PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial. Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita lihat di buku pelajaran. Bukan pula Indonesia yang muncul dalam pidato kenegaraan, statistik ekonomi, berita politik, atau perdebatan tentang siapa yang paling nasionalis.
Indonesia yang muncul di beranda jauh lebih sederhana. Ia berupa bendera merah putih yang berkibar di depan rumah, anak-anak yang mengikuti lomba makan kerupuk, orang-orang yang berfoto dengan pakaian merah putih, jalan kampung yang dihias umbul-umbul, upacara kemerdekaan, panjat pinang, jalan santai, tumpeng, dan berbagai macam kegembiraan khas 17-an.
Foto dan video itu datang dari mana-mana. Dari gang sempit, kompleks perumahan, kantor, sekolah, desa, kota, halaman rumah. Dari tempat-tempat yang mungkin tidak pernah saya datangi dan dari orang-orang yang tidak pernah saya kenal.
Tetapi pada hari itu semuanya terasa seperti berada dalam satu ruang yang sama; layar telepon genggam saya. Begitulah 17 Agustus tahun ini berlangsung di media sosial. Bahkan hingga sehari sesudahnya, suasananya masih terasa. Foto, video, lagu-lagu kemerdekaan dan berbagai macam ucapan tentang Indonesia terus bermunculan. Seolah-olah ada kesepakatan tidak tertulis bahwa pada hari tertentu kita perlu menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sedang merayakan sesuatu yang sama.
Kita menyebutnya 17-an. Istilah itu menarik. Ia begitu sederhana, begitu sehari-hari, bahkan terdengar seperti bahasa percakapan biasa. Kita tidak mengatakan “perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia” setiap kali berbicara dengan tetangga. Kita mengatakan, “Ada lomba 17-an,” atau “Nanti ikut acara 17-an?”
Di dalam satu istilah pendek itu sudah terkandung sebuah dunia sosial, yakni bendera, lomba, panggung hiburan, anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, jalan kampung, hadiah, pengeras suara, lagu kemerdekaan, dan kegembiraan.
Tahun ini, 17 Agustus jatuh pada Senin. Hari itu merupakan hari libur nasional sekaligus peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah sendiri menyiapkan rangkaian agenda Bulan Kemerdekaan, dengan upacara peringatan di Istana Merdeka pada Senin, 17 Agustus.
Bagi banyak orang yang bekerja di kota, Senin juga membuat akhir pekan terasa lebih panjang. Ada kesempatan untuk pulang kampung, berkumpul dengan keluarga, mengikuti kegiatan lingkungan, atau sekadar beristirahat. Dan semuanya kemudian menemukan jalan baru untuk dirayakan; media sosial.
Saya kemudian teringat pada sebuah buku yang pernah saya baca ketika masih belajar antropologi: Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, karya Benedict Anderso. Buku yang pertama kali terbit pada 1983 dan kemudian mengalami revisi penting itu merupakan salah satu karya yang sangat berpengaruh dalam studi nasionalisme.
Versi terjemahan bahasa Indonesia judulnya menjadi Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang. Penerjemahnya Omi Intan Naomi, dengan penyunting Benedict Anderson dan Rizal Malik, serta pengantar Daniel Dhakidae. Diterbitkan oleh INSISTPress dan Pustaka Pelajar, edisi pertama Agustus 2001, 336 halaman.
Anderson, seorang ilmuwan politik dan Indonesianis yang lama mempelajari Indonesia dan Asia Tenggara, menawarkan cara yang menarik untuk memahami bangsa. Ia tidak memulai pembicaraan dengan pertanyaan tentang batas wilayah, pemerintahan, atau hukum. Ia justru bertanya bagaimana manusia membayangkan dirinya sebagai bagian dari suatu komunitas yang begitu besar sehingga sebagian besar anggotanya tidak mungkin saling mengenal.
Ia menyebut bangsa sebagai imagined community, komunitas terbayang. Kata “terbayang” di sini kadang-kadang disalahpahami seolah-olah Anderson sedang mengatakan bahwa bangsa itu tidak nyata. Bukan itu maksudnya. Sebuah bangsa nyata, negara nyata. Orang-orang yang hidup di dalamnya nyata. Konflik, kebijakan, kemiskinan, pembangunan, perang, sekolah, pasar, jalan raya, dan kehidupan sehari-harinya juga nyata.
Yang “terbayang” adalah hubungan antara para anggotanya. Saya tidak mengenal sebagian besar orang Indonesia. Begitu juga mereka tidak mengenal saya. Saya tidak pernah bertemu jutaan orang Indonesia yang hidup di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa, Nusa Tenggara, atau pulau-pulau lainnya. Tetapi saya dapat membayangkan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang sama dengan saya.
Begitu pula sebaliknya. Kita tidak perlu saling mengenal untuk merasa sebagai bagian dari Indonesia. Justru di situlah kekuatan gagasan Anderson. Ia menyebut bangsa sebagai komunitas yang dibayangkan karena para anggotanya, betapapun besar jumlahnya, tidak mungkin mengenal sebagian besar anggota lainnya secara langsung.
Namun dalam pikiran masing-masing, mereka tetap hidup sebagai bagian dari satu komunitas. Literatur tentang Anderson juga menekankan bahwa “imagined” tidak berarti palsu; yang dimaksud adalah bentuk kesadaran sosial yang memungkinkan orang merasa terhubung dengan orang-orang anonim yang tidak pernah mereka jumpai.
Lalu bagaimana komunitas sebesar Indonesia itu bisa terbayangkan? Anderson banyak membicarakan apa yang ia sebut print capitalism, yakni perkembangan industri percetakan, buku, surat kabar, dan penggunaan bahasa sehari-hari yang memungkinkan orang-orang yang berjauhan mengalami dunia yang sama melalui media.
Surat kabar menjadi contoh yang menarik. Seseorang membaca koran di Batavia. Orang lain membaca koran di Surabaya. Orang lain lagi membacanya di Semarang. Mereka tidak saling mengenal. Tetapi pada pagi yang sama mereka membaca berita tentang peristiwa yang sama. Mereka mengalami apa yang bisa disebut sebagai keserentakan atau simultaneity. Surat kabar menciptakan pengalaman bahwa banyak orang yang tidak saling mengenal sedang melakukan sesuatu secara bersamaan.
Anderson bahkan melihat tindakan membaca koran sebagai semacam ritual massal, yaitu, seseorang membacanya sendirian dalam keheningan, tetapi pada saat yang sama ia menyadari bahwa ribuan orang anonim lainnya mungkin sedang melakukan hal serupa.
Di sinilah saya merasa media sosial hari ini menjadi menarik. Jika surat kabar pada masa Anderson membantu orang membayangkan komunitas nasional melalui pengalaman membaca secara bersamaan, media sosial membawa pengalaman itu ke tingkat yang berbeda. Kita tidak hanya membaca. Kita ikut mengunggah. Kita tidak hanya menjadi penonton. Kita menjadi bagian dari pertunjukan. Pada 17 Agustus, seseorang mengunggah foto bendera di depan rumahnya. Orang lain mengunggah video lomba balap karung.
Orang lain memasang lagu “Hari Merdeka” sebagai musik latar. Orang lain lagi mengunggah foto ketika mengikuti upacara. Ada yang mengunggah anaknya mengenakan pakaian merah putih. Ada yang mengunggah perjalanan pulang kampung. Ada yang hanya memasang gambar Garuda atau bendera.
Semua tindakan itu sangat individual. Tetapi ketika jutaan tindakan individual tersebut muncul bersamaan di beranda, sesuatu yang kolektif terbentuk. Indonesia muncul, bukan sebagai satu gambar besar, melainkan sebagai jutaan gambar kecil.
Barangkali inilah salah satu perubahan penting dari era surat kabar menuju era media sosial. Pada masa print capitalism, kita terutama menjadi konsumen dari sesuatu yang diproduksi oleh media. Sekarang, dalam apa yang bisa kita sebut sebagai lingkungan media digital, batas antara produsen dan konsumen semakin kabur. Kita membaca, menonton, menyukai, membagikan, mengomentari, sekaligus memproduksi.
Jika surat kabar membantu kita membayangkan Indonesia, media sosial memungkinkan kita memperlihatkan bayangan itu kepada orang lain. Indonesia yang tadinya berada di dalam pikiran, muncul dalam bentuk visual di layar.
Saya membayangkan seorang anak muda di Denpasar mengunggah foto lomba 17-an di lingkungannya. Pada saat yang hampir bersamaan, seseorang di Jakarta mengunggah upacara di kantornya. Seseorang di Jembrana mengunggah suasana kampung. Seseorang di Makassar mengunggah perlombaan. Seseorang di Papua mengunggah bendera. Seseorang di Medan mengunggah kegiatan di lingkungan tempat tinggalnya.
Mereka tidak saling mengenal. Tetapi algoritma media sosial mempertemukan serpihan kehidupan mereka di layar orang lain. Ada sesuatu yang hampir antropologis dalam pengalaman itu. Kita sedang melihat orang-orang asing melakukan sesuatu yang terasa akrab.
Mungkin saya tidak mengenal orang yang sedang mengikuti lomba balap karung di sebuah desa yang jauh dari tempat saya tinggal. Tetapi saya tahu suasananya. Saya tahu kegembiraannya. Saya tahu suara pengeras suara yang terlalu keras, anak-anak yang berlari, orang dewasa yang tertawa, atau juga bendera yang dipasang di sepanjang jalan. Saya merasa berada di dalam komunitas yang sama, meskipun secara fisik saya berada di tempat lain. Dengan demikian, media sosial bukan hanya tempat untuk memamerkan kehidupan pribadi. Pada hari-hari tertentu, ia berubah menjadi semacam ruang ritual bersama.
17 Agustus adalah salah satunya. Kita mengunggah sesuatu bukan hanya karena ingin bercerita tentang diri sendiri, tetapi juga karena ada sebuah suasana kolektif yang sedang berlangsung. Kita tahu orang lain sedang melakukan hal yang sama. Kita tahu ketika membuka media sosial kita akan melihat warna merah putih. Dan ketika melihatnya, kita memperoleh semacam konfirmasi; ya, hari ini memang 17 Agustus. Hari kemerdekaan dengan demikian tidak hanya berlangsung di lapangan, halaman sekolah, kantor, balai banjar, atau jalan kampung. Ia juga berlangsung di beranda. Bahkan beranda itu sendiri menjadi semacam ruang publik baru.
Menariknya, ruang ini sangat berbeda dengan ruang publik tradisional. Di sebuah lapangan desa, kita mungkin berkumpul dengan orang-orang yang benar-benar hadir secara fisik. Di media sosial, kita berkumpul dengan orang-orang yang mungkin berada ribuan kilometer jauhnya.
Kita tidak benar-benar berkumpul, tetapi kita merasa berkumpul. Bukankah ini inti dari komunitas terbayang? Namun, ada paradoks lain. Euforia 17 Agustus di media sosial sering kali sangat ringan. Kita mengunggah foto, menambahkan musik, menulis caption pendek, lalu kembali pada kehidupan sehari-hari.
Tidak semuanya lahir dari perenungan serius tentang sejarah kemerdekaan. Banyak orang mungkin mengunggah karena suasananya sedang demikian. Karena teman-teman juga mengunggah. Karena Instagram penuh merah putih. Karena TikTok penuh video lomba. Karena Facebook dipenuhi foto upacara.
Namun justru hal-hal kecil semacam itu yang menarik untuk diperhatikan. Nasionalisme tidak selalu hadir dalam bentuk pidato, ia bisa hadir sebagai kebiasaan, dalam lagu yang kita kenal sejak kecil. Dalam warna bendera yang kita kenali tanpa harus berpikir, lomba yang sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan perjuangan kemerdekaan, keinginan untuk memasang bendera di depan rumah, , dalam ucapan “Dirgahayu Republik Indonesia”. Dan, dalam kebiasaan mengunggah foto ketika 17 Agustus tiba.
Dengan kata lain, nasionalisme tidak selalu harus terasa serius untuk menjadi efektif. Ia justru bisa bekerja karena terasa biasa. Anderson menunjukkan bahwa nasionalisme modern berkaitan erat dengan media massa dan teknologi komunikasi. Dalam perkembangan berikutnya, radio dan televisi memperluas kemampuan media untuk menghubungkan orang-orang yang berjauhan melalui pengalaman yang sama.
Media sosial tentu bukan sekadar kelanjutan sederhana dari surat kabar, radio, atau televisi. Ia memiliki logika sendiri. Ada algoritma, ekonomi perhatian, budaya viral, personalisasi, dan kecenderungan setiap orang membangun panggung digitalnya sendiri.
Karena itu, kita juga perlu berhati-hati. Apa yang muncul di beranda bukanlah Indonesia secara utuh. Ia adalah Indonesia yang dipilih, diseleksi, diproduksi, dan kemudian disusun kembali oleh algoritma serta kebiasaan pengguna.
Ada Indonesia yang meriah di beranda., ada pula Indonesia yang tidak muncul. Ada mereka yang mengikuti lomba, tetapi ada juga mereka yang bekerja pada hari libur. Ada mereka yang tidak punya waktu untuk merayakan, mereka yang sedang sakit, mereka yang sedang menghadapi persoalan ekonomi. Bahkan, ada mereka yang bahkan mungkin tidak merasa memiliki alasan untuk ikut bergembira.
Beranda media sosial bukan cermin yang sempurna, ia lebih mirip kolase. Tetapi justru sebagai kolase, ia menarik. Karena dari potongan-potongan yang sangat kecil itu kita dapat melihat bagaimana sebuah bangsa terus-menerus diproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Pada 17 Agustus, kita memproduksi Indonesia melalui unggahan. Kita memproduksinya melalui foto, lagu., video, caption, komentar, tanda suka.Dan mungkin, tanpa sadar, melalui tindakan sederhana membuka layar dan melihat apa yang dilakukan orang lain.
Saya membayangkan Anderson hidup di zaman media sosial. Entah bagaimana ia akan melihat TikTok, Instagram, Facebook, atau berbagai platform digital yang sekarang menghubungkan jutaan orang. Tetapi saya membayangkan ia akan tertarik pada satu hal, yakni bagaimana teknologi komunikasi terus mengubah cara manusia membayangkan komunitas.
Dulu orang membaca koran dan membayangkan ribuan pembaca lain yang sedang membaca berita yang sama. Sekarang kita membuka telepon genggam dan melihat ribuan orang yang sedang merayakan sesuatu yang sama. Dulu kita membayangkan mereka, sekarang kita sekaligus melihat jejak mereka. Perbedaannya mungkin sederhana, tetapi penting. Media sosial membuat komunitas terbayang menjadi lebih kasatmata.
Pada 17 Agustus, Indonesia yang selama ini terlalu besar untuk kita lihat secara keseluruhan tiba-tiba hadir dalam serpihan-serpihan kecil di layar. Ia tidak pernah benar-benar lengkap. Tidak mungkin lengkap. Tetapi cukup untuk membuat kita merasa bahwa di luar diri kita ada jutaan manusia lain yang, pada hari yang sama, sedang menyebut nama yang sama; Indonesia.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa euforia 17-an selalu terasa berbeda. Kita tidak sekadar merayakan sebuah tanggal, kita sedang mengulang sebuah kesadaran kolektif. Bahwa meskipun kita tidak saling mengenal, kita berada dalam cerita yang sama. Meskipun kita tinggal di tempat yang berbeda, pada hari tertentu kita mengibarkan warna yang sama. Bahwa meskipun kehidupan sehari-hari membuat kita terpisah oleh kelas sosial, pekerjaan, agama, bahasa, pulau, kota, kepentingan politik, dan berbagai perbedaan lainnya, ada saat ketika jutaan orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang sama.
Dan tahun ini, sesuatu itu muncul begitu jelas di beranda media sosial. Indonesia datang kepada kita melalui layar. Ia muncul dalam bentuk bendera di sebuah gang yang tidak kita kenal. Dalam wajah anak-anak yang tidak pernah kita temui, suara lagu kemerdekaan yang dinyanyikan orang-orang asing, video lomba yang berlangsung beberapa kilometer, bahkan beberapa ribu kilometer dari tempat kita berada. Kita mungkin tidak pernah bertemu mereka. Mereka juga tidak pernah bertemu kita. Tetapi pada 17 Agustus, untuk beberapa saat, kita tahu bahwa mereka ada. Dan mungkin, dalam pengertian paling sederhana dari gagasan Benedict Anderson, kita tahu bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang sama. Sebuah komunitas yang sebagian besar anggotanya tidak saling mengenal, tetapi terus-menerus belajar membayangkan satu sama lain. Kali ini, bayangan itu tidak hanya ada di kepala. Ia muncul di beranda kita. Indonesia yang muncul di beranda. [T]
Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









