29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
in Esai
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Putu Arya Nugraha

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang sering dipakai meliputi ekonomi seperti PDB (produk domestik bruto) per kapita, pertumbuhan ekonomi, produktivitas, tingkat pengangguran, dan inflasi. Untuk kesejahteraan, ada Indeks Pembangunan Manusia (HDI), tingkat kemiskinan, ketimpangan (Gini coefficient), serta ukuran kualitas hidup.

Kesehatan dilihat dari umur harapan hidup, angka kematian bayi, beban penyakit, cakupan asuransi kesehatan, dan belanja kesehatan. Pendidikan bisa dinilai lewat rata-rata lama sekolah, tingkat literasi, dan hasil belajar. Untuk demokrasi, dilihat kebebasan politik, kebebasan sipil, kualitas pemilu, indeks demokrasi, dan penegakan hukum.

Kualitas pemerintahan bisa dilihat dari efektivitas pemerintah, persepsi korupsi, dan kualitas regulasi. Indikator lainnya seperti keamanan (angka pembunuhan atau konflik), lingkungan (emisi CO2, kualitas udara, akses air bersih), kesetaraan (gender gap), infrastruktur, dan kebahagiaan atau kualitas hidup. Sering kali alih-alih dapat menggambarkan kondisi riil dan dijadikan acuan buat membuat rancangan pembangunan, indikator-indikator tersebuat teronggok menjadi usang usai diributkan.

Lihat misalnya soal konsep desil yang diajukan pemerintah sebagai indikator relatif tingkat kesejahteraan rakyat. Kontroversi sistem desil sebagai upaya pengelompokan posisi relatif kesejahteraan keluarga berdasarkan data tunggal sosial dan ekonomi nasional (DTSEN) disebabkan karena ketidaksesuaian antara data administratif dan kondisi riil. Contohnya, ada kasus warga yang sempat tercatat di desil 9, lalu setelah pemutakhiran bergeser jadi desil 3. Kontroversi muncul saat metode atau kualitas datanya dipertanyakan, bukan karena konsep pemeringkatan relatifnya itu sendiri.

Akibatnya ada pasien dari keluarga miskin yang sudah rutin menjalani perawatan medis cuci darah misalnya, tiba-tiba jaminannya diputus. Pasien pun terhambat perawatan rutin gagal ginjalnya dan penumpukan racun dalam tubuhnya mengancam jiwanya. Bukti klasik, betapa nyaris semua aparatur di negara ini tak pernah serius dan jujur membuat data riil yang sesuai kenyataan. Karena niatnya bukan memperbaiki bangsa secara kolektif namun demi kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Laporan data asal bapak senang (ABS) akan dapat imbalan posisi yang baik dan nyaman.

Saya sendiri misalnya, saat menjabat sebagai direktur sebuah rumah sakit (RS) daerah tipe B, tak pernah bangga atau kagum dengan predikat akreditasi paripurna yang diraih RS. Karena bagi saya, urusan RS bukanlah selembar kertas sertifikat akreditasi yang dinilai sekali dalam tiga tahun.

Urusan RS adalah kepuasan pasien setiap hari, penanganan keluhan yang cepat setiap saat, kebersihan RS setiap waktu dan keramahtamahan pegawai terus-menerus. Apalagi surveyor atau asesor akreditasi tersebut kita jamu, antar jemput plus akomodasi dan tentu saja mendapat honor. Obyektivitasnya saat memberikan penilaian akan menjadi sangat rentan. Namun di lain pihak predikat itu telah menyandera RS untuk dapat meneruskan opersionalnya. Maka lingkaran setan “pengaturan” dalam segala hal, akan terus terjadi. Bagaimana mungkin sebuah RS meraih predikat akreditasi paripurna sementara keluhan pasien setiap hari masih ada, antrian pelayanan masih lama dan sikap petugas masih judes. Memang tak masuk akal.

Mungkin dengan melihat hal-hal sederhana, kita dapat menilai kesehatan bangsa dan negara ini secara lebih riil dan jujur. Berikut, beberapa contoh lain yang dapat merefleksikan kesehatan bangsa yang kurang baik dan ini menjadi PR kita bersama. Para pelajar yang ke sekolah naik sepeda motor. Parkir sekolah hingga ke pinggir jalan dipenuhi sepeda motor para siswa. Kondisi seperti ini takkan pernah kita jumpai di negara-negara yang sudah sehat dan maju. Kalau hal ini masih terjadi, berarti negara memang belum mampu menyiapkan sistem transportasi yang aman dan nyaman buat masyarakat.

Begitupun, mental pelajar sebagai generasi muda lama-lama terpola menjadi egois dalam berlalu lintas karena tidak dikondisikan berbaur secara kolektif dalam sistem transportasi umum atau kebiasaan sehat bersepeda maupun berjalan kaki ke sekolah. Dampaknya dapat kita lihat bersama, angka kecelakaan lalu lintas sangat tinggi di negara kita. Kebiasaan melangggar lampu merah. Ini hal jamak bisa kita lihat di setiap perempatan dengan lampu lalu lintas. Meskipun ini kelihatan sepele, ini justru merupakan prinsip mendasar karakter bangsa. Saat semua berkhayal tentang Indonesia emas, syarat-syarat sederhana seperti taat berlalu lintas belum bisa diikuti. Maka Indonesia emas bakal tetap hanya akan menjadi khayalan belaka.

Coba kita periksa got dan sungai-sungai kita. Betapa kumuh dan joroknya. Bahklan pemerintah pun tak punya skema efektif dan modern dalam pengolahan sampah. Jadi dalam isu ini masyarakat dan pemerintah cukup kompaklah. Jangan salah, bangsa-bangsa yang telah menciptakan berbagai teknologi canggih bahkan eksplorasi hingga ke ruang angkasa itu dimulai dari pengelolaan limbah rumah, kantor, pasar hingga seluruh fasilitas publik yang baik dan canggih pula.

Namun, di lain pihak, masyarakat kita saban hari ribut dan bertengkar soal agama. Seakan paling takwa dan dekat dengan Tuhan. Bahkan sampai harus melarang umat lain beribadah karena cemas imannya sendiri bakal terancam. Coba bandingkan bangsa-bangsa di negara-negara Skandinavia yang tempat ibadahnya semakin sepi namun penjara-penjara di sana juga tak berpenghuni. Di sini berkebalikan, rumah-rumah tahanan pada kelebihan muatan. Jadi, sama sekali tak ada korelasi gaya agamis dengan prilaku umatnya.

Satu lagi, soal kegiatan-kegiatan seremonial, berbagai apel dan pidato-pidato di negeri ini. Coba kita amati secara jujur, semakin banyak dan panjang hal-hal tersebut dilakukan, semakin sulit rasanya negara ini berkembang. Bahkan setiap kali pidato, nilai tukar rupiah kian melorot saja.

Kejadian paling fenomenal yang saya ikuti adalah seremonial peresmian jembatan baru. Begitu banyak pejabat yang diundang, bayangkan hanya untuk sebuah jembatan kayu sederhana. Bahkan belum selesai peresmian itu dilakukan, jembatan itu sudah roboh. Dan hal-hal seekstrim seperti itu pun tak pernah membuat kita merasa malu. Maka mengapa bangsa seperti Jepang begitu cepat melaju? Itu pun karena hal yang sangat sederhana dan manusiawi yaitu masih diberikannya ruang dalam jiwa-jiwa mereka, untuk rasa malu.[T]

Tags: kebangsaankesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Next Post

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails
Next Post
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” ---Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co