7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 28, 2026
in Panggung
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

Anak-anak sedang menarikan Tari Bebek Putih Jambul | Foto: Istimewa

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya. Gerakan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sana mereka mulai mengenal bahwa Indonesia memiliki banyak bentuk tari, musik, busana, dan ekspresi budaya.

Tari dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan keberagaman budaya sekaligus menanamkan karakter kepada anak sejak usia dini. Gagasan inilah yang dikembangkan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali melalui Program Inovasi Seni Nusantara bertajuk “Implementasi Model Tari Nusantara Inovatif bagi Anak Usia Dini: Strategi Penguatan Karakter dan Budaya Nasional pada Era Digital.”

Program yang didanai Diktisaintek 2026 ini dilaksanakan di Sanggar Tari Bali Nanta Kemara, Batubulan, Sukawati, Gianyar, dengan Prof. Dr. Ni Made Ruastiti, SST., M.Si. sebagai ketua tim bersama Dr. Arya Pageh Wibawa, S.T., M.Ds., Dr. I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn., dan Dr. Gede Yoga Kharisma Pradana, S.Sos., M.Si. Sanggar yang berdiri sejak 14 Januari 1988 itu dipimpin I Made Openanta, S.Sn., M.Pd.

Prof. Ruastiti menyerahkan metode pembelajaran program penelitian dan pengabdian kepada I Made Openanta | Foto: Istimewa

Selama ini, pembelajaran di sanggar lebih banyak berfokus pada tari Bali. Sementara itu, pengenalan tari dari berbagai daerah Nusantara belum pernah dilakukan. Keterbatasan modul, kostum, musik pengiring, dokumentasi, dan media pembelajaran digital menjadi tantangan dalam memperluas materi pembelajaran.

Kebutuhan tersebut kemudian melahirkan Gerak Ceria Nusantara. “Kami melakukan solusi dengan menerapkan pengembangan dan implementasi model Tari Nusantara inovatif ramah anak berjudul ‘Gerak Ceria Nusantara’, pelatihan dan pendampingan bagi anak serta pelatih sanggar, penyusunan modul pembelajaran, produksi musik iringan tari, penyediaan kostum tari, penguatan dokumentasi dan promosi digital, serta melakukan uji coba (pertunjukan mini),” kata Prof. Ruastiti, Senin, 17 Agustus 2026.

Melalui Gerak Ceria Nusantara, tim mengadaptasi unsur tari dari sejumlah daerah menjadi rangkaian gerak yang sederhana, aman, komunikatif, dan sesuai dengan perkembangan motorik serta kognitif anak. Materi yang dikembangkan mencakup Tari Bebek Putih Jambul dari Bali, Tari Rantak dari Sumatera Barat, Tari Jaipong dari Jawa Barat, Tari Giring-Giring dari Kalimantan, serta materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua.

Penyederhanaan gerak dilakukan agar tari lebih mudah dipelajari oleh anak-anak. Identitas budaya dan nilai yang terkandung dalam setiap tari tetap dipertahankan, kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan dunia bermain anak. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya belajar menirukan gerakan, tetapi juga mengenal keberagaman budaya Nusantara melalui gerak, irama, ekspresi, kostum, dan pola lantai.

Prof. Ruastiti sedang melatih anak-anak menarikan Tari Nusantara | Foto: Istimewa

Rangkaian pertunjukan disusun dalam lima bagian dengan durasi relatif singkat agar sesuai dengan kemampuan dan daya konsentrasi anak. Setiap bagian menghadirkan karakter daerah yang berbeda-beda sebelum seluruh penari bertemu dalam satu formasi pada bagian penutup. Pertemuan tersebut menjadi gambaran sederhana tentang kebinekaan, yakni berbagai budaya Indonesia hadir secara bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Bagian pertama membawa anak-anak kembali ke Bali. Sembilan anak perempuan membawakan gerak tari ceria yang menggambarkan Bebek Putih Jambul. Gerakan tangan dilakukan menyerupai kepakan sayap, disertai gerak kaki, perubahan arah, serta pola lantai berbentuk V. Karakter bebek hadir secara imitatif dan dekat dengan pengalaman anak.

Dari gerak yang ringan tersebut, suasana berubah menjadi lebih dinamis ketika Tari Rantak dimainkan. Tari Rantak menghadirkan perubahan formasi, diagonal, dan barisan. Anak belajar mengatur arah, jarak, posisi, sekaligus koordinasi kelompok. Sementara Tari Jaipong memberikan ruang lebih besar bagi kelincahan dan ekspresi melalui ragam gerak yang telah disederhanakan.

Pengalaman bergerak kemudian bertambah dengan penggunaan properti. Pada bagian Tari Giring-Giring, penggunaan properti berupa tongkat kecil menambah pengalaman kinestetik anak. Gerakan mengangkat dan menurunkan properti, berputar, berjalan berjinjit, serta membentuk lingkaran dilakukan dengan memperhatikan keamanan dan kemampuan peserta.

Anak-anak sedang menarikan Tari Bebek Putih Jambul | Foto: Istimewa

Bagian terakhir menghadirkan materi Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua. Penari perempuan dan laki-laki bergerak dalam formasi yang saling bergantian, memperlihatkan dinamika ruang dan kebersamaan. Selanjutnya, seluruh penari dari lima bagian hadir bersama. Masing-masing mempertahankan identitas budaya daerahnya, tetapi berada dalam satu komposisi.

Pertemuan seluruh penari menjadi bagian yang penting dalam pertunjukan. Kebinekaan tidak hanya dijelaskan kepada anak melalui kata-kata, tetapi dialami langsung melalui proses menari bersama. Anak belajar bahwa perbedaan gerak, musik, busana, dan ekspresi dapat hadir dalam satu kesatuan.

Pengalaman itu juga terlihat dari perubahan yang dirasakan selama proses pembelajaran. “Melalui kegiatan ini telah meningkatkan variasi materi pembelajaran, keterampilan pelatih, keberanian anak untuk tampil, kedisiplinan, kerja sama, rasa percaya diri, serta pengenalan anak terhadap keragaman budaya Indonesia,” papar Prof. Ruastiti senang.

Untuk mendukung proses tersebut, program juga mengembangkan musik pengiring, kostum, modul pembelajaran, video tutorial, serta dokumentasi audiovisual. Musik dirancang dengan tempo dan struktur yang disesuaikan dengan kemampuan anak, sekaligus menjadi penuntun ritme, dinamika, dan perubahan gerak selama pertunjukan.

Pengembangan program tidak dilakukan hanya oleh tim dari kampus. Prof. Ruastiti menyebutkan, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif. Sanggar tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan, tetapi juga dilibatkan sejak identifikasi kebutuhan, penciptaan karya, latihan, uji coba, evaluasi, hingga pemanfaatan hasil. Tim ISI Bali juga melibatkan mahasiswa dalam pendampingan koreografi, musik, dokumentasi, pengelolaan kelas, serta interaksi dengan peserta dan orang tua.

Anak-anak sedang menarikan Tari Rantak | Foto: Istimewa

Dalam pelaksanaannya, sejumlah tantangan tetap muncul. Tantangan terutama berkaitan dengan penyesuaian jadwal latihan anak dan orang tua, perbedaan kemampuan motorik dan konsentrasi peserta, serta proses menyederhanakan gerak tanpa menghilangkan identitas budaya. Kendala tersebut diatasi melalui pembagian kelompok, pengulangan materi, pendampingan intensif, jadwal latihan fleksibel, dan evaluasi berkala.

Proses yang telah berjalan itu kemudian diarahkan agar tidak berhenti setelah program selesai. “Ke depan, Gerak Ceria Nusantara kami arahkan menjadi bagian dari latihan rutin Sanggar Nanta Kemara. Tim juga akan mendorong pembentukan kader pelatih, pengelolaan modul dan media digital, pengajuan HKI, serta pengembangan pertunjukan atau festival mini sebagai agenda berkelanjutan,” imbuhnya.

Keberlanjutan tersebut penting agar pengalaman yang diperoleh anak dan pelatih tidak hanya menjadi bagian dari sebuah program. Prof. Ruastiti berharap model ini dapat diterapkan di PAUD, sekolah, dan sanggar seni lainnya. Dengan memadukan tradisi, pendidikan karakter, kreativitas, dan teknologi digital, tari tidak hanya menjadi kegiatan pentas, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk mengenal Indonesia sejak dini.

Pengalaman baru itu juga dirasakan oleh sanggar. Ketua Sanggar Nanta Kemara, I Made Openanta, mengatakan anak-anak yang sebelumnya lebih banyak mempelajari tari Bali kini memperoleh pengalaman baru dan bahkan mampu membawakan materi tari dari berbagai wilayah Indonesia. “Ini akan menjadi pengalaman baru baru anak-anak,” ungkapnya.

Di ruang latihan, perbedaan itu hadir melalui gerak yang mereka pelajari. Anak-anak mengenal Bali, Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalimantan, dan Papua melalui tubuh mereka sendiri. Mereka belajar mengikuti irama, mengingat gerakan, menjaga formasi, dan menyesuaikan diri dengan teman-temannya.

Dari pengalaman tersebut, keberagaman menjadi sesuatu yang dapat mereka lihat, dengar, dan rasakan secara langsung. Lima materi tari dengan karakter berbeda dapat dimainkan bersama tanpa harus meleburkan ciri masing-masing.

Gerak Ceria Nusantara pun menjadi pengalaman sederhana bagi anak-anak untuk mengenal Indonesia melalui tubuh dan gerak. Mereka menari bersama, belajar mengenali perbedaan, dan tumbuh dalam satu ruang yang memberi kesempatan bagi setiap budaya untuk hadir.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia (ISI) BaliISI BaliProgram Inovasi Seni Nusantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

Next Post

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails
Next Post
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co