Sube tawang, bajang care adine
Mepayas seksi, ngalih bapak medasi
Dini ditu setate ngaku perawan
Nanging mare cobak, hey… jeg mecelempung!
Begitulah lagu ‘Bajang Care Adine’ oleh Rejuna Koplo dibuka. Liriknya mudah diingat, berisi kelakar, serta mengangkat kisah yang dekat dengan fenomena keseharian masyarakat masa kini. Ketika dinyanyikan bersama, bagian ini menjadi penggalan yang mudah diikuti pendengar.
Lagu yang dirilis pada Senin, 10 Agustus 2026 itu tidak datang dengan cerita cinta yang berakhir manis. Tokohnya seorang pemuda lajang, sebut saja Kacut. Ia bermimpi digigit ular. Dalam kepercayaan masyarakat, hal tersebut kerap dikaitkan sebagai pertanda datangnya jodoh. Mimpi itu dipercaya. Harapan pun tumbuh.
Ketika sedang berolahraga pagi, Kacut melihat seorang perempuan. Ia tertarik. Pertemuan itu kemudian berulang setiap kali ia jogging. Dari sekadar melihat, tumbuh rasa suka. Dari rasa suka, muncul harapan kalau perempuan itu mungkin saja jodoh yang selama ini dinanti.
Tetapi harapan punya cara sendiri untuk mempermainkan orang yang terlalu cepat percaya.
Suatu hari, Kacut melihat perempuan itu bersama seorang lelaki yang usianya jauh lebih tua. Harapannya runtuh. Mimpi yang semula ia yakini sebagai pertanda jodoh ternyata tidak membawa dirinya ke akhir cerita yang ia bayangkan.
Cerita semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam musik populer Bali. Terlebih belakangan ini, koplo menjadi salah satu bahasa musik yang mudah dijumpai dalam berbagai ruang hiburan. Ia menawarkan suatu inovasi baru dalam belantika musik Bali. Daya tariknya bukan semata-mata pada dentuman ritmisnya, tetapi pada kemampuan membuat lagu segera dikenali, mudah diikuti, dan cepat menjadi milik bersama.
Risikonya, ketika sebuah formula sudah terlalu sering dipakai, musik itu mudah terdengar seperti pengulangan dari apa yang telah lebih dulu populer. Rejuna Koplo pun masuk ke wilayah itu, tetapi tidak sepenuhnya tergerus pada hal yang sama.
Mereka sendiri menyebut musik yang dimainkan sebagai folk koplo. Formasinya pun tidak berhenti pada susunan band dengan gitar, bass, dan drum sebagaimana lazimnya kelompok musik populer. Rejuna Koplo terdiri atas enam personel: Yancul sebagai vokalis sekaligus gitaris ritme, Suwena pada kendang, Lionx pada bass, Ryan pada ukulele, Dek Yon pada lead guitar, serta Fajar pada simbal dan tamborin.
Susunan tersebut memberi gambaran tentang karakter musik yang ingin mereka bangun. Kendang menjadi salah satu penggerak utama ritme koplo, sementara ukulele menghadirkan warna yang berbeda dari dominasi gitar elektrik. Simbal dan tamborin memperkaya pukulan ritmis, sementara dua gitar membagi fungsi antara pengiring dan melodi. Hasilnya bukan sekadar lagu yang dipasangi irama koplo. Ada usaha untuk mempertemukan karakter musik folk dengan energi koplo.

Rejuna Koplo sendiri bukan kelompok yang tiba-tiba muncul. Band ini terbentuk pada 2022 dan pertama kali tampil pada dalam perayaan ulang tahun organisasi pemuda-pemudi di Banjar Telabah, Desa Sukawati, Gianyar. Keenam personelnya berasal dari lingkungan yang sama.
‘Bajang Care Adine’ kemudian menjadi langkah mereka masuk lebih jauh ke proses produksi rekaman. Lagu itu digarap sekitar delapan bulan, sejak Desember 2025 hingga Juli 2026. Namun, sebelum masuk studio, lagu tersebut telah lebih dulu diuji di ruang yang paling dekat dengan mereka, yaitu panggung pernikahan seorang teman di Banjar Telabah.
“Sebelum memasuki tahap rekaman, lagu ini pertama kali dibawakan dalam acara pernikahan salah seorang teman di Banjar Telabah, Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar. Sambutan hangat dan antusiasme masyarakat setiap kali lagu ini dibawakan menjadi penyemangat bagi Rejuna Koplo untuk menggarapnya secara lebih serius hingga memasuki proses produksi di dapur rekaman,” ujar Yancul.
Proses menuju rekaman juga membuat lagu ini mengalami perubahan. Pada awalnya, judulnya adalah ‘Bajang Care Janine’. Pada Juni 2026, judul tersebut diubah menjadi ‘Bajang Care Adine’, sekaligus diikuti penyesuaian sejumlah bagian lirik. Perubahan itu dilakukan agar pesan yang disampaikan lebih santun, komunikatif, dan mudah diterima tanpa menghilangkan karakter lagu.
Rekaman audio kemudian dikerjakan Made Pasek Krisna atau De Krisna di studio rekamannya di Banjar Jungut, Desa Batuan. Pada bagian lead guitar, Rejuna Koplo dibantu Hermanlly, gitaris band Matanai, untuk memperkaya aransemen.
Ada hal lain yang menarik dari proses kelahiran lagu ini. Hampir seluruh produksinya bergerak dari lingkungan yang sama. Video klip diarahkan Rafly J’Flames (Rafly), yang juga berasal dari Sukawati. Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di Desa Sukawati, seperti Sudamala Jogging Track, kediaman Wayan Qi, dan Warung Bubun. Talenta yang terlibat pun sebagian besar merupakan warga setempat.
Dengan begitu, ‘Bajang Care Adine’ tidak hanya bercerita tentang seorang pemuda yang salah membaca pertanda. Ia juga memperlihatkan bagaimana sebuah band tumbuh dari lingkungan sosialnya sendiri. Lagu dibuat, dimainkan, diuji, kemudian diproduksi dengan melibatkan orang-orang yang berada di sekitar mereka.
Itu pula yang membuat karakter Rejuna Koplo menarik untuk diamati di tengah menjamurnya musik koplo di Bali. Mereka tidak mencoba menjauh dari musik yang sedang digemari. Sebaliknya, mereka masuk ke dalamnya dengan membawa cerita lokal, humor sehari-hari, formasi instrumen yang tidak sepenuhnya lazim untuk koplo, dan pendekatan folk yang memberi ruang lebih besar bagi gitar, ukulele, serta permainan ritmis non-drum.
Ketika bagian pembuka ‘Bajang Care Adine’ dinyanyikan bersama-sama, kisah Kacut tidak lagi menjadi milik Kacut. Ia berubah menjadi bahan tertawaan bersama. Sebuah cerita tentang berharap terlalu jauh, salah membaca keadaan, lalu tetap bisa menyanyi setelah semuanya tidak berjalan seperti yang diinginkan.
Selain ‘Bajang Care Adine’, Rejuna Koplo sendiri telah menyiapkan sejumlah lagu lain yang akan dirilis bertahap. Jika mendapat sambutan baik, karya-karya tersebut direncanakan dihimpun menjadi sebuah mini album (EP).
Musik bernuansa koplo di Bali memang sudah terlalu ramai. Namun, sepertinya masih tersisa ruang untuk satu nama lagi, yakni Rejuna Koplo. Kini, ‘Bajang Care Adine’ sudah bisa dinikmati di berbagai platform musik digital. Video klipnya juga dapat disaksikan di kanal YouTube Rejuna Koplo, dengan visual yang mengemas cerita Kacut dalam adegan-adegan penuh humor.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































