29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

I Wayan Sujana Suklu by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
in Ulas Rupa
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

Foto. Suasana depan Maya gallery, pada pembukaan 14 Agustus 2026 / Doc. I Wayan Sujana Suklu

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar. Di depan ruang gallery berbisik riuh sahabat seniman, penikmat, kritikus, manager-staf dan founder Maya hotel hadir, penanda sebuah peristiwa penting: seorang seniman yang telah menempuh perjalanan panjang dalam seni lukis kembali mempresentasikan karyanya dengan perubahan bahasa visualnya.

Berjajuk Vibration II. Saya tertarik bukan hanya pada lukisan-lukisan yang dipamerkan malam itu, tetapi terutama pada sebuah pertanyaan: apa yang terjadi di dalam diri seorang seniman ketika, setelah puluhan tahun menguasai satu bahasa visual, ia memilih mengubah bahasa tersebut?

Pertanyaan itu menjadi lebih menarik karena Sutjipto Adi bukan seniman muda yang sedang mencari identitas. Ia lahir di Kalisat, Jember, pada 30 Agustus 1957, menempuh pendidikan seni rupa di STSRI ASRI Yogyakarta, dan telah berkarya sejak dekade 1970–1980-an. Sejarahnya terbaca, ia dikenal melalui kecenderungan realis-fotografis, figur, konstruksi geometris, dan ruang imajinatif. Arsip Biennale Seni Rupa Jakarta IX tahun 1993, misalnya, mencatat bahwa Sutjipto Adi pada masa itu telah aktif berpameran dan dikenal dengan kecenderungan realistik-fotografis yang dipadukan dengan bentuk-bentuk geometrik serta figur manusia.

Kini, setelah lebih dari empat dekade berkesenian, ia justru bergerak semakin jauh ke wilayah abstraksi. Perubahan ini terlalu penting jika hanya disebut sebagai perubahan gaya. Saya menerka, yang berubah bukan sekadar gaya, yang berubah adalah cara mengalami dunia.

Ketika Seorang Seniman Meninggalkan Dirinya Sendiri

Ada sebuah pengakuan Sutjipto Adi yang bagi saya sangat penting. Ketika membicarakan pergeseran dari realisme menuju abstraksi, ia mengatakan bahwa setelah 43 tahun berkesenian, dirinya masih terus belajar dan belajar, belajar berubah. Ia bahkan merasa harus kembali belajar mengenai esensi abstraksi, seolah-olah harus memulai dari awal.

Kalimat belajar berubah terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang seniman senior, kalimat itu sesungguhnya radikal. Bukankah seorang seniman yang telah puluhan tahun berkarya seharusnya sudah menemukan dirinya? Bukankah kematangan artistik biasanya ditandai dengan semakin mantapnya gaya? Bukankah seorang seniman senior justru dituntut untuk mempertahankan ciri khas yang membuat namanya dikenal?

Sutjipto Adi melakukan sesuatu yang berlawanan. Ia membuka kembali pintu ketidaktahuan. Ia memasuki wilayah yang tidak sepenuhnya dikuasainya. Ia meninggalkan sebagian dari bahasa yang selama puluhan tahun menjadi rumahnya. Di sini saya melihat sebuah kebutuhan yang lebih dalam daripada kebutuhan estetis: kebutuhan untuk membebaskan diri dari identitas artistik yang telah mapan. Gaya memang dapat menjadi rumah.Tetapi rumah yang terlalu nyaman dapat berubah menjadi penjara.

Gaya Bukan Sekadar Bentuk

Kita sering membicarakan gaya dengan istilah-istilah formal: realisme, surealisme, abstraksi, figurasi, ekspresionisme dan sebagainya. Namun bagi seorang seniman, gaya sesungguhnya jauh lebih dalam.

Gaya adalah cara melihat, cara tangan bergerak, kebiasaan mata, ingatan tubuh, dan gaya adalah cara seorang seniman mengubah pengalaman menjadi bentuk. Karena itu, ketika gaya berubah, sesungguhnya yang berubah bisa saja bukan hanya bentuk di atas kanvas, tetapi relasi antara seniman dan pengalaman hidupnya.

Sutjipto Adi dahulu bekerja dengan sesuatu yang dapat dikenali: figur, tubuh, ruang, geometri, bayangan. Dunia luar masih memiliki representasi. Dalam perkembangan berikutnya, bentuk-bentuk tersebut semakin dilepaskan. Figur mulai tidak lagi menjadi pusat. Narasi mulai dikurangi. Garis, warna, tekstur, ritme dan gerak mengambil alih.

Dalam karya-karya yang terdokumentasi sejak 2020-an, kita dapat melihat judul-judul seperti Future, Intuition, Garis Intuisi, Enerji Rasa, Intuition of Vibration, Abstraksi Intuisi, Alam Intuisi, Irama Intuisi, dan Membaca Intuisi. Perubahan kosakata itu sendiri sudah berbicara.

Dulu bahasa visualnya banyak berhubungan dengan objek. Sekarang banyak judulnya berhubungan dengan pengalaman. Dari apa yang ada di luar menuju apa yang terjadi di dalam.

Dari Dunia Eksternal menuju Dunia Internal

Saya ingin membaca perjalanan ini melalui sebuah garis sederhana: dunia → pengamatan → figur → simbol → pengalaman → rasa → intuisi → vibrasi → abstraksi.

Telisik Ini bukan kronologi yang kaku. Ia adalah cara untuk melihat kemungkinan arah transformasi. Pada awalnya seniman melihat dunia, kemudian dunia ditafsirkan, lalu dunia diberi simbol.

Setelah pengalaman hidup bertambah, simbol mungkin tidak lagi cukup. Yang dicari bukan lagi bentuk dunia, tetapi rasa yang ditinggalkan dunia di dalam diri. Di titik itulah abstraksi memperoleh makna baru.

Abstraksi bukan berarti dunia menghilang, dunia justru telah masuk terlalu jauh ke dalam diri, sehingga tidak perlu lagi digambarkan secara langsung.

Kelahiran: Pertanyaan itu Sebenarnya Sudah Ada Sejak Awal

Galeri Nasional Indonesia mencatat karya Kelahiran (1985) sebagai salah satu karya penting dalam perjalanan Sutjipto Adi. Karya tersebut mempertemukan figur manusia, suasana anatomis, bayangan, ketegangan, kematian, dan harapan kelahiran. Galeri Nasional membaca karya itu dalam kaitannya dengan pencarian mengenai makna hidup. [1]

Di sini kita menemukan sesuatu yang menarik, pertanyaan Sutjipto Adi ternyata tidak berubah. Yang berubah adalah bahasanya. Dulu ia bertanya tentang kehidupan melalui figure, kemudian melalui simbol. Sekarang melalui abstraksi. Jadi, mungkin bukan: “Sutjipto Adi berubah dari realis menjadi abstrak,” melainkan: “Sutjipto Adi tetap mengerjakan pertanyaan yang sama, tetapi semakin lama semakin masuk ke dalam dirinya sendiri.” Hal Inilah yang membuat perubahan tersebut menarik secara psikodinamik.

Dari “Apa yang Saya Lihat?” menjadi “Apa yang Saya Rasakan?”

Dalam seni representasional, pertanyaan utama sering berbunyi: Apa yang saya lihat? Bagaimana tubuh itu? ruang itu? cahaya itu? wajah itu?

Tetapi dalam abstraksi, pertanyaannya berubah: Apa yang saya rasakan? Pertanyaan kedua ini jauh lebih sulit. Sebab rasa tidak memiliki bentuk yang pasti. Marah tidak memiliki satu warna. Tenang tidak memiliki satu garis. Kehilangan tidak mempunyai satu bentuk. Spiritualitas tidak memiliki satu anatomi.

Karena itu, ketika Sutjipto Adi mengatakan bahwa karya-karyanya kini bebas dari bentuk dan mengikuti rasa, ia sebenarnya sedang memindahkan pusat kerja artistiknya dari representasi menuju pengalaman. Ia tidak lagi harus melukiskan sesuatu agar pengalaman itu hadir.Ia dapat menciptakan pengalaman melalui warna, garis, ritme dan energi sapuan.

“Rasa” sebagai Pengetahuan

Dalam wawancara mengenai karya Intuition of Vibration, Sutjipto Adi menjelaskan bahwa sumber rasa berada di batin. Ia menghubungkan kepekaan terhadap rasa dengan latihan batin, termasuk ibadah, meditasi dan tafakur. Ia juga mengatakan bahwa keadaan batin seniman penting dalam proses penciptaan; kemarahan, misalnya, dianggap dapat memengaruhi vibrasi yang masuk ke dalam karya. Ia menyebut kembali pada akar tradisi leluhur dan mengangkat persoalan rasa ke dalam karya.

Foto. Karya “Pusaran Vibrasi II” dan “Pusaran Vibrasi III” pada pameran bertajuk VIBRASI II

Bagi saya, ini menarik karena rasa di sini bukan sekadar perasaan. Rasa menjadi semacam pengetahuan. Pengetahuan yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kalimat. Seorang pelukis bisa saja tidak mampu menjelaskan secara teoritis mengapa garis harus bergerak seperti itu. Tetapi tangannya tahu. Ia tidak selalu mampu menjelaskan mengapa warna tertentu harus diletakkan di sana. Tetapi matanya tahu. Inilah yang dalam pembahasan Artistic Research dapat dipahami sebagai pengetahuan yang lahir dari praktik.

Graeme Sullivan menempatkan praktik seni sebagai bentuk penyelidikan yang memungkinkan seniman menghasilkan pengetahuan melalui proses visual, eksperimentasi dan refleksi. [2] Henk Borgdorff juga menekankan bahwa praktik artistik tidak hanya menjadi penerapan pengetahuan yang telah tersedia, tetapi dapat menjadi tempat pengetahuan baru diproduksi melalui proses artistik itu sendiri. [3] Maka dapat saya katakan, studio bukan sekadar tempat membuat lukisan. Melainkan, studio adalah tempat mengetahui.

Ketika Tangan Mengetahui Lebih Dahulu dari pada Pikiran

Seorang seniman yang telah melukis selama lebih dari empat puluh tahun memiliki pengetahuan yang sangat besar di dalam tubuhnya. Tangan menyimpan pengalaman. Mata menyimpan pengalaman. Gerak menyimpan pengalaman. Bahkan kesalahan menyimpan pengalaman.

Ketika Sutjipto Adi berpindah ke abstraksi, ia bukan seniman yang benar-benar mulai dari nol. Ia mulai dari nol dengan membawa seluruh pengalaman masa lalunya. Ini perbedaan yang sangat penting. Ia bukan pemula, tetapi ia memilih posisi mental seorang pemula. Ia membiarkan tangannya kembali mencari, garis tidak sepenuhnya dikendalikan, warna menemukan hubungan, dan bentuk muncul tanpa harus segera diberi nama.

Menyimak  perspektif kreativitas, keadaan semacam ini menarik karena kreativitas tidak selalu berarti mengumpulkan semakin banyak pengetahuan. Kadang kreativitas membutuhkan kemampuan untuk menangguhkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Seniman senior memiliki pengetahuan yang banyak, tetapi ia juga perlu memiliki keberanian untuk sesekali tidak menggunakannya.

Psikodinamika Perubahan

Istilah psikodinamika dalam tulisan ini tidak saya gunakan untuk mendiagnosis Sutjipto Adi. Tidak mungkin kita mengetahui kondisi psikis seseorang hanya dengan melihat lukisannya. Namun kita dapat membaca dinamika antara pengalaman hidup dan perubahan praktik artistik.

Saya melihat setidaknya ada lima kemungkinan gerak: Pertama eksternalisasi, yakni apa yang dirasakan di dalam diri diterjemahkan menjadi figur, objek dan simbol. Kedua internalisasi, pengalaman dari luar tradisi, ritual, lingkungan, relasi, kehidupan, menjadi pengalaman personal. Ketiga pelepasan, bahasa lama yang telah dikuasai mulai ditinggalkan. Keempat integrasi, bahasa lama tidak benar-benar hilang. Geometri, struktur, ketelitian dan kemampuan figuratif tetap meninggalkan jejak dalam karya baru. Kelima interiorisasi, yang menjadi pusat bukan lagi objek, melainkan keadaan batin. Saya menyebut proses ini psikodinamika perubahan bahasa visual.

Bukan karena lukisan dapat menjadi alat untuk membaca alam bawah sadar secara langsung, tetapi karena perubahan bentuk dapat menjadi jejak dari perubahan hubungan seniman dengan pengalaman hidupnya.

Bayangan: Masa Lalu yang Masih Mengikuti

Karya Intuitions Shadow I (2024) memberikan metafora yang menarik. Di tengah perkembangan abstraksi, citra diri seniman masih muncul sebagai semacam bayangan. Tulisan mengenai Vibration of Stillness membaca kemunculan potret monokrom itu sebagai semacam perpisahan dengan seni lukis realis.

Tetapi saya justru melihatnya sebagai sesuatu yang lebih rumit. Bayangan tidak pernah benar-benar pergi. Bayangan adalah sesuatu yang mengikuti tubuh. Demikian pula masa lalu artistic, Sutjipto Adi dapat mengatakan selamat tinggal kepada realisme, tetapi pengalaman puluhan tahun bekerja secara realistik tetap berada di dalam tangannya.

Mungkin itulah sebabnya abstraksinya tidak terasa sebagai abstraksi yang lahir dari kekosongan. Ia lahir dari ingatan panjang tentang bentuk.

Foto. Karya “Intuitions Shadow I” (2024)

Semakin Banyak Pengalaman, Semakin Sedikit yang Perlu Dikatakan

Ada paradoks di sini. Pada awal perjalanan, seorang seniman mungkin ingin mengatakan banyak hal. Misalnya tentang manusia, kehidupan, masyarakat, dunia, dan tentang pengalaman. Tetapi semakin panjang hidup dijalani, mungkin muncul kesadaran bahwa tidak semua pengalaman perlu dijelaskan.

Ada sesuatu yang cukup dirasakan. Ada sesuatu yang lebih baik dibiarkan terbuka. Ada sesuatu yang tidak membutuhkan nama. Di sinilah abstraksi menjadi menarik. Abstraksi memungkinkan pengalaman untuk tidak selesai dijelaskan: Ia memberi ruang bagi ketidakpastian, memberi ruang bagi penonton, dan memberi ruang bagi seniman sendiri.

Dari Simbol Menuju Sikap

Ada perbedaan antara melukiskan spiritualitas dan melukis dalam keadaan spiritual. Yang pertama menghasilkan symbol, dan kedua menghasilkan pengalaman.

Pernyataan Sutjipto Adi tentang meditasi, tafakur, tirakat, rasa, dan vibrasi memperlihatkan bahwa bagi dirinya proses batin bukan sekadar tema yang ditempelkan setelah lukisan selesai. Ia menjadikannya bagian dari proses penciptaan.

Melalui pembacaan inilah, saya melihat kemungkinan perubahan paling mendasar dalam praktiknya. Spiritualitas tidak lagi menjadi isi lukisan. Spiritualitas menjadi cara melukis.

Perbedaan ini sangat penting. Vibration: ketika garis menjadi pengalaman. Kata vibration sendiri menawarkan pintu pembacaan yang menarik. Getaran adalah sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya diam. Kita merasakannya.

Garis yang berulang dapat menghasilkan kesan gerak. Warna yang berdekatan dapat menghasilkan tegangan. Lapisan cat dapat menciptakan kedalaman. Sapuan kuas dapat meninggalkan jejak tubuh. Maka ketika Sutjipto Adi menggunakan kata vibration, ia seolah-olah memindahkan lukisan dari wilayah benda menuju wilayah peristiwa.

Lukisan bukan lagi sekadar sesuatu yang dilihat. Lukisan menjadi sesuatu yang dialami. John Dewey sejak lama mengingatkan bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari pengalaman. Karya seni tidak berhenti sebagai objek; ia menjadi seni melalui pengalaman yang terjadi antara karya dan manusia. [6] Karena itu, Vibration II dapat dibaca sebagai upaya menghadirkan lukisan bukan sebagai cerita, tetapi sebagai pengalaman sensorik dan batiniah.

Seorang Seniman Senior Kembali Menjadi Pemula

Mungkin inilah bagian paling mengharukan dari perjalanan Sutjipto Adi. Setelah lebih dari empat puluh tahun berkarya, ia masih mengatakan: “Belajar berubah.” Ada kerendahan hati di dalam kalimat itu. Tetapi ada pula keberanian.

Sebab perubahan pada usia lanjut bukan hanya perubahan teknis. Ia menuntut keberanian untuk mempertanyakan kembali apa yang telah dipercaya selama puluhan tahun.

Pada perbincangan kreativitas usia lanjut, hal tersebut penting. Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan sesuatu yang baru, tetapi juga kemampuan untuk menyusun kembali hubungan seseorang dengan pengalaman, identitas dan kemungkinan masa depan. [4]

Sutjipto Adi tidak sedang kembali ke masa muda. Ia sedang membawa seluruh masa lalunya ke wilayah yang baru. Karena itu, saya tidak melihat abstraksinya sebagai pelarian dari figur. Saya melihatnya sebagai figur yang telah berubah menjadi pengalaman.

Dari “Saya Melukis” Menuju “Saya Mengalami”

Mungkin perbedaan paling sederhana dapat dirumuskan seperti ini. Dulu: Saya melukis sesuatu yang saya lihat. Kemudian: Saya melukis sesuatu yang saya pikirkan. Dan kini: Saya melukis sesuatu yang saya rasakan. Tiga kalimat itu memperlihatkan tiga pusat gravitasi artistik: mata -pikiran-batin.

Tetapi ketiganya tidak saling menggantikan; mata tetap ada, pikiran tetap ada, batin tetap ada. Yang berubah adalah mana yang menjadi pusat. Dalam Vibration II, tampaknya pusat itu semakin kuat berada pada rasa dan intuisi.

Foto. Suasana ruangan dengan karya-karya VIBRATION II

Seni sebagai Penelitian Terhadap Diri Sendiri

Pada elan inilah, saya ingin menghubungkan perjalanan Sutjipto Adi dengan Artistic Research. Jika penelitian ilmiah sering dimulai dengan pertanyaan yang dirumuskan secara eksplisit, penelitian artistik dapat dimulai dari kegelisahan yang belum sepenuhnya memiliki bahasa.

Seniman tidak selalu tahu apa yang sedang diteliti. Ia bekerja, mencoba, gagal, menghapus, mengulang, menemukan. Kemudian, setelah karya terbentuk, ia mungkin baru menyadari bahwa selama ini ia sedang mengajukan pertanyaan tertentu.

Dalam pengertian itu, praktik melukis adalah cara berpikir, dan perubahan gaya dapat menjadi tanda bahwa cara berpikir tersebut juga sedang berubah. Sutjipto Adi tidak hanya mengubah bentuk lukisannya. Ia mengubah cara mengetahui melalui lukisan.

Apa yang Sebenarnya Dicari?

Jika saya harus merumuskan kebutuhan batin yang mungkin berada di balik perubahan itu, saya tidak akan menyebutnya sebagai “kebutuhan psikologis” dalam arti klinis. Saya akan menyebutnya sebagai beberapa kebutuhan eksistensial: kebutuhan untuk membebaskan diri dari identitas lama; kembali menjadi pemula; menyederhanakan pengalaman; menginternalisasi spiritualitas; menemukan kebebasan dalam ketidakpastian; dan mungkin yang paling dalam: kebutuhan untuk mengalami kehidupan, bukan sekadar menggambarkannya. Inilah yang saya sebut sebagai psikodinamika perubahan bahasa visual.

Vibration II: Getaran yang Belum Selesai

Malam pembukaan Vibration II di Maya Sanur, saya tidak melihat seorang seniman yang sedang mencoba membuktikan bahwa dirinya telah menjadi abstrak.

Saya melihat seorang seniman yang masih mencari. Dan justru karena masih mencari, karya-karyanya terasa hidup. Sebab seni yang benar-benar hidup tidak selalu datang dari jawaban. Ia datang dari pertanyaan yang belum selesai.

Sutjipto Adi telah melewati realisme, figurasi, geometri, surealisme, narasi, simbol, intuisi, rasa, hingga abstraksi. Tetapi mungkin perjalanan itu sebenarnya bukan perjalanan menuju suatu gaya tertentu. Ia adalah perjalanan menuju dirinya sendiri. Dunia luar perlahan masuk ke dalam. Figur berubah menjadi ingatan. Ingatan menjadi rasa. Rasa menjadi intuisi-intuisi, intuisi menjadi gerak-gerak, gerak menjadi garis-garis, garis menjadi vibrasi, dan vibrasi menjadi pengalaman.

Setelah Puluhan Tahun, Apa yang Masih Dicari?

Barangkali inilah pertanyaan yang paling menarik untuk diajukan kepada seorang seniman yang telah berkarya lebih dari empat puluh tahun: Apa yang masih dicari?

Jawabannya mungkin tidak terdapat dalam biografi. Tidak pula dalam daftar pameran. Tidak dalam penghargaan. Bahkan tidak selalu dalam judul karya. Jawabannya mungkin justru berada di antara satu garis dan garis lainnya.

Karena setelah puluhan tahun melukis, seorang seniman mungkin sampai pada kesadaran bahwa yang paling penting bukan lagi apa yang bisa ia gambarkan, tetapi apa yang masih bisa ia rasakan.

Dan di sanalah Sutjipto Adi tampaknya berada sekarang. Bukan di ujung perjalanan. Melainkan di sebuah wilayah yang justru sangat dekat dengan awal: ketika tangan kembali belajar, mata kembali mencari, pikiran kembali ragu, dan batin kembali mendengarkan.

Mungkin itulah makna paling dalam dari Vibration II. Getaran bukan tanda bahwa sesuatu sedang bergerak menuju selesai. Getaran adalah tanda bahwa sesuatu masih HIDUP. [T]

Catatan kaki

[1] Galeri Nasional Indonesia. (2019). Handbook of collections Galeri Nasional Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Katalog tersebut mencatat Sucipto Adi sebagai pelukis surealis Indonesia yang berkembang sejak dekade 1980-an dan karya Kelahiran (1985) dalam kaitannya dengan pencarian makna hidup.

[2] Sullivan, G. (2005). Art practice as research: Inquiry in the visual arts. SAGE Publications.

[3] Borgdorff, H. (2012). The conflict of the faculties: Perspectives on artistic research and academia. Leiden University Press.

[4] Swinnen, A. (2018). “Writing to make ageing new”: Dutch poets’ understandings of late-life creativity. Ageing & Society, 38(3), 543–567. https://doi.org/10.1017/S0144686X16001197

[5] Karja, I. W. (2004). Abstract painting as a transformation of the cosmology concept. Mudra: Jurnal Seni Budaya. Kajian ini penting untuk melihat bagaimana abstraksi dalam konteks Bali dapat berhubungan dengan kosmologi, khususnya hubungan mikrokosmos dan makrokosmos.

[6] Dewey, J. (1934). Art as experience. Minton, Balch & Company.

[7] Yuliman, S. (1987). “Mistik atau futuristik.” Tempo. Pembacaan Yuliman terhadap karya Sutjipto Adi pada periode awal memperlihatkan bahwa persoalan spiritualitas, ruang, geometri, dan figur telah menjadi bagian dari diskursus mengenai praktiknya sejak masa awal.

[8] Jung, C. G. (1968). The archetypes and the collective unconscious (2nd ed.). Princeton University Press.

[9] Winnicott, D. W. (1971). Playing and reality. Tavistock Publications.

[10] Deleuze, G., & Guattari, F. (1994). What is philosophy? (H. Tomlinson & G. Burchell, Trans.). Columbia University Press.

[11] Coomaraswamy, A. K. (1934). The transformation of nature in art. Harvard University Press.

[12] Okakura, K. (1906). The book of tea. Duffield & Company.

[13] Erikson, E. H. (1963). Childhood and society (2nd ed.). W. W. Norton.

[14] Sutjipto Adi. (2022). Pernyataan seniman mengenai sumber rasa, intuisi, meditasi, tafakur, tirakat, dan vibrasi dalam proses penciptaan, sebagaimana dikutip dalam pemberitaan Medcom.id mengenai Intuition of Vibration dan Calliegraphy of Intuition.

[15] Fadjri, R. (2024, July 30). Migrasi ekstrim Sutjipto Adi dari corak lukisan realis fotografis ke corak abstrak. Smol ID. Artikel ini memuat wawancara Sutjipto Adi mengenai perubahan dari realisme menuju abstraksi, “belajar berubah,” serta pergeseran dari narasi menuju rasa.

[16] IndoArtNow. (n.d.). Sutjipto Adi. Dokumentasi karya mencatat berbagai karya abstrak Sutjipto Adi, antara lain Enerji Rasa, Garis Intuisi, Intuition of Vibration, Abstraksi Intuisi, Alam Intuisi, Irama Intuisi, dan Membaca Intuisi.

[17] Gallistl, V. (2021). What’s it worth? Value and valuation of late-life creativity. Ageing & Society, 41(11), 2599–2614.

Penulis: I Wayan Sujana Suklu
Editor: Adnyana Ole

Tags: Maya SanurPameran Seni RupaSeni RupaSutjipto Adi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

Next Post

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

I Wayan Sujana Suklu

I Wayan Sujana Suklu

Perupa & Pengajar Seni Rupa di ISI Denpasar

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co