29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Ahmad Hirzan Anwari by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
in Esai
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

Latihan kader bela negara yang diadakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Bali atas perintah dari Kementrian Pertahanan RI

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang diadakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Bali atas perintah dari Kementrian Pertahanan RI.

Pertama kali membaca informasi itu, saya langsung skeptis dan pikiran saya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Mengapa program bernuansa militer ini kembali diadakan dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, ormas, dan komunitas lainnya, setelah kegiatan retreat militer bagi kepala daerah dan manajer Koperasi Desa Merah Putih? Apakah ini sebagai bentuk doktrin militerisme untuk  masyarakat sipil? Apa maksud dari bela negara dalam kegaiatan ini? Apakah membela setiap kebijakan pemerintah, atau bagaimana? Atau, jangan-jangan, kita jadi buzzer pemerintah?

Daripada pertanyaan-pertanyaan itu liar begitu saja tanpa jawaban, jari saya mengklik link pendaftaran, dan saya resmi menjadi peserta latihan kader bela negara, yang diselenggarakan di  Rindam IX/Udayana, Tabanan. Selama tiga hari, 21–24 September 2026, berbagai unsur masyarakat se-Provinsi Bali yang telah resmi menjadi peserta, digembleng ala militer. Tak pandang usia. Muda dan tua, dihadapan Komandan Kompi, semua sama.

Jam 04.00 Wita, mereka harus bangun dari tempat tidur di barak, untuk mengikuti senam pagi, setelah itu, sarapan, baris berbaris, apel, upacara, menerima materi, berjemur, lari keliling lapangan, dan jaga serambi secara bergantian saat waktu tidur malam. Demikian siklus kegiatan kami selama tiga hari.

Bela Negara dari Berbagai Aspek

Penyelenggara menghadirkan beberapa pemateri untuk membahas materi tentang bela negara sesuai dengan kapasitas dan background-nyamasing-masing. Mereka terdiri dari Badan Cadangan Nasional di Bawah Kemenhan RI, BPBD Provinsi Bali, Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, dan Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali.

Brigjen TNI Luhut Marpaung, Kepala Pusat Bela Negara sekaligus pemateri pertama, menekankan akan bahaya perang hibrida. Perang hibrida adalah strategi perang modern yang memadukan antara kekuatan militer konvensional, strategi non-militer, dan perang siber secara bersamaan.

Selain itu, yang turut menjadi ancaman sangat berbahaya bagi negara ini adalah perang kognitif, suatu strategi memanipulasi publik tanpa konfrontasi fisik untuk melemahkan ketahanan masyarakat. Perang kognitif merupakan bentuk peperangan modern yang menargetkan pikiran, emosi, dan cara berpikir manusia.    

Menurut I Gusti Ayu Sukmawati, Pranata Humas Ahli Madya Diskominfos Bali, ada tiga tindakan yang harus diambil oleh kader bela negara. Pertama, menguatkan mental dan ideologi dengan berpegangan teguh terhadap Pancasila. Kedua, bangun kontra-narasi, melawan disinformasi dengan data valid, fakta, dan narasi pemersatu. Ketiga, terapkan skeptisisme sehat, jangan mudah terpancing judul konten yang bombastis atau clickbait yang memecah belah.

Sementara  Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, I.G.A.K Kartika Jaya Seputra, dalam pemateriannya ia menekankan agar Desa Adat dapat menjadi penjaga nilai-nilai kearifan lokal  di tengah tantangan perubahan ancaman global untuk mendukung stabilitas nasional.

Menurutnya, unsur pokok Desa Adat terdiri atas Parahyangan, Pawongan, dan Palehmahan yang merupakan perwujudan dari filosofi Tri Hita Karana yang berasal dari nilai-nilai Sad Kerthi. Parahyangan adalah rasa Bhakti Krama kepada Hyang Widhi Wasa/Tuhan yang Maha Esa. Pawongan adalah kebersamaan, kepedulian, dan kesetiakawanan/punia antara krama dengan sesama. Dan Palemahan adalah keserasian, keselarasan, serta welas-asih terhadap alam dan lingkungan.

Kearifan lokal, menurutnya, bisa memperkuat modal sosial yang dapat mengelola perubahan dengan baik dan memperkecil kerentanan terhadap konflik, disinformasi, fragmentasi, dan hilangnya identitas. Sosial yang kuat akan menjadi salah satu unsur pembentukkan ketahanan nasional.

Selain itu, materi yang tak kalah penting dalam menguatkan pondasi bela negara adalah tanggap darurat bencana. BPBD Bali mengutus dua orang menjadi pemateri. Masing-masing memberikan waktu selama dua sesi. Sesi pertama, pemateri memaparkan macam-macam bencana.

Bencana terbagi menjadi tiga, yaitu bencana alam, non-alam, dan sosial. Bencana bisa terjadi secara alamiah, seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung merapi. Dan bencana bisa terjadi karena ulah manusia, seperti banjir, kegagalan teknologi, konflik social, dan lain sebagainya.

Pada sesi kedua, pemateri menyampaikan fase manajemen bencana, yaitu pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana. Pra-bencana berkaitan dengan perencanaan, pencegahan, pengurangan risiko, Pendidikan, pelatihan, penelitian, dan penataan tata ruang. Saat bencana berkaitan dengan kaji cepat, status keadaan darurat, penyelamatan dan evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, dan pemulihan. Dan pasca-bencana berkaitan dengan rehabilitasi dan rekontruksi.

Bela Negara Sesuai Kapasitas

Setelah menerima materi selama tiga hari, kader bela negara mengemban amanah untuk mentransformasikan nilai-nilai bela negara ke lingkungannya masing-masing, dengan pendekatan yang sesuai dengan kapasitas dan lingkungan sekitarnya. Misalnya, tokoh agama. Ia bisa menyampaikan nilai-nilai bela negara saat kegiatan keagamaan. Dan seterusnya.

Yang perlu digarisbawahi, bela negara adalah sikap pembelaan terhadap hal-hal yang mendukung stabilitas negara. Apabila ada pihak yang mencoba meretakkan pondasi negara, baik warga negara asing maupun warga negara Indonesia, maka kita wajib untuk melawannya, sekalipun aktor pelaku yang merusak negara ini adalah dari pejabat pemerintah.

Kegiatan Latihan kader bela negara ini menjadi momentum bagi tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, ormas, dan komunitas lainnya untuk menguatkan nilai-nilai bela negara. Sehingga mereka bisa menjadi tonggak untuk menanamkan nilai-nilai bela negara kepada berbagai elemen masyarakat. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga negara dan ikut serta mengontrol stabilitas negara.[T]

Penulis: Ahmad Hirzan Anwari
Editor: Jaswanto

Tags: Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Balibela negaraKementrian Pertahanan RI
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

Next Post

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Ahmad Hirzan Anwari

Ahmad Hirzan Anwari

Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang asal Buleleng

Related Posts

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co