21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah I Made Galung Wiratmaja

Hartanto by Hartanto
September 10, 2026
in Ulas Rupa
Wajah I Made Galung Wiratmaja

Karya-karya Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space – Sanur Art Hub. Pameran diikuti oleh I Made Galung Wiratmaja, I Made Mahendra Mangku, dan I Wayan Arnata.

Kali ini, sesuai data yang saya dapat , saya ingin mengkaji karya I Made Galung Wiratmaja. Karya yang saya kaji meliputi Figure #6, Figure #7, Figur #8. dan Figur #9.

 Menurut saya, karya-karya ini menyimpan energi tubuh yang ‘direduksi’ menjadi denyut “warna dan gerak”.

‘Abstraksi figuratif’ di sini tidak lagi menghadirkan sosok manusia sebagai ‘representasi’, melainkan sebagai jejak ‘impuls’.

Menurut Encyclopedia Americana, impuls (impulse) sebagai “hasil dari ‘gaya’ yang bekerja pada ‘suatu benda’ dalam selang ‘waktu tertentu’, yang mengakibatkan terjadinya perubahan ‘momentum’ pada benda tersebut”.

Tafsir saya, impuls pada karya Galung adalah sapuan kuas yang meledak, warna yang berlapis, dan gestur yang seolah merekam gerakan tubuh dalam ruang imajiner – hasil visualnya, adalah “perubahan momentum” dari hasil “eksplorasi kreatif”.

Pada Figure #6, dominasi merah muda, kuning, dan abu-abu membentuk semacam tubuh yang rapuh sekaligus bergairah.

Figur ini tampak seperti sedang muncul dari latar, seakan proses kelahiran atau transformasi. Ada ketegangan antara garis yang kasar dan bidang warna yang lembut, menandakan tarik-menarik antara ‘dorongan personal’ dan ‘struktur kolektif’.

Sementara Figure #7 lebih dinamis: sapuan oranye dan merah yang berbaur dengan abu-abu dan putih menciptakan figur yang seolah bergerak, berputar, atau menari.

Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar, bukan sekadar tertahan di dalam tubuh. Jika Figure #6 adalah figur yang ‘mencari bentuk’, maka Figure #7 adalah figur yang ‘meledak dalam gerak’.

Kedua karya ini bisa dibaca sebagai kelanjutan eksplorasi ‘abstraksi Bali’ yang tidak hanya berurusan dengan ‘formalisme Barat’, tetapi juga dengan pencarian “identitas tubuh dan jiwa”.

Galung Wiratmaja menghadirkan tubuh sebagai “impulse” – dorongan yang tidak selesai menjadi ‘representasi’, melainkan terus bergerak, berdenyut, dan membuka ‘ruang interpretasi’.

Menurut saya,  karya Figure #6 dan Figure #7ini dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan tubuh yang tidak pernah selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak sebagai ‘denyut warna’.

Dalam Figure #6, tubuh hadir sebagai bayangan yang rapuh, seolah baru saja lahir dari lapisan warna merah muda, kuning, dan abu-abu.

Figur ini bukan ‘representasi anatomis’, melainkan semacam “petilasan gerak” yang ditinggalkan oleh kuas. Ada rasa pencarian: tubuh yang belum mapan, masih dalam “proses menjadi”.

Sapuan kasar dan bidang lembut saling bertentangan, menandakan tarik-menarik antara “dorongan personal” dan “struktur kolektif”.

Sebaliknya, Figure #7 adalah tubuh yang sudah meledak dalam gerak. Oranye dan merah berbaur dengan abu-abu dan putih, menciptakan figur yang seolah menari atau berputar.

Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar. Jika karya sebelumnya adalah tubuh yang mencari bentuk, maka di sini tubuh adalah denyut yang melampaui dirinya sendiri, sebuah energi yang tak tertahankan.

Dengan demikian, Figure #6 dan Figure #7 dapat dibaca sebagai pasangan: satu menandai ‘kelahiran’, yang lain menandai ‘dinamika gerak’.

Keduanya bersama-sama memperlihatkan bagaimana tubuh abstrak Bali menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara dorongan personal dan denyut kolektif.

Pada tulisan ini Saya ingin memadankan karya Galung, khususnya “Figure #7” dengan karya William de Koning “Woman1”.

Jika kita fokus hanya pada Galung Wiratmaja (Figure #7) dan Willem de Kooning (Woman I). maka padanan keduanya terletak pada cara tubuh perempuan diolah sebagai ‘energi gestural’ yang cair antara ‘figurasi dan abstraksi’.

Galung menghadirkan profil perempuan yang larut dalam sapuan warna oranye, merah, kuning, dan coklat.

Figur ini tidak hadir sebagai ‘potret anatomis’, melainkan sebagai ‘denyut atmosfer’, tubuh yang sedang larut dalam ruang warna.

Ada keintiman dan keheningan yang khas, seolah tubuh itu muncul dari pengalaman lokal Bali, dengan nuansa “spiritual dan personal”.

De Kooning, dalam Woman I, menampilkan tubuh perempuan sebagai ledakan kuas – figur yang terdistorsi, penuh energi, dan riuh. Tubuh di sini menjadi medan pertempuran antara ‘representasi’ dan ‘abstraksi’, antara citra perempuan dan energi cat yang meledak.

Padanan lain, keduanya – sama-sama menjadikan tubuh perempuan bukan sebagai “citra realistis”, melainkan sebagai “impuls visual”. Sama-sama menggunakan warna dan gestur sebagai bahasa utama untuk menghadirkan tubuh.

Perbedaannya: De Kooning lebih brutal, riuh, dan penuh ‘ketegangan psikologis’. Galung lebih intim, cair, dan berakar pada atmosfer spiritual Bali.

Dengan demikian, Figure #7 dapat dibaca sebagai “jawaban Bali” atas tradisi ‘abstrak figuratif’ dunia – berdialog langsung dengan ‘intensitas gestural’ De Kooning, namun menegosiasikan akar lokal sebagai ‘lanskap spiritual’.

Figure #8 karya Galung Wiratmaja adalah semacam tubuh yang meleleh ke dalam lanskap warna. Sapuan hijau, merah, ungu, dan kuning tidak membentuk sosok yang utuh, melainkan pecahan energi yang berlapis. Figur itu seakan hanyut, menjadi pusaran atmosfer yang terus bergerak.

Ia bukan citra yang selesai, melainkan “gema visual” – denyut yang berulang, riak warna yang menolak diam, tubuh yang berubah menjadi “medan kosmos”. sebuah “impuls visual” yang terus bergerak, membuka ruang tafsir antara tubuh dan lanskap abstrak.

Selanjutnya, saya juga ingin mengkaji Karya Figure #9 Galung Wiratmaja. Figure #9, merupakan wajah abstrak yang digoreskan dengan garis putih di atas lapisan kuning, hijau, dan coklat.

Ini dapat dipadankan dengan sejumlah perupa dunia yang menempatkan wajah sebagai medan ekspresi, bukan sekadar representasi anatomis. Saya ingin memadankannya dengan karya Jean-Michel Basquiat.

Pada kajian kali ini, saya memadanan karya Jean-Michel Basquiat (Cabeza) dengan karya I Made Galung Wiratmaja (Figure #9).

Menurut saya, ini dapat dibaca sebagai pertemuan dua wajah dunia yang lahir dari konteks berbeda, namun sama-sama menolak wajah sebagai ‘citra anatomis’ yang tenang.

Basquiat, dengan Cabeza, menghadirkan kepala sebagai ikon urban yang riuh, penuh garis kasar, warna kontras, dan ‘distorsi anatomis’.

Wajah itu bukan potret, melainkan ‘teriakan jalanan’, simbol trauma dan identitas yang meledak dalam ‘energi grafiti’ dan ‘pop culture’ New York 1980-an. Ia adalah wajah yang terbuka, ‘penuh luka’, namun sekaligus ‘penuh vitalitas’.

Galung, dengan Figure #9, menampilkan wajah yang digoreskan dengan garis putih sederhana di atas lapisan warna kuning, hijau, dan coklat.

Wajah ini seolah tersenyum, namun larut dalam ‘atmosfer warna’ yang berdenyut. Ia bukan ‘potret realis’, melainkan ‘tanda gestural’ yang lahir dari pengalaman ‘spiritual Bali’, dari ‘tradisi rajah’ yang menempatkan wajah “sebagai simbol kosmos”.

Keduanya bertemu dalam satu medan – wajah sebagai energi. Basquiat menyalakan wajah sebagai ‘ledakan urban’, penuh kegelisahan ‘sosial dan psikologis’.

Galung menyalakan wajah sebagai ‘denyut kosmos’, penuh keheningan spiritual dan atmosfer lokal. Basquiat berteriak, Galung berbisik. Basquiat menorehkan luka, Galung menorehkan keheningan yang ‘subtil’.

Namun justru dalam perbedaan itu, keduanya saling melengkapi. Cabeza dan Figure #9 memperlihatkan bahwa ‘wajah abstrak’ adalah simbol ‘universal’ tentang manusia. Energi yang tidak selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak antara tanda, tekstur, dan atmosfer.

Dari jalanan New York hingga kosmos Bali, wajah menjadi rajah dunia – peta batin yang menolak diam, menolak selesai, dan terus berdenyut dalam warna.

Akhir kata, perkenankan saya menempatkan  Cabeza dan Figure #9  dalam “dialog lintas benua”  – dua seniman yang, dengan bahasa berbeda, sama-sama mengingatkan bahwa “wajah bukan sekadar potret”, melainkan medan energi yang membuka “ruang tafsir tanpa batas”. Begitulah ‘pembacaan’ saya. [T]

Tags: Galung WiratmajaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

Next Post

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang ---Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co