“Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan. Hayo, siapa yang mau?”
Tantangan itu meluncur begitu saja dari Ida Bagus Agung Brahmadiguna, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Tolet, di hadapan ratusan calon wisudawan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali). Tentu tawaran semacam itu tidak biasa muncul dalam sebuah kegiatan pembekalan karier. Namun, bukan Gus Tolet namanya kalau tidak membawa ide spontan dan kreatif.
Jumat, 14 Agustus 2026, di Auditorium Redha Gunawan, UPMI Bali, suasana pembekalan pengembangan karier calon wisudawan UPMI Bali 2026 itu pun menjadi lebih cair. Di tengah pembicaraan tentang masa depan, pekerjaan, dan dunia pendidikan, Gus Tolet justru membuka kemungkinan-kemungkinan lain. Bagaimana kreativitas, pendidikan, media sosial, dan industri kreatif dapat berjalan beriringan.
Tidak ada peserta yang langsung menyambut tantangan tersebut. Entah karena belum yakin dengan tawaran itu atau masih ragu apakah Gus Tolet benar-benar serius. Ia kemudian kembali membuka kesempatan.
“Begini saja. Saya tunggu, kalau ada yang berminat, silakan DM saya.”

Tawaran itu bukan sekadar gimmick. Di baliknya ada pengalaman panjang seorang Gus Tolet dalam membangun ruang kreatif. Ia merupakan founder Handmad Campah (clothing) sekaligus penggagas PICA Fest. Ia juga terlibat dalam berbagai gerakan dan komunitas, antara lain 2Tak Menolak Punah, Pop Plant Market, Good Karma Land, Good Vespa, Komunitas Reptile Bali, serta Agata (Anak Gaul Tabanan).
Perjalanan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari cerita yang ia bagikan kepada calon wisudawan.
Gus Tolet mengisahkan masa lalunya yang tidak langsung berjalan mulus. Ia sempat mencoba beberapa pekerjaan sebelum akhirnya menemukan passion di dunia desain. Dari sana, ia mulai membangun brand sendiri dan membuka toko pakaian. Namun, kreativitasnya tidak berhenti pada urusan bisnis. Ia kemudian membentuk komunitas, menggagas berbagai acara, dan terlibat dalam kegiatan sosial.
Pengalaman tersebut menjadi pijakan ketika ia berbicara tentang pilihan karier kepada calon wisudawan UPMI Bali. Menurutnya, persoalan terpenting setelah lulus bukan semata-mata memilih satu profesi dan meninggalkan kemungkinan lainnya. Yang lebih penting adalah berani memulai sesuatu dari hal yang disukai, kemudian membiarkannya berkembang ke berbagai kemungkinan. Termasuk bagi mereka yang memilih jalan sebagai guru.

Sebagian besar calon wisudawan UPMI Bali memang diproyeksikan melanjutkan karier di dunia pendidikan. Bagi Gus Tolet, hal itu justru menarik. Ia mengaku kagum melihat masih banyak anak muda yang memiliki minat dan semangat menjadi guru.
“Saya benar-benar tidak menyangka. Kalian akan melakukan hal yang penting, mendidik generasi berikutnya. Bagi saya, ini keren,” kata Gus Tolet.
Menjadi guru, dalam pandangannya, tidak berarti seseorang harus menutup pintu terhadap bidang lain. Ia melihat peluang berkembang justru terbuka ketika seseorang berani mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Media sosial, misalnya, telah membuat banyak guru memiliki ruang baru untuk berkarya. Tidak sedikit guru yang membuat konten dan membangun audiens dengan tetap membawa tema pendidikan.
Karena itu, Gus Tolet mendorong calon wisudawan agar tidak terlalu lama berhenti pada keraguan.

“Kalau kalian punya ide dan mau mencoba, jangan terlalu banyak bertimbang. Ujung-ujungnya, nggak jadi melangkah. Jeg gas saja dulu, curhatnya belakangan. Bisa atau tidak bisa itu tentang kemampuan, kuat atau tidak kuat itu tentang mental,” tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat pembekalan yang memang dirancang untuk membuka pandangan calon wisudawan terhadap dunia setelah kampus. Ketua panitia kegiatan yang juga Kepala Pusat Pengembangan Karier (PPK) dan Tracer Study UPMI Bali, Luh Putu Swandewi Antari, S.H., M.H., mengatakan kegiatan sengaja menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi.
Harapannya, calon wisudawan tidak hanya mengetahui peluang karier yang tersedia, tetapi juga semakin mantap melangkah meniti masa depan. Pengalaman praktisi seperti Gus Tolet dapat memberi gambaran bahwa perjalanan karier tidak selalu berlangsung lurus. Sementara perspektif akademisi memberikan bekal yang lebih dekat dengan bidang pendidikan yang akan mereka lakoni.

Perspektif itu salah satunya datang dari Dr. I Gusti Agung Ngurah Trisna Jayantika, S.Pd., M.Pd., dosen UPMI Bali sekaligus Koordinator Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) UPMI Bali. Gung Trisna memaparkan peluang pengembangan karier bagi calon wisudawan, khususnya mereka yang ingin menekuni profesi sebagai tenaga pendidik.
Salah satu jalannya adalah mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) untuk meningkatkan kompetensi sekaligus membuka kesempatan kerja sebagai guru profesional.
“Kalau ada yang bertanya setelah wisuda nanti mau jadi apa? Kalian bisa memilih menjadi guru atau memilih berkarier di bidang lain. Tapi kalau bisa dipilih dan dijalankan keduanya, kenapa tidak?” ujar Gung Trisna.
Dua perspektif itu bertemu pada satu gagasan─kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal untuk menentukan arah. Gelar sarjana memang membuka pintu, tetapi langkah berikutnya tetap ditentukan oleh keberanian untuk mencoba, kemampuan untuk berkembang, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Pembekalan yang dimoderatori I Made Adnyana, dosen UPMI Bali sekaligus podcaster di kanal YouTube Oke Made, berlangsung dalam suasana yang cair dan hangat. Kehadiran Gus Tolet membuat pembicaraan karier terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari anak muda, sementara pemaparan Gung Trisna menguatkan pilihan mereka yang hendak melanjutkan jalan di dunia pendidikan.
Pada akhirnya, tantangan Rp1,5 juta per bulan dari Gus Tolet mungkin saja hanya akan berhenti sebagai sebuah kesempatan yang ditawarkan dari atas panggung. Namun, bagi calon wisudawan yang hadir, pesan yang dibawanya jauh lebih besar daripada tawaran membuat konten.
Ada keberanian untuk mencoba. Ada kemungkinan untuk menggabungkan profesi dengan kreativitas. Dan, ada satu pengingat sederhana bahwa masa depan tidak selalu harus dipilih dari dua jalan yang saling berlawanan. Terkadang, seperti kata Gung Trisna, keduanya justru bisa dijalankan beriringan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































