18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
in Esai
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang pertama disebut pasukan upacara. Yang kedua biasanya pejabat dan tamu kehormatan. Keduanya sama-sama hadir mengikuti upacara. Bedanya, yang satu berpeluh, yang lain berteduh.

Matahari tidak mengenal pangkat. Panasnya tidak membedakan jenderal dengan prajurit, bupati dengan pegawai, pejabat dengan rakyat. Siapa pun yang berdiri di lapangan akan merasakan sengatnya. Keringat akan tetap keluar, tenggorokan tetap kering, dan kaki tetap terasa pegal meskipun yang berdiri itu seorang pejabat tinggi.

Pasukan upacara berdiri berbaris di lapangan. Mereka harus tegak, tertib, dan mengikuti setiap aba-aba. Selama upacara berlangsung, tidak banyak pilihan selain bertahan. Peluh boleh mengalir, wajah boleh memerah, tetapi barisan harus tetap rapi.

Di sisi lain, para pejabat dan tamu undangan berada di bawah tenda. Kursi tersedia. Atap melindungi dari panas. Kadang-kadang kipas atau pendingin udara juga sudah disiapkan.

Pemandangan itu begitu lumrah sehingga hampir tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Padahal upacara adalah sebuah seremoni yang penuh simbol. Ada penghormatan kepada bendera. Ada penghormatan kepada pahlawan. Ada pembacaan teks yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan. Ada pesan tentang pengabdian, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab.

Tentu tidak ada yang salah dengan tenda. Pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan. Mereka bisa memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam keadaan tertentu, berteduh bahkan merupakan kebutuhan, bukan kemewahan.

Masalahnya bukan pada tenda. Masalahnya adalah ketika kenyamanan selalu menjadi hak orang-orang yang berada di atas, sedangkan ketahanan selalu menjadi kewajiban orang-orang yang berada di bawah.

Pasukan upacara tidak datang sekadar untuk menjadi latar belakang sebuah seremoni. Mereka adalah bagian penting dari upacara. Mereka yang berdiri berjam-jam, menjaga formasi, mengikuti aba-aba, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.

Mereka mungkin tidak memberikan pidato. Tidak ada kamera yang secara khusus menyorot wajah mereka ketika keringat mengalir. Nama mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Namun tanpa mereka, upacara tidak akan menjadi upacara.

Pejabat pun memiliki peran. Mereka hadir sebagai pemimpin, inspektur upacara, atau tamu kehormatan. Kehadiran mereka memberi makna terhadap seremoni. Karena itu, justru dari merekalah keteladanan seharusnya terlihat.

Pemimpin tidak harus selalu melakukan hal yang sama persis dengan orang yang dipimpinnya. Tetapi seorang pemimpin semestinya tidak terlalu jauh dari pengalaman mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pasukan berdiri, sesekali pemimpin bisa berdiri bersama mereka. Kalau mereka berpeluh, pemimpin tidak harus selalu buru-buru mencari tempat teduh.

Bukan karena panas harus dirasakan semua orang. Bukan pula karena berteduh adalah sebuah kesalahan. Melainkan karena ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan, yaitu kebersamaan.

Sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu berada di tempat nyaman. Para pejuang berjalan jauh, tidur seadanya, kekurangan makanan, dan menghadapi berbagai bahaya. Mereka tidak mengenal pendingin udara. Mereka tidak punya kursi empuk untuk menunggu perjuangan selesai.

Tentu zaman sudah berubah. Kita tidak mungkin meminta semua pejabat hidup seperti pejuang pada masa lalu. Negara membutuhkan ruang kerja yang layak, kendaraan yang memadai, dan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Tetapi jangan sampai fasilitas membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya berdiri bersama orang-orang yang dilayaninya.

Sebab jarak antara pemimpin dan rakyat terkadang tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia bisa terlihat dari hal kecil. Dari tempat duduk. Dari pagar pembatas. Dari kendaraan yang datang lebih dulu. Dari ruang khusus. Atau dari sebuah tenda yang berdiri di tengah lapangan.

Barangkali karena itulah upacara selalu menarik untuk direnungkan. Di sana semua orang datang membawa jabatan, pangkat, seragam, dan kedudukan masing-masing. Namun ketika bendera dikibarkan, semuanya berdiri untuk penghormatan yang sama.

Bendera tidak punya jabatan. Lagu kebangsaan tidak punya pangkat. Tanah tempat upacara berlangsung juga tidak mengenal siapa yang pejabat dan siapa yang pasukan. Hanya manusia yang terkadang membuat jarak.

Upacara selesai. Pasukan membubarkan barisan. Mereka mengusap peluh dan kembali menjalankan tugas. Tenda-tenda mulai dibongkar. Kursi-kursi diangkut. Pejabat meninggalkan lokasi dan kembali ke ruang kerja masing-masing.

Barangkali setelah itu tidak ada lagi yang memikirkan siapa yang kepanasan dan siapa yang berteduh. Namun barangkali ada baiknya sesekali kita memikirkannya.

Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara tentang pengorbanan. Terkadang cukup berdiri bersama orang-orang yang sedang berkorban. Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu slogan. Cukup keluar dari tempat teduh, berdiri di bawah matahari, dan merasakan sebentar peluh orang-orang yang selama ini berdiri untuk menjalankan upacara.

Pasukan boleh berpeluh. Pejabat boleh berteduh. Tetapi jangan sampai jarak antara peluh dan teduh menjadi jarak antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia yang Muncul di Beranda

Next Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co