3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
in Esai
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Lukisan karya Made Mahendra Mangku

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini.

Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal.

Tetapi entah mengapa, semakin banyak orang yang melewatinya, semakin sedikit yang benar-benar hadir di sana.

Kita bergerak.

Terus bergerak.

Seolah-olah berhenti adalah sebuah kesalahan.

Motor, mobil, truk, turis, pekerja, pengantar makanan, anak sekolah, upacara, ambulans, pembangunan—semuanya bergerak dalam satu arus besar yang tidak pernah benar-benar tahu ke mana ia pergi.

Dan di tengah semua itu, Bali berdiri.

Diam.

Atau mungkin sedang sekarat.

Kehancuran tidak selalu datang dengan suara ledakan.

Kadang ia datang sebagai izin pembangunan.

Sebagai sebuah pagar baru.

Sebagai sebidang sawah yang tiba-tiba menjadi tanah kosong.

Sebagai pohon yang hilang dari tikungan jalan.

Sebagai sebuah rumah tua yang digantikan oleh bangunan yang lebih tinggi.

Sebagai sebuah jalan kecil yang perlahan menjadi terlalu sempit untuk kehidupan yang dahulu menghuninya.

Tidak ada yang benar-benar merasa bersalah.

Sebab setiap perubahan memiliki alasan.

Ekonomi.

Pekerjaan.

Investasi.

Pariwisata.

Kemajuan.

Kebutuhan.

Masa depan.

Kata-kata yang terdengar begitu rasional sehingga hampir tidak mungkin dilawan.

Maka kehancuran terbesar mungkin bukan ketika sesuatu dihancurkan.

Melainkan ketika kehancuran berhasil mendapatkan alasan yang masuk akal.

Bali tidak hilang dalam satu hari.

Ia menghilang dalam pecahan-pecahan kecil.

Sedikit sawah.

Sedikit hutan.

Sedikit air.

Sedikit ruang.

Sedikit kesunyian.

Sedikit rasa malu.

Sedikit rasa cukup.

Dan yang paling berbahaya:

sedikit demi sedikit kita belajar untuk tidak memperhatikannya.

Kita terbiasa.

Itulah mungkin bentuk kehancuran yang paling sempurna.

Bukan ketika sesuatu mati,

tetapi ketika kematian menjadi pemandangan biasa.

Saya berjalan di jalan Bali.

Tidak mencari apa-apa.

Hanya berjalan.

Di depan saya seorang perempuan tua membawa sesajen.

Di belakang saya sebuah mobil besar membawa wisatawan menuju sebuah tempat yang mungkin disebut paradise.

Di sebelah kanan sebuah vila berdiri di atas tanah yang dulu mungkin ditanami padi.

Di kejauhan terdengar gamelan.

Suaranya tipis.

Hampir tenggelam oleh mesin.

Tetapi ia masih ada.

Saya berhenti.

Bukan karena suara itu keras.

Justru karena ia hampir tidak terdengar.

Mungkin begitulah kebudayaan bertahan.

Bukan dengan berteriak.

Tetapi dengan terus berbunyi meskipun dunia sudah terlalu bising untuk mendengarnya.

Jalan adalah tempat yang aneh.

Ia tidak memiliki rumah.

Tetapi semua rumah terhubung olehnya.

Ia tidak memiliki identitas.

Tetapi semua identitas melewatinya.

Ia tidak memiliki ingatan.

Tetapi segala sesuatu yang terjadi meninggalkan jejak di atasnya.

Kaki.

Ban.

Darah.

Air hujan.

Sampah.

Canang.

Minyak.

Debu.

Bayangan.

Jalan menyimpan semuanya tanpa pernah memilikinya.

Mungkin karena itu jalan adalah tempat paling jujur untuk melihat Bali.

Bukan dari pura.

Bukan dari hotel.

Bukan dari restoran.

Bukan dari galeri.

Bukan dari ruang konferensi.

Tetapi dari pinggir jalan.

Di sana segala sesuatu bertemu tanpa izin.

Yang kaya dan yang miskin.

Yang datang dan yang tinggal.

Yang sakral dan yang profan.

Yang lama dan yang baru.

Yang memiliki tanah dan yang hanya memiliki tubuhnya sendiri.

Bali yang sesungguhnya tidak berada di satu tempat.

Ia berada di antara semuanya.

Dan mungkin Street Solace adalah pencarian terhadap sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu namanya.

Bukan kebahagiaan.

Bukan nostalgia.

Bukan masa lalu.

Mungkin hanya sebuah jeda.

Sebuah ruang kecil di antara dua kendaraan.

Di antara dua suara.

Di antara dua generasi.

Di antara apa yang telah hilang dan apa yang belum sempat hilang.

Kita berdiri di sana sebentar.

Tidak melakukan apa-apa.

Tidak membeli apa-apa.

Tidak memotret apa-apa.

Tidak mengunggah apa-apa.

Hanya hadir.

Dan dalam dunia yang telah mengubah hampir segala sesuatu menjadi komoditas, tidak melakukan apa-apa mungkin menjadi tindakan terakhir yang belum berhasil dijual.

Bali hari ini terlalu sering dipaksa menjadi sesuatu.

Destinasi.

Brand.

Komoditas.

Panggung.

Identitas.

Pengalaman.

Konten.

Surga.

Tetapi sebuah tempat yang terus dipaksa menjadi simbol akhirnya kehilangan hak untuk menjadi tempat.

Kita ingin Bali terlihat indah.

Maka kita membersihkan gambar.

Kita menghapus sampah dari kamera.

Kita memilih sudut terbaik.

Kita menunggu matahari yang tepat.

Kita membuatnya sempurna.

Tetapi kesempurnaan selalu membutuhkan sesuatu untuk disembunyikan.

Di belakang gambar yang indah ada sungai yang membawa sampah.

Di belakang vila ada tanah yang kehilangan sawah.

Di belakang restoran ada pekerja yang pulang larut malam.

Di belakang kemewahan ada air yang semakin diperebutkan.

Di belakang kata paradise ada sebuah pulau yang harus membayar harga untuk menjadi surga bagi orang lain.

Saya tidak ingin kembali ke Bali yang lama.

Masa lalu juga bukan tempat yang sempurna.

Saya hanya ingin sebuah Bali yang masih memiliki kemampuan untuk berkata:

cukup.

Cukup membangun.

Cukup mengambil.

Cukup menjual.

Cukup mengubah.

Cukup mempercepat.

Cukup menjadikan setiap ruang sebagai kesempatan ekonomi.

Karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting daripada pertumbuhan.

Kemampuan untuk tetap hidup.

Pada akhirnya, mungkin persoalan Bali bukan tentang bagaimana menyelamatkan kebudayaan.

Kebudayaan tidak membutuhkan penyelamat.

Ia membutuhkan ruang untuk bernapas.

Dan mungkin yang sedang kita bunuh bukan kebudayaan.

Melainkan ruang tempat kebudayaan dapat terjadi secara alami.

Ruang untuk berkumpul.

Ruang untuk bermain.

Ruang untuk berjalan.

Ruang untuk diam.

Ruang untuk tidak menghasilkan apa-apa.

Ruang untuk menjadi manusia tanpa harus menjadi konsumen.

Ketika semua ruang telah memiliki harga, apa yang tersisa dari kehidupan?

Malam turun.

Lampu jalan menyala.

Kendaraan terus bergerak.

Seorang lelaki tua duduk sendirian di depan sebuah warung.

Ia tidak melihat telepon.

Tidak sedang memotret.

Tidak sedang terburu-buru.

Ia hanya duduk.

Barangkali ia tidak sedang memikirkan masa depan Bali.

Barangkali ia bahkan tidak memikirkan apa pun.

Tetapi dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang hampir hilang dari zaman kita:

kehadiran.

Ia ada.

Jalan ada.

Malam ada.

Suara kendaraan ada.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang perlu ditambahkan.

Mungkin inilah solace.

Bukan keselamatan.

Bukan kemenangan.

Bukan harapan.

Hanya sebuah kesadaran yang sangat sederhana:

bahwa sesuatu masih ada.

Dan karena itu ia masih mungkin kita dengarkan.

Besok jalan akan kembali penuh.

Mesin akan kembali hidup.

Pembangunan akan kembali berjalan.

Tanah akan kembali dijual.

Turis akan kembali datang.

Kamera akan kembali mengarah ke matahari terbenam.

Bali akan kembali tersenyum.

Dan mungkin tidak seorang pun akan melihat bahwa di balik senyum itu sesuatu sedang perlahan-lahan menghilang.

Maka saya memilih berjalan.

Bukan untuk mencari Bali yang lama.

Bukan untuk melawan masa depan.

Saya berjalan untuk melihat apa yang masih tersisa.

Sebuah suara.

Sebuah pohon.

Sebuah gang.

Sebuah wajah.

Sebuah ritual.

Sebuah kesunyian kecil di antara dua kendaraan.

Sebuah ruang yang belum dijual.

Sebuah kehidupan yang belum menjadi tontonan.

Saya berjalan.

Dan jalan tidak menjanjikan apa-apa.

Ia hanya berkata:

teruslah berjalan.

Sebab mungkin satu-satunya cara untuk mengetahui apa yang telah hilang

adalah dengan cukup pelan untuk melihatnya.

Dan mungkin,

di tengah kehancuran yang berlangsung perlahan,

ketenangan terakhir bukanlah tempat untuk bersembunyi.

Ia adalah kemampuan

untuk tetap melihat.

.

Kubu Art Space

11Sept 2026

Tags: balimanifesto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Next Post

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co