada.

Malam ada.

Suara kendaraan ada.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang perlu ditambahkan.

Mungkin inilah solace.

Bukan keselamatan.

Bukan kemenangan.

Bukan harapan.

Hanya sebuah kesadaran yang sangat sederhana:

bahwa sesuatu masih ada.

Dan karena itu ia masih mungkin kita dengarkan.

Besok jalan akan kembali penuh.

Mesin akan kembali hidup.

Pembangunan akan kembali berjalan.

Tanah akan kembali dijual.

Turis akan kembali datang.

Kamera akan kembali mengarah ke matahari terbenam.

Bali akan kembali tersenyum.

Dan mungkin tidak seorang pun akan melihat bahwa di balik senyum itu sesuatu sedang perlahan-lahan menghilang.

Maka saya memilih berjalan.

Bukan untuk mencari Bali yang lama.

Bukan untuk melawan masa depan.

Saya berjalan untuk melihat apa yang masih tersisa.

Sebuah suara.

Sebuah pohon.

Sebuah gang.

Sebuah wajah.

Sebuah ritual.

Sebuah kesunyian kecil di antara dua kendaraan.

Sebuah ruang yang belum dijual.

Sebuah kehidupan yang belum menjadi tontonan.

Saya berjalan.

Dan jalan tidak menjanjikan apa-apa.

Ia hanya berkata:

teruslah berjalan.

Sebab mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang telah hilang

adalah dengan cukup pelan untuk melihatnya.

Dan mungkin,

di tengah kehancuran yang berlangsung perlahan,

ketenangan terakhir bukanlah tempat untuk bersembunyi.

Ia adalah kemampuan

untuk tetap melihat.

.

Kubu Art Space

11Sept 2026

Tags: balimanifesto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co