29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
in Esai
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap diperbolehkan berseliweran menjajakan dagangannya di antara para penonton, bahkan ketika pertunjukan sedang berlangsung.

Di tengah adegan yang mungkin sedang mencapai puncak ketegangan, suara pedagang bisa saja terdengar menawarkan dagangannya. Penonton menoleh sebentar, membeli sebungkus kacang rebus, lalu kembali menyaksikan pertunjukan sambil mengupas kulit kacang satu demi satu. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kejahatan terhadap kesenian. Tidak ada yang merasa kesakralan panggung telah dirusak hanya karena seseorang haus, lapar, atau ingin membeli sebatang rokok.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat seseorang bisa tiba-tiba nyelonong mengambil mikrofon, lalu berteriak: “Mohon perhatian, mohon perhatian! Kepada Pak Wayan Udiana dimohon menuju stan panitia karena ditunggu istrinya. Penting! Terima kasih.”

Pengumuman itu bisa datang di tengah dialog yang paling lirih, ketika seorang aktor sedang berusaha menyusun kesedihan, atau ketika seluruh penonton sedang menahan napas menunggu sesuatu terjadi di atas panggung.

Sesaat perhatian penonton mungkin buyar. Barangkali ada pula yang tertawa karena membayangkan betapa penting urusan Pak Wayan Udiana dengan istrinya. Setelah itu pertunjukan berjalan lagi. Aktor melanjutkan dialognya. Penonton kembali menghadap panggung. Pak Wayan Udiana—jika mendengar pengumuman tersebut—bergegas menuju stan panitia.

Tidak ada tragedi besar. Pertunjukan tidak harus dimulai dari awal. Teater dan kehidupan hanya saling menyela sebentar, kemudian meneruskan jalannya masing-masing.

Tidak Terpisah dari Kehidupan

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang, sebelum dimulai, tidak selalu didahului sederet peraturan dan imbauan: penonton dilarang merokok, dilarang makan dan minum, dilarang memotret dengan lampu kilat, dilarang berbicara, dilarang berjalan, dilarang keluar-masuk, serta berbagai larangan lain yang biasanya dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan pertunjukan.

Dok. Pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana

Penonton teater di Bali—setidaknya dalam pengalaman kecil saya—tidak selalu dipisahkan secara tegas dari kehidupan di sekeliling pertunjukan. Mereka datang sebagai penonton sekaligus sebagai warga sebuah peristiwa. Mereka membawa anak, mengobrol dengan kawan lama, membeli makanan, menyapa orang yang dikenalnya, lalu menonton. Kadang-kadang mereka memberi komentar secara spontan. Kadang-kadang tertawa pada bagian yang oleh sutradara tidak dirancang sebagai kelucuan. Pada kesempatan lain, mereka justru diam ketika para pemain mengharapkan tepuk tangan.

Mereka menonton dengan cara mereka sendiri.

Dalam keadaan semacam itu, pertunjukan tidak pernah sepenuhnya dapat menguasai perhatian penonton. Panggung bukan satu-satunya pusat kehidupan. Di sekitarnya terdapat penjual makanan, suara kendaraan, anak kecil yang menangis, percakapan orang-orang, pengumuman panitia, dan berbagai kejadian yang tidak tercantum dalam naskah.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin dianggap gangguan. Namun, bagi saya, gangguan-gangguan tersebut justru menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi sebuah pertunjukan. Teater tidak hadir di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang terus bergerak, berbicara, berdagang, bertemu, dan menyelesaikan urusan masing-masing.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang tidak terlalu cemas terhadap penggunaan api, air, lumpur, debu, benda tajam, dan berbagai material lain di dalam adegan. Tubuh pemain boleh kotor. Lantai pertunjukan boleh basah. Udara boleh dipenuhi debu. Api boleh dinyalakan selama para pelakunya memahami apa yang sedang mereka kerjakan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.

Di dalam ruang seperti itu, benda-benda bukan hanya perlengkapan dekoratif. Air benar-benar membasahi tubuh. Lumpur meninggalkan kotoran. Debu masuk ke hidung dan melekat di kulit. Api menghadirkan panas, cahaya, sekaligus bahaya. Benda tajam mengingatkan pemain bahwa tubuh di atas panggung bukanlah gagasan, melainkan tubuh yang sungguh-sungguh dapat terluka.

Barangkali karena itulah saya merasa teater di Bali memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan peristiwa-peristiwa komunal. Batas antara panggung dan halaman, antara pemain dan penonton, bahkan antara pertunjukan dan keramaian di sekelilingnya, tidak selalu dibuat terlalu tegas. Sebuah pertunjukan dapat berlangsung di tengah orang-orang yang datang dan pergi. Ia tidak harus menyingkirkan kehidupan agar dapat disebut kesenian.

Pengalaman semacam ini membentuk cara saya memahami teater.

Saya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa teater hanya dapat berlangsung dengan baik apabila ditempatkan di dalam gedung tertutup, dengan kursi-kursi yang tersusun rapi, pendingin ruangan, tata cahaya yang terkendali, serta penonton yang diwajibkan diam sejak awal hingga akhir. Semua itu tentu dapat membantu pertunjukan. Gedung yang baik menyediakan banyak kemungkinan teknis dan memberi kenyamanan kepada pemain maupun penonton. Namun, gedung juga membawa aturan, keterbatasan, dan wataknya sendiri.

Bukan Jadi Penjaga Gedung

Di dalam gedung yang bagus dan mahal, api dapat dianggap ancaman. Air dapat merusak lantai. Lumpur dan debu bisa mengotori fasilitas. Benda tajam menimbulkan kecemasan. Gerak pemain harus menyesuaikan diri dengan ukuran panggung. Bahkan suara, cahaya, dan jarak antara pemain dengan penonton telah diatur oleh bentuk bangunannya.

Pada saat itulah saya merasa pertunjukan bukan lagi hanya berhadapan dengan gagasan artistiknya, tetapi juga dengan kewajiban menjaga gedung.

Itulah sebabnya, beberapa kali ketika saya dan Bali Eksperimental Teater diajak pentas di Art Center Denpasar, kami memilih dan meminta agar diperkenankan bermain di luar gedung-gedungnya yang bagus dan mahal itu.

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

Pilihan tersebut bukan karena kami anti gedung pertunjukan. Bukan pula karena kami ingin terlihat berbeda atau sengaja menolak ketertiban. Kami hanya ingin mencari ruang yang memungkinkan pertunjukan tumbuh sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Jika sebuah adegan membutuhkan tanah, kami ingin kaki para pemain benar-benar menginjak tanah. Jika membutuhkan air, kami ingin air itu dapat ditumpahkan tanpa terlalu banyak kecemasan. Jika membutuhkan api, debu, jarak yang dekat dengan penonton, atau kemungkinan datangnya gangguan yang tidak direncanakan, kami ingin semua itu dapat menjadi bagian dari peristiwa.

Pertunjukan Bukan Pengendali

Bermain di luar gedung berarti menerima bahwa pertunjukan tidak dapat mengendalikan segala-galanya. Angin dapat mengubah arah asap. Hujan bisa turun. Suara kendaraan mungkin melintas. Penonton dapat datang terlambat, berdiri, berpindah tempat, atau meninggalkan pertunjukan sebelum selesai. Namun, justru di sanalah para pemain belajar bahwa teater bukan semata-mata kemampuan menghafal dialog dan menjalankan blocking. Teater juga merupakan kemampuan mendengar ruang, merasakan perubahan, serta mempertahankan daya hidup pertunjukan di tengah keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai.

Bagi saya, teater tidak harus selalu meminta kehidupan berhenti agar pertunjukan bisa berlangsung. Kadang-kadang teater justru perlu membuka dirinya dan membiarkan kehidupan masuk—bersama suara pedagang, tangisan anak kecil, asap rokok, bunyi kendaraan, hujan, debu, serta pengumuman tentang Pak Wayan Udiana yang sedang ditunggu istrinya.

Mungkin pengalaman saya ini terlalu kecil untuk dipakai menjelaskan keseluruhan Teater Bali. Bali tentu memiliki banyak bentuk pertunjukan, tradisi, ruang, dan cara pandang yang tidak mungkin diringkas dalam beberapa kejadian. Karena itu, tulisan ini bukanlah rumusan tentang apa yang wajib disebut Teater Bali. Ini hanya catatan mengenai suasana yang pernah saya alami dan cara pengalaman tersebut membentuk pilihan artistik saya bersama Bali Eksperimental Teater.

Dari pengalaman kecil itu saya belajar bahwa teater tidak selalu harus menjadi dunia lain yang dipisahkan dari kenyataan. Ia dapat menjadi bagian dari keramaian, bertumbuh di antara berbagai kepentingan, dan tetap menemukan kekuatannya tanpa menuntut semua orang tunduk kepada panggung.

Barangkali Teater Bali, dalam pengalaman saya, bukanlah pertunjukan yang steril dari kehidupan. Ia adalah pertunjukan yang berani hidup di tengah-tengahnya. [T]

Kertas Budaya Indonesia, 2026

Tags: baliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

Next Post

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co