30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Hartanto by Hartanto
August 29, 2026
in Ulas Rupa
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Karya Cokot dan karya Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya, proses kreatifnya ada kemiripan dengan pematung I Nyoman Cokot.

Suatu saat, pematung I Nyoman Cokot memanggul ‘kayu tua’ yang beberapa waktu lalu ia temukan hanyut di sungai. Kayu tersebut, sudah selesai diukir dan akan dibawanya ke kolektor lokal.

Ia melewati depan rumah maestro I Gusti Nyoman Lempad. Setengah bercanda, Lempad bertanya pada Cokot : “Hendak dibawa kemana kayu bakar ini?”, Cokot hanya senyum.

Begitulah candaan kedua maestro tersebut berkait dengan proses kreatif kekaryaan. Kisah itu, banyak beredar di kalangan perupa dan masyarakat luas.

Pada era kekinian, sikap berpikir dan proses kreatif Cokot bisa disebut ‘Out of the box’. secara harfiah berarti “di luar kotak”, atau diluar ‘lumrah’.

Menurut ‘Encyclopædia Britannica’ bisa berarti pula sikap inovatif, bebas, dan tidak biasa. Seseorang yang menggunakan pola pikir ini tidak terjebak pada aturan lama, batasan konvensional, atau asumsi umum saat menyelesaikan masalah.

Pada sebuah catatan, I Nyoman Tjokot (1886–1971) –  adalah pelopor seni patung “ekspresif magis” yang karyanya sangat revolusioner dan mendunia.

Ia merupakan seorang pematung Bali yang dikenal dengan karya-karya kayu bergaya “grotesk”, penuh ‘detail organik’, dan sering menampilkan wajah atau figur yang seolah “melilit” material kayu.

Cokot biasanya menggunakan kayu jati atau kayu keras lain yang ‘terbengkalai’ atau ‘hanyut’ di sungai, lalu mengukir bentuk-bentuk yang tampak hidup, antara magis, humoris, sekaligus menyeramkan.

Karya paling ikonik beliau (1965), menampilkan konfigurasi makhluk ‘mistis demonis’ dengan ekspresi menakutkan, bertekstur kasar, dan bentuk ‘totemik’. Karya-karyanya  bisa di lihat sebagai koleksi di kantor Kompas, Art Centre Denpasar, Museum Affandi, dan Galeri Nasional Indonesia

Aliran seni pahat yang Cokot ciptakan, tidak menghaluskan kayu atau mengukir dengan rumit. Sebaliknya, Cokot membiarkan bentuk bongkahan kayu tua, akar, atau batang yang keropos, memahatnya secara spontan mengikuti alur serat kayu, dan sering menampilkan ‘figur absurd’ yang tampak ‘primitif’.

Karya Cokot sering dibaca sebagai ‘ekspresi spiritua’l sekaligus ‘satir sosial’. Figur-figur yang ia ciptakan tidak pernah sekadar ‘dekoratif’ – mereka seperti lahir dari dalam kayu itu sendiri, seakan “material punya roh yang berbicara”.

Karena itu, patung-patungnya sering dianggap sebagai ‘diagram visual’ – Istilah ini merujuk pada representasi grafis atau visual untuk mempermudah pemahaman suatu data, konsep, atau informasi.

Dalam sejarah seni Bali kontemporer, Cokot menempati posisi unik – ia tidak mengikuti pola klasik yang halus dan simetris, melainkan membiarkan ‘spontanitas’ dan ‘intuisi material’ memimpinnya.

Kayu yang bengkok, retak, atau bertekstur justru menjadi sumber inspirasi, sehingga patung karya Cokot tampak liar dan penuh karakter.

Menurut saya, ada persamaan yang cukup kuat antara karya rupa Putu Fajar  Arcana dengan Cokot. Meskipun medium dan zamannya berbeda. Fajar melukis dan Cokot mengukir kayu jadi patung

Persamaan yang paling penting – adalah keduanya tidak berangkat dari keinginan untuk sekadar meniru kenyataan. Mereka sama-sama mengolah kenyataan menjadi ‘bahasa visual’ yang ‘personal’.


Cokot banyak berangkat dari penghayatan terhadap alam Bali, lingkungan, manusia, makhluk mitologis, serta pengalaman spiritual dan kulturalnya.

Fajar juga tidak sekadar memindahkan objek ke kanvas, tetapi mengolah pengalaman, ingatan, kegelisahan, dan pengamatannya terhadap kehidupan menjadi bentuk-bentuk visual yang lebih bebas.

Proses kreatif mereka bersifat ‘transformasional’. Ini yang sangat menarik. Cokot mengambil bentuk manusia, binatang, atau makhluk yang dikenalnya, kemudian mengubah, memanjangkan, mendistorsi, dan menggabungkannya sehingga lahir “figur yang khas Cokot”.

Fajar melakukan sesuatu yang secara prinsip mirip. Bentuk dan objek yang menjadi sumber gagasan tidak dipertahankan secara realistis, tetapi mengalami perubahan, peleburan, fragmentasi, distorsi, dan metamorfosis. Jadi, keduanya sama-sama bekerja melalui proses transformasi bentuk.


Cokot tidak terlalu terikat pada ‘anatomi’ atau ‘proporsi akademis’. Justru ketidakteraturan bentuk menjadi kekuatan ekspresinya. Pada Fajar, kebebasan tersebut muncul melalui sapuan, tekstur, warna, bentuk yang mencair, serta eksperimentasi terhadap permukaan kanvas.

Maksudnya, kesalahan atau penyimpangan bentuk bukan kegagalan, melainkan bagian dari bahasa artistik. Material tidak hanya menjadi alat, tetapi bagian dari proses berpikir.

Pada Cokot, karakter kayu, serat, retakan, tonjolan, dan bentuk alami kayu sering ikut menentukan bagaimana patung berkembang. Cokot tidak sepenuhnya memaksakan bentuk kepada material – ada semacam dialog antara seniman dan kayu.

Pada Fajar, material dan teknik juga menjadi bagian dari eksplorasi. Cat, tekstur, sapuan, bahkan berbagai kemungkinan teknis dapat memengaruhi arah perkembangan lukisan.

Menurut saya, keduanya ada unsur spontanitas dan intuisi. Keduanya memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak sepenuhnya linear – ide → sketsa → karya selesai. Ada proses “mencoba, merespons, mengubah”, kemudian menemukan “bentuk baru”. Dalam konteks ini, ‘intuisi’ menjadi sangat penting.

Bentuk, akhirnya merupakan jejak proses batin seniman. Patung Cokot terasa seperti hasil pertemuan antara pengalaman budaya, imajinasi, spiritualitas, dan karakter material kayu.

Yang menurut saya paling menarik adalah – Cokot dan Fajar sama-sama menjadikan ‘deformasi’ sebagai metode penciptaan.

Cokot mendistorsikan bentuk melalui ukiran kayu sehingga figur menjadi memanjang, liat, ganjil, dan fantastik.

Fajar mendistorsikan bentuk melalui bahasa lukis sehingga objek dapat mengalami perubahan, pecah, melebur, atau bermetamorfosis.

Karena itu, kalau dirumuskan secara sederhana – Cokot mengubah kenyataan menjadi mitologi melalui kayu, sedangkan Fajar mengubah kenyataan menjadi pengalaman batin melalui lukisan.

Perbedaan keduanya terutama terletak pada sumber konteks dan bahasa medianya. Cokot sangat kuat pada akar tradisi, kosmologi Bali, mitologi, dan karakter material kayu.

Fajar bergerak dalam medan seni rupa kontemporer yang lebih terbuka terhadap eksperimentasi, psikologi, abstraksi, dan kemungkinan teknik.

Menurut saya, Kayu bekas yang dipergunakan Cokot, sudah membawa “sejarah, bentuk, tekstur, luka, retakan, dan karakter alam”. Ia tidak memulai dari balok kayu yang bersih dan seragam sebagaimana seorang pematung konvensional.

Dengan demikian, proses kreatif Cokot lebih bersifat “menemukan” daripada “menciptakan” dari nol.

Bentuk kayu yang sudah ada, menjadi semacam “pemicu imajinasi”. Tonjolan dapat dibaca sebagai kepala, cabang dapat menjadi tangan atau kaki, retakan menjadi ekspresi, sementara serat kayu menjadi bagian dari karakter figur.

Pisau atau alat pahat kemudian bekerja bukan semata-mata untuk menghilangkan material, tetapi untuk “membuka kemungkinan bentuk yang sudah tersembunyi di dalam kayu”.

Masih menurut saya, di sinilah ‘estetika Cokot’ sangat menarik : “alam dan seniman berkolaborasi”. Kayu, sungai menjadi semacam ‘arsip alam’ yang menumbuhkan “misteri proses kreatif Cokot”.

Pada Putu Fajar Arcana, situasinya berbeda. Jika Cokot menemukan bentuk melalui material kayu yang ditemukan, Putu Fajar justru mengeksplorasi kemungkinan melalui “alat-alat” yang sebenarnya bukan “perangkat seni rupa konvensional”.

Menurut Fajar, alat dapur, tusuk sate, blower, hair dryer, kipas angin, pemanas, dan berbagai peralatan sehari-hari dapat diperlakukan sebagai perangkat untuk menghasilkan : aliran, tekanan, percikan, sapuan, pengeringan, pelebaran atau penyebaran cat, perubahan tekstur, serta efek-efek tak terduga pada permukaan kanvas.

Dengan demikian, interpretasi saya – alat bukan lagi sekadar alat bantu teknis. Alat menjadi bagian dari “bahasa visual”. Cokot melihat kemungkinan artistik dalam kayu yang mungkin bagi orang lain hanyalah limbah sungai. Dengan kata lain, keduanya melakukan “dekonstruksi terhadap fungsi benda”.

Kalau dikaitkan dengan karya Fajar yang bertajuk “Lucky Dragon” dan “Metamorfosis” yang saya bahas, hubungan ini bahkan bisa dibuat lebih tajam – Cokot → transformasi bentuk melalui kayu – Fajar → transformasi bentuk melalui proses lukis. Keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa “proses penciptaan itu sendiri menjadi bagian dari makna karya”.

Karya lukis “The Lucky Dragon” Putu Fajar Arcana dan patung Cokot sama-sama berangkat dari “spontanitas dan spiritualitas”, namun berbeda dalam medium.

Arcana menyalurkan energi batin melalui ‘fluid art’ yang cair dan penuh warna, sementara Cokot mengolah kayu dengan ‘intuisi bawah sadar’ yang melahirkan figur-figur magis.

Dalam The Lucky Dragon, Putu Fajar Arcana menyalurkan energi batin melalui medium cair. Cat akrilik yang ditumpahkan, ditiup, dan dibiarkan mengalir membentuk pusaran warna yang seolah hidup.

Dari abstraksi itu, naga muncul bukan sebagai ‘figur mitologis’ yang statis, melainkan sebagai ‘gema batin’ yang lahir dari proses ‘revitalisasi’.

Arcana, menjadikan lukisan ini sebagai jalan ‘transformasi’ – naga adalah pelindung, keberuntungan, sekaligus simbol bahwa dari duka dapat lahir cahaya.

Warna merah, emas, dan hitam beradu dalam tegangan, mengingatkan pada Kandinsky yang menulis bahwa warna adalah “kekuatan yang langsung memengaruhi jiwa.”

Sebaliknya, patung Cokot lahir dari kayu yang berbicara. Nyoman Cokot tidak memulai dengan rancangan figur, melainkan membiarkan pisau, dan pahat menuntun bentuk tercipta dari serat kayu.

Figur-figur ‘grotesk’ dan ‘surealis’ yang muncul adalah manifestasi bawah sadar, seolah roh alam bersemayam di dalamnya.

Mengutip buku teori seni dan psikologi gaya yang ditulis oleh sejarawan seni asal Jerman, Wilhelm Worringer, pada tahun 1907. – ‘Abstraktion und Einfühlung’ (Abstraksi dan Empati) yang adalah buku teori seni dan psikologi gaya. 

Karya ini menjadi salah satu landasan teoretis paling berpengaruh bagi perkembangan seni modern, khususnya gerakan Ekspresionisme dan Seni Abstrak di awal abad ke-20.

Dalam kerangka teori Wilhelm Worringer tentang ‘Abstraktion und Einfühlung’ tersebut, karya Cokot lebih dekat pada abstraksi yang lahir dari dorongan metafisik : bentuk-bentuk yang tidak mencari ‘harmoni naturalistik’, melainkan menyalurkan ‘energi gaib’ Bali.

Selanjutnya, perbandingan antara karya Putu Fajar Arcana berjudul “Metamorfosis”dan patung Nyoman Cokot membuka ruang dialog tentang transformasi, spontanitas, dan spiritualitas dalam seni Bali kontemporer.

Arcana menggunakan teknik yang membiarkan cat akrilik mengalir, berbaur, dan membentuk figur yang tidak direncanakan. Dalam “Metamorfosis”, bentuk-bentuk abstrak yang lahir dari cairan kemudian ditanggapi dengan intuisi, menghasilkan figur yang seolah sedang berubah dari satu keadaan ke keadaan lain.

Judul “Metamorfosis” menegaskan gagasan perubahan – baik biologis, psikologis, maupun spiritual. Lukisan ini dapat dibaca sebagai simbol perjalanan batin – dari luka menuju penyembuhan, dari chaos menuju harmoni.

Warna-warna kontras dan gerakan cair menciptakan kesan organisme yang sedang tumbuh, mirip dengan metamorfosis serangga atau transformasi kosmik.

Pada Cokot, ia bekerja dengan kayu yang bengkok, beralur, atau cacat, membiarkan material memandu arah pahatan. Figur ‘grotesk’ dan ‘surealis’ lahir dari spontanitas, bukan dari konsep yang dirancang.

Oleh karenanya, patung Cokot sering dianggap sebagai “manifestasi roh kayu”. Transformasi terjadi ketika kayu mati “berubah” menjadi “figur hidup” yang membawa “aura mistis”.

Tekstur alami kayu dipertahankan, sehingga metamorfosis di sini bukan sekadar ‘bentuk’, tetapi juga ‘energi gaib’; yang muncul dari ‘material’.

Keduanya berbicara tentang “metamorfosis”, dalam arti luas. Arcana menekankan ‘metamorfosis batin’ melalui warna cair yang berubah menjadi figur, sementara Cokot menekankan ‘metamorfosis material’ – kayu yang berubah menjadi figur hidup.

Arcana menghadirkan “metamorfosis” sebagai proses psikologis dan spiritual, sedangkan Cokot menghadirkannya sebagai proses kosmologis dan mistis.

Dengan demikian, karya Arcana dan Cokot dapat dipandang sebagai dua wajah dari satu gagasan besar – bahwa seni adalah ‘transformasi energi’ – baik energi batin maupun energi alam, yang menjelma menjadi bentuk visual.

Lebih lanjut, mari kita tekuni hkarya Putu Fajar yang ini berjudul Simpon dan Penonton Terakhir, saya melihat perbandingannya dengan patung Cokot di sebelahnya justru sangat menarik karena keduanya seperti memperlihatkan satu akar visual yang sama, tetapi tumbuh dalam dua bahasa yang berbeda : bahasa ukir kayu dan bahasa lukisan.

Pada patung Cokot, bentuk makhluk muncul dari tubuh kayu yang tidak beraturan. Kayu tampak seperti telah membawa kemungkinan bentuknya sendiri.

Lubang-lubang, tonjolan, serat, patahan, dan kontur yang liar tidak ditutupi, tetapi justru dimanfaatkan sebagai bagian dari struktur figur.

Cokot seolah tidak menciptakan makhluk dari sebuah bidang kosong – ia membaca makhluk yang tersembunyi dalam material.

Pada “Simpon dan Penonton Terakhir”, Putu Fajar melakukan sesuatu yang secara prinsip memiliki kedekatan, tetapi dengan cara yang jauh lebih cair.

Figur tidak hadir sebagai tubuh yang solid. Ia muncul dari pertemuan warna kuning, hitam, putih, abu-abu, garis, pusaran, tetesan, dan bidang-bidang yang seperti bergerak.

Kita dapat menangkap beberapa kemungkinan figur – wajah, mata, tanduk, cakar, bulu, tubuh binatang atau makhluk imajiner – tetapi semuanya tidak pernah benar-benar berhenti menjadi satu bentuk yang pasti.

Cokot berangkat dari material yang sudah mempunyai bentuk alamiah. Fajar berangkat dari material cair yang kemudian diberi kemungkinan bergerak melalui berbagai perangkat sederhana. Kalau Cokot bekerja dengan resistensi kayu, Fajar bekerja dengan ketidakstabilan cat.

Pada Cokot, kayu “berbicara” melalui serat dan bentuknya. Pada Fajar, cat “berbicara” melalui aliran, tekanan, udara, panas, tarikan, tetesan, dan gerak.

Karena itu saya melihat “Simpon dan Penonton Terakhir” bukan sebagai lukisan yang sekadar menggambarkan makhluk. Lebih menarik kalau ia dibaca sebagai “rekaman sebuah proses kelahiran bentuk”.

Menurut saya, perbandingan antara  karya Putu Fajar Arcana dan patung kayu Nyoman Cokot memperlihatkan bahwa keduanya sama-sama menekankan “transformasi sebagai inti seni”.

Arcana menyalurkan ‘gema batin’ melalui aliran warna cair yang berubah menjadi figur, sementara Cokot menyalurkan ‘gema material’ – kayu yang beralih dari benda mati menjadi ‘figur hidup’ penuh ‘aura mistis’.

Dalam dialogkarya kreatif  ini,  bukan sekadar tema, melainkan modus penciptaan –  seni sebagai jalan perubahan, revitalisasi, dan pertemuan dengan roh kekaryaan.

Arcana mengajarkan bahwa luka dapat berubah menjadi cahaya, Cokot menegaskan bahwa kayu dapat menjelma menjadi energi gaib.

Keduanya menyingkap bahwa “seni Bali kontemporer” adalah “ruang transisi”, tempat di mana batin dan alam bertemu, dan transformasi menjadi bahasa universal yang menghubungkan manusia dengan semesta. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: I Nyoman CokotPutu Fajar ArcanaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

Next Post

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Siapa Membiayai Pangan Kita? ------Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co