TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap diperbolehkan berseliweran menjajakan dagangannya di antara para penonton, bahkan ketika pertunjukan sedang berlangsung.
Di tengah adegan yang mungkin sedang mencapai puncak ketegangan, suara pedagang bisa saja terdengar menawarkan dagangannya. Penonton menoleh sebentar, membeli sebungkus kacang rebus, lalu kembali menyaksikan pertunjukan sambil mengupas kulit kacang satu demi satu. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kejahatan terhadap kesenian. Tidak ada yang merasa kesakralan panggung telah dirusak hanya karena seseorang haus, lapar, atau ingin membeli sebatang rokok.
Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat seseorang bisa tiba-tiba nyelonong mengambil mikrofon, lalu berteriak: “Mohon perhatian, mohon perhatian! Kepada Pak Wayan Udiana dimohon menuju stan panitia karena ditunggu istrinya. Penting! Terima kasih.”
Pengumuman itu bisa datang di tengah dialog yang paling lirih, ketika seorang aktor sedang berusaha menyusun kesedihan, atau ketika seluruh penonton sedang menahan napas menunggu sesuatu terjadi di atas panggung.
Sesaat perhatian penonton mungkin buyar. Barangkali ada pula yang tertawa karena membayangkan betapa penting urusan Pak Wayan Udiana dengan istrinya. Setelah itu pertunjukan berjalan lagi. Aktor melanjutkan dialognya. Penonton kembali menghadap panggung. Pak Wayan Udiana—jika mendengar pengumuman tersebut—bergegas menuju stan panitia.
Tidak ada tragedi besar. Pertunjukan tidak harus dimulai dari awal. Teater dan kehidupan hanya saling menyela sebentar, kemudian meneruskan jalannya masing-masing.
Tidak Terpisah dari Kehidupan
Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang, sebelum dimulai, tidak selalu didahului sederet peraturan dan imbauan: penonton dilarang merokok, dilarang makan dan minum, dilarang memotret dengan lampu kilat, dilarang berbicara, dilarang berjalan, dilarang keluar-masuk, serta berbagai larangan lain yang biasanya dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan pertunjukan.

Penonton teater di Bali—setidaknya dalam pengalaman kecil saya—tidak selalu dipisahkan secara tegas dari kehidupan di sekeliling pertunjukan. Mereka datang sebagai penonton sekaligus sebagai warga sebuah peristiwa. Mereka membawa anak, mengobrol dengan kawan lama, membeli makanan, menyapa orang yang dikenalnya, lalu menonton. Kadang-kadang mereka memberi komentar secara spontan. Kadang-kadang tertawa pada bagian yang oleh sutradara tidak dirancang sebagai kelucuan. Pada kesempatan lain, mereka justru diam ketika para pemain mengharapkan tepuk tangan.
Mereka menonton dengan cara mereka sendiri.
Dalam keadaan semacam itu, pertunjukan tidak pernah sepenuhnya dapat menguasai perhatian penonton. Panggung bukan satu-satunya pusat kehidupan. Di sekitarnya terdapat penjual makanan, suara kendaraan, anak kecil yang menangis, percakapan orang-orang, pengumuman panitia, dan berbagai kejadian yang tidak tercantum dalam naskah.
Bagi sebagian orang, semua itu mungkin dianggap gangguan. Namun, bagi saya, gangguan-gangguan tersebut justru menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi sebuah pertunjukan. Teater tidak hadir di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang terus bergerak, berbicara, berdagang, bertemu, dan menyelesaikan urusan masing-masing.
Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang tidak terlalu cemas terhadap penggunaan api, air, lumpur, debu, benda tajam, dan berbagai material lain di dalam adegan. Tubuh pemain boleh kotor. Lantai pertunjukan boleh basah. Udara boleh dipenuhi debu. Api boleh dinyalakan selama para pelakunya memahami apa yang sedang mereka kerjakan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.
Di dalam ruang seperti itu, benda-benda bukan hanya perlengkapan dekoratif. Air benar-benar membasahi tubuh. Lumpur meninggalkan kotoran. Debu masuk ke hidung dan melekat di kulit. Api menghadirkan panas, cahaya, sekaligus bahaya. Benda tajam mengingatkan pemain bahwa tubuh di atas panggung bukanlah gagasan, melainkan tubuh yang sungguh-sungguh dapat terluka.
Barangkali karena itulah saya merasa teater di Bali memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan peristiwa-peristiwa komunal. Batas antara panggung dan halaman, antara pemain dan penonton, bahkan antara pertunjukan dan keramaian di sekelilingnya, tidak selalu dibuat terlalu tegas. Sebuah pertunjukan dapat berlangsung di tengah orang-orang yang datang dan pergi. Ia tidak harus menyingkirkan kehidupan agar dapat disebut kesenian.
Pengalaman semacam ini membentuk cara saya memahami teater.
Saya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa teater hanya dapat berlangsung dengan baik apabila ditempatkan di dalam gedung tertutup, dengan kursi-kursi yang tersusun rapi, pendingin ruangan, tata cahaya yang terkendali, serta penonton yang diwajibkan diam sejak awal hingga akhir. Semua itu tentu dapat membantu pertunjukan. Gedung yang baik menyediakan banyak kemungkinan teknis dan memberi kenyamanan kepada pemain maupun penonton. Namun, gedung juga membawa aturan, keterbatasan, dan wataknya sendiri.
Bukan Jadi Penjaga Gedung
Di dalam gedung yang bagus dan mahal, api dapat dianggap ancaman. Air dapat merusak lantai. Lumpur dan debu bisa mengotori fasilitas. Benda tajam menimbulkan kecemasan. Gerak pemain harus menyesuaikan diri dengan ukuran panggung. Bahkan suara, cahaya, dan jarak antara pemain dengan penonton telah diatur oleh bentuk bangunannya.
Pada saat itulah saya merasa pertunjukan bukan lagi hanya berhadapan dengan gagasan artistiknya, tetapi juga dengan kewajiban menjaga gedung.
Itulah sebabnya, beberapa kali ketika saya dan Bali Eksperimental Teater diajak pentas di Art Center Denpasar, kami memilih dan meminta agar diperkenankan bermain di luar gedung-gedungnya yang bagus dan mahal itu.

Pilihan tersebut bukan karena kami anti gedung pertunjukan. Bukan pula karena kami ingin terlihat berbeda atau sengaja menolak ketertiban. Kami hanya ingin mencari ruang yang memungkinkan pertunjukan tumbuh sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Jika sebuah adegan membutuhkan tanah, kami ingin kaki para pemain benar-benar menginjak tanah. Jika membutuhkan air, kami ingin air itu dapat ditumpahkan tanpa terlalu banyak kecemasan. Jika membutuhkan api, debu, jarak yang dekat dengan penonton, atau kemungkinan datangnya gangguan yang tidak direncanakan, kami ingin semua itu dapat menjadi bagian dari peristiwa.
Pertunjukan Bukan Pengendali
Bermain di luar gedung berarti menerima bahwa pertunjukan tidak dapat mengendalikan segala-galanya. Angin dapat mengubah arah asap. Hujan bisa turun. Suara kendaraan mungkin melintas. Penonton dapat datang terlambat, berdiri, berpindah tempat, atau meninggalkan pertunjukan sebelum selesai. Namun, justru di sanalah para pemain belajar bahwa teater bukan semata-mata kemampuan menghafal dialog dan menjalankan blocking. Teater juga merupakan kemampuan mendengar ruang, merasakan perubahan, serta mempertahankan daya hidup pertunjukan di tengah keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai.
Bagi saya, teater tidak harus selalu meminta kehidupan berhenti agar pertunjukan bisa berlangsung. Kadang-kadang teater justru perlu membuka dirinya dan membiarkan kehidupan masuk—bersama suara pedagang, tangisan anak kecil, asap rokok, bunyi kendaraan, hujan, debu, serta pengumuman tentang Pak Wayan Udiana yang sedang ditunggu istrinya.
Mungkin pengalaman saya ini terlalu kecil untuk dipakai menjelaskan keseluruhan Teater Bali. Bali tentu memiliki banyak bentuk pertunjukan, tradisi, ruang, dan cara pandang yang tidak mungkin diringkas dalam beberapa kejadian. Karena itu, tulisan ini bukanlah rumusan tentang apa yang wajib disebut Teater Bali. Ini hanya catatan mengenai suasana yang pernah saya alami dan cara pengalaman tersebut membentuk pilihan artistik saya bersama Bali Eksperimental Teater.
Dari pengalaman kecil itu saya belajar bahwa teater tidak selalu harus menjadi dunia lain yang dipisahkan dari kenyataan. Ia dapat menjadi bagian dari keramaian, bertumbuh di antara berbagai kepentingan, dan tetap menemukan kekuatannya tanpa menuntut semua orang tunduk kepada panggung.
Barangkali Teater Bali, dalam pengalaman saya, bukanlah pertunjukan yang steril dari kehidupan. Ia adalah pertunjukan yang berani hidup di tengah-tengahnya. [T]
Kertas Budaya Indonesia, 2026






























