7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
in Esai
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang pertama disebut pasukan upacara. Yang kedua biasanya pejabat dan tamu kehormatan. Keduanya sama-sama hadir mengikuti upacara. Bedanya, yang satu berpeluh, yang lain berteduh.

Matahari tidak mengenal pangkat. Panasnya tidak membedakan jenderal dengan prajurit, bupati dengan pegawai, pejabat dengan rakyat. Siapa pun yang berdiri di lapangan akan merasakan sengatnya. Keringat akan tetap keluar, tenggorokan tetap kering, dan kaki tetap terasa pegal meskipun yang berdiri itu seorang pejabat tinggi.

Pasukan upacara berdiri berbaris di lapangan. Mereka harus tegak, tertib, dan mengikuti setiap aba-aba. Selama upacara berlangsung, tidak banyak pilihan selain bertahan. Peluh boleh mengalir, wajah boleh memerah, tetapi barisan harus tetap rapi.

Di sisi lain, para pejabat dan tamu undangan berada di bawah tenda. Kursi tersedia. Atap melindungi dari panas. Kadang-kadang kipas atau pendingin udara juga sudah disiapkan.

Pemandangan itu begitu lumrah sehingga hampir tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Padahal upacara adalah sebuah seremoni yang penuh simbol. Ada penghormatan kepada bendera. Ada penghormatan kepada pahlawan. Ada pembacaan teks yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan. Ada pesan tentang pengabdian, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab.

Tentu tidak ada yang salah dengan tenda. Pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan. Mereka bisa memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam keadaan tertentu, berteduh bahkan merupakan kebutuhan, bukan kemewahan.

Masalahnya bukan pada tenda. Masalahnya adalah ketika kenyamanan selalu menjadi hak orang-orang yang berada di atas, sedangkan ketahanan selalu menjadi kewajiban orang-orang yang berada di bawah.

Pasukan upacara tidak datang sekadar untuk menjadi latar belakang sebuah seremoni. Mereka adalah bagian penting dari upacara. Mereka yang berdiri berjam-jam, menjaga formasi, mengikuti aba-aba, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.

Mereka mungkin tidak memberikan pidato. Tidak ada kamera yang secara khusus menyorot wajah mereka ketika keringat mengalir. Nama mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Namun tanpa mereka, upacara tidak akan menjadi upacara.

Pejabat pun memiliki peran. Mereka hadir sebagai pemimpin, inspektur upacara, atau tamu kehormatan. Kehadiran mereka memberi makna terhadap seremoni. Karena itu, justru dari merekalah keteladanan seharusnya terlihat.

Pemimpin tidak harus selalu melakukan hal yang sama persis dengan orang yang dipimpinnya. Tetapi seorang pemimpin semestinya tidak terlalu jauh dari pengalaman mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pasukan berdiri, sesekali pemimpin bisa berdiri bersama mereka. Kalau mereka berpeluh, pemimpin tidak harus selalu buru-buru mencari tempat teduh.

Bukan karena panas harus dirasakan semua orang. Bukan pula karena berteduh adalah sebuah kesalahan. Melainkan karena ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan, yaitu kebersamaan.

Sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu berada di tempat nyaman. Para pejuang berjalan jauh, tidur seadanya, kekurangan makanan, dan menghadapi berbagai bahaya. Mereka tidak mengenal pendingin udara. Mereka tidak punya kursi empuk untuk menunggu perjuangan selesai.

Tentu zaman sudah berubah. Kita tidak mungkin meminta semua pejabat hidup seperti pejuang pada masa lalu. Negara membutuhkan ruang kerja yang layak, kendaraan yang memadai, dan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Tetapi jangan sampai fasilitas membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya berdiri bersama orang-orang yang dilayaninya.

Sebab jarak antara pemimpin dan rakyat terkadang tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia bisa terlihat dari hal kecil. Dari tempat duduk. Dari pagar pembatas. Dari kendaraan yang datang lebih dulu. Dari ruang khusus. Atau dari sebuah tenda yang berdiri di tengah lapangan.

Barangkali karena itulah upacara selalu menarik untuk direnungkan. Di sana semua orang datang membawa jabatan, pangkat, seragam, dan kedudukan masing-masing. Namun ketika bendera dikibarkan, semuanya berdiri untuk penghormatan yang sama.

Bendera tidak punya jabatan. Lagu kebangsaan tidak punya pangkat. Tanah tempat upacara berlangsung juga tidak mengenal siapa yang pejabat dan siapa yang pasukan. Hanya manusia yang terkadang membuat jarak.

Upacara selesai. Pasukan membubarkan barisan. Mereka mengusap peluh dan kembali menjalankan tugas. Tenda-tenda mulai dibongkar. Kursi-kursi diangkut. Pejabat meninggalkan lokasi dan kembali ke ruang kerja masing-masing.

Barangkali setelah itu tidak ada lagi yang memikirkan siapa yang kepanasan dan siapa yang berteduh. Namun barangkali ada baiknya sesekali kita memikirkannya.

Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara tentang pengorbanan. Terkadang cukup berdiri bersama orang-orang yang sedang berkorban. Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu slogan. Cukup keluar dari tempat teduh, berdiri di bawah matahari, dan merasakan sebentar peluh orang-orang yang selama ini berdiri untuk menjalankan upacara.

Pasukan boleh berpeluh. Pejabat boleh berteduh. Tetapi jangan sampai jarak antara peluh dan teduh menjadi jarak antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia yang Muncul di Beranda

Next Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co