8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
in Esai
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap diperbolehkan berseliweran menjajakan dagangannya di antara para penonton, bahkan ketika pertunjukan sedang berlangsung.

Di tengah adegan yang mungkin sedang mencapai puncak ketegangan, suara pedagang bisa saja terdengar menawarkan dagangannya. Penonton menoleh sebentar, membeli sebungkus kacang rebus, lalu kembali menyaksikan pertunjukan sambil mengupas kulit kacang satu demi satu. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kejahatan terhadap kesenian. Tidak ada yang merasa kesakralan panggung telah dirusak hanya karena seseorang haus, lapar, atau ingin membeli sebatang rokok.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat seseorang bisa tiba-tiba nyelonong mengambil mikrofon, lalu berteriak: “Mohon perhatian, mohon perhatian! Kepada Pak Wayan Udiana dimohon menuju stan panitia karena ditunggu istrinya. Penting! Terima kasih.”

Pengumuman itu bisa datang di tengah dialog yang paling lirih, ketika seorang aktor sedang berusaha menyusun kesedihan, atau ketika seluruh penonton sedang menahan napas menunggu sesuatu terjadi di atas panggung.

Sesaat perhatian penonton mungkin buyar. Barangkali ada pula yang tertawa karena membayangkan betapa penting urusan Pak Wayan Udiana dengan istrinya. Setelah itu pertunjukan berjalan lagi. Aktor melanjutkan dialognya. Penonton kembali menghadap panggung. Pak Wayan Udiana—jika mendengar pengumuman tersebut—bergegas menuju stan panitia.

Tidak ada tragedi besar. Pertunjukan tidak harus dimulai dari awal. Teater dan kehidupan hanya saling menyela sebentar, kemudian meneruskan jalannya masing-masing.

Tidak Terpisah dari Kehidupan

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang, sebelum dimulai, tidak selalu didahului sederet peraturan dan imbauan: penonton dilarang merokok, dilarang makan dan minum, dilarang memotret dengan lampu kilat, dilarang berbicara, dilarang berjalan, dilarang keluar-masuk, serta berbagai larangan lain yang biasanya dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan pertunjukan.

Dok. Pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana

Penonton teater di Bali—setidaknya dalam pengalaman kecil saya—tidak selalu dipisahkan secara tegas dari kehidupan di sekeliling pertunjukan. Mereka datang sebagai penonton sekaligus sebagai warga sebuah peristiwa. Mereka membawa anak, mengobrol dengan kawan lama, membeli makanan, menyapa orang yang dikenalnya, lalu menonton. Kadang-kadang mereka memberi komentar secara spontan. Kadang-kadang tertawa pada bagian yang oleh sutradara tidak dirancang sebagai kelucuan. Pada kesempatan lain, mereka justru diam ketika para pemain mengharapkan tepuk tangan.

Mereka menonton dengan cara mereka sendiri.

Dalam keadaan semacam itu, pertunjukan tidak pernah sepenuhnya dapat menguasai perhatian penonton. Panggung bukan satu-satunya pusat kehidupan. Di sekitarnya terdapat penjual makanan, suara kendaraan, anak kecil yang menangis, percakapan orang-orang, pengumuman panitia, dan berbagai kejadian yang tidak tercantum dalam naskah.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin dianggap gangguan. Namun, bagi saya, gangguan-gangguan tersebut justru menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi sebuah pertunjukan. Teater tidak hadir di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang terus bergerak, berbicara, berdagang, bertemu, dan menyelesaikan urusan masing-masing.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang tidak terlalu cemas terhadap penggunaan api, air, lumpur, debu, benda tajam, dan berbagai material lain di dalam adegan. Tubuh pemain boleh kotor. Lantai pertunjukan boleh basah. Udara boleh dipenuhi debu. Api boleh dinyalakan selama para pelakunya memahami apa yang sedang mereka kerjakan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.

Di dalam ruang seperti itu, benda-benda bukan hanya perlengkapan dekoratif. Air benar-benar membasahi tubuh. Lumpur meninggalkan kotoran. Debu masuk ke hidung dan melekat di kulit. Api menghadirkan panas, cahaya, sekaligus bahaya. Benda tajam mengingatkan pemain bahwa tubuh di atas panggung bukanlah gagasan, melainkan tubuh yang sungguh-sungguh dapat terluka.

Barangkali karena itulah saya merasa teater di Bali memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan peristiwa-peristiwa komunal. Batas antara panggung dan halaman, antara pemain dan penonton, bahkan antara pertunjukan dan keramaian di sekelilingnya, tidak selalu dibuat terlalu tegas. Sebuah pertunjukan dapat berlangsung di tengah orang-orang yang datang dan pergi. Ia tidak harus menyingkirkan kehidupan agar dapat disebut kesenian.

Pengalaman semacam ini membentuk cara saya memahami teater.

Saya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa teater hanya dapat berlangsung dengan baik apabila ditempatkan di dalam gedung tertutup, dengan kursi-kursi yang tersusun rapi, pendingin ruangan, tata cahaya yang terkendali, serta penonton yang diwajibkan diam sejak awal hingga akhir. Semua itu tentu dapat membantu pertunjukan. Gedung yang baik menyediakan banyak kemungkinan teknis dan memberi kenyamanan kepada pemain maupun penonton. Namun, gedung juga membawa aturan, keterbatasan, dan wataknya sendiri.

Bukan Jadi Penjaga Gedung

Di dalam gedung yang bagus dan mahal, api dapat dianggap ancaman. Air dapat merusak lantai. Lumpur dan debu bisa mengotori fasilitas. Benda tajam menimbulkan kecemasan. Gerak pemain harus menyesuaikan diri dengan ukuran panggung. Bahkan suara, cahaya, dan jarak antara pemain dengan penonton telah diatur oleh bentuk bangunannya.

Pada saat itulah saya merasa pertunjukan bukan lagi hanya berhadapan dengan gagasan artistiknya, tetapi juga dengan kewajiban menjaga gedung.

Itulah sebabnya, beberapa kali ketika saya dan Bali Eksperimental Teater diajak pentas di Art Center Denpasar, kami memilih dan meminta agar diperkenankan bermain di luar gedung-gedungnya yang bagus dan mahal itu.

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

Pilihan tersebut bukan karena kami anti gedung pertunjukan. Bukan pula karena kami ingin terlihat berbeda atau sengaja menolak ketertiban. Kami hanya ingin mencari ruang yang memungkinkan pertunjukan tumbuh sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Jika sebuah adegan membutuhkan tanah, kami ingin kaki para pemain benar-benar menginjak tanah. Jika membutuhkan air, kami ingin air itu dapat ditumpahkan tanpa terlalu banyak kecemasan. Jika membutuhkan api, debu, jarak yang dekat dengan penonton, atau kemungkinan datangnya gangguan yang tidak direncanakan, kami ingin semua itu dapat menjadi bagian dari peristiwa.

Pertunjukan Bukan Pengendali

Bermain di luar gedung berarti menerima bahwa pertunjukan tidak dapat mengendalikan segala-galanya. Angin dapat mengubah arah asap. Hujan bisa turun. Suara kendaraan mungkin melintas. Penonton dapat datang terlambat, berdiri, berpindah tempat, atau meninggalkan pertunjukan sebelum selesai. Namun, justru di sanalah para pemain belajar bahwa teater bukan semata-mata kemampuan menghafal dialog dan menjalankan blocking. Teater juga merupakan kemampuan mendengar ruang, merasakan perubahan, serta mempertahankan daya hidup pertunjukan di tengah keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai.

Bagi saya, teater tidak harus selalu meminta kehidupan berhenti agar pertunjukan bisa berlangsung. Kadang-kadang teater justru perlu membuka dirinya dan membiarkan kehidupan masuk—bersama suara pedagang, tangisan anak kecil, asap rokok, bunyi kendaraan, hujan, debu, serta pengumuman tentang Pak Wayan Udiana yang sedang ditunggu istrinya.

Mungkin pengalaman saya ini terlalu kecil untuk dipakai menjelaskan keseluruhan Teater Bali. Bali tentu memiliki banyak bentuk pertunjukan, tradisi, ruang, dan cara pandang yang tidak mungkin diringkas dalam beberapa kejadian. Karena itu, tulisan ini bukanlah rumusan tentang apa yang wajib disebut Teater Bali. Ini hanya catatan mengenai suasana yang pernah saya alami dan cara pengalaman tersebut membentuk pilihan artistik saya bersama Bali Eksperimental Teater.

Dari pengalaman kecil itu saya belajar bahwa teater tidak selalu harus menjadi dunia lain yang dipisahkan dari kenyataan. Ia dapat menjadi bagian dari keramaian, bertumbuh di antara berbagai kepentingan, dan tetap menemukan kekuatannya tanpa menuntut semua orang tunduk kepada panggung.

Barangkali Teater Bali, dalam pengalaman saya, bukanlah pertunjukan yang steril dari kehidupan. Ia adalah pertunjukan yang berani hidup di tengah-tengahnya. [T]

Kertas Budaya Indonesia, 2026

Tags: baliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

Next Post

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co