LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja. Malam itu dingin. Ia tampak merenung tapi sesekali pandangannya diarahkanb pada bangunan berarsitektur kolonial di sekelilingnya. Di sebelah timur, ada panggung kecil. Suara musik terdengar sayup-sayup.
“Saya suka duduk di sini,” kata Wahyu, nama lelaki muda itu, ketika disapa tatkala.co. Jumat malam, 7 Agustus 2026.
Wahyu bernama lengkap Putu Wahyu Mahaputra, Ia alumni Universitas Pendidikan Ganesha dan mengaku sangat menyukai hal-hal berbau sejarah.
Selain menikmati alunan musik, kata Wahyu, di tempat itu ia bisa menikmati vibes kota lama. Duduk di tempat itu, kata dia lagi, ia seolah berjalan jauh ke masa lalu.
“Kalau duduk di sini, saya jadi berpikir, apa yang orang-orang dulu rasakan ketika berada di tempat ini? Mereka melihat dan memikirkan Singaraja seperti apa?” ujarnya sembari melamun.
Wahyu mengatakan, di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, masa lalu dan masa kini seperti bertemu dan bertamu. Bangunan dan ruang yang menyimpan jejak sejarah berdiri berdampingan dengan gagasan-gagasan kreatif masa kini yang dirangkai seperti panggung musik itu.
“Apalagi, mulai ada musik di kawasan ini,” kata Wahyu.
Panggung Kecil Menjadi Salah Satu Tanda Perubahan Itu
Sejak Praja Mandala Singa Ambara Raja di bangun, kini ada program Suara Senja di Palemahan Kangin. Program ini dibuat untuk membangun ekosistem kreatif khusus bidang musik di Singaraja. Selain Wahyu, orang-orang mulai ramai mendatangi kawasan itu.
Ben Prince, salah satu Koordinator di balik program Suara Senja, melihat kehadiran kegiatan tersebut sebagai upaya menghadirkan sesuatu yang baru di ruang publik. Musik dipilih sebagai langkah awal untuk membuat kawasan tersebut kembali memiliki aktivitas dan menjadi tempat perjumpaan kalangan muda dan kalangan tua.

“Suara Senja ini menjadi awal. Kita ingin ada sesuatu yang baru di ruang ini. Kaum muda dan kaum tua, menikmati musik, bertemu, dan kemudian muncul kreativitas-kreativitas lainnya,” ujar Ben.
Menurutnya, ruang publik tidak harus selalu dihidupkan melalui kegiatan besar. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat membangun kebiasaan baru dan membuat masyarakat kembali merasa memiliki ruang tersebut.
Aprilia Ulandari, vokalis dari UKM Musik Institut Mpu Kuturan juga menyatakan bahwa ruang publik di Palemahan Kangin, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja itu memberinya kesempatan untuk belajar dan berproses mengembangkan karya musiknya.
“Saya jadi bisa belajar manggung di depan banyak orang dan memikirkan karya apa yang menarik dibawakan di tempat itu.” Ucap Aprilia Ulandari.
Sementara, bagi Putu Wahyu Mahaputra, musik hanyalah awal.
“Aku membayangkan ruang tersebut ke depan tidak hanya diisi pertunjukan musik, tetapi juga seniman yang melukis, pembacaan puisi, diskusi, hingga berbagai kegiatan yang dapat menghidupkan literasi di ruang publik,” ucap Wahyu.
“Ini mungkin, baru musik. Ya kalau bisa jangan hanya musik, harus ada yang melukis, membaca puisi, dan bercerita begitu sih,” tutur Wahyu sembari menunjuk beberapa sudut yang dibayangkannya dapat menjadi ruang bagi berbagai kegiatan kreatif tersebut.
Menurutnya, ruang seperti titik nol seharusnya dapat menjadi tempat masyarakat mengenal kembali cerita tentang Buleleng. Bukan hanya cerita yang tersimpan dalam buku, tetapi cerita yang dapat dibagikan langsung dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Gagasan tersebut membuat panggung kecil di titik nol menjadi lebih bernyawa, menjadi ruang perjumpaan antara seni, sejarah, dan literasi.
Bagi Wahyu, apa yang berlangsung malam itu hanyalah upaya-upaya awal. Panggung kecil yang hadir di Palemahan Kangin melalui program Suara Senja menjadi semacam pemantik untuk menghidupkan kembali ruang publik dengan kreativitas anak muda. Ia membayangkan ruang-ruang di kawasan tersebut kelak tidak pernah benar-benar sepi dari aktivitas dan gagasan kreatif.

Ada hal yang menarik, di balik upaya-upaya menghidupkan panggung kecil seperti yang diharapkan Wahyu itu, di saat yang bersamaan ada satu perayaan sekaligus panggung besar yang akan terjadi di area itu, yaitu Buleleng Festival (Bulfest) 2026.
Bulfest dirancang sebagai panggung yang lebih besar, tempat berbagai kreativitas dan cerita tentang Buleleng dapat bertemu. Jika hari ini anak muda menikmati musik dalam panggung sederhana, maka di Bulfest akan ada panggung yang lebih besar dengan suasana yang lebih semarak.
“Kalau sekarang ini panggung kecil dulu. Nanti kita menunggu Bulfest. Di sana panggungnya akan lebih besar, dan kita bisa melihat bagaimana ruang ini benar-benar hidup,” ujar Wahyu.
Memang, setelah beberapa waktu hiatus, Bulfest kembali dimulai lagi tahun 2025. Tahun lalu Wahyu hadir dan ia merasakan sebuah festival yang cukup berbeda.
Tahun ini, ternyata Wahyu juga sedang meninjau area tugu singa yang akan dijadikan main stage Bulfest 2026. Ia rupanya diberi kesempatan bermain teater di Bulfest 2026.
”Aku mau mementaskan teater yang menceritakan tentang Nyoman Rai Srimben ibunda Soekarno nanti.” lanjutnya.
Ia datang di Praja Mandala Singa Ambara mencari inspirasi untuk pementasan teaternya. Mencoba merasakan aura masa lalu yang melekat di area itu.
Ada harapan bahwa festival seperti Bulfest menjadi kelanjutan dari apa yang mulai tumbuh di ruang publik ini. Ada hal-hal lama yang menurutnya dapat diperbarui, tanpa harus kehilangan identitasnya. Ada semangat untuk beradaptasi dengan zaman melalui kreativitas anak muda. Gagasan itu seolah bertemu dengan pembangunan titik nol.
Praja Muda Singa Ambara Raja, bukan hanya tentang nama dan simbol masa lalu. Namun, menjadi gambaran tentang semangat generasi muda yang berani membawa pembaruan.
Rasa Rindu yang Dibawa Pulang
Selain melihat Praja Manda Singa Ambara dan Bulfest sebagai ruang dan panggung kreatif bagi anak muda, Wahyu juga menyimpan alasan yang jauh lebih personal.
Wahyu merupakan pemuda yang kini tinggal di Denpasar. Jarak membuat Buleleng tidak lagi menjadi ruang yang setiap hari ia temui—seperti masa kuliahnya dulu. Ada bangunan, suasana, wajah-wajah yang akrab, dan tentu saja makanan yang sesekali hanya bisa ia rindukan dari jauh.
Karena itu, ketika berbicara tentang Bulfest, pikirannya tidak hanya tertuju pada panggung pertunjukan atau keramaian festival. Ingatannya justru melompat pada hal-hal sederhana yang terasa dekat dengan rumah. Salah satunya makanan.
Ia membayangkan akan kembali menemukan makanan yang selama ini akrab dengan lidahnya. Jukut buangit dan palem berisi udang menjadi dua sajian yang ikut hadir dalam bayangannya tentang Bulfest.
“Kalau dengar Bulfest, saya sebenarnya bukan cuma ingat acaranya. Saya juga ingat makanan. Jukut buangit, palem isi udang. Hal-hal seperti itu yang bikin saya kangen pulang,” ujar Wahyu.
Bagi Wahyu, kerinduan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari hal-hal kecil itulah rasa memiliki terhadap sebuah daerah sering kali tumbuh. Aroma makanan, rasa yang familiar, suasana ramai, dan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki ingatan yang sama dapat membawa seseorang kembali pada rumah.
Merantau membuat hal-hal yang dahulu dianggap biasa menjadi sesuatu yang dirindukan.
Makanan yang dulu mudah ditemui, kini menjadi sesuatu yang dinanti ketika kesempatan pulang datang. Begitu pula suasana Buleleng ketika Bulfest berlangsung. Ada keramaian yang berbeda, ada pertemuan dengan kawan lama, dan ada perasaan seperti kembali menjadi bagian dari rumah yang sempat ditinggalkan.
“Kalau sudah di Denpasar, kadang kangen suasana di sini. Apalagi kalau sudah mendekati Bulfest. Rasanya ingin cepat pulang,” katanya.
Bulfest, bagi Wahyu, akhirnya bukan hanya tentang festival. Ia menjadi semacam penanda bahwa ada waktu tertentu ketika Buleleng kembali memanggil orang-orangnya pulang. Mereka yang tinggal di luar daerah datang kembali. Mereka yang menetap bertemu dengan kawan lama. Ruang-ruang kota kembali dipenuhi manusia, cerita, musik, makanan, dan berbagai ingatan.
Di situlah Bulfest memiliki makna yang lebih personal baginya.
Ia menanti bukan hanya apa yang akan berlangsung di atas panggung, tetapi juga apa yang akan ditemukan di antara keramaian. Mungkin bertemu teman lama. Mungkin menemukan kembali makanan yang sudah lama dirindukan. Atau sekadar duduk menikmati suasana Buleleng yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh kehidupan di kota tempatnya merantau.
“Nanti kalau Bulfest sudah mulai, rasanya seperti pulang. Ada makanan yang saya cari, ada suasananya, ada orang-orangnya. Itu yang saya tunggu,” ujar Wahyu.

Cerita Wahyu menambah warna lain dalam penantian menuju Bulfest. Selain, melihat festival sebagai kelanjutan dari panggung-panggung kecil dan ruang kreativitas, Wahyu juga melihatnya sebagai jalan pulang.
Dua cara pandang itu bertemu pada satu hal yaitu ruang publik yang hidup dapat menciptakan ingatan.
Musik mungkin menjadi pintu masuk. Seni menjadi bagian dari perjalanannya. Literasi menjaga cerita masa lalu tetap hidup. Sementara makanan menghadirkan rasa yang membawa seseorang kembali pada rumah. Bulfest kemudian menjadi titik temu dari semuanya.
Di satu sisi, ada semangat untuk memperbarui ruang dan memberi tempat bagi kreativitas generasi muda. Di sisi lain, ada kerinduan untuk mempertahankan hal-hal yang membuat Buleleng tetap terasa sebagai rumah.
Panggung besar boleh membawa sesuatu yang baru. Tetapi di bawahnya tetap ada cerita lama yang ingin dirawat.
Malam semakin larut di Praja Mandala Singa Ambara Raja. Musik dari panggung kecil masih terdengar. Anak-anak muda belum sepenuhnya beranjak. Ada yang masih berbincang, ada yang menikmati pertunjukan, ada pula yang sekadar duduk dan memandang suasana.
Wahyu beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan kawasan itu yang masih memikirkan hal-hal yang telah kami obrolkan barusan.
Bulfest 2026 dan Upaya Menguripkan Kembali Rasa Buleleng
“Bulfest ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus promosi potensi lokal Buleleng,” ucap Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra saat jumpa pers Bulfest 2026, Jumat 14 Agustus 2026, tak jauh dari kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Soenda Ketjil.
Ketika Singaraja menjadi salah satu pusat perdagangan dan pemerintahan di Bali. Jejaknya masih bisa ditemui di kawasan kota lama, bangunan bersejarah, dan tradisi yang tetap hidup di tengah masyarakat Bali Utara. Tahun ini, jejak itu coba dihidupkan kembali lewat tema besar Uriping Rasa yatu menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng.
Sutjidra pun menegaskan napas festival tahun ini ditujukan untuk merawat memori kolektif warganya.
“Kita harus mengingat perjalanan panjang Buleleng, termasuk warisan masa lalu,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa warisan itulah yang akan diadopsi ke dalam seluruh rangkaian Bulfest.

Kemudian warisan tempo dulu Singaraja dikemas dengan tema Uriping Rasa berarti menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng. Menggunakan konsep immersive experience, pengunjung tidak hanya diajak bernostalgia menonton layar tancap 35 milimeter, tapi masuk ke suasana Buleleng tempo dulu lewat seni, kuliner, sejarah, dan aktivitas warga sehari-hari.
Perjalanan Pendek Menyusuri Tiga Wajah Buleleng
Untuk yang baru pertama datang Bulfest 2026, pengunjung mulai beranjak dari Zona
A. Dari kawasan Tugu Singa Ambara Raja, langkah akan membawa pengunjung menuju Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha, Gedung Galei SAR, hingga halaman parkir BKAD/Bapenda. Di sinilah suasana Buleleng tempo dulu paling terasa.
Pasar Tempo Dulu,layar tancap seluloid, photo corner, dagang patokan, dan permainan rakyat tradisional akan mengisi kawasan ini. Kuliner khas Bali Utara dan produk UMKM juga dapat ditemui di sejumlah titik. Kalau ingin mengenal Buleleng dari cerita masa lalunya, kawasan ini menjadi tempat yang tepat untuk memulai.
Dari Zona A, perjalanan kemudian bisa diteruskan menuju Zona B. Suasananya mulai berubah. Kawasan Kantor DPRD, Jalan Veteran, hingga taman hijau Rumah Jabatan Bupati Buleleng akan menjadi ruang yang lebih dekat dengan kreativitas hari ini. Musik band dan DJ, creative market, mural dan graffiti, community showcase, creative workshop, permainan interaktif, serta Buleleng Digital Expo akan mengambil tempat di sini.
Jika Zona A mengajak pengunjung menengok apa yang pernah hidup di Buleleng, Zona B memperlihatkan apa yang sedang dikerjakan masyarakatnya hari ini.
Perjalanan belum selesai. Bergerak ke arah Zona C, suasananya kembali bergeser. Kawasan Patung Catus Pata, Sasana Budaya, dan Jalan Veteran Timur menjadi ruang bagi kesenian dan kebudayaan Buleleng.
Pertunjukan seni tradisi, parade komunitas budaya, demonstrasi kesenian khas Buleleng, lokakarya seni tradisional, UMKM, dan galeri seni Buleleng akan hadir di kawasan ini. Di sini pengunjung dapat berhenti lebih lama untuk melihat bagaimana kesenian yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mendapat ruang di tengah kota.
“Pengunjung kami ajak menikmati festival dari satu kawasan ke kawasan lainnya, sehingga bisa merasakan langsung cerita dan suasana Buleleng,” kata Nyoman Sutjidra.
Kehadiran 105 UMKM dan lebih dari 60 grup pengisi acara, mulai dari sanggar kesenian tradisional hingga grup musik modern, membuat suasana tempo dulu itu terasa semakin hidup. Bagi mereka yang pernah melewati masa tersebut, Bulfest bisa nostalgia menjadi perjalanan kecil untuk mengingat kembali rasa, bunyi, dan suasana yang pernah akrab. Sementara bagi mereka yang lahir jauh setelahnya, festival ini menjadi kesempatan untuk menikmati seperti apa rasanya berada di Buleleng pada masa yang mungkin hanya mereka dengar dari cerita orang tua.
Seluruh rangkaian Bulfest dirancang untuk menarik wisatawan dan pengunjung. Bulfest boleh molek di mata, tetapi yang lebih penting, mampukah ia menguripkan rasa di hati mereka? [T]
Penulis: Puja Savitri
Editor: Adnyana Ole





















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)









