30 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
in Esai
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

Kepadatan dan kemacetan lalu-lintas | Ilustrasi dibuatkan oleh AI

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan data dan analisisnya. Narasumber pertama memaparkan aktivitasnya melakukan advokasi terhadap masyarakat yang membutuhkan transportasi publik. Ia menolak keras saat pemerintah hendak menghentikan operasional transportasi publik yang sebelumnya sudah berjalan namun oleh pemerintah dianggap kurang efektif. Anggaran untuk subsidi transportasi dianggap tidak sebanding dengan penyelesaian masalahnya. Pembicara berikutnya mengungkapkan berbagai data yang menunjukkan betapa pentingnya transportasi publik bagi Bali. Angka-angka dan grafik-grafik yang disajikan sangat meyakinkan. Salah satunya mengungkap bahwa jumlah kendaraan di Bali sudah melampaui jumlah penduduk yang menghuni pulau yang kini menyandarkan hidup dari pariwisata ini. Ia juga menyoroti betapa kecilnya wilayah jangkauan layanan transportasi publik yang ditengarai menjadi salah satu penyebab krisis mobilitas terutama di Bali Selatan.

Dua pembicara berikutnya berasal dari perwakilan lembaga eksekutif dan legislatif. Keduanya memaparkan perencanaan, capaian hingga perjuangan lanjutan yang harus, sedang, dan akan dilakukan untuk mengurai persoalan transportasi publik dan secara umum masalah kemacetan di Bali. Pembicara terakhir memaparkan perbandingan-perbandingan antara Bali dan kota-kota lain di Indonesia terutama dalam hal subsidi transportasi. Bali memperoleh subsidi yang jumlahnya relatif kecil, padahal sumbangan devisa dari pariwisata sangat besar untuk pemerintah pusat. Jika tidak salah, beliau menyebut lebih dari 50% devisa wisata nasional disumbangkan oleh Bali. Ini bisa menjadi senjata untuk memperjuangkan subsidi yang lebih besar.

Persoalan kemacetan memang menjadi isu panas yang sedang dihadapi oleh Bali belakangan ini. Di Bali Selatan, hampir semua wilayah kini mengalami kemacetan parah. Sanur, Canggu, Seminyak, dan Uluwatu, adalah Kawasan yang didominasi warna jalur merah hingga merah tua di aplikasi Google maps. Kemacetan kini juga merambah ke Kawasan lain seperti Sesetan dan Pemogan. Bergerak keluar, Ubud juga telah mengalami persoalan serupa dalam, setidaknya, lima tahun terakhir. Pemaparan yang dilakukan oleh empat narasumber diskusi menunjukkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Semua pihak berjuang untuk menyelesaikan persoalan ini. Hasilnya? Sejauh ini tampaknya belum menggembirakan.

Kepadatan dan kemacetan lalu-lintas | Ilustrasi dibuatkan oleh AI

Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang studi di bidang transportasi, saya awalnya merasa tidak memiliki kompetensi untuk membicarakan persoalan ini. Tetapi, di tengah-tengah diskusi, terutama setelah pembicara kedua memaparkan data-data spasial, saya merasa memiliki sedikit koneksi dengan persoalan. Persoalan ini bukan hanya masalah jalur, halte, rute dan subsidi. Persoalan tidak akan selesai jika kita tidak memikirkan penataan ruang karena persoalan yang terjadi hari ini, dalam pendapat saya, adalah konsekuensi dari cara kita mengatur ruang. Ini adalah soal di mana orang tinggal, di mana mereka bekerja termasuk bersekolah, di mana mereka beraktivitas di luar kedua tempat tersebut. Untuk kasus Bali, persoalan kita diperumit lagi dengan pariwisata karena kita juga harus memikirkan ke mana para turis pergi dari bandara, di mana mereka menginap, lokasi-lokasi mana saja yang mereka kunjungi selama waktu sementara tinggal di Bali. Persoalan transportasi adalah juga persoalan perkembangan kota.

Perkembangan kota di Bali mungkin terlihat random, bahkan cenderung bebas dan tidak beraturan tetapi sesungguhnya mengikuti logika ekonomi yang sangat kuat. Lahan-lahan yang memiliki potensi ekonomi tinggi, terutama dari sisi bisnis turisme, segera penuh sesak oleh investasi. Berbagai fasilitas tumbuh dengan cepat dan mengundang lebih banyak pengunjung dibanding sebelumnya. Pertumbuhan ini diikuti dengan naiknya harga lahan. Kenaikannya bisa eksponensial, melesat dalam waktu singkat sehingga mengusir secara halus, gentrifikasi, kelompok yang tidak mampu menjangkaunya termasuk para penduduk awal. Permukiman kelas pekerja bergeser ke kawasan-kawasan yang lebih murah, di kawasan pinggiran-pinggiran kota, sementara pekerjaan dengan bayaran tinggi terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu. Akibatnya, jarak perjalanan meningkat dan pola pergerakan menjadi tersebar secara acak. Lokasi-lokasi yang menarik investasi, selain tersedia secara alami (seperti di tepi pantai eksotis, di dekat sawah terasering, dan seterusnya) juga diciptakan melalui kebijakan seperti Kawasan Ekonomi Khusus. Lokasinya menjadi sulit diprediksi karena sangat tergantung kebijakan pemerintah. Padahal, kemampuan melakukan proyeksi menjadi salah satu syarat perencanaan yang baik.

Dengan struktur ruang yang sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar tersebut, transportasi publik menghadapi tugas yang sangat pelik: melayani banyak titik asal dan tujuan dengan rute yang panjang dan jejaring yang tersebar. Sementara, jumlah penumpang pada setiap koridor tidak cukup memenuhi nilai keekonomisan operasionalnya. Dalam kondisi ini, subsidi terus ditambah untuk menambal kerugian koridor tertentu, sementara armada dan rute juga terus mengalami tekanan untuk terus ditambah. Penambahan jumlah subsidi dan armada mungkin efektif dalam waktu tertentu, tetapi seiring semakin menyebarnya pemanfaatan ruang, maka tindakan tersebut hanya akan menjadi obat gejala, bukan penyakitnya. Karena, transportasi publik akan bekerja dengan efektif jika beberapa kondisi wilayah terpenuhi seperti: kepadatan dan konsentrasi penduduk memadai; pusat-pusat kegiatan yang jelas; koridor perjalanan dapat diprediksi; permukiman memiliki skala berjalan kaki; perjalanan dua arah sepanjang hari.

Dengan kondisi semacam ini, ada banyak korban. Dalam sesi diskusi, salah satu peserta menyampaikan bahwa ia memiliki tempat tinggal yang cukup jauh dari lokasi pekerjaan karena itu lokasi yang bisa dia huni sesuai profil ekonominya. Akibatnya, penghasilannya tergerus untuk membiayai perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja. Lebih dari 50% penghasilan habis untuk ongkos transportasi. Kasus lain yang terungkap adalah anak-anak sekolah SMP yang rumah dan sekolahnya tidak berada di koridor layanan transportasi. Umur SMP tentu saja belum layak mengendarai kendaraan sendiri tetapi lokasi sekolah yang cukup jauh dari rumah ‘mengganggu ritme’. Pilihannya, orang tua mengorbankan waktu kerja untuk melakukan antar jemput, atau bertaruh dengan mengizinkan anaknya mengendarai sepeda motor ke sekolah yang jaraknya mencapai lebih dari 3 km dari rumah. Pilihan kedua sangat berisiko: mengalami kecelakaan atau ditangkap polisi karena belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan sendiri. Pedagang-pedagang pasar kini juga mengalami kesulitan terkait dengan distribusi dagangan karena jarak rumah dan pasar tempatnya bekerja tidak terlayani transportasi publik terjangkau.

Beberapa tahun lampau, saat transportasi masih ada tetapi jumlahnya sudah jauh berkurang, seorang nenek dan cucunya yang masih kecil berdiri di tepian jalan. Ia melambaikan tangan memberi tanda untuk menepi saat saya sedang melaju dari Denpasar ke arah Gianyar. Waktu menjelang malam sekitar jam 19.00. Saya menepi dan bertanya. Si nenek minta izin menumpang karena sudah hampir satu jam menunggu kendaraan umum tetapi tidak ada yang lewat. Ia baru saja mengantar cucunya membeli perlengkapan sekolah di sebuah toko di daerah Blahbatuh dan tinggal di daerah pedesaan sekitar Pering.

Transportasi publik juga berkenaan dengan keadilan spasial. Masyarakat yang tidak mampu tinggal di pusat-pusat aktivitas menanggung perjalanan yang mahal, berisiko, dan jauh. Kondisi ini memberi penjelasan kenapa kepemilikan kendaraan pribadi di Bali sangat tinggi, sebagaimana diungkap pemateri kedua dalam diskusi. Tingginya penggunaan kendaraan pribadi juga membawa konsekuensi lain, meningkatnya polusi dan potensi kecelakaan lalu lintas. Dari kondisi ini kita bisa melihat bahwa persoalan transportasi bukan semata persoalan teknis tetapi juga distribusi kesempatan. Orang-orang yang tinggal jauh dari pusat-pusat aktivitas, karena tidak mampu membeli atau menyewa di lokasi strategis yang sudah dikuasai investasi besar, harus menanggung biaya perjalanan yang lebih tinggi. Mereka semakin tertinggal secara ekonomi karena penghasilannya tergerus belanja transportasi. Keadilan sosial semakin sulit tercapai.

Belakangan, muncul juga rencana untuk menyediakan transportasi massal berbasis rel dalam bentuk LRT atau MRT dan sejenisnya di Bali. Ini tentu rencana yang baik karena menunjukkan keseriusan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan. Tetapi, koridornya akan sulit menjangkau jalur-jalur yang menghubungkan tempat tinggal siswa dengan sekolah; wilayah pertanian dengan pasar; permukiman masyarakat pekerja urban dengan tempat kerjanya; dan seterusnya. Saya membayangkan koridornya hanya akan melayani rute gemuk: bandara dan kawasan padat investasi wisata. Sebagian koridor ini sebetulnya sudah dilayani oleh bus-bus Transmetro, yang kini beroperasi, meski belum efektif. Penggunanya juga kemungkinan adalah wisatawan yang memang sudah mengalokasikan biaya transportasi dalam itinerary-nya. Layanan bagi masyarakat guna mewujudkan keadilan sosial masih belum tergambar jelas dari rencana tersebut.

Kepadatan dan kemacetan lalu-lintas | Ilustrasi dibuatkan oleh AI

Lalu, bagaimana sebaiknya kita membicarakan persoalan transportasi ini? Kita tidak bisa hanya berpikir memeratakan pembangunan ke wilayah-wilayah lain selain Bali Selatan secara serampangan. Tidak bisa hanya berpikir bahwa masih banyak ruang di Bali bagian barat dan utara. Menurut saya, pembicaraan tentang hal ini tidak bisa dibicarakan secara parsial tetapi harus menjadi bagian dari masa depan tata ruang di Bali. Kebijakan transportasi harus dihubungkan dengan kebijakan pengembangan wilayah, perumahan, izin pembangunan dan pembukaan fasilitas tertentu, pengendalian harga serta fungsi lahan, hingga kebijakan tentang lokasi fasilitas pendidikan.

Salah satu pertanyaan awal dari diskusi di auditorium tadi adalah “Seberapa besar pembiayaan transportasi harus dialokasikan?” Dengan pandangan yang saya ajukan di atas, pertanyaannya harus diganti menjadi: “Apakah pembiayaan transportasi publik hanya akan digunakan untuk mengejar pola pertumbuhan wilayah yang sudah telanjur menyebar, atau juga menjadi instrumen untuk mengarahkan lokasi permukiman, pekerjaan, dan investasi Bali pada masa depan?”

Transportasi publik yang berkelanjutan hanya mungkin jika Bali sekaligus membangun struktur wilayah yang lebih kompak, terhubung, dan adil. [T]

Penulis: Gede Maha Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: balilalu lintastransportasitransportasi publik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Next Post

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

by Angga Wijaya
August 29, 2026
0
Telenovela

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

Read moreDetails

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

by Sugi Lanus
August 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

Read moreDetails

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

Read moreDetails

BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

by I Ketut Suar Adnyana
August 27, 2026
0
BARONG BRUTUK: Dari Tarian Sakral ke Cerita Bergambar

Kebudayaan tidak pernah benar-benar hidup hanya karena diwariskan. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila pengetahuan, nilai, simbol, dan ingatan yang...

Read moreDetails

Destinasi “Detour”: Tren Wisata Alternatif Menyimpang Rute Utama

by Chusmeru
August 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERWISATA kadang berjalan tidak sesuai dengan yang direncanakan. Di awal perjalanan sudah ditentukan destinasi wisata mana yang akan dikunjungi. Namun...

Read moreDetails

Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

by Dharma Yuda
August 26, 2026
0
Melampaui Ingatan di Batas-batas Desa ——Catatan dari Karya Agung Ngusaba Desa dan Ngusaba Nini Desa Sibanggede

RANGKAIAN Karya Pedudusan Agung, Ngusaba Desa, dan Ngusaba Nini yang berpusat di Pura Puseh Sibanggede sudah mencapai akhir melalui upacara...

Read moreDetails

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails
Next Post
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
August 30, 2026
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?
Esai

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri
Pameran

Reka Biambara dan Perjalanan Mengenal Kembali Material Sendiri

SELAMA hampir tiga bulan, sejak awal Juni 2026, empat perupa muda asal Bali yaitu Made Ari, Made Arsana, Reka Biambara...

by Satria Aditya
August 30, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana
Ulas Rupa

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

by Hartanto
August 29, 2026
Telenovela
Esai

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang...

by Angga Wijaya
August 29, 2026
Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar
Pendidikan

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

DENPASAR | TATKALA.CO -- Duta Bahasa Provinsi Bali menyerahkan Model Pembelajaran Serasi (Strategi Berbasis Multimodal bagi Disabilitas Rungu untuk Menyusun...

by Rusdy Ulu
August 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

LEVEL PERDEBATAN DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 29 Agustus 2026 Hindu mengenal struktur epistemologi yang berjenjang. Artinya apa? Hindu tidak memaksakan satu...

by Sugi Lanus
August 29, 2026
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka
Khas

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Di Bawah Lampu Kerlap-Kerlip: Membaca Fenomena “Coffee Shop” sebagai Teks Budaya

"Segelas kopi tidak pernah hanya berisi kopi. Di dalamnya terseduh sejarah, identitas, percakapan, bahkan cara manusia memahami dirinya sendiri." MENJELANG...

by Tri Nugroho Adi
August 28, 2026
Kemarau di Kalianget
Buku Tatkala

Kemarau di Kalianget

Judul: Kemarau di Kalianget Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Luh Arik Sariadi ISBN: Masih dalam proses Tebal: 145 halaman...

by Buku Tatkala
August 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co