KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara Bali, musisi cilik tersebut kembali merilis karya terbaru berjudul “Galungan”.
Berbeda dari karya sebelumnya menggunakan Bahasa Bali, kali ini Wikan menempuh jalur berbeda. “Galungan” ditulis dalam Bahasa Indonesia dan dirilis bertepatan dengan Hari Suci Galungan. Pilihan ini memberi warna baru dalam perjalanan musikal bocah yang kini duduk di kelas 6 SD itu.
Meski masih sangat muda, Wikan tidak hanya tampil sebagai penyanyi, tetapi juga pengaransemen lagu ini. Capaian tersebut menjadi catatan menarik bagi anak seusianya. Apalagi, lagu “Galungan” telah diciptakan sejak kelas 5 SD dan baru dirilis saat ia duduk di kelas 6.
Di balik kesederhanaannya, “Galungan” lahir dari proses kreatif yang hangat. Lagu ini menjadi ruang pertemuan antara siswa, guru, dan orang tua yang sama-sama mencintai musik. Seluruh prosesnya berlangsung di luar jam sekolah, bukan sebagai proyek akademik, melainkan wadah untuk menyalurkan hobi, kreativitas, dan semangat berkarya.
Awal mula lagu “Galungan” berangkat dari suasana rumah yang akrab dengan musik. Papa Wikan, yang gemar bersenandung dan menulis lirik lagu, acap melahirkan berbagai gagasan dalam rutinitasnya. Dari gagasan-gagasan sederhana itulah benih lagu “Galungan” tumbuh dan perlahan menemukan bentuknya.
Wikan kemudian mengembangkan gagasan itu dengan caranya sendiri. Ia menyusun aransemen menggunakan keyboard, dengan suara suling sebagai melodi utama yang menghadirkan nuansa lembut dan akrab di telinga. Aransemen tersebut lalu disempurnakan bersama Mr. Yuda, gurunya di sekolah. Melalui petikan gitar sederhana namun hangat, lagu “Galungan” pun menemukan warna musik yang semakin utuh.
Di tengah lagu-lagu bertema Galungan dan Kuningan yang cenderung bergerak dalam pola yang sama, klise. Lagu milik Wikan Satya ini hadir dengan warna berbeda. Bahasa Indonesia dipilih sebagai medium utama, membuat pesannya lebih mudah menjangkau pendengar dari berbagai latar belakang. Lirik yang sederhana dan komunikatif, membuatnya lebih segar serta memancarkan ketulusan yang khas dari cara pandang seorang anak-anak.
Kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan utama lagu ini. Tidak ada upaya untuk terdengar rumit atau terlalu dewasa. Sebaliknya, lagu “Galungan” hadir dengan kepolosan yang jarang ditemukan dalam musik anak-anak masa kini.

Di tengah industri musik yang semakin berorientasi pada pasar, tak banyak musisi cilik yang tetap aktif berkarya dengan tema-tema ringan sesuai dunia anak-anak. Kalaupun ada, cenderung mengangkat persoalan dan gaya penyampaian yang lebih dekat dengan dunia orang dewasa. Wikan memilih jalan berbeda. Ia berkarya bukan semata-mata mengejar pasar, melainkan bagian dari proses belajar dan perjalanan kreatif seorang bocah sekolah dasar.
Karena itu, lagu “Galungan” terasa lebih dari sekadar lagu perayaan. Karya ini menjadi ungkapan sukacita dalam menyambut Hari Suci Galungan sekaligus pengingat tentang makna kemenangan dharma melawan adharma.
Kehadiran lagu “Galungan” menunjukkan bahwa kreativitas anak-anak dapat tumbuh ketika mendapat dukungan dari lingkungan terdekatnya. Dalam proses penciptaannya, orang tua menghadirkan gagasan awal, guru memberikan sentuhan artistik, sementara Wikan menjadi pusat yang merangkai seluruh proses kreatif tersebut hingga menjadi sebuah karya.
Kini, lagu “Galungan” dari Wikan Satya dapat dinikmati melalui YouTube, Spotify, dan berbagai platform musik digital lainnya. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
BACA JUGA:






























