20 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
in Esai
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun sering dilihat dari seberapa banyak yang dapat diingat dan seberapa tepat jawaban yang diberikan. Pola seperti ini memang penting dalam proses pendidikan, tetapi hanya berhenti di sana saja, makna pendidikan menjadi terlalu sempit.

Pendidikan sesungguhnya bukan hanya persoalan bagaimana pengetahuan disampaikan dari guru kepada siswa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui pendidikan? Bagaimana seseorang belajar memahami dirinya dan dunia? Untuk apa pengetahuan yang diperoleh itu digunakan dalam realitas?

Setiap praktik pendidikan pada dasarnya selalu berangkat dari pandangan tentang manusia, pengetahuan, kebebasan, dan kehidupan bersama. Pendidikan seharusnya dilihat sebagai proses pemanusiaan. Siswa bukan sekadar penerima pengetahuan yang harus mengikuti tuntutan sistem, melainkan subjek yang memiliki potensi untuk berkembang, mampu memahami realitas, dan bebas menentukan sikap terhadap kehidupan. Pendidikan menjadi membebaskan ketika mampu membuat siswa berpikir, memahami dirinya, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Gagasan tentang pendidikan sebagai proses pemanusiaan menemukan perjumpaan yang menarik dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire. Keduanya memang hidup dalam konteks sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Ki Hadjar Dewantara berhadapan dengan realitas kolonial di Indonesia, sedangkan Freire berhadapan dengan ketimpangan sosial dan politik di Brasil. Namun, jika kita membaca keduanya secara lebih dekat, ada kegelisahan yang sama, yakni pendidikan jangan sampai membuat manusia hanya menjadi objek penerima.

Pendidikan seharusnya memberi ruang agar manusia dapat tumbuh sebagai subjek, memiliki kemerdekaan dan membangun kesadaran tentang dunia. Gagasan ini sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan pendidikan kita hari ini. Siswa dianggap pintar jika mampu mengingat materi karena yang ditanyakan dalam ujian adalah apa yang sudah dijelaskan guru. Pertanyaan kemudian muncul apakah siswa benar-benar sedang belajar memahami, atau hanya sedang belajar mengingat? Di sinilah pemikiran Dewantara dan Freire menjadi penting dibaca kembali. Keduanya membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yakni untuk apa pendidikan diselenggarakan?

Ki Hadjar Dewantara mengembangkan pemikiran pendidikannya dalam konteks kolonialisme Hindia Belanda. Pada masa itu, pendidikan tidak berdiri di ruang yang netral. Pendidikan berada dalam struktur sosial yang membedakan manusia berdasarkan status, kelas, dan kepentingan kolonial. Tidak semua orang memperoleh kesempatan pendidikan yang sama, sementara pengetahuan dan kebudayaan yang diajarkan juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan penguasa.

Dalam situasi seperti itu, pendidikan bagi Ki Hadjar Dewantara tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemerdekaan manusia. Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pandai membaca, menulis, berhitung, atau menguasai pengetahuan tertentu. Pendidikan harus membantu manusia mengenali dirinya, memahami kebudayaannya, membaca lingkungan sosial, dan menentukan arah kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, orang yang berpendidikan bukan hanya orang yang banyak tahu, tetapi orang yang semakin mampu berdiri sebagai manusia yang merdeka.

Pengalaman Ki Hadjar Dewantara dalam pergerakan kebangsaan semakin menumbuhkan sensitivitasnya terhadap persoalan sosial yang menghambat kemerdekaan manusia. Pendidikan tidak semestinya menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan, justru menjadi ruang tempat manusia belajar memahami diri dan kehidupan sosialnya.

Gagasan tersebut kemudian memperoleh bentuk yang lebih konkret melalui pendirian Perguruan Taman Siswa pada 1922. Taman Siswa dikembangkan sebagai ruang pendidikan yang berusaha mengubah hubungan antara guru dan siswa. Anak tidak diposisikan sebagai pihak yang harus terus-menerus tunduk dan menerima kehendak guru. Ia perlu diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kodrat dan potensinya. Pendidikan yang seperti demikian diarahkan pada pertumbuhan manusia yang merdeka, berbudaya, dan mampu hidup bersama secara bertanggung jawab.

Gagasan tentang pendidikan sebagai proses yang memungkinkan manusia tumbuh sebagai subjek juga menjadi perhatian Paulo Freire, meskipun ia berangkat dari persoalan sejarah dan sosial yang berbeda. Freire mengembangkan filsafat pendidikannya dalam konteks ketimpangan sosial-politik di Brasil. Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan marginalisasi membuat sebagian masyarakat memiliki ruang yang terbatas untuk menentukan kehidupannya sendiri. Pengalaman Freire dalam pendidikan orang dewasa membawanya pada pemahaman bahwa pendidikan tidak pernah berlangsung di luar realitas sosial. Apa yang terjadi di ruang kelas selalu berhubungan dengan kehidupan yang lebih luas.

Jika Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya menuntun pertumbuhan manusia menuju kemerdekaan, Freire membawa persoalan tersebut lebih jauh dengan bertanya bagaimana pendidikan membantu manusia menyadari kondisi yang membentuk kehidupannya. Ia mengkritik banking education, yaitu model pendidikan yang menempatkan guru sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, sedangkan siswa diperlakukan seperti tempat untuk menyimpan pengetahuan.

Gambaran ini secara konkret dapat ditemukan dalam kehidupan pendidikan sehari-hari, seperti guru berbicara, siswa mencatat, dan kemudian diminta mengulang kembali apa yang telah diberikan. Bagi Freire, persoalannya bukan sekadar metode mengajar, tetapi cara pendidikan memandang manusia. Apakah siswa hanya diperlakukan sebagai objek yang harus menerima, atau sebagai subjek yang mampu memahami, mempertanyakan, dan bertindak terhadap realitasnya?

Freire memandang manusia sebagai makhluk yang belum selesai. Manusia selalu berada dalam proses menjadi dan memiliki kemampuan untuk merefleksikan keberadaannya serta bertindak terhadap realitas. Pendidikan harus memungkinkan manusia hadir sebagai subjek, bukan sekadar penerima pengetahuan.

Dalam pandangan ini, pengetahuan juga tidak pernah benar-benar hadir dalam ruang yang kosong dan netral. Selalu ada pertanyaan tentang siapa yang berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, pengetahuan siapa yang diakui, dan siapa yang memiliki kewenangan untuk menentukan makna suatu realitas. Kita dapat melihat persoalan ini bahkan dalam hal-hal sederhana di kelas. Ketika sebuah buku pelajaran menjelaskan suatu persoalan dari satu sudut, siswa tidak seharusnya hanya dituntut menerima penjelasan tersebut. Mereka dapat berdoalog dari mana informasi itu berasal? Mengapa sudut pandang itu yang dipilih?

Pendidikan yang membebaskan bukan berarti meniadakan pengetahuan atau menghilangkan peran guru. Guru tetap memiliki pengetahuan dan tanggung jawab pedagogis. Namun, pengetahuan tersebut tidak seharusnya menjadi alat untuk menutup ruang pertanyaan. Guru dan siswa dapat bersama-sama berhadapan dengan dunia sebagai subjek yang terlibat dalam proses mencari dan memaknai pengetahuan.

Dialog menjadi strategi penting dalam pendidikan karena manusia mampu belajar tentang dunia, mulai dari mempertanyakan bagaimana dunia dipahami dan siapa yang memiliki kuasa untuk mendefinisikannya. Pendidikan memang harus menjadi proses membentuk manusia yang mampu membaca realitas dan menyadari bahwa realitas tidak selalu merupakan sesuatu yang sudah selesai.

Ki Hadjar Dewantara menghubungkan pendidikan dengan pengalaman, kebudayaan, kehidupan, dan pertumbuhan siswa. Pengetahuan tidak seharusnya dipaksakan secara mekanis dari luar karena proses pendidikan harus berangkat dari kehidupan manusia yang konkret. Freire membawa persoalan ini ke wilayah yang lebih kritis dengan mempertanyakan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan bukan benda yang begitu saja dapat dipindahkan dari guru kepada siswa.

Persoalan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang diketahui, tetapi juga menyentuh pertanyaan tentang siapa yang menentukan apa yang perlu diketahui, siapa yang memiliki kewenangan untuk mendefinisikan kebenaran, dan kepentingan apa yang mungkin bekerja di balik pengetahuan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima suatu informasi hanya karena informasi tersebut berasal dari buku, guru, media, atau seseorang yang dianggap memiliki otoritas. Padahal, belajar seharusnya juga membuat seseorang mampu bertanya mengapa informasi itu dianggap benar dan bagaimana kebenaran tersebut dibangun.

Pendidikan dengan demikian tidak hanya berhadapan dengan persoalan transmisi pengetahuan, tetapi juga dengan politik pengetahuan. Politik pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan siapa yang dipilih, pengalaman siapa yang dianggap sah, dan suara siapa yang mungkin tidak terdengar. Apa yang disebut sebagai pengetahuan yang sah tidak selalu sepenuhnya bebas dari nilai dan relasi kuasa yang bekerja dalam masyarakat.

Karena itu, pendidikan yang membebaskan perlu membentuk kemampuan siswa untuk menguji dasar, sumber, dan kepentingan yang membentuk suatu pengetahuan. Pada titik inilah belajar berubah dari kegiatan menerima kebenaran menjadi proses kritis untuk memahami bagaimana kebenaran diproduksi dan dinegosiasikan dalam realitas sosial.

Implikasi dari pandangan tersebut adalah bahwa pendidikan yang membebaskan tidak berarti menolak pengetahuan atau otoritas intelektual. Persoalan utamanya adalah bagaimana pengetahuan dan otoritas digunakan dalam proses pendidikan agar tidak berubah menjadi alat dominasi. Pengetahuan selalu berkaitan dengan pengalaman, nilai, dan relasi kuasa. Otoritas guru tidak semestinya menjadi dasar untuk menentukan secara sepihak apa yang harus diketahui dan diterima siswa sebagai kebenaran yang tidak dapat digugat.

 Guru tetap memiliki pengetahuan dan tanggung jawab, tetapi otoritas tersebut digunakan untuk membuka ruang kritis bagi siswa, bukan menutup kemungkinan untuk bertanya. Dalam praktiknya, guru dapat memberikan materi, tetapi sekaligus mengajak siswa menguji materi tersebut melalui pengalaman, dialog, bukti, dan berbagai sumber. Pengetahuan akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, dialog, dan refleksi kritis. Siswa diarahkan turut memahami bagaimana suatu pengetahuan dibentuk dan dipertanggungjawabkan.

Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire sama-sama menempatkan pendidikan dalam horizon memanusiakan manusia. Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan berkaitan dengan kebahagiaan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Kemerdekaan bukan berarti seseorang bebas melakukan kehendak tanpa arah, tetapi kemampuan untuk berkembang secara mandiri dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama. Freire merumuskan orientasi tersebut melalui gagasan humanisasi.

Pendidikan harus mampu mengantarkan manusia untuk mempertahankan martabatnya sebagai subjek yang mampu berpikir dan bertindak. Dehumanisasi terjadi ketika manusia direduksi menjadi objek, ketika kemampuan berpikirnya dirampas, atau ketika realitas diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Kesadaran kritis dan praksis menjadi bagian penting dari pendidikan pembebasan. Kebebasan dalam pendidikan tidak cukup dipahami sebagai banyaknya pilihan atau ketiadaan aturan.

Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa kebebasan membutuhkan tuntunan, sedangkan Freire menunjukkan bahwa kebebasan membutuhkan kesadaran kritis. Dalam konteks realitas, seorang siswa mungkin saja memiliki banyak pilihan, tetapi belum tentu memahami konsekuensi dari pilihannya. Siswa yang dibiasakan berpikir kritis akan belajar bahwa setiap pilihan memiliki alasan dan konsekuensi.

Tanpa tuntunan, kebebasan dapat kehilangan arah. Tanpa kesadaran kritis, pilihan juga dapat tetap berada dalam struktur yang tidak disadari. Pendidikan pada hakikatnya adalah pembebasan yang membantu manusia tumbuh menjadi pribadi yang mampu menentukan arah hidupnya dengan kesadaran, pengetahuan, dan tanggung jawab. [T]

Tags: Ki Hadjar DewantaraPaulo FreirePendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

by Tri Nugroho Adi
September 19, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Kita melihat tato seseorang, tetapi kita tidak pernah benar-benar melihat cerita yang membuatnya memilih tato itu. ADA sesuatu yang menarik...

Read moreDetails

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikir Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 20, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses Tebal: vii + 138...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]
Ulas Musik

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur
Pameran

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026
Panggung

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak
Budaya

Pengurus KPBU Dikukuhkan —Bupati Buleleng Dukung Perempuan Bali Utara yang Berdaya, Bergerak dan Berdampak

BULELENG | TATKALA.CO -- Barisan perempuan duduk berderet dengan gaung berwarna krem dan riasan diri yang lengkap. Perempuan-perempuan itu tampak...

by Rusdy Ulu
September 19, 2026
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño
Esai

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co