12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran di media sosial. Dalam berbagai siaran langsung, sebagian netizen bahkan berharap demonstrasi berlangsung lebih lama, lebih ramai, lebih panas. Ada yang kemudian membuat olok-olok dengan menyamarkan nama program pemerintah menjadi “MBG,Mas Botok Gagal”, seolah demonstrasi baru terasa mantap kalau kemarahan publik benar-benar tumpah sampai ke mana-mana.

Tetapi ada pula suara yang justru memuji aksi tersebut. Bagi kelompok ini, demonstrasi kemarin dianggap berhasil karena massa datang membawa aspirasi, diterima oleh DPR, terjadi dialog, dan lahir kesepakatan. Kalau pesan sudah disampaikan dan pihak yang dituju sudah merespons, untuk apa harus berlama-lama? Emang kami ini pengangguran.? Begitu kira-kira logikanya. Tinggal satu pekerjaan, yaitu mengawal apakah kesepakatan itu benar-benar dilaksanakan. Dari sini kita menemukan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar apakah demo Pati kemarin sukses atau gagal.

Sebenarnya, kapan sebuah demonstrasi dianggap berhasil?  Apakah ketika massa mampu bertahan selama berjam-jam, ketika jumlahnya ribuan, ketika suara teriakan semakin keras, atau ketika gerbang yang dituju akhirnya roboh  dan yang di dalam bersedia mendengarkan?  Jangan-jangan kita sedang mengalami kekacauan kecil dalam memahami demokrasi, di mana kita mulai mengukur keberhasilan demonstrasi dari seberapa gaduh pertunjukannya, bukan dari seberapa jauh tuntutannya bergerak.

Demonstrasi Bukan Lomba Bertahan di Jalan

Demonstrasi pada dasarnya adalah salah satu bentuk komunikasi politik.  Ada pihak yang memiliki keresahan sehingga ada pesan yang hendak disampaikan. Ada pihak yang dituju  untuk menyampaikan tuntutan. Kemudian diharapkan muncul respons. Sederhananya, warga berbicara, kekuasaan mendengar, lalu terjadi proses politik. 

Kalau pihak yang dituju tidak mau mendengar, tentu tekanan publik perlu diteruskan. Bahkan demonstrasi yang lebih besar dan lebih lama bisa menjadi cara masyarakat menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap remeh.

Tetapi bagaimana kalau pesan sudah diterima, dialog sudah terjadi kemudian pihak yang berwenang sudah memberikan respons dan kesepakatan sudah dibuat?  Pada titik itu, pulang bukan berarti kalah. Toh, kita tidak pernah menilai keberhasilan sebuah percakapan dari berapa lama dua orang berteriak satu sama lain. 

Bayangkan saja sepasang kekasih atau suami istri atau antara tetangga yang lagi ribut, mereka teriak satu sama lain dan tidak ada penyelesaian. Jadi, kalau masalah selesai dibicarakan dalam dua puluh menit, masa iya, harus diperpanjang menjadi tiga jam supaya terlihat serius?  Toh, demokrasi bukan perlombaan siapa paling lama berdiri di jalan.

Tetapi Jangan Pula Menyalahkan Mahasiswa yang Senang Ramai

Namun di sini kita harus berhati-hati. Jangan pula menggunakan argumen kalau tuntutan sudah disampaikan, pulang saja, sekadar untuk menghakimi demonstrasi mahasiswa yang ramai, panjang, penuh orasi, poster, nyanyian, teatrikal, dan berbagai ekspresi jalanan. Saya meyakini demonstrasi mahasiswa mempunyai fungsi yang lebih luas. Mahasiswa bukan hanya sedang mengirim surat terbuka kepada penguasa. Mereka juga sedang belajar menjadi warga negara yang dewasa.

Di jalan, mereka belajar berbicara di depan orang banyak. Belajar menyusun argumentasi, belajar membuat tuntutan, belajar mengorganisasi massa, belajar membangun solidaritas, belajar menghadapi perbedaan, belajar bernegosiasi dengan aparat dan pejabat. Bahkan belajar mengelola kemarahan kolektif.  Demokrasi memang tidak cukup dipelajari dari buku teks.

John Dewey jauh-jauh hari mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan, tetapi juga sebuah cara hidup. Demokrasi harus dialami dalam praktik kehidupan bersama.  Maka mahasiswa berorasi di jalan tidak selalu berarti mereka tidak tahu cara berdialog.  Bisa jadi mereka sedang menggelar “kelas demokrasi” terbuka. Di kelas ini spanduk adalah media pembelajaran.  Orasi adalah latihan artikulasi dan logika, diskusi massa adalah latihan deliberasi. Teatrikal jalanan adalah ekspresi politik.  Dan keberanian berdiri di ruang publik untuk mengatakan “saya tidak setuju” adalah keterampilan kewargaan yang tidak kecil nilainya.  Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan demonstrasi masyarakat dengan demonstrasi mahasiswa.  Keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.

Ketika Kemarahan Menjadi Tujuan

Persoalannya baru muncul ketika demonstrasi berubah menjadi sekadar pelampiasan.  Kemarahan tentu bukan dosa dalam politik.  Masyarakat boleh marah.  Bahkan kemarahan sering kali menjadi energi awal sebuah perubahan. Ketidakadilan hampir selalu melahirkan emosi sebelum melahirkan manifesto. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika kemarahan tidak lagi menjadi energi untuk menyampaikan tuntutan, tetapi berubah menjadi tujuan itu sendiri.

Salah kaprah saat menilai demonstrasi yang penting ramai, lama, pemerintah takut, malah kalau belum rusuh berarti belum berhasil. Nah, pada titik ini kita harus berhenti sejenak.  Sebab kalau kita sampai percaya bahwa pemerintah hanya akan mendengar setelah terjadi kerusuhan, sebenarnya kita sedang mengakui sesuatu yang cukup mengkhawatirkan, bahwa saluran komunikasi politik dianggap tidak lagi berfungsi tanpa tekanan kekerasan.

Hannah Arendt pernah membedakan kekuasaan dari kekerasan. Kekuasaan, dalam pemikirannya, lahir dari kemampuan orang untuk bertindak bersama. Kekerasan adalah sesuatu yang berbeda.  Karena itu, kekuatan sebuah gerakan tidak otomatis ditentukan oleh seberapa keras ia mampu merusak. 

Justru kekuatan politik dapat muncul dari kemampuan massa untuk bersatu, menyampaikan tuntutan dengan jelas, dan membuat kekuasaan tidak bisa mengabaikannya.  Kerusuhan harusnya bukan satu-satunya bahasa yang dimengerti negara.  Kalau sampai kita percaya demikian, yang bermasalah bukan hanya demonstrasinya. Hubungan komunikasi antara warga dan negara yang perlu dicek ulang.

TikTok dan Lahirnya Demonstrasi Pertunjukan

Ada satu faktor baru yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah media sosial. Dulu demonstrasi berlangsung di ruang fisik. Sekarang demonstrasi juga berlangsung di depan kamera.  TikTok Live, Instagram, YouTube, dan berbagai platform membuat orang yang tidak berada di lokasi dapat ikut menonton. 

Akibatnya, demonstrasi memiliki penonton baru. Bukan hanya pejabat yang dituju. Tetapi juga netizen.Dan penonton digital memiliki logika yang berbeda. Mereka tidak selalu bertanya, apa tuntutannya. Kadang yang ditanyakan justru apa seru nggak, ramai nggak, rusuh nggak, malah sudah bentrok belum?

Inilah yang bisa kita sebut sebagai demonstrasi pertunjukan. Erving Goffman pernah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung, manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Demonstrasi pun memiliki panggung, aktor, simbol, slogan, penonton, bahkan dramaturginya sendiri.

Masalahnya, algoritma media sosial menyukai sesuatu yang menarik perhatian. Dan konflik biasanya jauh lebih menarik daripada dialog. Massa duduk berdialog dengan DPR mungkin tidak terlalu dramatis.  Tetapi massa berteriak, aparat bergerak, situasi memanas, itu jauh lebih mudah menjadi konten.  Maka muncul paradoks zaman digital, demonstrasi yang secara politik berhasil bisa saja secara digital terasa membosankan.

Sementara demonstrasi yang gagal menghasilkan kebijakan bisa terlihat sangat sukses sebagai tontonan. Kita harus berhati-hati jangan sampai ukuran keberhasilan politik akhirnya ditentukan oleh algoritma.

Jadi, Haruskah Demonstrasi Cepat Pulang?

Tidak juga. Tidak ada aturan bahwa demonstrasi yang baik harus cepat selesai. Demonstrasi mahasiswa boleh lama. Boleh ramai, pun boleh penuh orasi dan ekspresi. Sebab ada fungsi pendidikan politik dan pembentukan solidaritas di dalamnya. Demonstrasi masyarakat juga boleh menggunakan tekanan publik yang kuat ketika aspirasi mereka belum didengar. 

Tetapi ada satu kompas yang menurut saya lebih penting daripada panjang pendeknya aksi, apakah esensi tuntutannya sudah tercapai?Kalau belum didengar, perjuangkan. Kalau belum ada dialog, dorong dialog. Kalau belum ada respons, teruskan tekanan. Tetapi kalau sudah diterima, sudah terjadi dialog, sudah ada kesepakatan, maka mungkin saatnya bukan lagi menambah kemarahan. Saatnya mengawal.  Sebab, pulang bukan berarti selesai. 

Demokrasi Bukan Sekadar Kemampuan Berteriak

Barangkali inilah pelajaran terpenting dari peristiwa Pati. Kita tidak perlu memilih antara demonstrasi yang ekspresif dan demonstrasi yang komunikatif. Demokrasi membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan warga yang berani marah.  Kita membutuhkan mahasiswa yang berani berteriak. Kita membutuhkan masyarakat yang mampu memenuhi ruang publik dengan tuntutan. Tetapi kita juga membutuhkan warga yang mampu berdialog, mampu mendengar dan  bernegosiasi. Dan, yang sering kali justru lebih sulit, mampu mengetahui kapan harus berhenti berteriak.

Tetapi jangan lupa satu hal, pulang dari jalan bukan berarti menyerah. Kadang, pulang adalah cara demokrasi mengatakan kepada kekuasaan bahwa sekarang kami tunggu Anda membuktikan bahwa Anda benar-benar mendengar. Sementara itu biarkan adik-adik kami para mahasiswa tetap konsisten menyuarakan pendapat karena persoalan ini memang serius.

Kami rakyat kecil harus kembali nyangkul, ngojek, menyelesaikan pesanan kue, dan banting tulang lainnya sembari kami tetap menunggu hasil kesepakatan. Selayaknya kami berusaha setengah mati memenuhi kesepakatan membelikan sepatu baru si bungsu, dan membayar UKT si sulung kami. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: demodemonstrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Next Post

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co