18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
in Esai
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang pertama disebut pasukan upacara. Yang kedua biasanya pejabat dan tamu kehormatan. Keduanya sama-sama hadir mengikuti upacara. Bedanya, yang satu berpeluh, yang lain berteduh.

Matahari tidak mengenal pangkat. Panasnya tidak membedakan jenderal dengan prajurit, bupati dengan pegawai, pejabat dengan rakyat. Siapa pun yang berdiri di lapangan akan merasakan sengatnya. Keringat akan tetap keluar, tenggorokan tetap kering, dan kaki tetap terasa pegal meskipun yang berdiri itu seorang pejabat tinggi.

Pasukan upacara berdiri berbaris di lapangan. Mereka harus tegak, tertib, dan mengikuti setiap aba-aba. Selama upacara berlangsung, tidak banyak pilihan selain bertahan. Peluh boleh mengalir, wajah boleh memerah, tetapi barisan harus tetap rapi.

Di sisi lain, para pejabat dan tamu undangan berada di bawah tenda. Kursi tersedia. Atap melindungi dari panas. Kadang-kadang kipas atau pendingin udara juga sudah disiapkan.

Pemandangan itu begitu lumrah sehingga hampir tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Padahal upacara adalah sebuah seremoni yang penuh simbol. Ada penghormatan kepada bendera. Ada penghormatan kepada pahlawan. Ada pembacaan teks yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan. Ada pesan tentang pengabdian, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab.

Tentu tidak ada yang salah dengan tenda. Pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan. Mereka bisa memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam keadaan tertentu, berteduh bahkan merupakan kebutuhan, bukan kemewahan.

Masalahnya bukan pada tenda. Masalahnya adalah ketika kenyamanan selalu menjadi hak orang-orang yang berada di atas, sedangkan ketahanan selalu menjadi kewajiban orang-orang yang berada di bawah.

Pasukan upacara tidak datang sekadar untuk menjadi latar belakang sebuah seremoni. Mereka adalah bagian penting dari upacara. Mereka yang berdiri berjam-jam, menjaga formasi, mengikuti aba-aba, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.

Mereka mungkin tidak memberikan pidato. Tidak ada kamera yang secara khusus menyorot wajah mereka ketika keringat mengalir. Nama mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Namun tanpa mereka, upacara tidak akan menjadi upacara.

Pejabat pun memiliki peran. Mereka hadir sebagai pemimpin, inspektur upacara, atau tamu kehormatan. Kehadiran mereka memberi makna terhadap seremoni. Karena itu, justru dari merekalah keteladanan seharusnya terlihat.

Pemimpin tidak harus selalu melakukan hal yang sama persis dengan orang yang dipimpinnya. Tetapi seorang pemimpin semestinya tidak terlalu jauh dari pengalaman mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pasukan berdiri, sesekali pemimpin bisa berdiri bersama mereka. Kalau mereka berpeluh, pemimpin tidak harus selalu buru-buru mencari tempat teduh.

Bukan karena panas harus dirasakan semua orang. Bukan pula karena berteduh adalah sebuah kesalahan. Melainkan karena ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan, yaitu kebersamaan.

Sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu berada di tempat nyaman. Para pejuang berjalan jauh, tidur seadanya, kekurangan makanan, dan menghadapi berbagai bahaya. Mereka tidak mengenal pendingin udara. Mereka tidak punya kursi empuk untuk menunggu perjuangan selesai.

Tentu zaman sudah berubah. Kita tidak mungkin meminta semua pejabat hidup seperti pejuang pada masa lalu. Negara membutuhkan ruang kerja yang layak, kendaraan yang memadai, dan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Tetapi jangan sampai fasilitas membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya berdiri bersama orang-orang yang dilayaninya.

Sebab jarak antara pemimpin dan rakyat terkadang tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia bisa terlihat dari hal kecil. Dari tempat duduk. Dari pagar pembatas. Dari kendaraan yang datang lebih dulu. Dari ruang khusus. Atau dari sebuah tenda yang berdiri di tengah lapangan.

Barangkali karena itulah upacara selalu menarik untuk direnungkan. Di sana semua orang datang membawa jabatan, pangkat, seragam, dan kedudukan masing-masing. Namun ketika bendera dikibarkan, semuanya berdiri untuk penghormatan yang sama.

Bendera tidak punya jabatan. Lagu kebangsaan tidak punya pangkat. Tanah tempat upacara berlangsung juga tidak mengenal siapa yang pejabat dan siapa yang pasukan. Hanya manusia yang terkadang membuat jarak.

Upacara selesai. Pasukan membubarkan barisan. Mereka mengusap peluh dan kembali menjalankan tugas. Tenda-tenda mulai dibongkar. Kursi-kursi diangkut. Pejabat meninggalkan lokasi dan kembali ke ruang kerja masing-masing.

Barangkali setelah itu tidak ada lagi yang memikirkan siapa yang kepanasan dan siapa yang berteduh. Namun barangkali ada baiknya sesekali kita memikirkannya.

Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara tentang pengorbanan. Terkadang cukup berdiri bersama orang-orang yang sedang berkorban. Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu slogan. Cukup keluar dari tempat teduh, berdiri di bawah matahari, dan merasakan sebentar peluh orang-orang yang selama ini berdiri untuk menjalankan upacara.

Pasukan boleh berpeluh. Pejabat boleh berteduh. Tetapi jangan sampai jarak antara peluh dan teduh menjadi jarak antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia yang Muncul di Beranda

Next Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Indonesia yang Muncul di Beranda

by Angga Wijaya
August 18, 2026
0
Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

Read moreDetails

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co