30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah I Made Galung Wiratmaja

Hartanto by Hartanto
September 10, 2026
in Ulas Rupa
Wajah I Made Galung Wiratmaja

Karya-karya Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space – Sanur Art Hub. Pameran diikuti oleh I Made Galung Wiratmaja, I Made Mahendra Mangku, dan I Wayan Arnata.

Kali ini, sesuai data yang saya dapat , saya ingin mengkaji karya I Made Galung Wiratmaja. Karya yang saya kaji meliputi Figure #6, Figure #7, Figur #8. dan Figur #9.

 Menurut saya, karya-karya ini menyimpan energi tubuh yang ‘direduksi’ menjadi denyut “warna dan gerak”.

‘Abstraksi figuratif’ di sini tidak lagi menghadirkan sosok manusia sebagai ‘representasi’, melainkan sebagai jejak ‘impuls’.

Menurut Encyclopedia Americana, impuls (impulse) sebagai “hasil dari ‘gaya’ yang bekerja pada ‘suatu benda’ dalam selang ‘waktu tertentu’, yang mengakibatkan terjadinya perubahan ‘momentum’ pada benda tersebut”.

Tafsir saya, impuls pada karya Galung adalah sapuan kuas yang meledak, warna yang berlapis, dan gestur yang seolah merekam gerakan tubuh dalam ruang imajiner – hasil visualnya, adalah “perubahan momentum” dari hasil “eksplorasi kreatif”.

Pada Figure #6, dominasi merah muda, kuning, dan abu-abu membentuk semacam tubuh yang rapuh sekaligus bergairah.

Figur ini tampak seperti sedang muncul dari latar, seakan proses kelahiran atau transformasi. Ada ketegangan antara garis yang kasar dan bidang warna yang lembut, menandakan tarik-menarik antara ‘dorongan personal’ dan ‘struktur kolektif’.

Sementara Figure #7 lebih dinamis: sapuan oranye dan merah yang berbaur dengan abu-abu dan putih menciptakan figur yang seolah bergerak, berputar, atau menari.

Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar, bukan sekadar tertahan di dalam tubuh. Jika Figure #6 adalah figur yang ‘mencari bentuk’, maka Figure #7 adalah figur yang ‘meledak dalam gerak’.

Kedua karya ini bisa dibaca sebagai kelanjutan eksplorasi ‘abstraksi Bali’ yang tidak hanya berurusan dengan ‘formalisme Barat’, tetapi juga dengan pencarian “identitas tubuh dan jiwa”.

Galung Wiratmaja menghadirkan tubuh sebagai “impulse” – dorongan yang tidak selesai menjadi ‘representasi’, melainkan terus bergerak, berdenyut, dan membuka ‘ruang interpretasi’.

Menurut saya,  karya Figure #6 dan Figure #7ini dapat dibaca sebagai sebuah perjalanan tubuh yang tidak pernah selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak sebagai ‘denyut warna’.

Dalam Figure #6, tubuh hadir sebagai bayangan yang rapuh, seolah baru saja lahir dari lapisan warna merah muda, kuning, dan abu-abu.

Figur ini bukan ‘representasi anatomis’, melainkan semacam “petilasan gerak” yang ditinggalkan oleh kuas. Ada rasa pencarian: tubuh yang belum mapan, masih dalam “proses menjadi”.

Sapuan kasar dan bidang lembut saling bertentangan, menandakan tarik-menarik antara “dorongan personal” dan “struktur kolektif”.

Sebaliknya, Figure #7 adalah tubuh yang sudah meledak dalam gerak. Oranye dan merah berbaur dengan abu-abu dan putih, menciptakan figur yang seolah menari atau berputar.

Latar hangat memperkuat kesan energi yang memancar keluar. Jika karya sebelumnya adalah tubuh yang mencari bentuk, maka di sini tubuh adalah denyut yang melampaui dirinya sendiri, sebuah energi yang tak tertahankan.

Dengan demikian, Figure #6 dan Figure #7 dapat dibaca sebagai pasangan: satu menandai ‘kelahiran’, yang lain menandai ‘dinamika gerak’.

Keduanya bersama-sama memperlihatkan bagaimana tubuh abstrak Bali menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas, antara dorongan personal dan denyut kolektif.

Pada tulisan ini Saya ingin memadankan karya Galung, khususnya “Figure #7” dengan karya William de Koning “Woman1”.

Jika kita fokus hanya pada Galung Wiratmaja (Figure #7) dan Willem de Kooning (Woman I). maka padanan keduanya terletak pada cara tubuh perempuan diolah sebagai ‘energi gestural’ yang cair antara ‘figurasi dan abstraksi’.

Galung menghadirkan profil perempuan yang larut dalam sapuan warna oranye, merah, kuning, dan coklat.

Figur ini tidak hadir sebagai ‘potret anatomis’, melainkan sebagai ‘denyut atmosfer’, tubuh yang sedang larut dalam ruang warna.

Ada keintiman dan keheningan yang khas, seolah tubuh itu muncul dari pengalaman lokal Bali, dengan nuansa “spiritual dan personal”.

De Kooning, dalam Woman I, menampilkan tubuh perempuan sebagai ledakan kuas – figur yang terdistorsi, penuh energi, dan riuh. Tubuh di sini menjadi medan pertempuran antara ‘representasi’ dan ‘abstraksi’, antara citra perempuan dan energi cat yang meledak.

Padanan lain, keduanya – sama-sama menjadikan tubuh perempuan bukan sebagai “citra realistis”, melainkan sebagai “impuls visual”. Sama-sama menggunakan warna dan gestur sebagai bahasa utama untuk menghadirkan tubuh.

Perbedaannya: De Kooning lebih brutal, riuh, dan penuh ‘ketegangan psikologis’. Galung lebih intim, cair, dan berakar pada atmosfer spiritual Bali.

Dengan demikian, Figure #7 dapat dibaca sebagai “jawaban Bali” atas tradisi ‘abstrak figuratif’ dunia – berdialog langsung dengan ‘intensitas gestural’ De Kooning, namun menegosiasikan akar lokal sebagai ‘lanskap spiritual’.

Figure #8 karya Galung Wiratmaja adalah semacam tubuh yang meleleh ke dalam lanskap warna. Sapuan hijau, merah, ungu, dan kuning tidak membentuk sosok yang utuh, melainkan pecahan energi yang berlapis. Figur itu seakan hanyut, menjadi pusaran atmosfer yang terus bergerak.

Ia bukan citra yang selesai, melainkan “gema visual” – denyut yang berulang, riak warna yang menolak diam, tubuh yang berubah menjadi “medan kosmos”. sebuah “impuls visual” yang terus bergerak, membuka ruang tafsir antara tubuh dan lanskap abstrak.

Selanjutnya, saya juga ingin mengkaji Karya Figure #9 Galung Wiratmaja. Figure #9, merupakan wajah abstrak yang digoreskan dengan garis putih di atas lapisan kuning, hijau, dan coklat.

Ini dapat dipadankan dengan sejumlah perupa dunia yang menempatkan wajah sebagai medan ekspresi, bukan sekadar representasi anatomis. Saya ingin memadankannya dengan karya Jean-Michel Basquiat.

Pada kajian kali ini, saya memadanan karya Jean-Michel Basquiat (Cabeza) dengan karya I Made Galung Wiratmaja (Figure #9).

Menurut saya, ini dapat dibaca sebagai pertemuan dua wajah dunia yang lahir dari konteks berbeda, namun sama-sama menolak wajah sebagai ‘citra anatomis’ yang tenang.

Basquiat, dengan Cabeza, menghadirkan kepala sebagai ikon urban yang riuh, penuh garis kasar, warna kontras, dan ‘distorsi anatomis’.

Wajah itu bukan potret, melainkan ‘teriakan jalanan’, simbol trauma dan identitas yang meledak dalam ‘energi grafiti’ dan ‘pop culture’ New York 1980-an. Ia adalah wajah yang terbuka, ‘penuh luka’, namun sekaligus ‘penuh vitalitas’.

Galung, dengan Figure #9, menampilkan wajah yang digoreskan dengan garis putih sederhana di atas lapisan warna kuning, hijau, dan coklat.

Wajah ini seolah tersenyum, namun larut dalam ‘atmosfer warna’ yang berdenyut. Ia bukan ‘potret realis’, melainkan ‘tanda gestural’ yang lahir dari pengalaman ‘spiritual Bali’, dari ‘tradisi rajah’ yang menempatkan wajah “sebagai simbol kosmos”.

Keduanya bertemu dalam satu medan – wajah sebagai energi. Basquiat menyalakan wajah sebagai ‘ledakan urban’, penuh kegelisahan ‘sosial dan psikologis’.

Galung menyalakan wajah sebagai ‘denyut kosmos’, penuh keheningan spiritual dan atmosfer lokal. Basquiat berteriak, Galung berbisik. Basquiat menorehkan luka, Galung menorehkan keheningan yang ‘subtil’.

Namun justru dalam perbedaan itu, keduanya saling melengkapi. Cabeza dan Figure #9 memperlihatkan bahwa ‘wajah abstrak’ adalah simbol ‘universal’ tentang manusia. Energi yang tidak selesai menjadi ‘citra’, melainkan terus bergerak antara tanda, tekstur, dan atmosfer.

Dari jalanan New York hingga kosmos Bali, wajah menjadi rajah dunia – peta batin yang menolak diam, menolak selesai, dan terus berdenyut dalam warna.

Akhir kata, perkenankan saya menempatkan  Cabeza dan Figure #9  dalam “dialog lintas benua”  – dua seniman yang, dengan bahasa berbeda, sama-sama mengingatkan bahwa “wajah bukan sekadar potret”, melainkan medan energi yang membuka “ruang tafsir tanpa batas”. Begitulah ‘pembacaan’ saya. [T]

Tags: Galung WiratmajaPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

Next Post

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang ---Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co