11 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

Ni Made Ratminingsih by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
in Esai
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

Ni Made Ratminingsih

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan ditandai bukan sebagai kegelapan secara harfiah tanpa cahaya atau kegelapan tanpa ilmu pengetahuan, namun lebih kepada merosotnya nilai-nilai kebenaran (dharma). Banyak orang pintar di zaman ini, namun sering kepintaran itu tidak digunakan untuk hal-hal yang baik dan benar yang berlaku universal, tetapi sebaliknya kebenaran dan kebaikan yang didasarkan pada kepentingan pribadi dan kelompok semata. Dengan kepintarannya, manusia sering mengkemas kebohongan dan kejahatan melalui tampilan spiritualitas dan kebaikan palsu. Hukum dipelintir sana sini bahkan diubah-ubah demi kepentingan pribadi dan kelompok demi kekuasaan.

Orang-orang baik dan jujur di zaman ini justru banyak memilih diam, tidak mampu bersuara lantaran tidak punya kekuatan dan kekuasaan. Mereka juga banyak ditinggalkan karena tidak masuk dalam lingkarannya, mereka akan dibungkam supaya tidak bersuara.  Manakala berani bersuara, apalagi lantang dan mengkritisi dengan objektif dan tajam, mereka bisa terkena sangsi  melalui undang-undang yang dapat memenjarakan.

Di zaman Kali Yuga ini, dunia juga dipenuhi konflik dan berujung perang. Hal yang paling kontroversial, di balik kemajuan teknologi yang masif dan pesat yang mestinya semakin mendekatkan dunia dan menjadikannya semakin damai dengan diplomasi dan kerjasama global untuk saling memajukan dan menyejahterakan, justru berbalik. Perang Ukraina dengan Rusia sudah berjalan 4 tahun. Perang di jalur Gaza antara Palestina dan Israel tidak pernah berkesudahan sejak lama, bahkan sekarang memanas dengan hadirnya Iran yang mampu meluluhlantakkan Israel dengan ratusan rudalnya. Perang masih terus akan berlanjut. Adakah perang menguntungkan?

Perang dan konflik bersenjata lainnya yang berkedok atas nama ideologi, politik, kekuasaan bahkan demi perdamaian mungkin dianggap benar untuk sang penguasa untuk mempertahankan wilayah kekuasaan dan harga diri. Namun, pernahkah mereka berpikir akan dampak yang diakibatkannya?

Terlalu banyak yang dikorbankan olehnya. Infrastruktur yang dibangun dengan susah payah dan dalam jangka waktu yang lama dengan uang rakyat yang tak sedikit, semua luluh lantak dalam sekejap. Rumah sakit yang seharusnya menyehatkan orang sakit, justru hancur kena bom. Sekolah tempat menjadikan anak-anak pintar, maju, dan berkarakter pun tak luput dari kerusakan. Banyak rumah warga sipil hancur berkeping yang hanya menyisakan puing-puing. Tak hanya itu, banyak luka kemanusiaan yang ditimbulkan. Keluarga kehilangan orang-orang tercinta, anak kehilangan orangtua, perempuan menjadi janda kehilangan suami, orangtua kehilangan anak penerus kehidupannya, kematian seolah lumrah dalam perang. Masyarakat sipil yang tidak paham, mereka yang tak berdosa menjadi korban kebiadaban perang. Adakah perang menjadi harga yang pantas untuk semua ini?

Dimana nurani penguasa yang telah menerjadikan perang? Apakah mereka berpikir dampak dari keputusannya yang egois? Mereka tampak menutup mata terhadap penderitaan warga sipil demi untuk menunjukkan kekuasaan, kehebatan, dan kecanggihan peralatan perang yang dimiliki. Ini adalah sebuah kesombongan yang dipertontonkan, dengan rela mengorbankan warga yang tak berdosa.

Agama tidak pernah mengajarkan kita menjadi pembenci dan melakukan perang. Kurikulum pendidikan di semua negara selalu mengajarkan hal-hal yang bukan hanya terkait kepintaran, kemajuan, dan keterampilan, namun yang terpenting perilaku, sikap dan budi pekerti luhur. Kekerasan yang ditunjukkan lewat perang pun tidak pernah dihadirkan dalam kurikulum, karena pendidikan selalu menekankan pada memanusiakan manusia, sehingga peradaban dan perdamaian menjadi tolak ukur setiap negara yang ingin maju dan sejahtera.

Perang tidak pernah membawa solusi yang manusiawi. Perang tampaknya hanya menguntungkan bagi si pembuat dan penjual senjata serta mereka yang haus kekuasaan. Sisanya, hanyalah kehancuran baik fisik, material, moral, dan sosial. Bukan hanya yang kalah, tetapi juga yang menang.

Perang mengajarkan kita bahwa ambisi dan kekuasaan selalu membawa penderitaan yang jauh lebih besar. Terdapat kehancuran, luka, kehilangan yang tak tergantikan. Kekerasan bukanlah sebuah solusi, kekerasan hanyalah sebuah jalan pintas yang bukan menyelesaikan masalah. Justru perang menimbulkan lebih banyak masalah yakni masalah kemanusiaan.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa perang telah menindas dan menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Perdamaian tidak dihasilkan dari perang itu sendiri, namun dari kebesaran hati para pemimpin untuk tidak membenci, dendam, merasa paling hebat, namun memupuk rasa empati, rasa hormat, kesetaraan, saling berbagi, memberi dan menerima, melengkapi, dan saling memaafkan, dengan menghadirkan dialog-dialog kerjasama bilateral yang mutualisme. Bila semua nilai kebaikan ini dihadirkan oleh semua pemimpin dunia, niscaya perdamaian menjadi destinasi kehidupan yang beradab, bermartabat, dan menyejahterakan bagi keberlanjutan (sustainability) umat manusia. 

Semoga Indonesiaku tercinta dijauhkan dari perang fisik yang menyengsarakan, namun tetap menggelorakan semangat berperang dalam melawan kebodohan untuk menjadikan manusia Indonesia yang lebih baik, menjujung nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban, dan kemajuan. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdekalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, dan Majulah Indonesiaku. [T]

Singaraja, 11 Agustus 2026

Penulis: Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.
Editor: Adnyana Ole

Tags: HUT Kemerdekaan RIperang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

Next Post

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Ni Made Ratminingsih

Ni Made Ratminingsih

Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A., pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Related Posts

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails

Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

by I Nyoman Darma Putra
August 8, 2026
0
Sastra Terjemahan sebagai Diplomasi Budaya: Mengenang Peran Vern Cork sebagai Penerjemah Sastra Indonesia dari Australia

SASTRA terjemahan telah lama menjadi salah satu media diplomasi budaya Indonesia. Namun, keberadaannya sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya yang...

Read moreDetails

Indonesia dalam Secangkir Kopi

by Ahmad Fatoni
August 7, 2026
0
Indonesia dalam Secangkir Kopi

PAGI itu saya duduk di sebuah cafe kecil di pinggiran kota. Tidak ada yang istimewa. Meja kayu yang mulai kusam,...

Read moreDetails

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

Read moreDetails

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
0
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

Read moreDetails

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

by Arief Rahzen
August 6, 2026
0
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

Read moreDetails

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

by Angga Wijaya
August 6, 2026
0
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

Read moreDetails
Next Post
Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali
Bahasa

Amuk, Briuk Siu, dan Bayang-Bayang Solidaritas Kolektif di Bali

Peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Tabanan—saat seorang terduga pencuri tewas diamuk massa dan meninggalkan duka mendalam bagi anaknya—kembali...

by I Made Sudiana
August 11, 2026
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas
Esai

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta
Ulas Rupa

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

by Hartanto
August 11, 2026
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu
Ulas Rupa

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka
Esai

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
Telenovela
Esai

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

by Angga Wijaya
August 11, 2026
‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali
Pop

‘Bajang Care Adine’, Debut Rejuna Koplo di Belantika Musik Bali

Sube tawang, bajang care adine Mepayas seksi, ngalih bapak medasi Dini ditu setate ngaku perawan Nanging mare cobak, hey… jeg...

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli
Panggung

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan
Tualang

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co