9 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
in Esai
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu saja dari dapur. Di baliknya ada petani yang menanam, pekerja yang mengolah, pedagang yang mendistribusikan, serta berbagai pelaku usaha yang memastikan pangan tersedia ketika kita membutuhkannya. Jika kita telaah lebih dalam, pembicaraan terkait pangan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pokok saja, melainkan tentang sebuah ekosistem ekonomi yang sangat besar.

Selama ini, isu ketahanan pangan umumnya dibahas dari sisi produksi, harga, pupuk, impor, dan ketersediaan bahan pangan saja. Aspek-aspek tersebut memang sangat penting untuk dikaji dan didiskusikan secara mendalam oleh para pakar. Namun, terdapat pertanyaan mendasar yang juga perlu diajukan: siapa yang membiayai pangan kita?

Pertanyaan ini semakin relevan karena sektor pertanian dan pangan tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga harus mampu menghadapi pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, pergeseran pola konsumsi, serta ketidakpastian ekonomi. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya ditopang oleh lahan, teknologi, dan kebijakan, tetapi juga memerlukan dukungan modal yang memadai dan berkelanjutan.

Pada praktiknya, pelaku utama dalam rantai pangan justru sering berada pada posisi yang membutuhkan modal paling besar sekaligus menghadapi risiko yang tinggi. Petani sebagai tulang punggung pangan justru harus mengeluarkan biaya sebelum memperoleh hasil panen. Mereka membutuhkan benih, pupuk, alat produksi, tenaga kerja, hingga biaya distribusi.

Pada prosesnya, petani sering kali menghadapi tantangan eksternal berupa cuaca, serangan hama, perubahan harga, dan kondisi pasar yang mempengaruhi perubahan hasil pertanian tiap periodenya. Bagi petani kecil, keterbatasan modal dapat membuat peningkatan produktivitas menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, persoalan pangan bukan hanya persoalan bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan pelaku di dalamnya memiliki akses terhadap pembiayaan yang memadai.

Di sisi lain, masyarakat memiliki surplus dana yang sering kali belum dimanfaatkan di sistem keuangan dan investasi. Surplus dana tersebut seharusnya dapat dioptimalkan untuk berinvestasi ke beberapa instrument keuangan. Setiap orang yang berinvestasi pada dasarnya sedang memutuskan ke mana uangnya ditempatkan dan aktivitas ekonomi apa yang secara tidak langsung ikut dibiayainya. Selama ini, investasi sering dipahami terutama dari satu pertanyaan: berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh? Pertanyaan tersebut tentu sah dan penting.

Namun, bukankah kita juga perlu bertanya: apa yang akan tumbuh dari uang yang kita investasikan? Jika dana masyarakat dapat diarahkan ke aktivitas ekonomi produktif yang memperkuat sektor pangan, investasi tidak lagi sekadar menjadi instrumen untuk meningkatkan kekayaan individu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Di titik inilah investasi syariah memiliki ruang untuk mengambil peran. Investasi syariah pada hakikatnya tidak hanya dipahami sebagai pilihan investasi yang memenuhi ketentuan syariah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas sebagai sarana mobilisasi dana menuju kegiatan ekonomi yang produktif.

Investasi Berdampak

Dengan prinsip yang menekankan keadilan, amanah, dan kemaslahatan, investasi syariah memiliki peluang untuk mempertemukan pemilik modal dengan sektor-sektor yang membutuhkan pembiayaan, termasuk sektor pangan. Tantangan yang dihadapi investasi berbasis syariah bukan lagi sekedar apakah investasi syariah dapat memberikan keuntungan, melainkan bagaimana ekosistem investasi tersebut dapat memastikan bahwa sebagian modal yang dihimpun benar-benar ikut menggerakkan sektor riil dan memperkuat fondasi pangan Indonesia.

Namun, menghadirkan investasi syariah ke sektor pangan tentu tidak cukup dengan sekadar mengajak masyarakat berinvestasi. Dibutuhkan mekanisme yang mampu menghubungkan dana investor dengan kebutuhan nyata di sektor pangan. Investasi harus diarahkan pada ekosistem yang produktif, mulai dari usaha pertanian, peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga distribusi pangan. Dengan demikian, dana yang dihimpun tidak berhenti sebagai angka dalam portofolio investasi, tetapi benar-benar memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang, membuka lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok pangan.

Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen dalam ekosistem keuangan syariah. Sukuk, misalnya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghimpun dana bagi pembiayaan proyek atau kegiatan produktif yang berkaitan dengan infrastruktur pangan.

Sementara itu, instrumen pasar modal syariah dan skema pembiayaan berbasis syariah lainnya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan usaha di sektor pangan. Yang terpenting bukan semata-mata jenis instrumennya, tetapi bagaimana desain pembiayaannya mampu mempertemukan kebutuhan modal dengan proyek yang layak, produktif, dan memberikan manfaat nyata.

Di sinilah gagasan investasi berdampak (impact investing) menjadi relevan. Selama ini, keberhasilan investasi hampir selalu diukur melalui tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Ukuran tersebut memang penting karena investasi tetap harus memberikan imbal hasil yang wajar dan mempertimbangkan risiko.

 Namun, investasi juga dapat dinilai dari dampak yang muncul di luar angka keuntungan tersebut. Ketika modal membantu petani meningkatkan produksi, UMKM pangan memperluas usahanya, atau infrastruktur distribusi pangan menjadi lebih baik, maka terdapat nilai ekonomi dan sosial yang ikut tercipta.

Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Dalam perspektif ekonomi syariah, pendekatan semacam ini memiliki landasan yang kuat. Prinsip amanah mengingatkan bahwa dana yang dipercayakan investor harus dikelola secara bertanggung jawab. Prinsip keadilan mendorong agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pemilik modal atau perusahaan besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari rantai pangan. Sementara prinsip maslahah memperluas cara kita melihat keberhasilan investasi: keuntungan finansial tetap penting, tetapi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat juga patut menjadi pertimbangan.

Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar gagasan investasi syariah untuk pangan tidak berhenti sebagai slogan. Tidak semua investasi syariah secara otomatis memberikan dampak sosial, dan tidak semua proyek pangan otomatis layak dibiayai. Dibutuhkan tata kelola yang transparan, pengelolaan risiko yang baik, pemilihan proyek yang kredibel, serta mekanisme untuk mengukur dampak yang dihasilkan.

Investor juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai ke mana dananya disalurkan. Dengan begitu, prinsip syariah tidak hanya hadir pada bentuk akad atau instrumen, tetapi juga tercermin dalam bagaimana modal tersebut dikelola dan untuk siapa manfaat ekonominya dihasilkan.

Karena itu, membangun ketahanan pangan seharusnya bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan, infrastruktur, insentif, dan ekosistem yang memungkinkan sektor pangan berkembang. Industri keuangan syariah dapat mengambil peran dengan menghadirkan skema pembiayaan dan investasi yang sesuai. Sementara masyarakat sebagai pemilik dana memiliki pilihan untuk menjadi bagian dari proses tersebut melalui investasi yang tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian.

Pada akhirnya, kita mungkin perlu mengubah cara pandang terhadap investasi. Investasi bukan hanya tentang bagaimana uang kita bertambah, tetapi juga tentang apa yang tumbuh karena uang tersebut. Ketika pangan menjadi kebutuhan dasar sekaligus persoalan strategis bangsa, modal yang mengalir ke sektor pangan semestinya tidak dipandang sebagai kegiatan ekonomi biasa.

Jika investasi syariah mampu mempertemukan dana masyarakat dengan petani, pelaku usaha pangan, koperasi, dan sektor produktif lainnya, maka investasi dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membangun ketahanan pangan. Sebab, mungkin sudah waktunya investasi syariah tidak hanya tumbuh di layar aplikasi investasi, tetapi ikut turun ke sawah. [T]

Penulis: Muhammad Farras Hanif
Editor: Adnyana Ole

Tags: Investasikeuanganpangansyariah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Next Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Muhammad Farras Hanif

Muhammad Farras Hanif

Dosen Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails
Next Post
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co