23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Emi Suy by Emi Suy
September 10, 2026
in Khas
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu apa yang akan terjadi. Di hadapan saya ada dua puluh satu siswa. Dua puluh satu wajah, dua puluh satu pasang mata, dan tentu saja dua puluh satu kehidupan yang tidak mungkin saya ketahui seluruh ceritanya.

Hari itu saya berada di SMA Negeri 84 Jakarta dalam program Sastra Masuk Sekolah yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Setelah pembukaan oleh Kepala SMA Negeri 84 Jakarta dan perwakilan Simpul Seni, Mas Imam Ma’arif, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan buku kepada pihak sekolah. Para siswa kemudian dibagi ke dalam dua kelas: kelas cerpen bersama Mas Minanto dan kelas puisi bersama saya. Saya datang membawa materi, slide, dan sebuah pertanyaan sederhana: mengapa kita perlu mempelajari puisi? Saya pikir hari itu saya akan mengajarkan jawabannya kepada mereka. Ternyata, saya justru mendapatkan jawaban yang jauh lebih dalam dari apa yang ada di dalam materi.

Bagi saya, puisi bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan. Puisi bukan hanya milik penyair, bukan pula sekadar permainan kata-kata indah yang harus dipahami dengan istilah-istilah sastra. Puisi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia hadir ketika kita melihat hujan dan tiba-tiba teringat seseorang. Ia muncul ketika kita duduk di kursi kosong yang pernah ditempati orang yang kita cintai. Ia bisa tumbuh dari suara ibu di dapur, dari perjalanan pulang sekolah, dari kehilangan, dari kemarahan, dari kegembiraan, bahkan dari sesuatu yang tidak mampu kita jelaskan dengan kalimat biasa.

Karena itu, mempelajari puisi sesungguhnya adalah belajar menjadi lebih peka. Kita belajar melihat sesuatu yang sering dilewatkan orang lain. Kita belajar mendengarkan sesuatu yang tidak diucapkan. Kita belajar memahami bahwa di balik sebuah peristiwa selalu ada perasaan, dan di balik sebuah perasaan selalu ada pengalaman manusia. Puisi mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Ia mengajak kita berhenti sejenak, memperhatikan, merasakan, kemudian memberi makna. Lebih dari itu, puisi memberi kita bahasa ketika perasaan terlalu rumit untuk dijelaskan. Ada kesedihan yang sulit diceritakan. Ada kehilangan yang membuat seseorang kehilangan kata-kata. Ada kekecewaan yang terlalu panjang untuk dijelaskan dalam percakapan biasa. Dalam keadaan seperti itu, puisi bisa menjadi ruang untuk mengatakan sesuatu tanpa harus menjelaskannya secara langsung.

Di sanalah perasaan dan pikiran bertemu. Perasaan tidak hanya menangis, tetapi berpikir. Pikiran tidak hanya menganalisis, tetapi juga merasakan. Saya menyebutnya sebagai perasaan yang berpikir dan pikiran yang berperasaan.

Hari itu saya menjelaskan semua itu kepada siswa-siswa di hadapan saya. Saya bertanya apakah ada yang ingin menyampaikan pertanyaan. Tidak ada tangan yang terangkat. Saya memberi mereka waktu. Tetap tidak ada. Barangkali mereka belum menemukan pertanyaan. Barangkali mereka masih malu. Atau mungkin, saya mulai berpikir, ada hal-hal yang memang tidak mudah ditanyakan secara lisan.

Akhirnya saya meminta mereka menulis puisi. Saya sengaja tidak memberikan tema tertentu. Saya tidak ingin sejak awal pikiran mereka dipagari oleh sebuah tema. Saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh menulis apa saja: tentang hujan, keluarga, persahabatan, sekolah, kehilangan, kemarahan, cinta, atau apa pun yang sedang ada di kepala dan hati mereka. Saya tidak ingin ada pagar yang bernama tema. Yang saya minta hanya satu: kejujuran. Tulislah apa yang kalian rasakan. Tulislah bagaimana kalian memandang sebuah peristiwa. Tidak perlu memikirkan apakah pengalaman itu terlalu sederhana. Tidak perlu takut apakah kata-katanya sudah indah. Mulailah dari sesuatu yang benar-benar kalian rasakan.

Mereka mulai menulis. Suasana kelas perlahan berubah. Percakapan yang sebelumnya terdengar mulai menghilang. Kepala-kepala menunduk. Tangan bergerak di atas kertas. Ada yang berhenti lama, seperti sedang mencari sebuah kata. Ada yang menulis cepat. Ada yang berkali-kali membaca kembali tulisannya. Saya membiarkan keheningan itu. Sebab menulis membutuhkan ruang. Dan terkadang, untuk menulis sesuatu yang jujur, seseorang membutuhkan keberanian yang tidak sedikit.

Saat itu saya mengira mereka sedang mencari kata untuk sebuah puisi. Belakangan saya baru memahami: sebagian dari mereka sedang mencari keberanian untuk mengatakan sesuatu. Saya mengira mereka sedang menulis puisi. Ternyata, mereka sedang membuka pintu.

Setelah selesai menulis, saya meminta mereka membaca puisinya satu per satu. Seorang siswa maju. Ia mulai membaca dengan suara yang tenang. Namun, beberapa saat kemudian suaranya berubah. Ia berhenti. Air matanya jatuh. Saya tidak langsung bertanya tentang puisinya. Saya mendekat. Ia kemudian bercerita sambil menangis.

Kertas yang berada di tangannya bukan lagi sekadar kertas berisi kata-kata. Di dalamnya ada sesuatu dari dirinya. Ada cerita yang mungkin selama ini disimpan terlalu lama. Saya memeluknya, mengusap dan menepuk bahunya. Saya tahu saya tidak mungkin menyelesaikan persoalan yang sedang ia hadapi. Saya bukan orang yang dapat mengubah keadaan hidupnya dalam sekejap. Tetapi pada saat itu saya bisa melakukan sesuatu yang sederhana: hadir dan mendengarkan.

Barangkali pada saat-saat tertentu, manusia tidak membutuhkan nasihat sebanyak ia membutuhkan seseorang yang bersedia mengatakan melalui kehadirannya: kamu tidak sendirian. Saya mengatakan kepadanya bahwa tidak apa-apa menangis. Tidak apa-apa merasa sedih. Tidak apa-apa mengakui bahwa kita sedang lelah. Kita tidak harus selalu terlihat kuat. Tetapi setelah menangis, kita juga harus kembali berjalan.

Ia masih seorang pelajar. Ia masih harus menyelesaikan sekolahnya. Masih ada jenjang berikutnya yang harus ditempuh. Masih ada kehidupan yang menunggunya.Setelah itu, siswa-siswa lain mulai membaca. Yang membuat saya semakin terdiam adalah beberapa dari mereka ternyata menulis tentang kehilangan. Tidak hanya satu. Beberapa siswa, tanpa berkoordinasi satu sama lain, memilih tema yang hampir sama.

Kehilangan

Saat itu saya mulai melihat mereka dengan cara yang berbeda. Di balik seragam sekolah, tas yang mereka bawa, tawa yang terdengar di antara pergantian pelajaran, dan wajah-wajah yang tampak biasa saja, ternyata ada kehidupan yang tidak sederhana. Ada anak yang sedang berusaha berdamai dengan kehilangan. Ada yang memikul persoalan keluarga. Ada yang merasa harus kuat karena dirinya adalah anak pertama. Ada yang merasa memiliki tanggung jawab terhadap orang tua dan adik-adiknya. Ada yang mengatakan bahwa ada beban berat di pundaknya.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak hal yang sebenarnya tidak kita ketahui tentang anak-anak yang setiap hari kita temui? Sering kali kita melihat mereka hanya sebagai siswa. Kita melihat nilai, kehadiran, tugas, seragam, dan kedisiplinan mereka. Padahal mereka juga manusia yang sedang tumbuh sambil membawa berbagai macam perasaan. Mereka mungkin sedang belajar matematika, sejarah, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga sedang belajar bagaimana menghadapi kehilangan, bagaimana memahami dirinya sendiri, bagaimana menerima keadaan, dan bagaimana tetap berjalan ketika hidup tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.

Luka tidak mengenal usia

Anak-anak pun bisa terluka. Mereka bisa kecewa. Mereka bisa kehilangan. Mereka bisa merasa sendirian. Mereka bisa merasa tidak dipahami. Dan sering kali mereka tidak tahu kepada siapa semua itu harus diceritakan. Hari itu, puisi menjadi salah satu jalan.Saya tidak pernah membayangkan bahwa kelas puisi akan berubah menjadi ruang pelepasan emosi. Saya datang untuk mengajarkan puisi, tetapi kelas itu justru memperlihatkan kepada saya bahwa sastra bisa menjadi ruang tempat seseorang merasa aman untuk mengatakan sesuatu.

Tentu saya tidak ingin menyederhanakan bahwa puisi dapat menyembuhkan semua luka. Luka manusia tidak sesederhana itu. Puisi tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Tetapi puisi dapat memberi ruang bagi luka untuk berbicara. Dan terkadang, bisa mengatakan apa yang selama ini dipendam sudah merupakan sesuatu yang berarti. Ada hal-hal yang sulit kita katakan kepada orang lain, tetapi bisa kita tuliskan. Ada percakapan yang tidak sanggup kita lakukan secara langsung, tetapi bisa kita lakukan melalui selembar kertas. Bahkan ketika seseorang tidak tahu kepada siapa harus berbicara, ia masih bisa menulis sebagai bentuk dialog dengan dirinya sendiri, dengan kehidupan, bahkan dengan Tuhan.

Maka kelas puisi bukan hanya tempat mengajarkan bagaimana menyusun larik, memilih diksi, membangun imaji, atau memahami majas. Kelas puisi bisa menjadi tempat seseorang menemukan keberanian untuk berkata jujur. Sekolah sering kali mengajarkan kita untuk mencari jawaban. Puisi memberi ruang untuk mengajukan pertanyaan: tentang hidup, tentang diri sendiri, tentang kehilangan, tentang cinta, tentang masa depan, bahkan tentang Tuhan. Itulah mengapa saya merasa kelas puisi seharusnya tidak hanya bertujuan membuat siswa menjadi penyair.

Kita belajar puisi agar mampu membaca kehidupan

Kita belajar puisi agar mampu melihat manusia lain dengan lebih peka. Kita belajar puisi agar tidak mudah menertawakan kesedihan orang lain. Kita belajar puisi agar memahami bahwa sebuah kalimat sederhana mungkin menyimpan pengalaman yang panjang. Dan ketika kita mulai mampu melihat lebih dalam, kita juga belajar menggunakan bahasa dengan lebih sadar.Di sinilah teori puisi kemudian menjadi penting. Salah satunya adalah deviasi, atau penyimpangan dari bahasa sehari-hari untuk menciptakan hubungan makna yang baru.

Bahasa sehari-hari mungkin berkata, “Waktu akan menyembuhkan luka.” Puisi dapat membelokkannya menjadi, “Waktu tidak menyembuhkan luka; ia hanya mengajari luka cara diam.” Di situlah bahasa melakukan perjalanan yang berbeda. Sen kanan, belok kiri. Kita berangkat dari sesuatu yang sudah biasa, lalu membelokkannya untuk menemukan kemungkinan makna yang baru.

Tetapi deviasi bukan sekadar membuat kalimat menjadi aneh. Ia harus tetap memiliki hubungan dengan pengalaman dan makna yang ingin disampaikan.Demikian pula dengan kehidupan. Kita sering mengira sesuatu berjalan lurus, tetapi ternyata perjalanan manusia selalu memiliki belokan. Ada kehilangan yang tidak pernah kita rencanakan. Ada pertemuan yang mengubah kita. Ada peristiwa yang memaksa kita melihat hidup dari arah yang berbeda. Puisi mengajarkan kita untuk berani melihat dari belokan itu.

Hari itu, seluruh dua puluh satu siswa menulis. Ada yang puisinya pendek. Ada yang panjang. Ada yang menulis satu puisi, ada pula yang menulis lebih dari satu. Semuanya mendapat kesempatan untuk membaca. Saya mengumpulkan tulisan mereka. Saya ingin menyimpannya dengan baik, mungkin membundelnya menjadi sebuah kumpulan puisi bersama. Bukan karena semua tulisan itu harus sempurna. Bukan karena semuanya sudah menjadi karya sastra yang matang. Tetapi karena di dalam setiap tulisan itu ada keberanian: keberanian untuk menulis, keberanian untuk membaca, dan bagi sebagian siswa, keberanian untuk membuka sedikit bagian dari dirinya yang selama ini tertutup.

Saya membayangkan, beberapa tahun lagi, ketika mereka sudah dewasa dan mungkin telah menempuh jalan hidup masing-masing, mereka bisa membuka kembali kumpulan puisi itu. Mungkin mereka akan tersenyum membaca kata-kata yang pernah mereka tulis ketika masih duduk sebagai siswa SMA. Mungkin mereka akan tertawa karena merasa puisinya dulu masih sederhana. Tetapi mungkin juga mereka akan berhenti sejenak dan mengingat bahwa pernah ada suatu Jumat ketika mereka berani menuliskan sesuatu yang sangat personal. Dan mungkin itulah salah satu fungsi sastra: menjadi arsip bukan hanya bagi peristiwa, tetapi juga bagi getaran batin manusia yang pernah hidup di dalam suatu zaman. Saya tidak tahu apakah kelak mereka akan menjadi penyair. Tidak harus. Saya juga tidak datang untuk memaksa mereka mencintai puisi dengan cara yang sama seperti saya. Saya hanya ingin mereka tahu bahwa menulis adalah salah satu cara untuk mengenali diri.

Jika kelak mereka menjadi dokter, guru, pengusaha, insinyur, seniman, polisi, pegawai, atau profesi apa pun, semoga mereka tetap memiliki ruang untuk menulis. Ketika mereka kehilangan seseorang, semoga mereka tahu bagaimana memberi nama kepada kesedihannya. Ketika mereka kecewa, semoga mereka tahu bagaimana menyuarakan perasaannya. Ketika mereka merasa tidak didengar, semoga mereka tahu bahwa selembar kertas masih bisa menjadi tempat untuk berbicara. Dan ketika hidup terasa terlalu penuh, semoga mereka tidak memilih untuk menenggelamkan semuanya sendirian.

Saya meninggalkan ruang kelas itu dengan membawa tumpukan kertas berisi puisi anak-anak. Secara sederhana, mungkin itulah hasil dari sebuah kelas puisi: dua puluh satu siswa menulis, dua puluh satu tulisan terkumpul, dan satu pertemuan pembelajaran selesai.

Tetapi bagi saya, kelas itu tidak selesai ketika bel berbunyi. Ada sesuatu yang ikut pulang bersama saya. Saya pulang dengan kesadaran bahwa di balik wajah-wajah yang setiap hari kita lihat di sekolah, ada kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak. Ada anak-anak yang sedang belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehilangan, tanggung jawab, keluarga, persahabatan, harapan, dan bagaimana bertahan ketika hidup tidak berjalan seperti yang mereka inginkan.

Hari itu saya semakin percaya bahwa sastra tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Puisi tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori. Ia perlu dihadirkan sebagai pengalaman. Sebab ketika seorang anak menulis, ia sedang belajar mengenali dirinya. Ketika ia membaca, ia sedang belajar mendengarkan. Ketika ia mendengar puisi temannya, ia sedang belajar bahwa ternyata orang lain juga memiliki luka, ketakutan, dan harapan yang mungkin selama ini tidak pernah ia ketahui.

Di situlah kelas puisi menjadi lebih dari sekadar kelas. Ia menjadi ruang untuk saling memahami.Saya datang sebagai pengajar. Tetapi hari itu saya pulang sebagai seseorang yang kembali belajar. Saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban segera. Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk mengucapkannya. Saya belajar bahwa anak-anak yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar baik-baik saja. Saya belajar bahwa sebuah puisi yang sederhana bisa membawa kita pada cerita yang sangat dalam.

Dan saya belajar bahwa mengajar sastra pada akhirnya bukan hanya tentang mengajarkan sastra. Ia adalah tentang menjaga agar manusia tidak kehilangan kepekaannya. Maka ketika saya kembali kepada pertanyaan yang saya bawa ke kelas hari itu—mengapa kita perlu mempelajari puisi?—jawabannya kini terasa jauh lebih sederhana. Kita belajar puisi bukan semata-mata agar menjadi penyair. Kita belajar puisi agar mampu membaca kehidupan. Agar kita mampu melihat apa yang sering tidak terlihat, mendengar apa yang tidak terucapkan, memahami apa yang tidak mudah dijelaskan, dan merasakan apa yang mungkin sedang dirasakan orang lain.

Kita belajar puisi agar tetap memiliki hati di tengah kehidupan yang sering membuat kita terburu-buru.Sebab pendidikan seharusnya tidak hanya membuat seseorang semakin pintar. Pendidikan juga seharusnya membuat seseorang semakin manusiawi. Dan mungkin, di antara semua yang diajarkan puisi, ada satu hal yang paling penting: bahwa setiap manusia berhak memiliki ruang untuk merasakan, mengingat, menangis, berharap, dan berbicara dengan bahasanya sendiri.

Jika suatu hari dua puluh satu siswa itu menghadapi kembali kehidupan yang berat, saya berharap mereka mengingat bahwa pernah ada sebuah kelas yang memberi mereka kesempatan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan dirinya sendiri.Saya berharap mereka tidak takut pada air mata. Tidak malu pada kesedihan. Tidak menganggap dirinya lemah hanya karena pernah terluka.

Menangislah jika memang perlu. Berduka jika memang harus. Tetapi setelah itu, kembalilah berjalan. Sebab perjalanan mereka masih panjang. Dan mungkin puisi akan selalu ada di suatu tempat—bukan untuk menyelesaikan hidup, tetapi untuk menemani manusia ketika hidup sedang sulit-sulitnya dipahami.Puisi bukan sekadar tempat kata-kata tinggal. Puisi adalah tempat perasaan menemukan bahasa, luka menemukan ruang, dan manusia menemukan jalan untuk pulang kepada dirinya sendiri.[T]

Tags: Pendidikansastrasastra masuk sekolahsekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wajah I Made Galung Wiratmaja

Next Post

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co