28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
in Esai
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang pertama disebut pasukan upacara. Yang kedua biasanya pejabat dan tamu kehormatan. Keduanya sama-sama hadir mengikuti upacara. Bedanya, yang satu berpeluh, yang lain berteduh.

Matahari tidak mengenal pangkat. Panasnya tidak membedakan jenderal dengan prajurit, bupati dengan pegawai, pejabat dengan rakyat. Siapa pun yang berdiri di lapangan akan merasakan sengatnya. Keringat akan tetap keluar, tenggorokan tetap kering, dan kaki tetap terasa pegal meskipun yang berdiri itu seorang pejabat tinggi.

Pasukan upacara berdiri berbaris di lapangan. Mereka harus tegak, tertib, dan mengikuti setiap aba-aba. Selama upacara berlangsung, tidak banyak pilihan selain bertahan. Peluh boleh mengalir, wajah boleh memerah, tetapi barisan harus tetap rapi.

Di sisi lain, para pejabat dan tamu undangan berada di bawah tenda. Kursi tersedia. Atap melindungi dari panas. Kadang-kadang kipas atau pendingin udara juga sudah disiapkan.

Pemandangan itu begitu lumrah sehingga hampir tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipertanyakan. Padahal upacara adalah sebuah seremoni yang penuh simbol. Ada penghormatan kepada bendera. Ada penghormatan kepada pahlawan. Ada pembacaan teks yang mengingatkan tentang sejarah perjuangan. Ada pesan tentang pengabdian, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab.

Tentu tidak ada yang salah dengan tenda. Pejabat juga manusia. Mereka bisa kepanasan. Mereka bisa memiliki kondisi kesehatan tertentu. Dalam keadaan tertentu, berteduh bahkan merupakan kebutuhan, bukan kemewahan.

Masalahnya bukan pada tenda. Masalahnya adalah ketika kenyamanan selalu menjadi hak orang-orang yang berada di atas, sedangkan ketahanan selalu menjadi kewajiban orang-orang yang berada di bawah.

Pasukan upacara tidak datang sekadar untuk menjadi latar belakang sebuah seremoni. Mereka adalah bagian penting dari upacara. Mereka yang berdiri berjam-jam, menjaga formasi, mengikuti aba-aba, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.

Mereka mungkin tidak memberikan pidato. Tidak ada kamera yang secara khusus menyorot wajah mereka ketika keringat mengalir. Nama mereka mungkin tidak disebut dalam sambutan. Namun tanpa mereka, upacara tidak akan menjadi upacara.

Pejabat pun memiliki peran. Mereka hadir sebagai pemimpin, inspektur upacara, atau tamu kehormatan. Kehadiran mereka memberi makna terhadap seremoni. Karena itu, justru dari merekalah keteladanan seharusnya terlihat.

Pemimpin tidak harus selalu melakukan hal yang sama persis dengan orang yang dipimpinnya. Tetapi seorang pemimpin semestinya tidak terlalu jauh dari pengalaman mereka yang berada di bawah tanggung jawabnya. Kalau pasukan berdiri, sesekali pemimpin bisa berdiri bersama mereka. Kalau mereka berpeluh, pemimpin tidak harus selalu buru-buru mencari tempat teduh.

Bukan karena panas harus dirasakan semua orang. Bukan pula karena berteduh adalah sebuah kesalahan. Melainkan karena ada nilai yang lebih besar daripada sekadar kenyamanan, yaitu kebersamaan.

Sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh orang-orang yang selalu berada di tempat nyaman. Para pejuang berjalan jauh, tidur seadanya, kekurangan makanan, dan menghadapi berbagai bahaya. Mereka tidak mengenal pendingin udara. Mereka tidak punya kursi empuk untuk menunggu perjuangan selesai.

Tentu zaman sudah berubah. Kita tidak mungkin meminta semua pejabat hidup seperti pejuang pada masa lalu. Negara membutuhkan ruang kerja yang layak, kendaraan yang memadai, dan fasilitas yang menunjang pekerjaan. Tetapi jangan sampai fasilitas membuat seorang pemimpin lupa bagaimana rasanya berdiri bersama orang-orang yang dilayaninya.

Sebab jarak antara pemimpin dan rakyat terkadang tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia bisa terlihat dari hal kecil. Dari tempat duduk. Dari pagar pembatas. Dari kendaraan yang datang lebih dulu. Dari ruang khusus. Atau dari sebuah tenda yang berdiri di tengah lapangan.

Barangkali karena itulah upacara selalu menarik untuk direnungkan. Di sana semua orang datang membawa jabatan, pangkat, seragam, dan kedudukan masing-masing. Namun ketika bendera dikibarkan, semuanya berdiri untuk penghormatan yang sama.

Bendera tidak punya jabatan. Lagu kebangsaan tidak punya pangkat. Tanah tempat upacara berlangsung juga tidak mengenal siapa yang pejabat dan siapa yang pasukan. Hanya manusia yang terkadang membuat jarak.

Upacara selesai. Pasukan membubarkan barisan. Mereka mengusap peluh dan kembali menjalankan tugas. Tenda-tenda mulai dibongkar. Kursi-kursi diangkut. Pejabat meninggalkan lokasi dan kembali ke ruang kerja masing-masing.

Barangkali setelah itu tidak ada lagi yang memikirkan siapa yang kepanasan dan siapa yang berteduh. Namun barangkali ada baiknya sesekali kita memikirkannya.

Sebab seorang pemimpin tidak selalu harus berbicara tentang pengorbanan. Terkadang cukup berdiri bersama orang-orang yang sedang berkorban. Tidak perlu pidato panjang. Tidak perlu slogan. Cukup keluar dari tempat teduh, berdiri di bawah matahari, dan merasakan sebentar peluh orang-orang yang selama ini berdiri untuk menjalankan upacara.

Pasukan boleh berpeluh. Pejabat boleh berteduh. Tetapi jangan sampai jarak antara peluh dan teduh menjadi jarak antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Kemerdekaan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indonesia yang Muncul di Beranda

Next Post

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co