DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan ditandai bukan sebagai kegelapan secara harfiah tanpa cahaya atau kegelapan tanpa ilmu pengetahuan, namun lebih kepada merosotnya nilai-nilai kebenaran (dharma). Banyak orang pintar di zaman ini, namun sering kepintaran itu tidak digunakan untuk hal-hal yang baik dan benar yang berlaku universal, tetapi sebaliknya kebenaran dan kebaikan yang didasarkan pada kepentingan pribadi dan kelompok semata. Dengan kepintarannya, manusia sering mengkemas kebohongan dan kejahatan melalui tampilan spiritualitas dan kebaikan palsu. Hukum dipelintir sana sini bahkan diubah-ubah demi kepentingan pribadi dan kelompok demi kekuasaan.
Orang-orang baik dan jujur di zaman ini justru banyak memilih diam, tidak mampu bersuara lantaran tidak punya kekuatan dan kekuasaan. Mereka juga banyak ditinggalkan karena tidak masuk dalam lingkarannya, mereka akan dibungkam supaya tidak bersuara. Manakala berani bersuara, apalagi lantang dan mengkritisi dengan objektif dan tajam, mereka bisa terkena sangsi melalui undang-undang yang dapat memenjarakan.
Di zaman Kali Yuga ini, dunia juga dipenuhi konflik dan berujung perang. Hal yang paling kontroversial, di balik kemajuan teknologi yang masif dan pesat yang mestinya semakin mendekatkan dunia dan menjadikannya semakin damai dengan diplomasi dan kerjasama global untuk saling memajukan dan menyejahterakan, justru berbalik. Perang Ukraina dengan Rusia sudah berjalan 4 tahun. Perang di jalur Gaza antara Palestina dan Israel tidak pernah berkesudahan sejak lama, bahkan sekarang memanas dengan hadirnya Iran yang mampu meluluhlantakkan Israel dengan ratusan rudalnya. Perang masih terus akan berlanjut. Adakah perang menguntungkan?
Perang dan konflik bersenjata lainnya yang berkedok atas nama ideologi, politik, kekuasaan bahkan demi perdamaian mungkin dianggap benar untuk sang penguasa untuk mempertahankan wilayah kekuasaan dan harga diri. Namun, pernahkah mereka berpikir akan dampak yang diakibatkannya?
Terlalu banyak yang dikorbankan olehnya. Infrastruktur yang dibangun dengan susah payah dan dalam jangka waktu yang lama dengan uang rakyat yang tak sedikit, semua luluh lantak dalam sekejap. Rumah sakit yang seharusnya menyehatkan orang sakit, justru hancur kena bom. Sekolah tempat menjadikan anak-anak pintar, maju, dan berkarakter pun tak luput dari kerusakan. Banyak rumah warga sipil hancur berkeping yang hanya menyisakan puing-puing. Tak hanya itu, banyak luka kemanusiaan yang ditimbulkan. Keluarga kehilangan orang-orang tercinta, anak kehilangan orangtua, perempuan menjadi janda kehilangan suami, orangtua kehilangan anak penerus kehidupannya, kematian seolah lumrah dalam perang. Masyarakat sipil yang tidak paham, mereka yang tak berdosa menjadi korban kebiadaban perang. Adakah perang menjadi harga yang pantas untuk semua ini?
Dimana nurani penguasa yang telah menerjadikan perang? Apakah mereka berpikir dampak dari keputusannya yang egois? Mereka tampak menutup mata terhadap penderitaan warga sipil demi untuk menunjukkan kekuasaan, kehebatan, dan kecanggihan peralatan perang yang dimiliki. Ini adalah sebuah kesombongan yang dipertontonkan, dengan rela mengorbankan warga yang tak berdosa.
Agama tidak pernah mengajarkan kita menjadi pembenci dan melakukan perang. Kurikulum pendidikan di semua negara selalu mengajarkan hal-hal yang bukan hanya terkait kepintaran, kemajuan, dan keterampilan, namun yang terpenting perilaku, sikap dan budi pekerti luhur. Kekerasan yang ditunjukkan lewat perang pun tidak pernah dihadirkan dalam kurikulum, karena pendidikan selalu menekankan pada memanusiakan manusia, sehingga peradaban dan perdamaian menjadi tolak ukur setiap negara yang ingin maju dan sejahtera.
Perang tidak pernah membawa solusi yang manusiawi. Perang tampaknya hanya menguntungkan bagi si pembuat dan penjual senjata serta mereka yang haus kekuasaan. Sisanya, hanyalah kehancuran baik fisik, material, moral, dan sosial. Bukan hanya yang kalah, tetapi juga yang menang.
Perang mengajarkan kita bahwa ambisi dan kekuasaan selalu membawa penderitaan yang jauh lebih besar. Terdapat kehancuran, luka, kehilangan yang tak tergantikan. Kekerasan bukanlah sebuah solusi, kekerasan hanyalah sebuah jalan pintas yang bukan menyelesaikan masalah. Justru perang menimbulkan lebih banyak masalah yakni masalah kemanusiaan.
Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa perang telah menindas dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian tidak dihasilkan dari perang itu sendiri, namun dari kebesaran hati para pemimpin untuk tidak membenci, dendam, merasa paling hebat, namun memupuk rasa empati, rasa hormat, kesetaraan, saling berbagi, memberi dan menerima, melengkapi, dan saling memaafkan, dengan menghadirkan dialog-dialog kerjasama bilateral yang mutualisme. Bila semua nilai kebaikan ini dihadirkan oleh semua pemimpin dunia, niscaya perdamaian menjadi destinasi kehidupan yang beradab, bermartabat, dan menyejahterakan bagi keberlanjutan (sustainability) umat manusia.
Semoga Indonesiaku tercinta dijauhkan dari perang fisik yang menyengsarakan, namun tetap menggelorakan semangat berperang dalam melawan kebodohan untuk menjadikan manusia Indonesia yang lebih baik, menjujung nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban, dan kemajuan. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdekalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, dan Majulah Indonesiaku. [T]
Singaraja, 11 Agustus 2026
Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole






























