4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 19, 2026
in Esai
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

Nyoman Wirata yang dikenal sebagai sastrawan dan pelukis di Bali

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul di dinding galeri. Bukan sebagai nama pengarang yang bukunya dipajang, melainkan sebagai perupa yang karyanya sedang dipamerkan. Mereka berdiri di depan kanvas, memegang kuas, atau berpose di samping lukisan yang beberapa waktu sebelumnya mungkin masih berupa cat yang belum menemukan bentuk. Barangkali saya yang terlambat menyadarinya. Sebab penulis dan pelukis memang tidak pernah benar-benar hidup di dua dunia yang berbeda.

Kita terlalu terbiasa memberi mereka kamar masing-masing. Penulis tinggal di halaman, pelukis tinggal di kanvas. Penulis bekerja dengan kata, pelukis dengan warna. Seolah-olah seseorang harus memilih salah satunya agar identitasnya mudah disebut. Belakangan saya justru melihat semakin banyak orang yang tidak mau memilih. Mereka menulis sekaligus melukis, membaca sekaligus menggambar. Batas antara sastra dan seni rupa ternyata tidak setegas yang selama ini kita bayangkan.

Putu Fajar Arcana adalah salah satu nama yang membuat kecurigaan itu semakin sulit diabaikan. Ia lebih dikenal sebagai sastrawan dan wartawan, tetapi perjalanan seninya juga bersinggungan dengan seni rupa sejak lama. Pada 1999, ia mengikuti pameran Lukisan Bukan Pelukis di Bali Mangsi, Denpasar. Karena itu, menyebut Fajar sebagai penulis yang tiba-tiba menjadi pelukis terasa kurang tepat. Ia tidak sedang meninggalkan dunia yang lama untuk memasuki dunia baru. Ia mungkin hanya sedang menggunakan bahasa yang berbeda.

Pada September 2026, lukisan Fajar berjudul The Wings of the Sanghyang Dance terpilih dalam open call No 35 Gallery di London. Lebih dari 1.500 karya dari 85 negara mengikuti panggilan terbuka tersebut. Karya Fajar kemudian terpilih untuk mengikuti pameran daring bertema Wings, Birds and Flights. Namun, angka dan pencapaian internasional itu bukan bagian yang paling menarik bagi saya. Ada cerita lain di balik lukisan tersebut yang justru terasa lebih dekat dengan persoalan seorang penulis.

Lukisan itu ternyata tidak dibuat untuk mengikuti open call. Fajar mengerjakannya sebagai bagian dari proyek personal bertajuk Metamorfosis. Ia mempelajari kupu-kupu dan perubahan bentuknya sembari menekuni teknik fluid art. Makhluk kecil itu menjadi pintu masuk menuju gagasan tentang perubahan. Dari tubuh yang merayap di tanah menjadi sesuatu yang memiliki sayap. Dari proses yang perlahan menuju bentuk yang sama sekali berbeda. Lukisan kemudian menemukan jalannya sendiri sebelum akhirnya bertemu dengan tema pameran internasional tersebut.

Namun, lukisan itu tidak berhenti pada kupu-kupu. Fajar membawanya kembali kepada sesuatu yang sangat dekat dengan ingatan kebudayaannya, yaitu tari Sanghyang. Tarian sakral di Bali tersebut berkaitan dengan keadaan trance dan pengalaman ritual. Dalam pandangannya, para penari yang bergerak seperti bidadari diterjemahkan melalui kepakan sayap kupu-kupu. Ada ingatan tentang ritual, tubuh, metamorfosis, angin, api dan air. Semua pengalaman itu tidak hadir sebagai tulisan, melainkan menemukan bentuknya di atas kanvas.

Saya membayangkan seorang penulis yang selama puluhan tahun terbiasa menjelaskan sesuatu melalui kata-kata kemudian berhadapan dengan pengalaman semacam itu. Ia tidak lagi mempunyai paragraf untuk menerangkan apa yang sedang terjadi. Ia hanya mempunyai warna, bidang, gerak dan material. Mungkin di situlah lukisan menjadi menarik bagi seorang penulis. Bukan karena ia sudah kehabisan kata, melainkan karena ada hal-hal tertentu yang tidak ingin diselesaikan dengan kata. Ada pengalaman yang mungkin lebih jujur ketika dibiarkan menjadi bentuk.

Di Bali, hubungan antara kata dan rupa sebenarnya bukan sesuatu yang baru. I Nyoman Wirata (73) adalah salah satu contohnya. Ia dikenal sebagai pelukis sekaligus sastrawan Bali yang sejak lama mengawinkan sastra dan seni rupa dalam perjalanan kreatifnya. Pada dirinya, kedua bidang tersebut tidak harus berdiri sebagai dua kegiatan yang saling menunggu giliran. Keduanya dapat berjalan bersama, saling memberi ruang dan saling memperkaya. Pengalaman membaca dunia dapat menemukan bentuknya melalui tulisan, tetapi juga melalui gambar.

Wirata membuat saya berpikir bahwa persoalannya mungkin bukan seseorang memilih menjadi penulis atau pelukis. Bisa jadi sejak awal kita yang terlalu sibuk membuat kotak. Kita menyebut seseorang sastrawan karena ia menulis buku, kemudian menyebut orang lain pelukis karena ia membuat lukisan. Padahal kehidupan kreatif seseorang sering kali jauh lebih berantakan daripada kategori yang kita buat. Ada orang yang menulis puisi lalu menggambar. Ada pelukis yang menulis cerpen. Ada pula seniman yang berpindah dari satu medium ke medium lain tanpa merasa sedang meninggalkan dirinya sendiri.

Kalau dilihat dari kacamata antropologi seni, persoalan ini menjadi semakin menarik. Antropologi tidak hanya bertanya apakah sebuah lukisan indah atau tidak. Ia juga bertanya siapa yang membuatnya, dengan material apa, dalam lingkungan sosial seperti apa, untuk siapa karya itu dibuat dan bagaimana karya tersebut memperoleh makna. Seni tidak berdiri sendirian sebagai benda. Ia hidup di antara manusia, kebudayaan, institusi dan berbagai hubungan sosial yang mengitarinya.

Pandangan seperti ini membuat kita melihat medium dengan cara berbeda. Medium bukan sekadar alat untuk menuangkan gagasan yang sebelumnya sudah selesai di kepala. Medium ikut membentuk pengalaman penciptaan. Ketika seorang penulis memegang kuas, tubuhnya bekerja dengan cara yang berbeda. Ia berhadapan dengan cat, air, tekstur, bidang dan ruang. Tangan tidak lagi hanya menyusun huruf. Ia harus mengikuti gerak material yang kadang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Dalam pandangan Alfred Gell, karya seni dapat dipahami melalui hubungan sosial yang berlangsung di sekitarnya. Sebuah karya tidak berhenti pada seniman dan benda yang dibuatnya. Ada penonton, kurator, galeri, institusi, pasar dan berbagai pihak lain yang membuat karya tersebut memperoleh kehidupan sosial. Lukisan Fajar memperlihatkan perjalanan semacam itu. Ia lahir dari proyek personal, kemudian masuk ke dalam open call, dinilai, dipilih, dipamerkan dan akhirnya dibaca oleh orang-orang yang mungkin tidak pernah mengenal proses pembuatannya.

Dengan demikian, lukisan tidak hanya menjadi hasil dari tangan seorang seniman. Ia menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Ada gagasan yang berpindah dari kepala menuju tubuh, dari tubuh menuju material, lalu dari material menuju ruang pamer. Setelah itu, makna kembali bergerak melalui mata penonton. Dalam perjalanan tersebut, karya dapat memperoleh tafsir baru. Apa yang awalnya bersifat personal dapat berubah menjadi pengalaman bersama.

Kita bisa melihat hal tersebut pada The Wings of the Sanghyang Dance. Ketika pengalaman tentang tari Sanghyang masuk ke dalam lukisan, yang berpindah ke atas kanvas bukan sekadar bentuk penari atau sayap kupu-kupu. Ada ingatan kebudayaan yang ikut bergerak. Ritual, tubuh, alam dan pengalaman spiritual memperoleh kemungkinan untuk hadir melalui bahasa rupa. Pengetahuan tentang Bali tidak harus selalu ditulis sebagai esai agar dapat tetap hidup. Ia dapat berpindah ke warna dan gerak.

Dalam konteks Bali, hal ini menjadi semakin penting karena kesenian tidak selalu dapat dipisahkan secara tegas dari kehidupan sosial dan kebudayaan. Seni dapat berhubungan dengan ritual, komunitas, sejarah, ruang hidup dan ingatan kolektif. Karena itu, ketika seorang seniman membawa pengalaman kebudayaan ke dalam karya, yang hadir bukan hanya bentuk visual. Ada dunia sosial yang ikut menempel di dalamnya, meskipun tidak semuanya dapat dilihat secara langsung.

Barangkali karena itu kita perlu berhati-hati ketika mengatakan seorang penulis menjadi pelukis. Ungkapan tersebut seolah-olah menggambarkan sebuah perpindahan, seakan seseorang meninggalkan satu profesi kemudian memasuki profesi lain. Padahal bagi sebagian seniman, kedua medium tersebut memang dapat hidup berdampingan. I Nyoman Wirata memperlihatkan hal itu dengan perjalanan panjangnya sebagai sastrawan dan pelukis. Putu Fajar juga memperlihatkan hubungan yang serupa melalui tulisan, kebudayaan dan praktik seni rupanya.

Contoh seperti ini sebenarnya tidak hanya ditemukan di Bali. Goenawan Mohamad dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan pemikir, tetapi juga memiliki perjalanan panjang dalam seni rupa. Wisran Hadi dikenal sebagai dramawan, novelis dan penyair, tetapi juga seorang pelukis. Afnan Malay memperlihatkan kemungkinan lain ketika identitas penyair dan pelukis berjalan bersama. Mereka menunjukkan bahwa manusia kreatif barangkali memang tidak dibuat untuk tinggal di satu kamar.

Lalu mengapa sekarang fenomena seperti ini terasa semakin sering kita lihat. Mungkin karena kita sedang hidup dalam zaman yang sangat penuh kata. Setiap orang dapat menulis. Status media sosial, komentar, promosi, berita, bahkan pendapat pribadi pun segera menjadi tulisan. Kita menulis ketika marah, menulis ketika bahagia, bahkan menulis tentang keinginan untuk tidak menulis. Kata-kata seperti tidak pernah berhenti diproduksi.

Kemudian datang kecerdasan buatan yang membuat produksi teks menjadi semakin mudah. Dalam beberapa detik, sebuah gagasan dapat berubah menjadi paragraf. Sebuah paragraf dapat berkembang menjadi artikel. Kata-kata yang dahulu membutuhkan waktu untuk disusun kini dapat muncul hampir seketika. Saya tidak ingin mengatakan bahwa para penulis mulai melukis karena kecerdasan buatan. Tidak ada alasan untuk membuat kesimpulan sesederhana itu. Namun, perubahan tersebut membuat kita semakin sadar bahwa kata-kata kini berada dalam kelimpahan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di tengah kelimpahan itu, sesuatu yang memiliki tubuh mungkin terasa berbeda. Kanvas mempunyai berat. Cat mempunyai bau. Kuas meninggalkan jejak. Air bergerak menurut kehendaknya sendiri. Tangan tidak selalu menghasilkan bentuk yang kita rencanakan. Ada sesuatu yang tidak dapat begitu saja dihapus. Dalam menulis, satu kalimat buruk dapat hilang dengan menekan tombol. Satu paragraf yang tidak disukai dapat dipindahkan. Bahkan seluruh tulisan dapat dibuang tanpa meninggalkan bekas pada kertas. Lukisan lebih keras kepala karena ia menyimpan bekas.

Mungkin justru karena itu melukis memberikan pengalaman yang berbeda bagi seorang penulis. Di sana ia tidak selalu menjadi orang yang tahu. Ia menjadi pemula. Ia harus berhadapan dengan material yang kadang tidak patuh. Ia harus belajar lagi, mencoba lagi dan gagal lagi. Ada kebebasan tertentu ketika seseorang kembali menjadi amatir. Seorang penulis yang sudah bertahun-tahun menulis mungkin tahu bagaimana membuat kalimat yang baik. Namun, pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya tahu bagaimana membuat sebuah bidang warna bekerja.

Kegagalan semacam itu mungkin justru menyenangkan. Sebab hidup kreatif tidak selalu harus berisi pembuktian. Ada kalanya kita berkarya hanya karena ingin mengetahui apa yang akan terjadi jika tangan digerakkan ke arah tertentu. Barangkali itulah yang sebenarnya sedang dilakukan sebagian penulis ketika mereka melukis. Mereka sedang mencari. Bukan selalu pasar, pengakuan, dan bukan selalu profesi baru. Mereka mungkin sedang mencari bentuk bagi sesuatu yang selama ini belum mendapatkan bentuk.

Manusia memang memiliki lebih dari satu bahasa. Kita berbicara dengan kata-kata, tetapi juga dengan tubuh. Kita menangis ketika kalimat tidak cukup. Kita diam ketika penjelasan terasa terlalu panjang. Kita memeluk ketika tidak ada kalimat yang mampu menggantikan kehadiran. Kita juga melukis ketika ada sesuatu yang ingin hadir tanpa harus dijelaskan. Seni mungkin lahir dari kebutuhan manusia untuk menemukan bentuk lain ketika bahasa yang biasa digunakan terasa tidak memadai.

Karena itu, saya mulai berpikir bahwa judul “Ramai Penulis Menjadi Pelukis” mungkin sedikit menyesatkan. Mereka tidak selalu menjadi pelukis setelah berhenti menjadi penulis. Mereka tidak sedang meninggalkan kata-kata. Mereka mungkin hanya sedang membuka pintu lain. Di balik pintu itu ada kanvas yang kosong, cat yang belum bercampur dan kuas yang belum bergerak. Ada kemungkinan untuk gagal, diam, bermain dan menemukan sesuatu yang tidak pernah muncul di halaman.

Kata-kata tetap ada. Hanya saja, kali ini ia tidak datang sebagai kalimat. Ia datang sebagai warna. Kanvas menjadi halaman lain. Kuas menjadi semacam pena. Warna menjadi kosakata. Ruang kosong menjadi jeda. Sapuan yang tidak beraturan menjadi kalimat yang tidak perlu dibaca. Mungkin seorang penulis tidak pernah benar-benar meninggalkan kata-kata ketika mulai melukis. Ia hanya menemukan bahwa sebagian pikirannya membutuhkan warna agar bisa selesai. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: pelukissastrawansastrawan baliSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tato: Menjadikan Tubuh Tempat Ingatan

Next Post

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

Morbid Monke Membawa “Feel Alive” ke Seoul: Tiga Panggung, Satu Napas dari Hongdae

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co