SEBULAN setelah pulang dari Prancis, Morbid Monke belum berniat mengendurkan langkah. Unit art punk asal Denpasar, Bali, itu kembali membawa energi ‘Feel Alive’ menyeberangi batas negara. Kali ini tujuannya Seoul, Korea Selatan.
Pada 5–7 September 2026, Morbid Monke menjalani Feel Alive Seoul Tour, kelanjutan dari Feel Alive France Tour pada Juli lalu. Seoul, kota yang kerap dijuluki sebagai “Ibu Kota Bandwidth Dunia”, menjadi persinggahan berikutnya bagi Karisma Kele (vokal), Krisna Dwipayana (gitar), Oka Sudiana alias Deoka (bass), Ari Winadinata alias Dewok (trumpet), dan Gerby Adi Setiawan (drum).
Tur ini membawa mereka menyusuri tiga panggung di kawasan Hongdae, salah satu pusat denyut musik independen Seoul. Dua di antaranya merupakan bagian dari Zandari Festa 2026, festival musik independen dan ajang showcase tahunan yang telah digelar sejak 2012. Zandari Festa mempertemukan musisi independen lokal dan internasional dengan para profesional industri musik melalui rangkaian konser serta konferensi Zandari Music Industry Summit.
Memulai dari Channel 1969
Panggung pertama Morbid Monke adalah Channel 1969, bar legendaris di Seoul yang menjadi salah satu titik pertunjukan dalam rangkaian Zandari Festa. Letaknya sekitar 20 menit berjalan kaki dari penginapan mereka.
Di sana, Morbid Monke mendapat ruang sekitar 60 menit untuk memperkenalkan musiknya kepada publik Seoul. Namun malam itu bukan hanya soal panggung. Mereka juga membawa kolaborasi whiskey bersama Alam Semesta Distillery asal Bali. Sebelum pertunjukan dimulai, para personel Morbid Monke sempat minum bersama Hongin, pemilik Channel 1969—sebuah pembuka yang membuat perjumpaan pertama mereka di Seoul terasa lebih cair.
Hari berikutnya, perjalanan berlanjut ke Prism Hall, panggung kedua Morbid Monke yang juga bagian dari Zandari Festa. Venue ini berjarak sekitar 15 menit berjalan kaki dari penginapan.
Prism Hall merupakan satu dari enam venue Zandari Festa 2026, bersama Club FF, Musinsa Garage, Free Bird, Space Brick, dan Vel. R Stage. Di sinilah Morbid Monke memainkan set berdurasi sekitar 40 menit dan harus menghadapi persoalan yang nyaris mengganggu pertunjukan. Menjelang tampil, pedalboard (efek) Dewok mati. Waktu persiapan yang mendesak tak memberi banyak pilihan. Sang pemain trumpet akhirnya naik panggung tanpa efek.

Pertunjukan terus berjalan. Alih-alih larut dalam masalah teknis, respons penonton justru menjadi cerita yang lebih menonjol malam itu. Mereka berdansa dan melompat sepanjang set, membuat gangguan sebelum pertunjukan seolah tak pernah terjadi.
Strange Fruit dan Malam Paling Intim
Jika dua panggung sebelumnya membawa Morbid Monke ke dalam atmosfer showcase, titik terakhir menawarkan pengalaman berbeda.
Strange Fruit Bar, venue musik indie populer yang berada di sebuah bar bawah tanah di Hongdae, tampil jauh lebih raw, apa adanya, tanpa sekat. Ruangannya lebih kecil dan panggungnya berada pada elevasi yang sejajar dengan penonton. Justru kondisi itulah yang menghapus jarak antara band dan audiens.
Morbid Monke mendapat jadwal terakhir. Selama sekitar 60 menit, ruangan itu berubah menjadi pertemuan yang padat dan intim. Sekitar 100 pengunjung memenuhi venue, sementara lagu-lagu seperti “Paradox”, “Schizophrenic”, “Eight Ball”, dan “Loser DogGo!” membuat ruangan bergemuruh.

Energi malam itu tidak berhenti ketika set selesai. Antusiasme audiens lokal juga terlihat dari merchandise Morbid Monke yang cukup banyak terjual. Bagi sebuah band independen yang datang ribuan kilometer dari Bali, respons semacam itu menjadi salah satu ukuran paling konkret bahwa musik mereka menemukan pendengarnya di tempat baru.
Tur Mandiri dan Jejaring yang Meluas
Seluruh perencanaan perjalanan Feel Alive Seoul Tour dibantu oleh SRM Booking Agent & Services. Namun untuk pendanaan, Morbid Monke menjalankan perjalanan ini sepenuhnya dengan dana sendiri, 100 persen biaya tur Seoul berasal dari Morbid Monke.
Kolaborasi whiskey bersama Alam Semesta Distillery ikut menemani perjalanan mereka di Hongdae. Di antara satu panggung dan panggung lainnya, tur ini juga menjadi ruang untuk bertemu kembali dengan kawan lama sekaligus membangun jejaring baru. Musik, pertemanan, dan perjumpaan dengan orang-orang baru akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan tersebut.
Namun perjalanan itu sempat ditutup dengan kecemasan. Menjelang kepulangan ke Indonesia, erupsi Anak Gunung Krakatau menyebabkan Bandara Soekarno-Hatta (CGK) sempat tutup selama sehari. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap jadwal kepulangan Morbid Monke.
Pada akhirnya, perjalanan mereka tidak terganggu. Seluruh jadwal penerbangan berjalan sebagaimana mestinya, dan Morbid Monke dapat menutup rangkaian Seoul tanpa perubahan pada perjalanan pulang.
Dari Channel 1969 yang membuka perjalanan, gangguan pedalboard di Prism Hall, hingga kerumunan yang berdesakan dan bergerak bersama di Strange Fruit, Feel Alive Seoul Tour memperpanjang perjalanan EP Feel Alive sekaligus membawa Morbid Monke masuk lebih jauh ke jejaring musik independen di luar Indonesia.
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































