18 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Nanoq da Kansas by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
in Esai
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap diperbolehkan berseliweran menjajakan dagangannya di antara para penonton, bahkan ketika pertunjukan sedang berlangsung.

Di tengah adegan yang mungkin sedang mencapai puncak ketegangan, suara pedagang bisa saja terdengar menawarkan dagangannya. Penonton menoleh sebentar, membeli sebungkus kacang rebus, lalu kembali menyaksikan pertunjukan sambil mengupas kulit kacang satu demi satu. Tidak ada yang merasa sedang melakukan kejahatan terhadap kesenian. Tidak ada yang merasa kesakralan panggung telah dirusak hanya karena seseorang haus, lapar, atau ingin membeli sebatang rokok.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat seseorang bisa tiba-tiba nyelonong mengambil mikrofon, lalu berteriak: “Mohon perhatian, mohon perhatian! Kepada Pak Wayan Udiana dimohon menuju stan panitia karena ditunggu istrinya. Penting! Terima kasih.”

Pengumuman itu bisa datang di tengah dialog yang paling lirih, ketika seorang aktor sedang berusaha menyusun kesedihan, atau ketika seluruh penonton sedang menahan napas menunggu sesuatu terjadi di atas panggung.

Sesaat perhatian penonton mungkin buyar. Barangkali ada pula yang tertawa karena membayangkan betapa penting urusan Pak Wayan Udiana dengan istrinya. Setelah itu pertunjukan berjalan lagi. Aktor melanjutkan dialognya. Penonton kembali menghadap panggung. Pak Wayan Udiana—jika mendengar pengumuman tersebut—bergegas menuju stan panitia.

Tidak ada tragedi besar. Pertunjukan tidak harus dimulai dari awal. Teater dan kehidupan hanya saling menyela sebentar, kemudian meneruskan jalannya masing-masing.

Tidak Terpisah dari Kehidupan

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang, sebelum dimulai, tidak selalu didahului sederet peraturan dan imbauan: penonton dilarang merokok, dilarang makan dan minum, dilarang memotret dengan lampu kilat, dilarang berbicara, dilarang berjalan, dilarang keluar-masuk, serta berbagai larangan lain yang biasanya dimaksudkan untuk menjaga kekhusyukan pertunjukan.

Dok. Pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana

Penonton teater di Bali—setidaknya dalam pengalaman kecil saya—tidak selalu dipisahkan secara tegas dari kehidupan di sekeliling pertunjukan. Mereka datang sebagai penonton sekaligus sebagai warga sebuah peristiwa. Mereka membawa anak, mengobrol dengan kawan lama, membeli makanan, menyapa orang yang dikenalnya, lalu menonton. Kadang-kadang mereka memberi komentar secara spontan. Kadang-kadang tertawa pada bagian yang oleh sutradara tidak dirancang sebagai kelucuan. Pada kesempatan lain, mereka justru diam ketika para pemain mengharapkan tepuk tangan.

Mereka menonton dengan cara mereka sendiri.

Dalam keadaan semacam itu, pertunjukan tidak pernah sepenuhnya dapat menguasai perhatian penonton. Panggung bukan satu-satunya pusat kehidupan. Di sekitarnya terdapat penjual makanan, suara kendaraan, anak kecil yang menangis, percakapan orang-orang, pengumuman panitia, dan berbagai kejadian yang tidak tercantum dalam naskah.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin dianggap gangguan. Namun, bagi saya, gangguan-gangguan tersebut justru menjadi bagian dari kenyataan yang harus dihadapi sebuah pertunjukan. Teater tidak hadir di ruang hampa. Ia hidup di tengah masyarakat yang terus bergerak, berbicara, berdagang, bertemu, dan menyelesaikan urusan masing-masing.

Teater Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian yang tidak terlalu cemas terhadap penggunaan api, air, lumpur, debu, benda tajam, dan berbagai material lain di dalam adegan. Tubuh pemain boleh kotor. Lantai pertunjukan boleh basah. Udara boleh dipenuhi debu. Api boleh dinyalakan selama para pelakunya memahami apa yang sedang mereka kerjakan dan bertanggung jawab terhadap keselamatan bersama.

Di dalam ruang seperti itu, benda-benda bukan hanya perlengkapan dekoratif. Air benar-benar membasahi tubuh. Lumpur meninggalkan kotoran. Debu masuk ke hidung dan melekat di kulit. Api menghadirkan panas, cahaya, sekaligus bahaya. Benda tajam mengingatkan pemain bahwa tubuh di atas panggung bukanlah gagasan, melainkan tubuh yang sungguh-sungguh dapat terluka.

Barangkali karena itulah saya merasa teater di Bali memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan peristiwa-peristiwa komunal. Batas antara panggung dan halaman, antara pemain dan penonton, bahkan antara pertunjukan dan keramaian di sekelilingnya, tidak selalu dibuat terlalu tegas. Sebuah pertunjukan dapat berlangsung di tengah orang-orang yang datang dan pergi. Ia tidak harus menyingkirkan kehidupan agar dapat disebut kesenian.

Pengalaman semacam ini membentuk cara saya memahami teater.

Saya tidak tumbuh dengan keyakinan bahwa teater hanya dapat berlangsung dengan baik apabila ditempatkan di dalam gedung tertutup, dengan kursi-kursi yang tersusun rapi, pendingin ruangan, tata cahaya yang terkendali, serta penonton yang diwajibkan diam sejak awal hingga akhir. Semua itu tentu dapat membantu pertunjukan. Gedung yang baik menyediakan banyak kemungkinan teknis dan memberi kenyamanan kepada pemain maupun penonton. Namun, gedung juga membawa aturan, keterbatasan, dan wataknya sendiri.

Bukan Jadi Penjaga Gedung

Di dalam gedung yang bagus dan mahal, api dapat dianggap ancaman. Air dapat merusak lantai. Lumpur dan debu bisa mengotori fasilitas. Benda tajam menimbulkan kecemasan. Gerak pemain harus menyesuaikan diri dengan ukuran panggung. Bahkan suara, cahaya, dan jarak antara pemain dengan penonton telah diatur oleh bentuk bangunannya.

Pada saat itulah saya merasa pertunjukan bukan lagi hanya berhadapan dengan gagasan artistiknya, tetapi juga dengan kewajiban menjaga gedung.

Itulah sebabnya, beberapa kali ketika saya dan Bali Eksperimental Teater diajak pentas di Art Center Denpasar, kami memilih dan meminta agar diperkenankan bermain di luar gedung-gedungnya yang bagus dan mahal itu.

Dok. pementasan Bali Eksperimental Teater di pinggir sungai utara Art Center dan halaman Gedung Kesenian Bung Karno Jembrana.

Pilihan tersebut bukan karena kami anti gedung pertunjukan. Bukan pula karena kami ingin terlihat berbeda atau sengaja menolak ketertiban. Kami hanya ingin mencari ruang yang memungkinkan pertunjukan tumbuh sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Jika sebuah adegan membutuhkan tanah, kami ingin kaki para pemain benar-benar menginjak tanah. Jika membutuhkan air, kami ingin air itu dapat ditumpahkan tanpa terlalu banyak kecemasan. Jika membutuhkan api, debu, jarak yang dekat dengan penonton, atau kemungkinan datangnya gangguan yang tidak direncanakan, kami ingin semua itu dapat menjadi bagian dari peristiwa.

Pertunjukan Bukan Pengendali

Bermain di luar gedung berarti menerima bahwa pertunjukan tidak dapat mengendalikan segala-galanya. Angin dapat mengubah arah asap. Hujan bisa turun. Suara kendaraan mungkin melintas. Penonton dapat datang terlambat, berdiri, berpindah tempat, atau meninggalkan pertunjukan sebelum selesai. Namun, justru di sanalah para pemain belajar bahwa teater bukan semata-mata kemampuan menghafal dialog dan menjalankan blocking. Teater juga merupakan kemampuan mendengar ruang, merasakan perubahan, serta mempertahankan daya hidup pertunjukan di tengah keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai.

Bagi saya, teater tidak harus selalu meminta kehidupan berhenti agar pertunjukan bisa berlangsung. Kadang-kadang teater justru perlu membuka dirinya dan membiarkan kehidupan masuk—bersama suara pedagang, tangisan anak kecil, asap rokok, bunyi kendaraan, hujan, debu, serta pengumuman tentang Pak Wayan Udiana yang sedang ditunggu istrinya.

Mungkin pengalaman saya ini terlalu kecil untuk dipakai menjelaskan keseluruhan Teater Bali. Bali tentu memiliki banyak bentuk pertunjukan, tradisi, ruang, dan cara pandang yang tidak mungkin diringkas dalam beberapa kejadian. Karena itu, tulisan ini bukanlah rumusan tentang apa yang wajib disebut Teater Bali. Ini hanya catatan mengenai suasana yang pernah saya alami dan cara pengalaman tersebut membentuk pilihan artistik saya bersama Bali Eksperimental Teater.

Dari pengalaman kecil itu saya belajar bahwa teater tidak selalu harus menjadi dunia lain yang dipisahkan dari kenyataan. Ia dapat menjadi bagian dari keramaian, bertumbuh di antara berbagai kepentingan, dan tetap menemukan kekuatannya tanpa menuntut semua orang tunduk kepada panggung.

Barangkali Teater Bali, dalam pengalaman saya, bukanlah pertunjukan yang steril dari kehidupan. Ia adalah pertunjukan yang berani hidup di tengah-tengahnya. [T]

Kertas Budaya Indonesia, 2026

Tags: baliTeater
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

Next Post

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Nanoq da Kansas

Nanoq da Kansas

Dramawan, penulis puisi dan cerpen. Pendiri Komunitas Kertas Budaya di Jembrana. Kini nyambi jadi tukang cuci piring di Romprok Kopi, Negara, Bali

Related Posts

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co