18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
in Panggung
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

Pergelaran musik Suara Senja sebelum pelaksanaan Bulfest di Praja Mandala Singa Ambara Raja Singaraja

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja. Malam itu dingin. Ia tampak merenung tapi sesekali pandangannya diarahkanb pada bangunan berarsitektur kolonial di sekelilingnya.  Di sebelah timur, ada panggung kecil. Suara musik terdengar sayup-sayup.

“Saya suka duduk di sini,” kata Wahyu, nama lelaki muda itu, ketika disapa tatkala.co. Jumat malam, 7 Agustus 2026.

Wahyu bernama lengkap Putu Wahyu Mahaputra, Ia alumni Universitas Pendidikan Ganesha dan mengaku sangat menyukai hal-hal berbau sejarah.  

Selain menikmati alunan musik, kata Wahyu, di tempat itu ia bisa menikmati vibes kota lama. Duduk di tempat itu, kata dia lagi, ia seolah berjalan jauh ke masa lalu.

“Kalau duduk di sini, saya jadi berpikir, apa yang orang-orang dulu rasakan ketika berada di tempat ini? Mereka melihat dan memikirkan Singaraja seperti apa?” ujarnya sembari melamun.

Wahyu mengatakan, di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, masa lalu dan masa kini seperti bertemu dan bertamu. Bangunan dan ruang yang menyimpan jejak sejarah berdiri berdampingan dengan gagasan-gagasan kreatif masa kini yang dirangkai seperti panggung musik itu.

“Apalagi, mulai ada musik di kawasan ini,” kata Wahyu.

Panggung Kecil Menjadi Salah Satu Tanda Perubahan Itu

Sejak Praja Mandala Singa Ambara Raja di bangun, kini ada program Suara Senja di Palemahan Kangin. Program ini dibuat untuk membangun ekosistem kreatif khusus bidang musik di Singaraja. Selain Wahyu, orang-orang mulai ramai mendatangi kawasan itu.

Ben Prince, salah satu Koordinator di balik program Suara Senja, melihat kehadiran kegiatan tersebut sebagai upaya menghadirkan sesuatu yang baru di ruang publik. Musik dipilih sebagai langkah awal untuk membuat kawasan tersebut kembali memiliki aktivitas dan menjadi tempat perjumpaan kalangan muda dan kalangan tua.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

“Suara Senja ini menjadi awal. Kita ingin ada sesuatu yang baru di ruang ini. Kaum muda dan kaum tua, menikmati musik, bertemu, dan kemudian muncul kreativitas-kreativitas lainnya,” ujar Ben.

Menurutnya, ruang publik tidak harus selalu dihidupkan melalui kegiatan besar. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat membangun kebiasaan baru dan membuat masyarakat kembali merasa memiliki ruang tersebut.

Aprilia Ulandari, vokalis dari UKM Musik Institut Mpu Kuturan juga menyatakan bahwa ruang publik di Palemahan Kangin, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja itu memberinya kesempatan untuk belajar dan berproses mengembangkan karya musiknya.

“Saya jadi bisa belajar manggung di depan banyak orang dan memikirkan karya apa yang menarik dibawakan di tempat itu.” Ucap Aprilia Ulandari.

Sementara, bagi Putu Wahyu Mahaputra, musik hanyalah awal.

“Aku membayangkan ruang tersebut ke depan tidak hanya diisi pertunjukan musik, tetapi juga seniman yang melukis, pembacaan puisi, diskusi, hingga berbagai kegiatan yang dapat menghidupkan literasi di ruang publik,” ucap Wahyu.

“Ini mungkin, baru musik. Ya kalau bisa jangan hanya musik, harus ada yang melukis, membaca puisi, dan bercerita begitu sih,” tutur Wahyu sembari menunjuk beberapa sudut yang dibayangkannya dapat menjadi ruang bagi berbagai kegiatan kreatif tersebut.

Menurutnya, ruang seperti titik nol seharusnya dapat menjadi tempat masyarakat mengenal kembali cerita tentang Buleleng. Bukan hanya cerita yang tersimpan dalam buku, tetapi cerita yang dapat dibagikan langsung dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Gagasan tersebut membuat panggung kecil di titik nol menjadi lebih bernyawa, menjadi ruang perjumpaan antara seni, sejarah, dan literasi.

Bagi Wahyu, apa yang berlangsung malam itu hanyalah upaya-upaya awal. Panggung kecil yang hadir di Palemahan Kangin melalui program Suara Senja menjadi semacam pemantik untuk menghidupkan kembali ruang publik dengan kreativitas anak muda. Ia membayangkan ruang-ruang di kawasan tersebut kelak tidak pernah benar-benar sepi dari aktivitas dan gagasan kreatif.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

Ada hal yang menarik, di balik upaya-upaya menghidupkan panggung kecil seperti yang diharapkan Wahyu itu, di saat yang bersamaan ada satu perayaan sekaligus panggung besar yang akan terjadi di area itu, yaitu Buleleng Festival (Bulfest) 2026.

Bulfest dirancang sebagai panggung yang lebih besar, tempat berbagai kreativitas dan cerita tentang Buleleng dapat bertemu. Jika hari ini anak muda menikmati musik dalam panggung sederhana, maka di Bulfest akan ada panggung yang lebih besar dengan suasana yang lebih semarak.

“Kalau sekarang ini panggung kecil dulu. Nanti kita menunggu Bulfest. Di sana panggungnya akan lebih besar, dan kita bisa melihat bagaimana ruang ini benar-benar hidup,” ujar Wahyu.

Memang, setelah beberapa waktu hiatus, Bulfest kembali dimulai lagi tahun 2025. Tahun lalu Wahyu hadir dan ia merasakan sebuah festival yang cukup berbeda.

Tahun ini, ternyata Wahyu juga sedang meninjau area tugu singa yang akan dijadikan main stage Bulfest 2026. Ia rupanya diberi kesempatan bermain teater di Bulfest 2026.

”Aku mau mementaskan teater yang menceritakan tentang Nyoman Rai Srimben ibunda Soekarno nanti.” lanjutnya.

Ia datang di Praja Mandala Singa Ambara mencari inspirasi untuk pementasan teaternya. Mencoba merasakan aura masa lalu yang melekat di area itu.

Ada harapan bahwa festival seperti Bulfest menjadi kelanjutan dari apa yang mulai tumbuh di ruang publik ini. Ada hal-hal lama yang menurutnya dapat diperbarui, tanpa harus kehilangan identitasnya. Ada semangat untuk beradaptasi dengan zaman melalui kreativitas anak muda. Gagasan itu seolah bertemu dengan pembangunan titik nol.

Praja Muda Singa Ambara Raja, bukan hanya tentang nama dan simbol masa lalu. Namun, menjadi gambaran tentang semangat generasi muda yang berani membawa pembaruan.

Rasa Rindu yang Dibawa Pulang

Selain melihat Praja Manda Singa Ambara dan Bulfest sebagai ruang dan panggung kreatif bagi anak muda, Wahyu juga menyimpan alasan yang jauh lebih personal.

Wahyu merupakan pemuda yang kini tinggal di Denpasar. Jarak membuat Buleleng tidak lagi menjadi ruang yang setiap hari ia temui—seperti masa kuliahnya dulu. Ada bangunan, suasana, wajah-wajah yang akrab, dan tentu saja makanan yang sesekali hanya bisa ia rindukan dari jauh.

Karena itu, ketika berbicara tentang Bulfest, pikirannya tidak hanya tertuju pada panggung pertunjukan atau keramaian festival. Ingatannya justru melompat pada hal-hal sederhana yang terasa dekat dengan rumah. Salah satunya makanan.

Ia membayangkan akan kembali menemukan makanan yang selama ini akrab dengan lidahnya. Jukut buangit dan palem berisi udang menjadi dua sajian yang ikut hadir dalam bayangannya tentang Bulfest.

“Kalau dengar Bulfest, saya sebenarnya bukan cuma ingat acaranya. Saya juga ingat makanan. Jukut buangit, palem isi udang. Hal-hal seperti itu yang bikin saya kangen pulang,” ujar Wahyu.

Bagi Wahyu, kerinduan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari hal-hal kecil itulah rasa memiliki terhadap sebuah daerah sering kali tumbuh. Aroma makanan, rasa yang familiar, suasana ramai, dan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki ingatan yang sama dapat membawa seseorang kembali pada rumah.

Merantau membuat hal-hal yang dahulu dianggap biasa menjadi sesuatu yang dirindukan.

Makanan yang dulu mudah ditemui, kini menjadi sesuatu yang dinanti ketika kesempatan pulang datang. Begitu pula suasana Buleleng ketika Bulfest berlangsung. Ada keramaian yang berbeda, ada pertemuan dengan kawan lama, dan ada perasaan seperti kembali menjadi bagian dari rumah yang sempat ditinggalkan.

“Kalau sudah di Denpasar, kadang kangen suasana di sini. Apalagi kalau sudah mendekati Bulfest. Rasanya ingin cepat pulang,” katanya.

Bulfest, bagi Wahyu, akhirnya bukan hanya tentang festival. Ia menjadi semacam penanda bahwa ada waktu tertentu ketika Buleleng kembali memanggil orang-orangnya pulang. Mereka yang tinggal di luar daerah datang kembali. Mereka yang menetap bertemu dengan kawan lama. Ruang-ruang kota kembali dipenuhi manusia, cerita, musik, makanan, dan berbagai ingatan.

Di situlah Bulfest memiliki makna yang lebih personal baginya.

Ia menanti bukan hanya apa yang akan berlangsung di atas panggung, tetapi juga apa yang akan ditemukan di antara keramaian. Mungkin bertemu teman lama. Mungkin menemukan kembali makanan yang sudah lama dirindukan. Atau sekadar duduk menikmati suasana Buleleng yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh kehidupan di kota tempatnya merantau.

“Nanti kalau Bulfest sudah mulai, rasanya seperti pulang. Ada makanan yang saya cari, ada suasananya, ada orang-orangnya. Itu yang saya tunggu,” ujar Wahyu.

Senja di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, sebelum panggung Bulfest dipasang | Foto: Puja

Cerita Wahyu menambah warna lain dalam penantian menuju Bulfest. Selain, melihat festival sebagai kelanjutan dari panggung-panggung kecil dan ruang kreativitas, Wahyu juga melihatnya sebagai jalan pulang.

Dua cara pandang itu bertemu pada satu hal yaitu ruang publik yang hidup dapat menciptakan ingatan.

Musik mungkin menjadi pintu masuk. Seni menjadi bagian dari perjalanannya. Literasi menjaga cerita masa lalu tetap hidup. Sementara makanan menghadirkan rasa yang membawa seseorang kembali pada rumah. Bulfest kemudian menjadi titik temu dari semuanya.

Di satu sisi, ada semangat untuk memperbarui ruang dan memberi tempat bagi kreativitas generasi muda. Di sisi lain, ada kerinduan untuk mempertahankan hal-hal yang membuat Buleleng tetap terasa sebagai rumah.

Panggung besar boleh membawa sesuatu yang baru. Tetapi di bawahnya tetap ada cerita lama yang ingin dirawat.

Malam semakin larut di Praja Mandala Singa Ambara Raja. Musik dari panggung kecil masih terdengar. Anak-anak muda belum sepenuhnya beranjak. Ada yang masih berbincang, ada yang menikmati pertunjukan, ada pula yang sekadar duduk dan memandang suasana.

Wahyu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kawasan itu yang masih memikirkan hal-hal yang telah kami obrolkan barusan.

Bulfest 2026 dan Upaya Menguripkan Kembali Rasa Buleleng

“Bulfest ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus promosi potensi lokal Buleleng,” ucap Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra saat jumpa pers Bulfest 2026, Jumat 14 Agustus 2026, tak jauh dari kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Soenda Ketjil.

Ketika Singaraja menjadi salah satu pusat perdagangan dan pemerintahan di Bali. Jejaknya masih bisa ditemui di kawasan kota lama, bangunan bersejarah, dan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat Bali Utara. Tahun ini, jejak itu coba dihidupkan kembali lewat tema besar Uriping Rasa yatu menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng.

Sutjidra pun menegaskan napas festival tahun ini ditujukan untuk merawat memori kolektif warganya.

“Kita harus mengingat perjalanan panjang Buleleng, termasuk warisan masa lalu,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa warisan itulah yang akan diadopsi ke dalam seluruh rangkaian Bulfest.

Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra memaparkan pelaksanaan Bulfest dalam jumpa pers | Foto: Puja

Kemudian warisan tempo dulu Singaraja dikemas dengan tema Uriping Rasa berarti menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng. Menggunakan konsep immersive experience, pengunjung tidak hanya diajak bernostalgia menonton layar tancap 35 milimeter, tapi masuk ke suasana Buleleng tempo dulu lewat seni, kuliner, sejarah, dan aktivitas warga sehari-hari.

Perjalanan Pendek Menyusuri Tiga Wajah Buleleng

Untuk yang baru pertama datang Bulfest 2026, pengunjung mulai beranjak dari Zona

A. Dari kawasan Tugu Singa Ambara Raja, langkah akan membawa pengunjung menuju Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha, Gedung Galei SAR, hingga halaman parkir BKAD/Bapenda. Di sinilah suasana Buleleng tempo dulu paling terasa.

Pasar Tempo Dulu,layar tancap seluloid, photo corner, dagang patokan, dan permainan rakyat tradisional akan mengisi kawasan ini. Kuliner khas Bali Utara dan produk UMKM juga dapat ditemui di sejumlah titik. Kalau ingin mengenal Buleleng dari cerita masa lalunya, kawasan ini menjadi tempat yang tepat untuk memulai.

Dari Zona A, perjalanan kemudian bisa diteruskan menuju Zona B. Suasananya mulai berubah. Kawasan Kantor DPRD, Jalan Veteran, hingga taman hijau Rumah Jabatan Bupati Buleleng akan menjadi ruang yang lebih dekat dengan kreativitas hari ini. Musik band dan DJ, creative market, mural dan graffiti, community showcase, creative workshop, permainan interaktif, serta Buleleng Digital Expo akan mengambil tempat di sini.

Jika Zona A mengajak pengunjung menengok apa yang pernah hidup di Buleleng, Zona B memperlihatkan apa yang sedang dikerjakan masyarakatnya hari ini.

Perjalanan belum selesai. Bergerak ke arah Zona C, suasananya kembali bergeser. Kawasan Patung Catus Pata, Sasana Budaya, dan Jalan Veteran Timur menjadi ruang bagi kesenian dan kebudayaan Buleleng.

Pertunjukan seni tradisi, parade komunitas budaya, demonstrasi kesenian khas Buleleng, lokakarya seni tradisional, UMKM, dan galeri seni Buleleng akan hadir di kawasan ini. Di sini pengunjung dapat berhenti lebih lama untuk melihat bagaimana kesenian yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mendapat ruang di tengah kota.

“Pengunjung kami ajak menikmati festival dari satu kawasan ke kawasan lainnya, sehingga bisa merasakan langsung cerita dan suasana Buleleng,” kata Nyoman Sutjidra.

Kehadiran 105 UMKM dan lebih dari 60 grup pengisi acara, mulai dari sanggar kesenian tradisional hingga grup musik modern, membuat suasana tempo dulu itu terasa semakin hidup. Bagi mereka yang pernah melewati masa tersebut, Bulfest bisa nostalgia menjadi perjalanan kecil untuk mengingat kembali rasa, bunyi, dan suasana yang pernah akrab. Sementara bagi mereka yang lahir jauh setelahnya, festival ini menjadi kesempatan untuk menikmati seperti apa rasanya berada di Buleleng pada masa yang mungkin hanya mereka dengar dari cerita orang tua.

Seluruh rangkaian Bulfest dirancang untuk menarik wisatawan dan pengunjung. Bulfest boleh molek di mata, tetapi yang lebih penting, mampukah ia menguripkan rasa di hati mereka? [T]

Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole

Tags: bulelengbuleleng festivalbulfestBulfest 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Next Post

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails
Next Post
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak
Khas

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”
Panggung

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA masa Orde Baru, sebuah karya sastra tidak begitu saja bisa diterbitkan. Ia harus bergulat dengan dunia pemikiran, terjebak dalam...

by Andre Syahreza
August 18, 2026
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta
Khas

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh
Esai

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
Indonesia yang Muncul di Beranda
Esai

Indonesia yang Muncul di Beranda

PADA 17 Agustus, saya merasa Indonesia tiba-tiba muncul di beranda media sosial.  Bukan Indonesia dalam bentuk peta yang biasa kita...

by Angga Wijaya
August 18, 2026
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi
Tualang

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung
Bahasa

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: "Membaca, Menulis, dan...

by I Made Sudiana
August 18, 2026
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co