1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

I Kadek Adhi Dwipayana by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
in Esai
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun sering dilihat dari seberapa banyak yang dapat diingat dan seberapa tepat jawaban yang diberikan. Pola seperti ini memang penting dalam proses pendidikan, tetapi hanya berhenti di sana saja, makna pendidikan menjadi terlalu sempit.

Pendidikan sesungguhnya bukan hanya persoalan bagaimana pengetahuan disampaikan dari guru kepada siswa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang hendak dibentuk melalui pendidikan? Bagaimana seseorang belajar memahami dirinya dan dunia? Untuk apa pengetahuan yang diperoleh itu digunakan dalam realitas?

Setiap praktik pendidikan pada dasarnya selalu berangkat dari pandangan tentang manusia, pengetahuan, kebebasan, dan kehidupan bersama. Pendidikan seharusnya dilihat sebagai proses pemanusiaan. Siswa bukan sekadar penerima pengetahuan yang harus mengikuti tuntutan sistem, melainkan subjek yang memiliki potensi untuk berkembang, mampu memahami realitas, dan bebas menentukan sikap terhadap kehidupan. Pendidikan menjadi membebaskan ketika mampu membuat siswa berpikir, memahami dirinya, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Gagasan tentang pendidikan sebagai proses pemanusiaan menemukan perjumpaan yang menarik dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire. Keduanya memang hidup dalam konteks sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Ki Hadjar Dewantara berhadapan dengan realitas kolonial di Indonesia, sedangkan Freire berhadapan dengan ketimpangan sosial dan politik di Brasil. Namun, jika kita membaca keduanya secara lebih dekat, ada kegelisahan yang sama, yakni pendidikan jangan sampai membuat manusia hanya menjadi objek penerima.

Pendidikan seharusnya memberi ruang agar manusia dapat tumbuh sebagai subjek, memiliki kemerdekaan dan membangun kesadaran tentang dunia. Gagasan ini sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan pendidikan kita hari ini. Siswa dianggap pintar jika mampu mengingat materi karena yang ditanyakan dalam ujian adalah apa yang sudah dijelaskan guru. Pertanyaan kemudian muncul apakah siswa benar-benar sedang belajar memahami, atau hanya sedang belajar mengingat? Di sinilah pemikiran Dewantara dan Freire menjadi penting dibaca kembali. Keduanya membantu kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, yakni untuk apa pendidikan diselenggarakan?

Ki Hadjar Dewantara mengembangkan pemikiran pendidikannya dalam konteks kolonialisme Hindia Belanda. Pada masa itu, pendidikan tidak berdiri di ruang yang netral. Pendidikan berada dalam struktur sosial yang membedakan manusia berdasarkan status, kelas, dan kepentingan kolonial. Tidak semua orang memperoleh kesempatan pendidikan yang sama, sementara pengetahuan dan kebudayaan yang diajarkan juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan penguasa.

Dalam situasi seperti itu, pendidikan bagi Ki Hadjar Dewantara tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemerdekaan manusia. Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pandai membaca, menulis, berhitung, atau menguasai pengetahuan tertentu. Pendidikan harus membantu manusia mengenali dirinya, memahami kebudayaannya, membaca lingkungan sosial, dan menentukan arah kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, orang yang berpendidikan bukan hanya orang yang banyak tahu, tetapi orang yang semakin mampu berdiri sebagai manusia yang merdeka.

Pengalaman Ki Hadjar Dewantara dalam pergerakan kebangsaan semakin menumbuhkan sensitivitasnya terhadap persoalan sosial yang menghambat kemerdekaan manusia. Pendidikan tidak semestinya menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan, justru menjadi ruang tempat manusia belajar memahami diri dan kehidupan sosialnya.

Gagasan tersebut kemudian memperoleh bentuk yang lebih konkret melalui pendirian Perguruan Taman Siswa pada 1922. Taman Siswa dikembangkan sebagai ruang pendidikan yang berusaha mengubah hubungan antara guru dan siswa. Anak tidak diposisikan sebagai pihak yang harus terus-menerus tunduk dan menerima kehendak guru. Ia perlu diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan kodrat dan potensinya. Pendidikan yang seperti demikian diarahkan pada pertumbuhan manusia yang merdeka, berbudaya, dan mampu hidup bersama secara bertanggung jawab.

Gagasan tentang pendidikan sebagai proses yang memungkinkan manusia tumbuh sebagai subjek juga menjadi perhatian Paulo Freire, meskipun ia berangkat dari persoalan sejarah dan sosial yang berbeda. Freire mengembangkan filsafat pendidikannya dalam konteks ketimpangan sosial-politik di Brasil. Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan marginalisasi membuat sebagian masyarakat memiliki ruang yang terbatas untuk menentukan kehidupannya sendiri. Pengalaman Freire dalam pendidikan orang dewasa membawanya pada pemahaman bahwa pendidikan tidak pernah berlangsung di luar realitas sosial. Apa yang terjadi di ruang kelas selalu berhubungan dengan kehidupan yang lebih luas.

Jika Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya menuntun pertumbuhan manusia menuju kemerdekaan, Freire membawa persoalan tersebut lebih jauh dengan bertanya bagaimana pendidikan membantu manusia menyadari kondisi yang membentuk kehidupannya. Ia mengkritik banking education, yaitu model pendidikan yang menempatkan guru sebagai pihak yang memiliki pengetahuan, sedangkan siswa diperlakukan seperti tempat untuk menyimpan pengetahuan.

Gambaran ini secara konkret dapat ditemukan dalam kehidupan pendidikan sehari-hari, seperti guru berbicara, siswa mencatat, dan kemudian diminta mengulang kembali apa yang telah diberikan. Bagi Freire, persoalannya bukan sekadar metode mengajar, tetapi cara pendidikan memandang manusia. Apakah siswa hanya diperlakukan sebagai objek yang harus menerima, atau sebagai subjek yang mampu memahami, mempertanyakan, dan bertindak terhadap realitasnya?

Freire memandang manusia sebagai makhluk yang belum selesai. Manusia selalu berada dalam proses menjadi dan memiliki kemampuan untuk merefleksikan keberadaannya serta bertindak terhadap realitas. Pendidikan harus memungkinkan manusia hadir sebagai subjek, bukan sekadar penerima pengetahuan.

Dalam pandangan ini, pengetahuan juga tidak pernah benar-benar hadir dalam ruang yang kosong dan netral. Selalu ada pertanyaan tentang siapa yang berbicara, pengalaman siapa yang dianggap penting, pengetahuan siapa yang diakui, dan siapa yang memiliki kewenangan untuk menentukan makna suatu realitas. Kita dapat melihat persoalan ini bahkan dalam hal-hal sederhana di kelas. Ketika sebuah buku pelajaran menjelaskan suatu persoalan dari satu sudut, siswa tidak seharusnya hanya dituntut menerima penjelasan tersebut. Mereka dapat berdoalog dari mana informasi itu berasal? Mengapa sudut pandang itu yang dipilih?

Pendidikan yang membebaskan bukan berarti meniadakan pengetahuan atau menghilangkan peran guru. Guru tetap memiliki pengetahuan dan tanggung jawab pedagogis. Namun, pengetahuan tersebut tidak seharusnya menjadi alat untuk menutup ruang pertanyaan. Guru dan siswa dapat bersama-sama berhadapan dengan dunia sebagai subjek yang terlibat dalam proses mencari dan memaknai pengetahuan.

Dialog menjadi strategi penting dalam pendidikan karena manusia mampu belajar tentang dunia, mulai dari mempertanyakan bagaimana dunia dipahami dan siapa yang memiliki kuasa untuk mendefinisikannya. Pendidikan memang harus menjadi proses membentuk manusia yang mampu membaca realitas dan menyadari bahwa realitas tidak selalu merupakan sesuatu yang sudah selesai.

Ki Hadjar Dewantara menghubungkan pendidikan dengan pengalaman, kebudayaan, kehidupan, dan pertumbuhan siswa. Pengetahuan tidak seharusnya dipaksakan secara mekanis dari luar karena proses pendidikan harus berangkat dari kehidupan manusia yang konkret. Freire membawa persoalan ini ke wilayah yang lebih kritis dengan mempertanyakan hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan bukan benda yang begitu saja dapat dipindahkan dari guru kepada siswa.

Persoalan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang diketahui, tetapi juga menyentuh pertanyaan tentang siapa yang menentukan apa yang perlu diketahui, siapa yang memiliki kewenangan untuk mendefinisikan kebenaran, dan kepentingan apa yang mungkin bekerja di balik pengetahuan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima suatu informasi hanya karena informasi tersebut berasal dari buku, guru, media, atau seseorang yang dianggap memiliki otoritas. Padahal, belajar seharusnya juga membuat seseorang mampu bertanya mengapa informasi itu dianggap benar dan bagaimana kebenaran tersebut dibangun.

Pendidikan dengan demikian tidak hanya berhadapan dengan persoalan transmisi pengetahuan, tetapi juga dengan politik pengetahuan. Politik pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan siapa yang dipilih, pengalaman siapa yang dianggap sah, dan suara siapa yang mungkin tidak terdengar. Apa yang disebut sebagai pengetahuan yang sah tidak selalu sepenuhnya bebas dari nilai dan relasi kuasa yang bekerja dalam masyarakat.

Karena itu, pendidikan yang membebaskan perlu membentuk kemampuan siswa untuk menguji dasar, sumber, dan kepentingan yang membentuk suatu pengetahuan. Pada titik inilah belajar berubah dari kegiatan menerima kebenaran menjadi proses kritis untuk memahami bagaimana kebenaran diproduksi dan dinegosiasikan dalam realitas sosial.

Implikasi dari pandangan tersebut adalah bahwa pendidikan yang membebaskan tidak berarti menolak pengetahuan atau otoritas intelektual. Persoalan utamanya adalah bagaimana pengetahuan dan otoritas digunakan dalam proses pendidikan agar tidak berubah menjadi alat dominasi. Pengetahuan selalu berkaitan dengan pengalaman, nilai, dan relasi kuasa. Otoritas guru tidak semestinya menjadi dasar untuk menentukan secara sepihak apa yang harus diketahui dan diterima siswa sebagai kebenaran yang tidak dapat digugat.

 Guru tetap memiliki pengetahuan dan tanggung jawab, tetapi otoritas tersebut digunakan untuk membuka ruang kritis bagi siswa, bukan menutup kemungkinan untuk bertanya. Dalam praktiknya, guru dapat memberikan materi, tetapi sekaligus mengajak siswa menguji materi tersebut melalui pengalaman, dialog, bukti, dan berbagai sumber. Pengetahuan akhirnya menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman, dialog, dan refleksi kritis. Siswa diarahkan turut memahami bagaimana suatu pengetahuan dibentuk dan dipertanggungjawabkan.

Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire sama-sama menempatkan pendidikan dalam horizon memanusiakan manusia. Bagi Ki Hadjar Dewantara, pendidikan berkaitan dengan kebahagiaan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Kemerdekaan bukan berarti seseorang bebas melakukan kehendak tanpa arah, tetapi kemampuan untuk berkembang secara mandiri dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama. Freire merumuskan orientasi tersebut melalui gagasan humanisasi.

Pendidikan harus mampu mengantarkan manusia untuk mempertahankan martabatnya sebagai subjek yang mampu berpikir dan bertindak. Dehumanisasi terjadi ketika manusia direduksi menjadi objek, ketika kemampuan berpikirnya dirampas, atau ketika realitas diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Kesadaran kritis dan praksis menjadi bagian penting dari pendidikan pembebasan. Kebebasan dalam pendidikan tidak cukup dipahami sebagai banyaknya pilihan atau ketiadaan aturan.

Ki Hadjar Dewantara menunjukkan bahwa kebebasan membutuhkan tuntunan, sedangkan Freire menunjukkan bahwa kebebasan membutuhkan kesadaran kritis. Dalam konteks realitas, seorang siswa mungkin saja memiliki banyak pilihan, tetapi belum tentu memahami konsekuensi dari pilihannya. Siswa yang dibiasakan berpikir kritis akan belajar bahwa setiap pilihan memiliki alasan dan konsekuensi.

Tanpa tuntunan, kebebasan dapat kehilangan arah. Tanpa kesadaran kritis, pilihan juga dapat tetap berada dalam struktur yang tidak disadari. Pendidikan pada hakikatnya adalah pembebasan yang membantu manusia tumbuh menjadi pribadi yang mampu menentukan arah hidupnya dengan kesadaran, pengetahuan, dan tanggung jawab. [T]

Tags: Ki Hadjar DewantaraPaulo FreirePendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

Next Post

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

I Kadek Adhi Dwipayana

I Kadek Adhi Dwipayana

Dosen di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co