12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

Hartanto by Hartanto
August 11, 2026
in Ulas Rupa
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

"Jelajah Angkasa Raya" 150 X 200 CM acrylic on canvas (2026) karya Made Gunawan

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour.

Pameran akan digelar di Balai Budaya Jakarta, Jln. Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran ini diikuti tujuh perupa: Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, I Ketut Suwidiarta, I Gusti Nengah Nurata, I Wayan Santrayana, I Made Sutarjaya, dan I Wayan Gede Budayana.

Berhubung data karya yang saya dapat hanya dari tiga perupa, yakni Made Gunawan, I Ketut Suwidiarta, dan I Ketut Suasana Kabul, maka saya hanya bisa berkomentar pada karya tiga perupa tersebut.

Poster Pameran The Power of Colour yang akan digelar tanggal 25 hingga 31 Agustus 2026 di Balai Budaya Jakarta, Jln. Gereja Theresia No. 47, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat

Karya Made Gunawan dalam pameran The Power of Colours menghadirkan dua lukisan besar yang saling berhubungan atmosfernya: Jelajah angkasa raya dan Jelajah samudra raya.

Keduanya berukuran monumental (150 x 200 cm, akrilik di atas kanvas, 2026) dan menampilkan narasi visual yang berakar pada mitologi, namun diolah dengan sensibilitas kontemporer.

Dalam Jelajah angkasa raya, terlihat sosok naga kosmik yang melayang di antara awan dan pusaran energi, membawa figur-figur manusia kecil yang berpayung dan berpanji.

Lukisan ini menegaskan gagasan perjalanan spiritual ke ruang angkasa, sebuah jelajah imajiner yang menautkan manusia dengan kekuatan kosmos.

Made Gunawan

Pola sisik naga, ornamentasi tubuh, serta ritme awan dan gelombang menciptakan kesan gerak yang tak henti, seolah energi warna itu sendiri menjadi kendaraan transendensi.

Sementara itu, Jelajah samudra raya menempatkan naga sebagai perahu mitologis yang mengarungi lautan.

Gelombang biru-hijau yang bergelombang, figur-figur manusia yang membawa bendera dan payung, serta dekorasi tubuh naga yang menyerupai kapal upacara, menegaskan dimensi ritual dan komunal.

Jika karya angkasa berbicara tentang keterhubungan manusia dengan jagat raya, maka karya samudra menekankan hubungan manusia dengan alam dan tradisi maritim Nusantara.

Kedua karya ini memperlihatkan kekuatan warna sebagai medium ekspresi spiritual dan sosial. Warna-warna cerah, ornamental, dan penuh detail bukan sekadar dekorasi, melainkan energi yang menghidupkan mitos.

Gunawan memanfaatkan warna untuk menegaskan gerak, ritme, dan aura sakral, sehingga lukisan menjadi semacam rajah visual yang menghubungkan dunia nyata dengan dunia gaib.

Dalam konteks pameran The Power of Colours, karya Made Gunawan menegaskan bahwa warna adalah bahasa kosmik. Ia bukan hanya memperindah, tetapi juga menghidupkan narasi perjalanan manusia, baik ke angkasa maupun ke samudra.

Artinya, Gunawan menghadirkan tafsir kontemporer atas tradisi visual Bali, menggabungkan mitologi, ritual, dan imajinasi modern, sehingga warna menjadi jembatan antara tradisi dan kosmologi baru.

Made Gunawan, lewat Jelajah angkasa raya dan Jelajah samudra raya, menekankan warna sebagai energi kosmik dan ritual.

Warna-warna cerah, ornamental, dan penuh detail menjadi kendaraan mitologis yang membawa manusia ke ruang angkasa dan samudra, menegaskan perjalanan spiritual sekaligus komunal. Warna di sini adalah gerak, aura, dan energi tanpa batas.

Sementara itu, Ketut Suwidiarta, yang dikenal dengan eksplorasi figur dan dimensi spiritual, cenderung menggunakan warna secara terbatas, lebih meditatif dan simbolis.

Jika Gunawan menampilkan warna sebagai ledakan ornamentasi kosmik, Suwidiarta menekankan warna, acap hitam putih, sebagai mantra visual, sebuah jalan masuk ke ruang batin dan mistik.

Warna hitam-putih dalam karya Suwidiarta, misalnya, justru menegaskan kekuatan kontras sebagai energi spiritual.

Dialog antarartistik ini memperlihatkan spektrum pemaknaan warna: dari kosmos Gunawan, ke rajah mistik Suwidiarta, hingga drama semesta I Ketut Suasana Kabul. Pada Pameran The Power of Colours, ketiganya bukan sekadar menghadirkan parade visual, melainkan pertemuan tafsir warna sebagai energi, sebagai mantra, dan sebagai kekuatan imajinasi.

Dengan cara ini, karya Made Gunawan menempati posisi penting. Ia memperluas horizon warna ke dimensi kosmik dan maritim, sehingga warna menjadi jembatan antara mitologi Bali dan imajinasi kontemporer.

Dalam konteks seni kontemporer internasional, karya Made Gunawan dalam The Power of Colours dapat dibaca sebagai upaya mempertemukan tradisi visual Bali dengan kosmologi global.

Dua lukisan besar, Jelajah angkasa raya dan Jelajah samudra raya, tidak hanya mengangkat mitologi lokal, tetapi juga mengartikulasikan gagasan universal tentang perjalanan manusia melalui ruang dan waktu.

Gunawan menggunakan naga sebagai figur sentral, tetapi naga di sini bukan sekadar ikon Bali atau Asia Tenggara. Ia tampil sebagai kendaraan kosmik, mirip dengan bagaimana dalam tradisi Tiongkok atau Jepang naga menjadi simbol penghubung antara bumi dan langit, atau dalam mitologi Barat naga menjadi penjaga gerbang pengetahuan.

Dengan demikian, Gunawan menempatkan naga sebagai arketipe lintas budaya, yang memungkinkan pembacaan global atas simbol lokal.

Warna-warna cerah dan ornamental yang ia gunakan juga beresonansi dengan tradisi lain: misalnya, vibrasi warna dalam seni Meksiko yang menegaskan spiritualitas komunitas, atau dalam seni Jepang dan Afrika yang menekankan energi ritual.

Gunawan seolah menyatakan bahwa warna adalah bahasa universal, yang melampaui batas geografis dan kultural. Warna bukan sekadar dekorasi, melainkan energi kosmik yang dapat dibaca di berbagai tradisi dunia.

Dalam pameran ini, karya Gunawan memperlihatkan bagaimana seni Bali kontemporer tidak terjebak dalam folklorisme, tetapi mampu berdialog dengan kosmologi global.

Ia menghadirkan mitos lokal sebagai bagian dari percakapan universal tentang perjalanan manusia, ke angkasa, ke samudra, ke dalam diri, dan ke luar menuju jagat raya.

Menyimak dengan lebih tekun karya Made Gunawan yang bertajuk Jelajah Angkasa Raya, menurut saya, beresonansi dengan karya seniman Jepang Takashi Murakami, dengan kosmos pop-ornamentalnya. Khususnya, karya Murakami yang bertajuk Dragon.

Murakami menghadirkan kosmos pop dengan ornamen berlapis, menggabungkan tradisi Jepang dengan idiom global. Gunawan serupa dalam mengangkat naga sebagai ikon kosmik dengan ornamentasi Bali.

Murakami menggabungkan ikonografi tradisi Jepang dengan kosmologi pop kontemporer. Gunawan serupa dalam menggabungkan mitologi Bali dengan sensibilitas modern.

Menurut saya, karya Murakami yang menampilkan energi kosmik, sapuan warna berlapis, dan atmosfer transendental mirip dengan pendekatan Made Gunawan dalam menghadirkan naga kosmik dan samudra mitologis.

Dengan padanan ini, Made Gunawan dapat ditempatkan dalam peta seni global sebagai perupa yang menghadirkan kosmologi visual Bali dalam percakapan internasional.

Ia tidak sekadar melestarikan tradisi, tetapi mengartikulasikan mitologi lokal sebagai bagian dari bahasa universal seni kontemporer.

Ketut Suasana Kabul dalam pameran The Power of Colours menghadirkan dua lukisan besar: Abstraksi Alam Lebah dan Populasi Lebah #2 (akrilik di atas kanvas, 150 x 200 cm, 2025).

Kedua karya ini menampilkan eksplorasi visual yang berakar pada dunia lebah, namun diolah menjadi abstraksi warna dan pola yang padat, ritmis, dan berlapis.

Dalam Abstraksi Alam Lebah, Kabul menyusun gugusan bentuk menyerupai bunga atau lebah dalam berbagai warna: biru, hijau, ungu, oranye, kuning, dan merah muda.

Komposisi yang rapat dan berulang menciptakan kesan gerak organik, seolah kita menyaksikan denyut kehidupan koloni lebah.

Warna di sini bukan sekadar representasi, melainkan energi yang menegaskan vitalitas alam. Pola repetitif menghasilkan tekstur visual yang menyerupai mosaik hidup, sebuah lanskap mikro yang diperbesar ke skala monumental.

Populasi Lebah #2 melanjutkan eksplorasi ini dengan lebih eksplisit. Bentuk-bentuk putih menyerupai lebah tersebar di atas latar multikolor.

Di sini, Kabul menekankan gagasan populasi, kepadatan, dan dinamika sosial. Warna-warna yang membentuk latar belakang, biru, kuning, oranye, hijau, ungu, dan merah muda, menjadi medan energi tempat koloni lebah bergerak.

Lukisan ini seolah menjadi metafora tentang masyarakat: individu-individu kecil yang membentuk jaringan besar, diikat oleh ritme dan harmoni.

Jika dibandingkan dengan karya Made Gunawan yang kosmik dan mitologis, Kabul menghadirkan pendekatan yang lebih biologis dan ekologis.

Warna bukan kendaraan mitos, melainkan denyut kehidupan alam. Namun, keduanya sama-sama menegaskan bahwa warna adalah energi: bagi Gunawan, energi kosmos; bagi Kabul, energi ekosistem.

Simbolisme lebah dalam karya Ketut Suasana Kabul membuka lapisan makna yang kaya, baik dalam tradisi Bali maupun dalam kosmologi dunia.

Dalam tradisi Bali, lebah sering dikaitkan dengan harmoni alam dan siklus kesuburan. Kehidupan lebah yang kolektif, dengan kerja sama tanpa henti, keteraturan sarang, dan produksi madu, menjadi metafora tentang masyarakat yang hidup dalam keseimbangan.

Lebah juga hadir dalam ritual dan simbol agraris. Ia menandai hubungan manusia dengan alam, dengan bunga, dengan siklus kehidupan yang terus berulang. Kabul, melalui abstraksi warna dan pola, seolah mengangkat lebah sebagai lambang energi vital yang mengikat manusia dengan ekosistem.

Di luar Bali, simbolisme lebah memiliki resonansi universal. Dalam mitologi Yunani, lebah dianggap suci dan dikaitkan dengan dewi Artemis serta praktik orakel di Delphi.

Orakel adalah orang, tempat, atau benda yang dianggap sebagai perantara dewa untuk memberikan petunjuk, nasihat, atau ramalan tentang masa depan. Istilah ini juga merujuk pada pesan atau jawaban ilahi yang disampaikan.

Berkait dengan kesan saya tentang energi warna pada karya Kabul yang bertajuk Abstraksi Alam Lebah, karya tersebut mengingatkan saya pada karya perupa Mark Tobey yang berjudul The Passing.

Pemadanan antara karya Abstraksi Alam Lebah oleh Ketut Suasana Kabul dan karya Mark Tobey, The Passing, membuka ruang dialog yang menarik antara dua tradisi artistik yang berbeda, namun sama-sama berakar pada pencarian spiritual dan kosmologis melalui abstraksi.

Kabul, dengan Abstraksi Alam Lebah, menghadirkan warna sebagai denyut kehidupan ekologis. Lebah menjadi metafora komunitas, kerja kolektif, dan harmoni alam.

Abstraksinya bukan sekadar bentuk visual, melainkan energi yang bergetar, mosaik warna yang menegaskan vitalitas ekosistem.

Di sini, abstraksi lahir dari pengalaman immanensi: bagaimana alam, serangga, dan kerja bersama menjadi rajah kehidupan. Warna-warna yang berlapis dan berdenyut seakan menyalin ritme lebah, menjadikan kanvas sebagai sarang energi.

Sementara itu, Tobey dalam The Passing menghadirkan white writing khasnya, garis-garis kaligrafis yang berlapis, berjejaring, dan membentuk semacam kosmos visual.

The Passing adalah meditasi tentang transitoriness, tentang pergerakan jiwa melewati ruang dan waktu. Abstraksi Tobey lahir dari spiritualitas Timur yang ia pelajari, terutama Zen dan kaligrafi Asia, sehingga garis-garisnya menjadi mantra visual, semacam doa yang mengalir. Jika Kabul menekankan ekologi dan komunitas, Tobey menekankan transendensi dan spiritualitas universal.

Keduanya bertemu dalam titik energi abstraksi: Kabul melalui energi ekologis lebah, Tobey melalui energi spiritual garis.

Keduanya menolak representasi literal, memilih abstraksi sebagai bahasa kosmos. Namun, arah geraknya berbeda. Kabul menegaskan immanensi, warna sebagai denyut kehidupan yang hadir di bumi.

Tobey menegaskan transendensi, garis sebagai mantra yang menghubungkan manusia dengan jagat raya. Dalam pemadanan ini, kita melihat dua wajah abstraksi: satu berakar pada ekologi tropis Bali, satunya berakar pada spiritualitas lintas budaya Amerika pascaperang.

Dengan demikian, dialog Kabul dan Tobey memperlihatkan bagaimana abstraksi dapat menjadi kosmologi visual: Kabul membangun kosmologi imanen berbasis alam dan komunitas.

Tobey membangun kosmologi transenden berbasis spiritualitas dan kaligrafi. Keduanya sama-sama mengajak kita membaca abstraksi bukan sebagai bentuk kosong, melainkan sebagai energi kehidupan yang berdenyut dalam sarang lebah maupun dalam mantra garis putih yang melintas.

Menurut saya, karya Kabul dan Tobey dapat diposisikan dalam wacana seni abstrak internasional sebagai dua jalur kosmologi visual yang berbeda, namun saling melengkapi.

Selanjutnya, saya menekuni karya I Ketut Suwidiarta yang dalam pameran The Power of Colours menghadirkan dua lukisan monumental berjudul Blessing dan Blessing 2 (akrilik di atas kanvas, 2 x 2 meter, 2026).

Kedua karya ini menampilkan figur-figur besar yang bersifat mitologis dan simbolik, dengan atmosfer surreal yang menegaskan pertemuan antara ritual, spiritualitas, dan dunia gaib.

Dalam Blessing, Suwidiarta menghadirkan sosok humanoid bertanduk, tersenyum, dan mengangkat tangan seolah memberi restu.

Tubuhnya dihiasi wajah-wajah dan topeng berwarna-warni, seakan menjadi wadah bagi banyak ekspresi dan roh. Di sampingnya, seekor hewan bergaris menyerupai harimau ditunggangi figur kecil, memperkuat nuansa mitologis.

Warna-warna cerah pada wajah dan ornamen kontras dengan latar gelap, menegaskan aura sakral sekaligus teatrikal.

Lukisan ini dapat dibaca sebagai representasi kekuatan spiritual yang merangkum banyak wajah kehidupan, berkah yang lahir dari pluralitas ekspresi.

Blessing 2 menghadirkan figur besar yang duduk bersila di atas bentuk organik, memegang benda menyerupai bulu di atas kepala.

Di bawahnya terdapat peti dengan topeng merah, sementara sekelilingnya dipenuhi burung nasar berwarna abu-abu.

Kontras antara topeng merah dan kawanan burung kelabu menciptakan ketegangan visual. Restu di sini tidak hanya tentang kehidupan, tetapi juga tentang kematian, pengorbanan, dan siklus kosmik.

Figur sentral menjadi mediator antara dunia manusia dan dunia roh, antara vitalitas, yang diwakili topeng merah, dan kefanaan, yang diwakili burung nasar.

Suwidiarta menekankan dimensi ritual dan spiritual. Warna dalam karyanya bukan sekadar energi kosmos atau ekosistem, melainkan mantra visual yang menghubungkan manusia dengan dunia gaib.

Warna topeng, wajah, dan ornamen menjadi simbol kekuatan spiritual, sementara latar gelap menegaskan misteri dan kedalaman batin.

Dalam konteks pameran The Power of Colours, karya Suwidiarta memperlihatkan bahwa warna dapat menjadi tanda mistik. Ia bukan hanya memperindah, tetapi juga mengaktifkan energi spiritual.

Jika Gunawan berbicara tentang naga kosmik dan Kabul tentang lebah ekologis, maka Suwidiarta berbicara tentang figur ritual yang memberi restu, menghubungkan manusia dengan roh, dan menegaskan siklus kehidupan.

Dengan demikian, pameran ini menampilkan spektrum luas tafsir warna: kosmos, ekologi, dan ritual. Suwidiarta menempatkan warna sebagai mantra, menjadikan lukisan bukan sekadar gambar, melainkan upacara visual.

Menekuni lebih mendalam karya Blessing 2 Suwidiarta mengingatkan saya pada karya Hieronymus Bosch yang bertajuk The Garden of Earthly Delight. Tentu, bukan padanan secara visual, namun spirit dan kesan yang saya tangkap.

Interpretasi saya, kedua karya tersebut membuka sebuah dialog lintas zaman tentang bagaimana seni menghadirkan kosmologi visual yang penuh simbol, ambiguitas, dan peringatan spiritual.

Atmosfernya penuh tanda tentang misteri, restu, berkah, dan dunia gaib. Figur ini bukan sekadar representasi manusia, melainkan tubuh kosmik yang menampung pluralitas roh, sekaligus menjadi mediator antara dunia hidup dan dunia mati.

Burung-burung abu-abu yang mengitari figur menghadirkan aura apokaliptik, membuka rahasia, seolah menyingkap siklus kehidupan dan transformasi.

Bosch, dalam The Garden of Earthly Delight, menghadirkan lanskap penuh makhluk hibrid, tubuh manusia yang terdistorsi, dan simbol-simbol moral tentang dosa, kesenangan, dan hukuman.

Bagian gelap dari triptych ini, penuh api, burung, dan figur grotesk, menjadi alegori tentang misteri surga dan neraka, tentang konsekuensi dari kesenangan duniawi.

Bosch menggunakan fantasi visual untuk menyingkap kosmologi Kristen abad pertengahan: dunia sebagai arena ujian moral, di mana tubuh manusia menjadi medan pertempuran antara jiwa dan dosa.

Keduanya bertemu dalam bahasa simbolik yang surreal. Suwidiarta menghadirkan simbol Bali kontemporer, topeng, burung, figur besar, untuk membicarakan restu dan siklus kehidupan.

Bosch menghadirkan simbol Kristen abad pertengahan, makhluk hibrid, api, tubuh terdistorsi, untuk membicarakan dosa dan hukuman. Keduanya sama-sama menggunakan figur grotesk dan atmosfer misteri untuk menyingkap dimensi spiritual yang tak terlihat.

Namun, arah geraknya berbeda: Bosch menekankan moralitas religius, surrealitas sebagai alegori tentang dosa dan keselamatan.

Suwidiarta menekankan ritual dan kosmologi lokal, surrealitas sebagai rajah visual tentang restu, misteri kehidupan, dan transformasi roh. Bosch berbicara tentang surga dan neraka sebagai konsekuensi, Suwidiarta berbicara tentang kehidupan dan kematian sebagai bagian dari siklus kosmik.

Dengan demikian, pemadanan ini memperlihatkan bagaimana seni lintas zaman dan budaya sama-sama menggunakan simbol grotesk, burung, dan figur monumental untuk membicarakan hal-hal yang melampaui dunia empiris.

Blessing 2 dan The Garden of Earthly Delight berdialog sebagai dua kosmologi visual: satu lahir dari Bali kontemporer, satu dari Eropa abad pertengahan, namun keduanya sama-sama mengingatkan bahwa seni adalah bahasa untuk menyingkap misteri kehidupan, kematian, dan spiritualitas.

Dalam konteks pameran, Suwidiarta menempati poros ritual yang melengkapi kosmos Gunawan dan ekologi Kabul. Jika Gunawan membawa manusia ke luar, ke jagat raya, dan Kabul membawa manusia ke dalam, ke ekosistem, maka Suwidiarta membawa manusia ke ambang dunia gaib. Warna dalam karya mereka adalah mantra yang membuka pintu antara dunia tampak dan dunia tak tampak.

Ketiganya membentuk triadik pemahaman tentang keberadaan manusia, tidak hanya sebagai makhluk kosmik, tetapi juga makhluk ekologis dan makhluk ritual. Warna menjadi bahasa yang menyatukan ketiganya, sehingga seni bukan sekadar estetika, melainkan filsafat visual tentang kehidupan.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: I Ketut Suasana KabulI Ketut SuwidiartaMade GunawanPameran The Power of Colour
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

Next Post

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails
Next Post
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co