1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran di media sosial. Dalam berbagai siaran langsung, sebagian netizen bahkan berharap demonstrasi berlangsung lebih lama, lebih ramai, lebih panas. Ada yang kemudian membuat olok-olok dengan menyamarkan nama program pemerintah menjadi “MBG,Mas Botok Gagal”, seolah demonstrasi baru terasa mantap kalau kemarahan publik benar-benar tumpah sampai ke mana-mana.

Tetapi ada pula suara yang justru memuji aksi tersebut. Bagi kelompok ini, demonstrasi kemarin dianggap berhasil karena massa datang membawa aspirasi, diterima oleh DPR, terjadi dialog, dan lahir kesepakatan. Kalau pesan sudah disampaikan dan pihak yang dituju sudah merespons, untuk apa harus berlama-lama? Emang kami ini pengangguran.? Begitu kira-kira logikanya. Tinggal satu pekerjaan, yaitu mengawal apakah kesepakatan itu benar-benar dilaksanakan. Dari sini kita menemukan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar apakah demo Pati kemarin sukses atau gagal.

Sebenarnya, kapan sebuah demonstrasi dianggap berhasil?  Apakah ketika massa mampu bertahan selama berjam-jam, ketika jumlahnya ribuan, ketika suara teriakan semakin keras, atau ketika gerbang yang dituju akhirnya roboh  dan yang di dalam bersedia mendengarkan?  Jangan-jangan kita sedang mengalami kekacauan kecil dalam memahami demokrasi, di mana kita mulai mengukur keberhasilan demonstrasi dari seberapa gaduh pertunjukannya, bukan dari seberapa jauh tuntutannya bergerak.

Demonstrasi Bukan Lomba Bertahan di Jalan

Demonstrasi pada dasarnya adalah salah satu bentuk komunikasi politik.  Ada pihak yang memiliki keresahan sehingga ada pesan yang hendak disampaikan. Ada pihak yang dituju  untuk menyampaikan tuntutan. Kemudian diharapkan muncul respons. Sederhananya, warga berbicara, kekuasaan mendengar, lalu terjadi proses politik. 

Kalau pihak yang dituju tidak mau mendengar, tentu tekanan publik perlu diteruskan. Bahkan demonstrasi yang lebih besar dan lebih lama bisa menjadi cara masyarakat menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap remeh.

Tetapi bagaimana kalau pesan sudah diterima, dialog sudah terjadi kemudian pihak yang berwenang sudah memberikan respons dan kesepakatan sudah dibuat?  Pada titik itu, pulang bukan berarti kalah. Toh, kita tidak pernah menilai keberhasilan sebuah percakapan dari berapa lama dua orang berteriak satu sama lain. 

Bayangkan saja sepasang kekasih atau suami istri atau antara tetangga yang lagi ribut, mereka teriak satu sama lain dan tidak ada penyelesaian. Jadi, kalau masalah selesai dibicarakan dalam dua puluh menit, masa iya, harus diperpanjang menjadi tiga jam supaya terlihat serius?  Toh, demokrasi bukan perlombaan siapa paling lama berdiri di jalan.

Tetapi Jangan Pula Menyalahkan Mahasiswa yang Senang Ramai

Namun di sini kita harus berhati-hati. Jangan pula menggunakan argumen kalau tuntutan sudah disampaikan, pulang saja, sekadar untuk menghakimi demonstrasi mahasiswa yang ramai, panjang, penuh orasi, poster, nyanyian, teatrikal, dan berbagai ekspresi jalanan. Saya meyakini demonstrasi mahasiswa mempunyai fungsi yang lebih luas. Mahasiswa bukan hanya sedang mengirim surat terbuka kepada penguasa. Mereka juga sedang belajar menjadi warga negara yang dewasa.

Di jalan, mereka belajar berbicara di depan orang banyak. Belajar menyusun argumentasi, belajar membuat tuntutan, belajar mengorganisasi massa, belajar membangun solidaritas, belajar menghadapi perbedaan, belajar bernegosiasi dengan aparat dan pejabat. Bahkan belajar mengelola kemarahan kolektif.  Demokrasi memang tidak cukup dipelajari dari buku teks.

John Dewey jauh-jauh hari mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan, tetapi juga sebuah cara hidup. Demokrasi harus dialami dalam praktik kehidupan bersama.  Maka mahasiswa berorasi di jalan tidak selalu berarti mereka tidak tahu cara berdialog.  Bisa jadi mereka sedang menggelar “kelas demokrasi” terbuka. Di kelas ini spanduk adalah media pembelajaran.  Orasi adalah latihan artikulasi dan logika, diskusi massa adalah latihan deliberasi. Teatrikal jalanan adalah ekspresi politik.  Dan keberanian berdiri di ruang publik untuk mengatakan “saya tidak setuju” adalah keterampilan kewargaan yang tidak kecil nilainya.  Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan demonstrasi masyarakat dengan demonstrasi mahasiswa.  Keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.

Ketika Kemarahan Menjadi Tujuan

Persoalannya baru muncul ketika demonstrasi berubah menjadi sekadar pelampiasan.  Kemarahan tentu bukan dosa dalam politik.  Masyarakat boleh marah.  Bahkan kemarahan sering kali menjadi energi awal sebuah perubahan. Ketidakadilan hampir selalu melahirkan emosi sebelum melahirkan manifesto. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika kemarahan tidak lagi menjadi energi untuk menyampaikan tuntutan, tetapi berubah menjadi tujuan itu sendiri.

Salah kaprah saat menilai demonstrasi yang penting ramai, lama, pemerintah takut, malah kalau belum rusuh berarti belum berhasil. Nah, pada titik ini kita harus berhenti sejenak.  Sebab kalau kita sampai percaya bahwa pemerintah hanya akan mendengar setelah terjadi kerusuhan, sebenarnya kita sedang mengakui sesuatu yang cukup mengkhawatirkan, bahwa saluran komunikasi politik dianggap tidak lagi berfungsi tanpa tekanan kekerasan.

Hannah Arendt pernah membedakan kekuasaan dari kekerasan. Kekuasaan, dalam pemikirannya, lahir dari kemampuan orang untuk bertindak bersama. Kekerasan adalah sesuatu yang berbeda.  Karena itu, kekuatan sebuah gerakan tidak otomatis ditentukan oleh seberapa keras ia mampu merusak. 

Justru kekuatan politik dapat muncul dari kemampuan massa untuk bersatu, menyampaikan tuntutan dengan jelas, dan membuat kekuasaan tidak bisa mengabaikannya.  Kerusuhan harusnya bukan satu-satunya bahasa yang dimengerti negara.  Kalau sampai kita percaya demikian, yang bermasalah bukan hanya demonstrasinya. Hubungan komunikasi antara warga dan negara yang perlu dicek ulang.

TikTok dan Lahirnya Demonstrasi Pertunjukan

Ada satu faktor baru yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah media sosial. Dulu demonstrasi berlangsung di ruang fisik. Sekarang demonstrasi juga berlangsung di depan kamera.  TikTok Live, Instagram, YouTube, dan berbagai platform membuat orang yang tidak berada di lokasi dapat ikut menonton. 

Akibatnya, demonstrasi memiliki penonton baru. Bukan hanya pejabat yang dituju. Tetapi juga netizen.Dan penonton digital memiliki logika yang berbeda. Mereka tidak selalu bertanya, apa tuntutannya. Kadang yang ditanyakan justru apa seru nggak, ramai nggak, rusuh nggak, malah sudah bentrok belum?

Inilah yang bisa kita sebut sebagai demonstrasi pertunjukan. Erving Goffman pernah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung, manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Demonstrasi pun memiliki panggung, aktor, simbol, slogan, penonton, bahkan dramaturginya sendiri.

Masalahnya, algoritma media sosial menyukai sesuatu yang menarik perhatian. Dan konflik biasanya jauh lebih menarik daripada dialog. Massa duduk berdialog dengan DPR mungkin tidak terlalu dramatis.  Tetapi massa berteriak, aparat bergerak, situasi memanas, itu jauh lebih mudah menjadi konten.  Maka muncul paradoks zaman digital, demonstrasi yang secara politik berhasil bisa saja secara digital terasa membosankan.

Sementara demonstrasi yang gagal menghasilkan kebijakan bisa terlihat sangat sukses sebagai tontonan. Kita harus berhati-hati jangan sampai ukuran keberhasilan politik akhirnya ditentukan oleh algoritma.

Jadi, Haruskah Demonstrasi Cepat Pulang?

Tidak juga. Tidak ada aturan bahwa demonstrasi yang baik harus cepat selesai. Demonstrasi mahasiswa boleh lama. Boleh ramai, pun boleh penuh orasi dan ekspresi. Sebab ada fungsi pendidikan politik dan pembentukan solidaritas di dalamnya. Demonstrasi masyarakat juga boleh menggunakan tekanan publik yang kuat ketika aspirasi mereka belum didengar. 

Tetapi ada satu kompas yang menurut saya lebih penting daripada panjang pendeknya aksi, apakah esensi tuntutannya sudah tercapai?Kalau belum didengar, perjuangkan. Kalau belum ada dialog, dorong dialog. Kalau belum ada respons, teruskan tekanan. Tetapi kalau sudah diterima, sudah terjadi dialog, sudah ada kesepakatan, maka mungkin saatnya bukan lagi menambah kemarahan. Saatnya mengawal.  Sebab, pulang bukan berarti selesai. 

Demokrasi Bukan Sekadar Kemampuan Berteriak

Barangkali inilah pelajaran terpenting dari peristiwa Pati. Kita tidak perlu memilih antara demonstrasi yang ekspresif dan demonstrasi yang komunikatif. Demokrasi membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan warga yang berani marah.  Kita membutuhkan mahasiswa yang berani berteriak. Kita membutuhkan masyarakat yang mampu memenuhi ruang publik dengan tuntutan. Tetapi kita juga membutuhkan warga yang mampu berdialog, mampu mendengar dan  bernegosiasi. Dan, yang sering kali justru lebih sulit, mampu mengetahui kapan harus berhenti berteriak.

Tetapi jangan lupa satu hal, pulang dari jalan bukan berarti menyerah. Kadang, pulang adalah cara demokrasi mengatakan kepada kekuasaan bahwa sekarang kami tunggu Anda membuktikan bahwa Anda benar-benar mendengar. Sementara itu biarkan adik-adik kami para mahasiswa tetap konsisten menyuarakan pendapat karena persoalan ini memang serius.

Kami rakyat kecil harus kembali nyangkul, ngojek, menyelesaikan pesanan kue, dan banting tulang lainnya sembari kami tetap menunggu hasil kesepakatan. Selayaknya kami berusaha setengah mati memenuhi kesepakatan membelikan sepatu baru si bungsu, dan membayar UKT si sulung kami. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: demodemonstrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Next Post

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails

Elegi Rumah Pusaka Bernama Papua

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, saya mengajak anda semua main ke sebuah rumah yang sangat luas. Rumah ini sangat asri, halamannya...

Read moreDetails

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails
Next Post
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026
Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co