30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran di media sosial. Dalam berbagai siaran langsung, sebagian netizen bahkan berharap demonstrasi berlangsung lebih lama, lebih ramai, lebih panas. Ada yang kemudian membuat olok-olok dengan menyamarkan nama program pemerintah menjadi “MBG,Mas Botok Gagal”, seolah demonstrasi baru terasa mantap kalau kemarahan publik benar-benar tumpah sampai ke mana-mana.

Tetapi ada pula suara yang justru memuji aksi tersebut. Bagi kelompok ini, demonstrasi kemarin dianggap berhasil karena massa datang membawa aspirasi, diterima oleh DPR, terjadi dialog, dan lahir kesepakatan. Kalau pesan sudah disampaikan dan pihak yang dituju sudah merespons, untuk apa harus berlama-lama? Emang kami ini pengangguran.? Begitu kira-kira logikanya. Tinggal satu pekerjaan, yaitu mengawal apakah kesepakatan itu benar-benar dilaksanakan. Dari sini kita menemukan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar apakah demo Pati kemarin sukses atau gagal.

Sebenarnya, kapan sebuah demonstrasi dianggap berhasil?  Apakah ketika massa mampu bertahan selama berjam-jam, ketika jumlahnya ribuan, ketika suara teriakan semakin keras, atau ketika gerbang yang dituju akhirnya roboh  dan yang di dalam bersedia mendengarkan?  Jangan-jangan kita sedang mengalami kekacauan kecil dalam memahami demokrasi, di mana kita mulai mengukur keberhasilan demonstrasi dari seberapa gaduh pertunjukannya, bukan dari seberapa jauh tuntutannya bergerak.

Demonstrasi Bukan Lomba Bertahan di Jalan

Demonstrasi pada dasarnya adalah salah satu bentuk komunikasi politik.  Ada pihak yang memiliki keresahan sehingga ada pesan yang hendak disampaikan. Ada pihak yang dituju  untuk menyampaikan tuntutan. Kemudian diharapkan muncul respons. Sederhananya, warga berbicara, kekuasaan mendengar, lalu terjadi proses politik. 

Kalau pihak yang dituju tidak mau mendengar, tentu tekanan publik perlu diteruskan. Bahkan demonstrasi yang lebih besar dan lebih lama bisa menjadi cara masyarakat menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa dianggap remeh.

Tetapi bagaimana kalau pesan sudah diterima, dialog sudah terjadi kemudian pihak yang berwenang sudah memberikan respons dan kesepakatan sudah dibuat?  Pada titik itu, pulang bukan berarti kalah. Toh, kita tidak pernah menilai keberhasilan sebuah percakapan dari berapa lama dua orang berteriak satu sama lain. 

Bayangkan saja sepasang kekasih atau suami istri atau antara tetangga yang lagi ribut, mereka teriak satu sama lain dan tidak ada penyelesaian. Jadi, kalau masalah selesai dibicarakan dalam dua puluh menit, masa iya, harus diperpanjang menjadi tiga jam supaya terlihat serius?  Toh, demokrasi bukan perlombaan siapa paling lama berdiri di jalan.

Tetapi Jangan Pula Menyalahkan Mahasiswa yang Senang Ramai

Namun di sini kita harus berhati-hati. Jangan pula menggunakan argumen kalau tuntutan sudah disampaikan, pulang saja, sekadar untuk menghakimi demonstrasi mahasiswa yang ramai, panjang, penuh orasi, poster, nyanyian, teatrikal, dan berbagai ekspresi jalanan. Saya meyakini demonstrasi mahasiswa mempunyai fungsi yang lebih luas. Mahasiswa bukan hanya sedang mengirim surat terbuka kepada penguasa. Mereka juga sedang belajar menjadi warga negara yang dewasa.

Di jalan, mereka belajar berbicara di depan orang banyak. Belajar menyusun argumentasi, belajar membuat tuntutan, belajar mengorganisasi massa, belajar membangun solidaritas, belajar menghadapi perbedaan, belajar bernegosiasi dengan aparat dan pejabat. Bahkan belajar mengelola kemarahan kolektif.  Demokrasi memang tidak cukup dipelajari dari buku teks.

John Dewey jauh-jauh hari mengingatkan bahwa demokrasi bukan hanya sistem pemerintahan, tetapi juga sebuah cara hidup. Demokrasi harus dialami dalam praktik kehidupan bersama.  Maka mahasiswa berorasi di jalan tidak selalu berarti mereka tidak tahu cara berdialog.  Bisa jadi mereka sedang menggelar “kelas demokrasi” terbuka. Di kelas ini spanduk adalah media pembelajaran.  Orasi adalah latihan artikulasi dan logika, diskusi massa adalah latihan deliberasi. Teatrikal jalanan adalah ekspresi politik.  Dan keberanian berdiri di ruang publik untuk mengatakan “saya tidak setuju” adalah keterampilan kewargaan yang tidak kecil nilainya.  Karena itu, kita tidak perlu mempertentangkan demonstrasi masyarakat dengan demonstrasi mahasiswa.  Keduanya bisa memiliki fungsi berbeda.

Ketika Kemarahan Menjadi Tujuan

Persoalannya baru muncul ketika demonstrasi berubah menjadi sekadar pelampiasan.  Kemarahan tentu bukan dosa dalam politik.  Masyarakat boleh marah.  Bahkan kemarahan sering kali menjadi energi awal sebuah perubahan. Ketidakadilan hampir selalu melahirkan emosi sebelum melahirkan manifesto. Yang perlu dipersoalkan adalah ketika kemarahan tidak lagi menjadi energi untuk menyampaikan tuntutan, tetapi berubah menjadi tujuan itu sendiri.

Salah kaprah saat menilai demonstrasi yang penting ramai, lama, pemerintah takut, malah kalau belum rusuh berarti belum berhasil. Nah, pada titik ini kita harus berhenti sejenak.  Sebab kalau kita sampai percaya bahwa pemerintah hanya akan mendengar setelah terjadi kerusuhan, sebenarnya kita sedang mengakui sesuatu yang cukup mengkhawatirkan, bahwa saluran komunikasi politik dianggap tidak lagi berfungsi tanpa tekanan kekerasan.

Hannah Arendt pernah membedakan kekuasaan dari kekerasan. Kekuasaan, dalam pemikirannya, lahir dari kemampuan orang untuk bertindak bersama. Kekerasan adalah sesuatu yang berbeda.  Karena itu, kekuatan sebuah gerakan tidak otomatis ditentukan oleh seberapa keras ia mampu merusak. 

Justru kekuatan politik dapat muncul dari kemampuan massa untuk bersatu, menyampaikan tuntutan dengan jelas, dan membuat kekuasaan tidak bisa mengabaikannya.  Kerusuhan harusnya bukan satu-satunya bahasa yang dimengerti negara.  Kalau sampai kita percaya demikian, yang bermasalah bukan hanya demonstrasinya. Hubungan komunikasi antara warga dan negara yang perlu dicek ulang.

TikTok dan Lahirnya Demonstrasi Pertunjukan

Ada satu faktor baru yang membuat persoalan ini semakin menarik adalah media sosial. Dulu demonstrasi berlangsung di ruang fisik. Sekarang demonstrasi juga berlangsung di depan kamera.  TikTok Live, Instagram, YouTube, dan berbagai platform membuat orang yang tidak berada di lokasi dapat ikut menonton. 

Akibatnya, demonstrasi memiliki penonton baru. Bukan hanya pejabat yang dituju. Tetapi juga netizen.Dan penonton digital memiliki logika yang berbeda. Mereka tidak selalu bertanya, apa tuntutannya. Kadang yang ditanyakan justru apa seru nggak, ramai nggak, rusuh nggak, malah sudah bentrok belum?

Inilah yang bisa kita sebut sebagai demonstrasi pertunjukan. Erving Goffman pernah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung, manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Demonstrasi pun memiliki panggung, aktor, simbol, slogan, penonton, bahkan dramaturginya sendiri.

Masalahnya, algoritma media sosial menyukai sesuatu yang menarik perhatian. Dan konflik biasanya jauh lebih menarik daripada dialog. Massa duduk berdialog dengan DPR mungkin tidak terlalu dramatis.  Tetapi massa berteriak, aparat bergerak, situasi memanas, itu jauh lebih mudah menjadi konten.  Maka muncul paradoks zaman digital, demonstrasi yang secara politik berhasil bisa saja secara digital terasa membosankan.

Sementara demonstrasi yang gagal menghasilkan kebijakan bisa terlihat sangat sukses sebagai tontonan. Kita harus berhati-hati jangan sampai ukuran keberhasilan politik akhirnya ditentukan oleh algoritma.

Jadi, Haruskah Demonstrasi Cepat Pulang?

Tidak juga. Tidak ada aturan bahwa demonstrasi yang baik harus cepat selesai. Demonstrasi mahasiswa boleh lama. Boleh ramai, pun boleh penuh orasi dan ekspresi. Sebab ada fungsi pendidikan politik dan pembentukan solidaritas di dalamnya. Demonstrasi masyarakat juga boleh menggunakan tekanan publik yang kuat ketika aspirasi mereka belum didengar. 

Tetapi ada satu kompas yang menurut saya lebih penting daripada panjang pendeknya aksi, apakah esensi tuntutannya sudah tercapai?Kalau belum didengar, perjuangkan. Kalau belum ada dialog, dorong dialog. Kalau belum ada respons, teruskan tekanan. Tetapi kalau sudah diterima, sudah terjadi dialog, sudah ada kesepakatan, maka mungkin saatnya bukan lagi menambah kemarahan. Saatnya mengawal.  Sebab, pulang bukan berarti selesai. 

Demokrasi Bukan Sekadar Kemampuan Berteriak

Barangkali inilah pelajaran terpenting dari peristiwa Pati. Kita tidak perlu memilih antara demonstrasi yang ekspresif dan demonstrasi yang komunikatif. Demokrasi membutuhkan keduanya. Kita membutuhkan warga yang berani marah.  Kita membutuhkan mahasiswa yang berani berteriak. Kita membutuhkan masyarakat yang mampu memenuhi ruang publik dengan tuntutan. Tetapi kita juga membutuhkan warga yang mampu berdialog, mampu mendengar dan  bernegosiasi. Dan, yang sering kali justru lebih sulit, mampu mengetahui kapan harus berhenti berteriak.

Tetapi jangan lupa satu hal, pulang dari jalan bukan berarti menyerah. Kadang, pulang adalah cara demokrasi mengatakan kepada kekuasaan bahwa sekarang kami tunggu Anda membuktikan bahwa Anda benar-benar mendengar. Sementara itu biarkan adik-adik kami para mahasiswa tetap konsisten menyuarakan pendapat karena persoalan ini memang serius.

Kami rakyat kecil harus kembali nyangkul, ngojek, menyelesaikan pesanan kue, dan banting tulang lainnya sembari kami tetap menunggu hasil kesepakatan. Selayaknya kami berusaha setengah mati memenuhi kesepakatan membelikan sepatu baru si bungsu, dan membayar UKT si sulung kami. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: demodemonstrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

Next Post

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails
Next Post
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co