5 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
in Khas
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

Pembekalan pengembangan karier bagi calon wisudawan UPMI Bali 2026, (14/8)│Foto: Dok. UPMI Bali

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan. Hayo, siapa yang mau?”

Tantangan itu meluncur begitu saja dari Ida Bagus Agung Brahmadiguna, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Tolet, di hadapan ratusan calon wisudawan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Tentu tawaran semacam itu tidak biasa muncul dalam sebuah kegiatan pembekalan karier. Namun, bukan Gus Tolet namanya kalau tidak membawa ide spontan dan kreatif.

Jumat, 14 Agustus 2026, di Auditorium Redha Gunawan, UPMI Bali, suasana pembekalan pengembangan karier calon wisudawan UPMI Bali 2026 itu pun menjadi lebih cair. Di tengah pembicaraan tentang masa depan, pekerjaan, dan dunia pendidikan, Gus Tolet justru membuka kemungkinan-kemungkinan lain. Bagaimana kreativitas, pendidikan, media sosial, dan industri kreatif dapat berjalan beriringan.

Tidak ada peserta yang langsung menyambut tantangan tersebut. Entah karena belum yakin dengan tawaran itu atau masih ragu apakah Gus Tolet benar-benar serius. Ia kemudian kembali membuka kesempatan.

“Begini saja. Saya tunggu, kalau ada yang berminat, silakan DM saya.”

Dari kiri ke kanan, I Made Adnyana, Gung Trisna, Gus Tolet│Foto: Dok. UPMI Bali

Tawaran itu bukan sekadar gimmick. Di baliknya ada pengalaman panjang seorang Gus Tolet dalam membangun ruang kreatif. Ia merupakan founder Handmad Campah (clothing) sekaligus penggagas PICA Fest. Ia juga terlibat dalam berbagai gerakan dan komunitas, antara lain 2Tak Menolak Punah, Pop Plant Market, Good Karma Land, Good Vespa, Komunitas Reptile Bali, serta Agata (Anak Gaul Tabanan).

Perjalanan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita yang ia bagikan kepada calon wisudawan.

Gus Tolet mengisahkan masa lalunya yang tidak langsung berjalan mulus. Ia sempat mencoba beberapa pekerjaan sebelum akhirnya menemukan passion di dunia desain. Dari sana, ia mulai membangun brand sendiri dan membuka toko pakaian. Namun, kreativitasnya tidak berhenti pada urusan bisnis. Ia kemudian membentuk komunitas, menggagas berbagai acara, dan terlibat dalam kegiatan sosial.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan ketika ia berbicara tentang pilihan karier kepada calon wisudawan UPMI Bali. Menurutnya, persoalan terpenting setelah lulus bukan semata-mata memilih satu profesi dan meninggalkan kemungkinan lainnya. Yang lebih penting adalah berani memulai sesuatu dari hal yang disukai, kemudian membiarkannya berkembang ke berbagai kemungkinan. Termasuk bagi mereka yang memilih jalan sebagai guru.

Lima penanya beruntung mendapatkan hadiah dari Gus Tolet sebagai tanda apresiasi│Foto: Dok. UPMI Bali

Sebagian besar calon wisudawan UPMI Bali memang diproyeksikan melanjutkan karier di dunia pendidikan. Bagi Gus Tolet, hal itu justru menarik. Ia mengaku kagum melihat masih banyak anak muda yang memiliki minat dan semangat menjadi guru.

“Saya benar-benar tidak menyangka. Kalian akan melakukan hal yang penting, mendidik generasi berikutnya. Bagi saya, ini keren,” kata Gus Tolet.

Menjadi guru, dalam pandangannya, tidak berarti seseorang harus menutup pintu terhadap bidang lain. Ia melihat peluang berkembang justru terbuka ketika seseorang berani mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Media sosial, misalnya, telah membuat banyak guru memiliki ruang baru untuk berkarya. Tidak sedikit guru yang membuat konten dan membangun audiens dengan tetap membawa tema pendidikan.

Karena itu, Gus Tolet mendorong calon wisudawan agar tidak terlalu lama berhenti pada keraguan.

Rektor UPMI Bali (kiri) memberikan sertifikat kepada dua narasumber│Foto: Dok. UPMI Bali

“Kalau kalian punya ide dan mau mencoba, jangan terlalu banyak bertimbang. Ujung-ujungnya, nggak jadi melangkah. Jeg gas saja dulu, curhatnya belakangan. Bisa atau tidak bisa itu tentang kemampuan, kuat atau tidak kuat itu tentang mental,” tegasnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat pembekalan yang memang dirancang untuk membuka pandangan calon wisudawan terhadap dunia setelah kampus. Ketua panitia kegiatan yang juga Kepala Pusat Pengembangan Karier (PPK) dan Tracer Study UPMI Bali, Luh Putu Swandewi Antari, S.H., M.H., mengatakan kegiatan sengaja menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi.

Harapannya, calon wisudawan tidak hanya mengetahui peluang karier yang tersedia, tetapi juga semakin mantap melangkah meniti masa depan. Pengalaman praktisi seperti Gus Tolet dapat memberi gambaran bahwa perjalanan karier tidak selalu berlangsung lurus. Sementara perspektif akademisi memberikan bekal yang lebih dekat dengan bidang pendidikan yang akan mereka lakoni.

Pembekalan pengembangan karier bagi calon wisudawan UPMI Bali 2026, (14/8)│Foto: Dok. UPMI Bali

Perspektif itu salah satunya datang dari Dr. I Gusti Agung Ngurah Trisna Jayantika, S.Pd., M.Pd., dosen UPMI Bali sekaligus Koordinator Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UPMI Bali. Gung Trisna memaparkan peluang pengembangan karier bagi calon wisudawan, khususnya mereka yang ingin menekuni profesi sebagai tenaga pendidik.

Salah satu jalannya adalah mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membuka kesempatan kerja sebagai guru profesional.

“Kalau ada yang bertanya setelah wisuda nanti mau jadi apa? Kalian bisa memilih menjadi guru atau memilih berkarier di bidang lain. Tapi kalau bisa dipilih dan dijalankan keduanya, kenapa tidak?” ujar Gung Trisna.

Dua perspektif itu bertemu pada satu gagasan─kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal untuk menentukan arah. Gelar sarjana memang membuka pintu, tetapi langkah berikutnya tetap ditentukan oleh keberanian untuk mencoba, kemampuan untuk berkembang, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Pembekalan pengembangan karier bagi calon wisudawan UPMI Bali 2026, (14/8)│Foto: Dok. UPMI Bali

Pembekalan yang dimoderatori I Made Adnyana, dosen UPMI Bali sekaligus podcaster di kanal YouTube Oke Made, berlangsung dalam suasana yang cair dan hangat. Kehadiran Gus Tolet membuat pembicaraan karier terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari anak muda, sementara pemaparan Gung Trisna menguatkan pilihan mereka yang hendak melanjutkan jalan di dunia pendidikan.

Pada akhirnya, tantangan Rp1,5 juta per bulan dari Gus Tolet mungkin saja hanya akan berhenti sebagai sebuah kesempatan yang ditawarkan dari atas panggung. Namun, bagi calon wisudawan yang hadir, pesan yang dibawanya jauh lebih besar daripada tawaran membuat konten.

Ada keberanian untuk mencoba. Ada kemungkinan untuk menggabungkan profesi dengan kreativitas. Dan, ada satu pengingat sederhana bahwa masa depan tidak selalu harus dipilih dari dua jalan yang saling berlawanan. Terkadang, seperti kata Gung Trisna, keduanya justru bisa dijalankan beriringan. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanUniversitas PGRI Mahadewa IndonesiaUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Trilogi Cinta Puspadiana: Refleksi Kebahasaan tentang Nama dan Harapan

Next Post

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails
Next Post
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Mengejar Embun Upas ------Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co