“Kenapa nama anakmu keindia-indiaan banget? Agak aneh rasanya.” Pertanyaan dan pernyataan itu terlontar dari seorang teman yang penasaran saat mendengar nama ketiga putri saya. Baginya, nama-nama itu mengundang dahi berkerut. “Kenapa harus Prema, bukan Prima yang lebih umum? Lalu, kenapa anak cewek malah dinamai Priya?”
Pertanyaan bernada skeptis itu tidak membuat saya tersinggung, melainkan justru memantik senyum. Bagi kebanyakan orang, untaian nama tersebut mungkin terdengar asing atau tidak lazim. Namun, di balik kebingungan teman saya itu, ada sebuah rahasia kebahasaan yang panjang—sebuah kisah yang bermula dari perkenalan saya dengan kemegahan bahasa Sanskerta bertahun-tahun lalu.
Saat itulah, saya pertama kali bersua dengan kata prema yang di dalam kamus berdiri tegak dengan makna yang luhur: cinta universal yang tulus, murni, dan tanpa pamrih. Penemuan ini membawa saya menelusuri labirin etimologi Sanskerta untuk mencari kata-kata lain yang berkerabat dengannya, menyadari bahwa dalam bahasa kuno ini, cinta diwujudkan ke dalam berbagai dimensi yang kaya.
Kekaguman ini menanam sebuah impian emosional yang mendalam di dalam batin saya. Jauh sebelum bahtera rumah tangga terwujud, saya kerap merenung dan berjanji pada diri sendiri. Apabila suatu saat nanti Tuhan mengizinkan saya menikah dan mengaruniai saya buah hati, kata-kata yang memancarkan energi kasih sayang ini akan saya sematkan sebagai identitas abadi mereka. Bagi saya, nama bukan sekadar label sosiologis untuk membedakan satu individu dengan individu lain, melainkan sebuah teks pendek berisi doa yang terus berdengung setiap kali diucapkan.
Waktu berlalu, dan takdir menuntun saya pada kenyataan hidup yang indah. Doa itu mewujud nyata satu demi satu. Ketika putri pertama kami lahir ke dunia, tanpa ragu saya menamainya Prema. Kehadirannya adalah perwujudan dari cinta kasih murni yang abstrak, yang kini menjadi konkret. Sesuai dengan untaian takdir, Tuhan kembali mempercayakan putri kedua di tengah keluarga kami. Melanjutkan konsep kebahasaan yang telah lama saya simpan, ia kami beri nama Priya.
Di sinilah letak jawaban untuk teman saya yang sempat bingung mengapa anak perempuan dinamai Priya. Dalam bahasa Indonesia modern, pria memang identik dengan laki-laki (lawan kata dari wanita/perempuan). Namun, kata pria (laki-laki) dalam bahasa Indonesia sebenarnya diserap dari kata Sanskerta purusha atau vriya. Sementara itu, nama putri saya diambil dari kata Sanskerta yang berbeda, yaitu priya (dengan akar kata prī). Dalam struktur aslinya, priya merupakan subjek dari cinta—ia bermakna sang kekasih, yang tersayang, atau dia yang membawa kebahagiaan bagi siapa saja. Makna ini sepenuhnya bersifat universal dan netral gender, bahkan secara tata bahasa kuno justru sering digunakan sebagai kata sifat feminin.
Kebahagiaan kami kian lengkap saat putri ketiga lahir, yang kemudian saya lengkapi dengan nama Prita, yang berarti dia yang tersayang atau yang dipenuhi kegembiraan. Meski kini putri ketiga kami telah berpulang ke pangkuan Tuhan di usianya 2,5 tahun karena sakit bawaan, nama itu akan selalu abadi bersama kenangan kehangatannya.
Sekilas pandang, ketiga nama ini mungkin terdengar tidak biasa bagi lingkungan sekitar. Namun secara linguistik, mereka memiliki kohesi internal yang sangat kuat karena tumbuh dari satu akar kata yang sama, yaitu prī, yang berarti mencintai atau memuaskan. Ketiganya membentuk sebuah trilogi semantik yang utuh: prema adalah wujud rasanya, priya adalah sosok pelakunya, dan prita adalah status keberadaannya sebagai yang dicintai. Pengulangan bunyi awal atau aliterasi pada huruf /p/ juga memberikan efek estetika fonetis yang ritmis dan anggun saat nama-nama mereka dipanggil berurutan.
Keserasian identitas ini disempurnakan oleh nama belakang mereka, Puspadiana, yang merupakan gabungan puitis dari nama istri dan nama saya sendiri. Secara harfiah, kata ini memadukan kelembutan puspa (bunga) dan kedalaman diana (dari kata dhyāna yang berarti keheningan meditasi). Gabungan ini melahirkan sebuah arti yang menyentuh: tiga perwujudan cinta kasih yang tumbuh mekar bagaikan bunga di dalam keheningan batin yang teduh, lahir dari penyatuan cinta kedua orang tuanya. Melalui artikel ini, saya ingin menunjukkan bahwa nama yang dirancang dengan kesadaran mendalam akan melahirkan doa abadi yang menuntun mereka tumbuh penuh kasih sepanjang hayat. [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole






























