19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
in Esai
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Putu Arya Nugraha

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang sering dipakai meliputi ekonomi seperti PDB (produk domestik bruto) per kapita, pertumbuhan ekonomi, produktivitas, tingkat pengangguran, dan inflasi. Untuk kesejahteraan, ada Indeks Pembangunan Manusia (HDI), tingkat kemiskinan, ketimpangan (Gini coefficient), serta ukuran kualitas hidup.

Kesehatan dilihat dari umur harapan hidup, angka kematian bayi, beban penyakit, cakupan asuransi kesehatan, dan belanja kesehatan. Pendidikan bisa dinilai lewat rata-rata lama sekolah, tingkat literasi, dan hasil belajar. Untuk demokrasi, dilihat kebebasan politik, kebebasan sipil, kualitas pemilu, indeks demokrasi, dan penegakan hukum.

Kualitas pemerintahan bisa dilihat dari efektivitas pemerintah, persepsi korupsi, dan kualitas regulasi. Indikator lainnya seperti keamanan (angka pembunuhan atau konflik), lingkungan (emisi CO2, kualitas udara, akses air bersih), kesetaraan (gender gap), infrastruktur, dan kebahagiaan atau kualitas hidup. Sering kali alih-alih dapat menggambarkan kondisi riil dan dijadikan acuan buat membuat rancangan pembangunan, indikator-indikator tersebuat teronggok menjadi usang usai diributkan.

Lihat misalnya soal konsep desil yang diajukan pemerintah sebagai indikator relatif tingkat kesejahteraan rakyat. Kontroversi sistem desil sebagai upaya pengelompokan posisi relatif kesejahteraan keluarga berdasarkan data tunggal sosial dan ekonomi nasional (DTSEN) disebabkan karena ketidaksesuaian antara data administratif dan kondisi riil. Contohnya, ada kasus warga yang sempat tercatat di desil 9, lalu setelah pemutakhiran bergeser jadi desil 3. Kontroversi muncul saat metode atau kualitas datanya dipertanyakan, bukan karena konsep pemeringkatan relatifnya itu sendiri.

Akibatnya ada pasien dari keluarga miskin yang sudah rutin menjalani perawatan medis cuci darah misalnya, tiba-tiba jaminannya diputus. Pasien pun terhambat perawatan rutin gagal ginjalnya dan penumpukan racun dalam tubuhnya mengancam jiwanya. Bukti klasik, betapa nyaris semua aparatur di negara ini tak pernah serius dan jujur membuat data riil yang sesuai kenyataan. Karena niatnya bukan memperbaiki bangsa secara kolektif namun demi kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Laporan data asal bapak senang (ABS) akan dapat imbalan posisi yang baik dan nyaman.

Saya sendiri misalnya, saat menjabat sebagai direktur sebuah rumah sakit (RS) daerah tipe B, tak pernah bangga atau kagum dengan predikat akreditasi paripurna yang diraih RS. Karena bagi saya, urusan RS bukanlah selembar kertas sertifikat akreditasi yang dinilai sekali dalam tiga tahun.

Urusan RS adalah kepuasan pasien setiap hari, penanganan keluhan yang cepat setiap saat, kebersihan RS setiap waktu dan keramahtamahan pegawai terus-menerus. Apalagi surveyor atau asesor akreditasi tersebut kita jamu, antar jemput plus akomodasi dan tentu saja mendapat honor. Obyektivitasnya saat memberikan penilaian akan menjadi sangat rentan. Namun di lain pihak predikat itu telah menyandera RS untuk dapat meneruskan opersionalnya. Maka lingkaran setan “pengaturan” dalam segala hal, akan terus terjadi. Bagaimana mungkin sebuah RS meraih predikat akreditasi paripurna sementara keluhan pasien setiap hari masih ada, antrian pelayanan masih lama dan sikap petugas masih judes. Memang tak masuk akal.

Mungkin dengan melihat hal-hal sederhana, kita dapat menilai kesehatan bangsa dan negara ini secara lebih riil dan jujur. Berikut, beberapa contoh lain yang dapat merefleksikan kesehatan bangsa yang kurang baik dan ini menjadi PR kita bersama. Para pelajar yang ke sekolah naik sepeda motor. Parkir sekolah hingga ke pinggir jalan dipenuhi sepeda motor para siswa. Kondisi seperti ini takkan pernah kita jumpai di negara-negara yang sudah sehat dan maju. Kalau hal ini masih terjadi, berarti negara memang belum mampu menyiapkan sistem transportasi yang aman dan nyaman buat masyarakat.

Begitupun, mental pelajar sebagai generasi muda lama-lama terpola menjadi egois dalam berlalu lintas karena tidak dikondisikan berbaur secara kolektif dalam sistem transportasi umum atau kebiasaan sehat bersepeda maupun berjalan kaki ke sekolah. Dampaknya dapat kita lihat bersama, angka kecelakaan lalu lintas sangat tinggi di negara kita. Kebiasaan melangggar lampu merah. Ini hal jamak bisa kita lihat di setiap perempatan dengan lampu lalu lintas. Meskipun ini kelihatan sepele, ini justru merupakan prinsip mendasar karakter bangsa. Saat semua berkhayal tentang Indonesia emas, syarat-syarat sederhana seperti taat berlalu lintas belum bisa diikuti. Maka Indonesia emas bakal tetap hanya akan menjadi khayalan belaka.

Coba kita periksa got dan sungai-sungai kita. Betapa kumuh dan joroknya. Bahklan pemerintah pun tak punya skema efektif dan modern dalam pengolahan sampah. Jadi dalam isu ini masyarakat dan pemerintah cukup kompaklah. Jangan salah, bangsa-bangsa yang telah menciptakan berbagai teknologi canggih bahkan eksplorasi hingga ke ruang angkasa itu dimulai dari pengelolaan limbah rumah, kantor, pasar hingga seluruh fasilitas publik yang baik dan canggih pula.

Namun, di lain pihak, masyarakat kita saban hari ribut dan bertengkar soal agama. Seakan paling takwa dan dekat dengan Tuhan. Bahkan sampai harus melarang umat lain beribadah karena cemas imannya sendiri bakal terancam. Coba bandingkan bangsa-bangsa di negara-negara Skandinavia yang tempat ibadahnya semakin sepi namun penjara-penjara di sana juga tak berpenghuni. Di sini berkebalikan, rumah-rumah tahanan pada kelebihan muatan. Jadi, sama sekali tak ada korelasi gaya agamis dengan prilaku umatnya.

Satu lagi, soal kegiatan-kegiatan seremonial, berbagai apel dan pidato-pidato di negeri ini. Coba kita amati secara jujur, semakin banyak dan panjang hal-hal tersebut dilakukan, semakin sulit rasanya negara ini berkembang. Bahkan setiap kali pidato, nilai tukar rupiah kian melorot saja.

Kejadian paling fenomenal yang saya ikuti adalah seremonial peresmian jembatan baru. Begitu banyak pejabat yang diundang, bayangkan hanya untuk sebuah jembatan kayu sederhana. Bahkan belum selesai peresmian itu dilakukan, jembatan itu sudah roboh. Dan hal-hal seekstrim seperti itu pun tak pernah membuat kita merasa malu. Maka mengapa bangsa seperti Jepang begitu cepat melaju? Itu pun karena hal yang sangat sederhana dan manusiawi yaitu masih diberikannya ruang dalam jiwa-jiwa mereka, untuk rasa malu.[T]

Tags: kebangsaankesehatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Next Post

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” ---Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co