21 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Satria Aditya by Satria Aditya
August 30, 2026
in Pameran
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Pameran karya Reka Biambara

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara Putra, dan Wahyu Simbrana menetap di Yogyakarta mengikuti program residensi Sangkring Art Space x Gurat Institute. Perjalanan itu berujung pada pameran bersama bertajuk Lelana, yang digelar di Cari Nagari, Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Di antara empat nama itu, satu yang menonjol karena memilih jalan paling personal. Ia adalah I Kadek Agus Reka Biambara Putra, kelahiran Pekutatan, 11 April 2003, yang membawa bambu, bukan sekadar sebagai material, tapi sebagai arsip ingatan masa kecilnya di Jembrana.

Reka bukan orang baru di jalur residensi maupun pameran. Dalam tiga tahun terakhir namanya tercatat di sejumlah pameran di Bali dan Yogyakarta, dari Sound of Jembrana di Anjungan Cerdas Jembrana, residensi MTN Lab “Pulang ke Palung” di Denpasar, hingga Yogya Annual Art #11 di Sangkring Art Gallery. Namun Lelana, yang berlangsung 29 Agustus–4 September 2026, terasa berbeda. Seperti menjadi titik di mana pertanyaan yang sudah lama dipendamnya, “sejauh mana kita benar-benar mengenal bambu?” akhirnya menemukan bentuk visual yang utuh.

Putu Sutawijaya—perupa asal Bali sekaligus pendiri Sangkring Art Space dan Reka Biambara

Melalui telepon WhatsApp, Reka bercerita proses di Yogyakarta, sebenarnya dimulai dari kejenuhan. Tuntutan menghasilkan banyak sketsa lewat observasi langsung membuatnya lama bekerja dengan kertas konvensional, tinta cina, dan kuas. Tapi menurutnya, media itu makin terasa generik dan berjarak dari tema yang ia angkat.

“Muncul rasa jenuh terhadap penggunaan kertas biasa yang terasa generik dan kurang memiliki kedalaman keterkaitan dengan tema yang sedang saya angkat,” katanya. “Keterbatasan ekspresi dan keterasingan media ini memicu keinginan saya untuk mencari alternatif yang lebih integral dengan fokus eksplorasi saya dengan material bambu.”

Titik baliknya datang secara tidak terduga. Dalam perjalanan menuju sebuah pameran, ia melihat sekelompok orang menyaksikan pembakaran rumpun bambu. Alih-alih mendekat, Reka memilih mengambil jarak dan mengamati.

“Apakah bambu tersebut dibakar karena sudah kehilangan nilai guna, atau justru karena keberadaannya dianggap mengganggu tatanan tertentu? Atau mungkin bambu tersebut terbakar secara alami karena paparan sinar matahari dan cuaca yang lumayan panas?” ia mempertanyakan.

Bambu terbakar

Delapan hari kemudian ia kembali ke lokasi itu untuk memotret sisa-sisa pembakaran, sebuah dokumentasi yang kelak menjadi bagian dari narasi karyanya.

Dari peristiwa itu ia sampai pada satu simpulan bahwa makna yang melekat pada bambu tidak pernah tunggal. “Pemaknaan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam bambu tidak bersifat universal. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antar individu dan konteks ruang,” ujarnya. Dari sanalah muncul pertanyaan sekaligus solusi yang menjadi tulang punggung karyanya: mengapa tidak menciptakan kertas sendiri dari serat bambu?

Keputusan itu membawa Reka menempuh proses panjang, dari mengolah bambu utuh menjadi serat, lalu menjadi lembaran kertas, yang kemudian ia bakar secara terkendali dengan teknik pyrography. Baginya, proses pembakaran yang terkendali pada permukaan bambu dan kertas bambu itu bukan kebetulan. Ia sengaja menempatkannya sebagai dialog antara daya rusak dan daya cipta dalam hubungan manusia dengan alam, sekaligus gaung dari peristiwa pembakaran yang ia saksikan di Yogyakarta.

Bubur kertas bambu kering

Ketertarikan Reka pada bambu sendiri bukan sesuatu yang lahir mendadak selama residensi. Ia tumbuh besar di Jembrana, Bali Barat. Sebuah wilayah yang punya ikatan kuat dengan jegog, kesenian musik bambu raksasa yang menjadi bagian dari lanskap masyarakat agraris di sana. “Kedekatan saya dengan tanaman bambu berakar pada pengalaman hidup di lingkungan alam dan budaya tempat kelahiran saya di Bali. Sejak kecil, keberadaan bambu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian, baik dalam konteks pelaksanaan upacara adat maupun pemenuhan kebutuhan domestik,” katanya.

Pengamatannya terhadap sifat fisik bambu pun cukup rinci. Ia menjelaskan bahwa bambu adalah tumbuhan menahun dari famili rumput-rumputan, bukan pohon berkayu sejati—batangnya berongga dan beruas, sehingga kuat sekaligus lentur, dengan serat yang kuat ditarik memanjang namun rentan retak melintang. Pengetahuan yang tampak teknis ini, dalam karyanya, tidak berhenti sebagai catatan botani, melainkan jadi dasar metaforis: kekuatan yang berdampingan dengan kerapuhan.

Instalasi resonansi

Karya-karya Reka di Lelana disusun berdasarkan empat peran yang ia rumuskan sendiri sebagai kerangka untuk memahami bambu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Peran pertama, Resonansi, merujuk pada jegog, alat musik bambu raksasa (bambu petung) dari Jembrana yang menurut kajian I Gede Oka Artha Negara (2016) berkembang sejak sekitar 1912 dan melewati tiga fase: era Genyor, Suprig, dan Jayus. Karya berjudul Resonansi (Pyrography on Bamboo, 105×30 cm, 2026) menempatkan rongga batang bambu bukan sebagai kekurangan, melainkan justru syarat lahirnya bunyi.

Peran kedua, Ritual, berangkat dari benda-benda upacara seperti sanggah cukcuk dan klatkat, yang bagi Reka justru menegaskan bahwa yang utama dalam ritus bukan soal daya tahan benda, melainkan niat yang dibawanya. Peran ketiga, Terapan, menyoroti fungsi praktis bambu dalam bangunan dan anyaman, sebagai contoh bagaimana kebutuhan manusia bisa dipenuhi tanpa merusak keseimbangan alam. Peran keempat, Bangkit, mengangkat bambu runcing sebagai simbol perlawanan dan kemerdekaan, “diruncingkan untuk menjaga tanah tempat kita dilahirkan.”

Ketiga karya terakhir dikerjakan dengan teknik pyrography and acrylic on bamboo paper berukuran 50×50 cm, sementara Resonansi tampil dalam format instalasi bambu bakar yang digantung dengan kain putih panjang, dipamerkan di ruang Rumaharihari, Carinagari, Yogyakarta.

Detil karya

Di balik proses panjang mengolah bambu hingga menjadi kertas dan karya jadi, Reka juga menyisipkan rasa terima kasihnya untuk Putu Sutawijaya—perupa asal Bali sekaligus pendiri Sangkring Art Space, yang menaungi program residensi ini. Baginya, dukungan itu bukan sekadar bantuan teknis, melainkan ruang dan keberanian untuk terus mencoba.

“Ia yang memberi banyak dukungan. Mulai dari peminjaman studio sampai dukungan moral untuk proses aku berkarya dan selalu bilang ‘coba saja’,” ujar Reka.

Dalam esai pengantar pameran, kurator I Made Susanta Dwitanaya menempatkan Reka sebagai representasi dari cara residensi bekerja bukan lewat penggantian medium, melainkan lewat pendalaman hubungan dengan material yang sudah lama dikenal. “Reka Biambara Putra membawa bambu dari ingatan kultural Jembrana menuju eksplorasi material baru,” tulis Susanta. Ia menyebut perpindahan bentuk material, dari batang utuh menuju serat dan lembaran kertas adalah cara Reka melihat satu bahan lewat sifat yang berbeda-beda, sekaligus cara memindahkan ingatan tentang tempat asal ke ruang kerja baru tanpa kehilangan hubungan dengan sumbernya.

Bagi Reka sendiri, pertanyaan yang mengawali seluruh proyek ini tetap menjadi penutup yang paling jujur: “Sejauh mana kita mengenal bambu, sejauh itulah kita memahami cara hidup yang benar-benar selaras dengan alam.”

Reka Biambara Putra, berdomisili di Kota Negara, Jembrana, Bali. Karya-karyanya dalam pameran Lelana—hasil residensi bersama Sangkring Art Space x Gurat Institute—dipamerkan di Cari Nagari, Yogyakarta. [T]

Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Pameran Seni RupaSangkring Art Space BaliSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

Next Post

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Himpunan Perupa Payangan Perluas Eksplorasi Artistik, Gelar Pameram Bersama di Santrian Art Gallery, Sanur

Sore itu, suasana hotel sudah semakin gelap. Pameran bertajuk “Udhar Banda Karma: Unshackling the Karma of Tradition” belum juga dibuka....

Read moreDetails

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

by tatkala
September 17, 2026
0
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

Read moreDetails

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

by Nyoman Budarsana
August 5, 2026
0
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

Read moreDetails

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
0
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

Read moreDetails

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
0
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

Read moreDetails

Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Agung Pramana Hadirkan “After Exotic 1931” di ARTJOG 2026 —Menelisik Jejak Kolonial di Balik Eksotisme Bali

BALI selama bertahun-tahun dikenal dunia sebagai pulau yang eksotis. Namun, di balik citra itu, tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana representasi...

Read moreDetails

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam
Khas

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
Telenovela
Esai

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

by Angga Wijaya
September 21, 2026
Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali
Budaya

Puncak Minikino Film Week 12: Rayakan Pemenang Penghargaan Utama, Dorong Industri Film Pendek, dan Perkuat Edukasi Generasi Muda di Bali

Perhelatan festival film pendek internasional Minikino Film Week 12 (MFW12) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kino Media sukses digelar pada 11–18 September 2026 di Bali....

by Rusdy Ulu
September 20, 2026
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire
Esai

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek
Esai

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

by Sugi Lanus
September 20, 2026
Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3
Budaya

Pemilihan Duta Bahasa Nasional 2026: DKI Jakarta Terbaik 1, Jawa Timur Terbaik 2, Bali Terbaik 3

JAKARTA – TATKALA.CO –  Pasangan dari Provinsi DKI Jakarta, Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti, resmi dinobatkan sebagai...

by tatkala
September 20, 2026
Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis
Buku Tatkala

Birokrasi Bisik-Bisik — Catatan Seorang Jurnalis

Judul: Birokrasi Bisik-Bisik --- Catatan Seorang Jurnalis Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Ketut Parwata ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
September 20, 2026
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma
Ulas Rupa

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026
Khas

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co