19 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
in Esai
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Muhammad Farras Hanif

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu saja dari dapur. Di baliknya ada petani yang menanam, pekerja yang mengolah, pedagang yang mendistribusikan, serta berbagai pelaku usaha yang memastikan pangan tersedia ketika kita membutuhkannya. Jika kita telaah lebih dalam, pembicaraan terkait pangan bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pokok saja, melainkan tentang sebuah ekosistem ekonomi yang sangat besar.

Selama ini, isu ketahanan pangan umumnya dibahas dari sisi produksi, harga, pupuk, impor, dan ketersediaan bahan pangan saja. Aspek-aspek tersebut memang sangat penting untuk dikaji dan didiskusikan secara mendalam oleh para pakar. Namun, terdapat pertanyaan mendasar yang juga perlu diajukan: siapa yang membiayai pangan kita?

Pertanyaan ini semakin relevan karena sektor pertanian dan pangan tidak hanya dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga harus mampu menghadapi pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, pergeseran pola konsumsi, serta ketidakpastian ekonomi. Oleh sebab itu, ketahanan pangan tidak cukup hanya ditopang oleh lahan, teknologi, dan kebijakan, tetapi juga memerlukan dukungan modal yang memadai dan berkelanjutan.

Pada praktiknya, pelaku utama dalam rantai pangan justru sering berada pada posisi yang membutuhkan modal paling besar sekaligus menghadapi risiko yang tinggi. Petani sebagai tulang punggung pangan justru harus mengeluarkan biaya sebelum memperoleh hasil panen. Mereka membutuhkan benih, pupuk, alat produksi, tenaga kerja, hingga biaya distribusi.

Pada prosesnya, petani sering kali menghadapi tantangan eksternal berupa cuaca, serangan hama, perubahan harga, dan kondisi pasar yang mempengaruhi perubahan hasil pertanian tiap periodenya. Bagi petani kecil, keterbatasan modal dapat membuat peningkatan produktivitas menjadi sulit dilakukan. Akibatnya, persoalan pangan bukan hanya persoalan bagaimana menghasilkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana memastikan pelaku di dalamnya memiliki akses terhadap pembiayaan yang memadai.

Di sisi lain, masyarakat memiliki surplus dana yang sering kali belum dimanfaatkan di sistem keuangan dan investasi. Surplus dana tersebut seharusnya dapat dioptimalkan untuk berinvestasi ke beberapa instrument keuangan. Setiap orang yang berinvestasi pada dasarnya sedang memutuskan ke mana uangnya ditempatkan dan aktivitas ekonomi apa yang secara tidak langsung ikut dibiayainya. Selama ini, investasi sering dipahami terutama dari satu pertanyaan: berapa besar keuntungan yang bisa diperoleh? Pertanyaan tersebut tentu sah dan penting.

Namun, bukankah kita juga perlu bertanya: apa yang akan tumbuh dari uang yang kita investasikan? Jika dana masyarakat dapat diarahkan ke aktivitas ekonomi produktif yang memperkuat sektor pangan, investasi tidak lagi sekadar menjadi instrumen untuk meningkatkan kekayaan individu, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.

Di titik inilah investasi syariah memiliki ruang untuk mengambil peran. Investasi syariah pada hakikatnya tidak hanya dipahami sebagai pilihan investasi yang memenuhi ketentuan syariah, tetapi juga dapat ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas sebagai sarana mobilisasi dana menuju kegiatan ekonomi yang produktif.

Investasi Berdampak

Dengan prinsip yang menekankan keadilan, amanah, dan kemaslahatan, investasi syariah memiliki peluang untuk mempertemukan pemilik modal dengan sektor-sektor yang membutuhkan pembiayaan, termasuk sektor pangan. Tantangan yang dihadapi investasi berbasis syariah bukan lagi sekedar apakah investasi syariah dapat memberikan keuntungan, melainkan bagaimana ekosistem investasi tersebut dapat memastikan bahwa sebagian modal yang dihimpun benar-benar ikut menggerakkan sektor riil dan memperkuat fondasi pangan Indonesia.

Namun, menghadirkan investasi syariah ke sektor pangan tentu tidak cukup dengan sekadar mengajak masyarakat berinvestasi. Dibutuhkan mekanisme yang mampu menghubungkan dana investor dengan kebutuhan nyata di sektor pangan. Investasi harus diarahkan pada ekosistem yang produktif, mulai dari usaha pertanian, peternakan, pengolahan hasil pertanian, hingga distribusi pangan. Dengan demikian, dana yang dihimpun tidak berhenti sebagai angka dalam portofolio investasi, tetapi benar-benar memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang, membuka lapangan kerja, dan memperkuat rantai pasok pangan.

Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen dalam ekosistem keuangan syariah. Sukuk, misalnya, dapat menjadi salah satu instrumen untuk menghimpun dana bagi pembiayaan proyek atau kegiatan produktif yang berkaitan dengan infrastruktur pangan.

Sementara itu, instrumen pasar modal syariah dan skema pembiayaan berbasis syariah lainnya dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan usaha di sektor pangan. Yang terpenting bukan semata-mata jenis instrumennya, tetapi bagaimana desain pembiayaannya mampu mempertemukan kebutuhan modal dengan proyek yang layak, produktif, dan memberikan manfaat nyata.

Di sinilah gagasan investasi berdampak (impact investing) menjadi relevan. Selama ini, keberhasilan investasi hampir selalu diukur melalui tingkat keuntungan yang diperoleh investor. Ukuran tersebut memang penting karena investasi tetap harus memberikan imbal hasil yang wajar dan mempertimbangkan risiko.

 Namun, investasi juga dapat dinilai dari dampak yang muncul di luar angka keuntungan tersebut. Ketika modal membantu petani meningkatkan produksi, UMKM pangan memperluas usahanya, atau infrastruktur distribusi pangan menjadi lebih baik, maka terdapat nilai ekonomi dan sosial yang ikut tercipta.

Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Dalam perspektif ekonomi syariah, pendekatan semacam ini memiliki landasan yang kuat. Prinsip amanah mengingatkan bahwa dana yang dipercayakan investor harus dikelola secara bertanggung jawab. Prinsip keadilan mendorong agar manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pemilik modal atau perusahaan besar, tetapi juga dapat dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang menjadi bagian penting dari rantai pangan. Sementara prinsip maslahah memperluas cara kita melihat keberhasilan investasi: keuntungan finansial tetap penting, tetapi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat juga patut menjadi pertimbangan.

Meski demikian, kita perlu berhati-hati agar gagasan investasi syariah untuk pangan tidak berhenti sebagai slogan. Tidak semua investasi syariah secara otomatis memberikan dampak sosial, dan tidak semua proyek pangan otomatis layak dibiayai. Dibutuhkan tata kelola yang transparan, pengelolaan risiko yang baik, pemilihan proyek yang kredibel, serta mekanisme untuk mengukur dampak yang dihasilkan.

Investor juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai ke mana dananya disalurkan. Dengan begitu, prinsip syariah tidak hanya hadir pada bentuk akad atau instrumen, tetapi juga tercermin dalam bagaimana modal tersebut dikelola dan untuk siapa manfaat ekonominya dihasilkan.

Karena itu, membangun ketahanan pangan seharusnya bukan hanya menjadi tugas pemerintah. Pemerintah tetap memiliki peran penting dalam menciptakan kebijakan, infrastruktur, insentif, dan ekosistem yang memungkinkan sektor pangan berkembang. Industri keuangan syariah dapat mengambil peran dengan menghadirkan skema pembiayaan dan investasi yang sesuai. Sementara masyarakat sebagai pemilik dana memiliki pilihan untuk menjadi bagian dari proses tersebut melalui investasi yang tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga dampaknya terhadap perekonomian.

Pada akhirnya, kita mungkin perlu mengubah cara pandang terhadap investasi. Investasi bukan hanya tentang bagaimana uang kita bertambah, tetapi juga tentang apa yang tumbuh karena uang tersebut. Ketika pangan menjadi kebutuhan dasar sekaligus persoalan strategis bangsa, modal yang mengalir ke sektor pangan semestinya tidak dipandang sebagai kegiatan ekonomi biasa.

Jika investasi syariah mampu mempertemukan dana masyarakat dengan petani, pelaku usaha pangan, koperasi, dan sektor produktif lainnya, maka investasi dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membangun ketahanan pangan. Sebab, mungkin sudah waktunya investasi syariah tidak hanya tumbuh di layar aplikasi investasi, tetapi ikut turun ke sawah. [T]

Penulis: Muhammad Farras Hanif
Editor: Adnyana Ole

Tags: Investasikeuanganpangansyariah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Next Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Muhammad Farras Hanif

Muhammad Farras Hanif

Dosen Prodi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ)

Related Posts

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails
Next Post
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co