PERNAHKAH Anda berhenti sejenak di depan papan nama sebuah lembaga pendidikan atau kursus dan memperhatikan semboyan mereka: “Membaca, Menulis, dan Berhitung”? Sekilas, bagi kita mungkin kata-kata itu tidak sejajar, susunan itu mungkin terasa sedikit mengganjal. Mengapa tidak “Membaca, Menulis, dan Menghitung” saja agar secara imbuhan terdengar dan kelihatan lebih seragam? Bukankah kesejajaran bentuk adalah kunci utama agar sebuah semboyan terasa ritmis?
Mari kita bedah kegelisahan ini, untuk melihat apakah ada makna tersembunyi di balik susunan kata yang sekilas terasa mengganjal tersebut.
Jika kita menelusuri ranah semantik (makna), perbedaan antara “berhitung” dan “menghitung” sebenarnya bukan sekadar masalah imbuhan, melainkan masalah kedalaman makna. “Menghitung” adalah sebuah tindakan teknis yang mekanis. Ia adalah aktivitas spesifik—seperti menjumlahkan lembaran uang di dompet atau mengalkulasi hasil perkalian di atas kertas. Jika lembaga pendidikan memilih kata “menghitung”, fokusnya seolah hanya pada pengerjaan tugas yang kering. Sebaliknya, “berhitung” adalah soal kompetensi. Ketika seseorang “bisa berhitung”, ia sedang menunjukkan kecakapan numerasi, sebuah logika berpikir yang utuh. Ia adalah sebuah skill atau kecakapan hidup yang melekat pada diri, setara dengan membaca dan menulis.
Dalam penulisan semboyan, kita memang mengenal prinsip paralelisme. Argumen bahwa “menulis” dan “menghitung” terasa lebih sejajar secara morfologis memang masuk akal. Namun, di sini ada logika yang lebih kuat: keselarasan domain. “Membaca” dan “Menulis” adalah kecakapan literasi, sementara “Berhitung” adalah kecakapan numerasi. Jika kita memaksakan kata “menghitung”, kita justru mencampuradukkan dua wilayah; kecakapan (literasi) dengan aktivitas teknis (tindakan menghitung). Awalan ber- di sini bekerja secara pragmatis, memberikan napas kepemilikan akan sebuah kemampuan, seperti halnya kita menyebut seseorang “berenang” atau “bersepeda”. Ia menegaskan bahwa numerasi adalah disiplin ilmu, bukan sekadar aktivitas yang dikerjakan lalu selesai.
Di sisi lain, ada faktor sosiolinguistik yang tak bisa kita abaikan. Istilah “Calistung” memang sudah mendarah daging di masyarakat, namun bagi sebuah lembaga yang ingin tampil berwibawa, mereka tentu memerlukan derivasi kata yang lebih akademis. Mereka tidak memilih “Baca, Tulis, dan Hitung”. Kata “hitung” yang menjadi dasar akronim tersebut sering kali terasa terlalu sederhana, bahkan terkesan seperti perintah kasar. Dengan memilih “berhitung”, lembaga belajar berhasil memberikan kesan yang lebih formal, elegan, dan institusional.
Pada akhirnya, pemilihan diksi ini bukanlah perkara sepele. Penggunaan “berhitung” adalah keputusan strategis untuk menggeser fokus dari aktivitas mekanis menuju penguasaan kompetensi. Secara linguistik, ia menawarkan keindahan yang melampaui ritme; ia memberikan bobot makna yang mencerminkan visi pendidikan yang holistik.
Jika nanti Anda melewati papan nama lembaga kursus itu lagi, cobalah perhatikan semboyannya sekali lagi. Mungkin setelah merenungkan ini, Anda akan setuju dengan saya: bahwa di balik susunan kata yang sekilas “tidak sejajar” itu, sebenarnya tersimpan niat mulia. Lembaga tersebut tidak sedang mencetak mesin penghitung angka, melainkan sedang berupaya membangun nalar di kawah candradimuka pendidikan, tempat manusia belajar memaknai angka dan dunia dengan cara yang jauh lebih bermartabat. Sebab pada akhirnya, membaca, menulis, dan berhitung adalah kecakapan dasar yang harus dimiliki setiap orang untuk mengarungi kehidupan. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole






























