30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 29, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang kemudian membawa-bawa Bali, Lombok, pendatang, rasisme, bahkan seorang anggota DPD RI. Tetapi hampir semua keributan besar sering bermula dari sesuatu yang sederhana.

Di sebuah tempat usaha jahit di Sibangkaja, Badung, Bali, seorang pelanggan datang menanyakan pakaian yang belum selesai. Pemilik Sintya Tailor, Ni Made Tiadnyani alias Bu Sintya, mengatakan saat itu dirinya sedang makan. Ia mengaku meminta pelanggan menunggu sekitar 15 menit.

Lalu percakapan berubah menjadi pertengkaran. Kamera merekamnya, video beredar, ucapan bernuansa SARA terdengar. Dan tiba-tiba, persoalannya bukan lagi pakaian yang terlambat. Nama Bali ikut terseret.

Saya tertarik pada perkara ini bukan karena ingin menentukan siapa yang paling benar di antara penjahit dan pelanggan. Saya juga tidak ingin membela ucapan yang salah hanya karena orang yang mengucapkannya sedang marah.

Saya justru tertarik pada sesuatu yang terjadi setelah pertengkaran itu. Bagaimana sebuah persoalan personal dapat berubah menjadi perkara identitas. Sebab video hanya memperlihatkan beberapa menit. Kehidupan orang-orang di dalam video itu jauh lebih panjang daripada beberapa menit yang kita tonton.

Ada pesanan yang terlambat, pelanggan yang kecewa, seorang penjahit yang mengatakan dirinya sedang makan. Ada emosi, kalimat yang seharusnya tidak keluar. Ada kamera dan media sosial. Kemudian ada kita, orang-orang yang tidak berada di tempat kejadian tetapi merasa mengetahui seluruh cerita.

Barangkali di situlah persoalan sebenarnya dimulai. Saya kira kita perlu membedakan dua hal. Memahami konteks tidak sama dengan membenarkan tindakan. Bu Sintya memang mengatakan kepada media bahwa pelanggan datang ketika dirinya sedang makan. Ia mengaku sudah meminta waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan makan. Ia juga mengatakan dirinya dicaci lebih dulu dan merasa tidak dihormati. Pada saat yang sama, ia mengakui ada pesanan yang terlambat dikerjakan karena banyak pekerjaan lain.

Itu konteks. Tetapi konteks tidak menghapus kesalahan ketika ucapan bernuansa SARA keluar dalam pertengkaran. Bu Sintya sendiri mengakui salah mengucapkannya dan kemudian meminta maaf. Itu tanggung jawab. Dua hal tersebut bisa berjalan bersama.

Kita dapat memahami mengapa seseorang marah tanpa mengatakan bahwa semua yang dikatakannya ketika marah menjadi benar. Sebaliknya, kita dapat mengkritik ucapan seseorang tanpa menjadikan orang tersebut wakil dari seluruh kelompok sosialnya.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Pelanggan itu juga datang bukan tanpa alasan. Menurut keterangan yang diberitakan, Hilda menyerahkan tiga potong pakaian untuk dikecilkan pada 30 Juni. Ia mengaku dijanjikan pakaian tersebut selesai pada 1 Juli. Karena belum selesai, tenggat kemudian bergeser. Dalam kronologi yang disampaikan dari pihak pelanggan, pengerjaan baru selesai pada 3 Juli. Ia kemudian meminta uangnya dikembalikan.

Dari sudut pandang pelanggan, tentu ada alasan untuk kecewa. Tetapi Bu Sintya mempunyai cerita yang berbeda. Ia mengatakan pesanan telah dikerjakan bertahap dan beberapa pekerjaan tertunda karena banyak pesanan kebaya. Ketika pelanggan datang, menurutnya ia sedang makan dan meminta waktu untuk menyelesaikan makan sebelum melanjutkan pekerjaan.

Saya tidak berada di sana. Karena itu, saya tidak ingin berpura-pura mengetahui seluruh detail yang tidak terekam kamera. Tetapi dari dua versi tersebut, ada sesuatu yang sebenarnya sangat manusiawi.

Pelanggan mempunyai hak untuk kecewa. Penjahit mempunyai hak untuk makan. Masalahnya adalah dua hak itu bertemu dalam situasi yang sudah dipenuhi kekecewaan. Bagi pelanggan, waktu adalah janji. Bagi pekerja, waktu juga adalah tubuh.

Ada pekerjaan yang menumpuk, rasa lelah, kebutuhan untuk berhenti sebentar, dan makan yang tidak mungkin selalu ditunda. Konflik muncul ketika dua pengalaman tentang waktu itu tidak menemukan ruang untuk saling memahami.

Seandainya pertengkaran berhenti pada soal itu, mungkin ia hanya akan menjadi persoalan biasa antara pelanggan dan penyedia jasa. Tetapi percakapan tidak berhenti di sana. Identitas masuk. Mula-mula mereka adalah penjahit dan pelanggan, kemudian identitas bekerja.

Orang tidak lagi dilihat sebagai individu, melainkan sebagai kategori. Orang Bali, orang Jawa, orang Lombok, pendatang, orang luar. Menurut pemberitaan, dalam pertengkaran itu Hilda disebut sebagai orang Jawa. Namun dalam proses mediasi kemudian terungkap bahwa ia berasal dari Lombok.

Detail ini bagi saya bukan sekadar kejanggalan kecil. Ia memperlihatkan betapa mudahnya identitas seseorang disederhanakan ketika konflik sedang berlangsung.Manusia sebenarnya tidak pernah hanya mempunyai satu identitas. Seseorang dapat lahir di Lombok, tinggal di Bali, bekerja di Bali, mempunyai pasangan dari daerah lain, berteman dengan orang Bali, dan membangun kehidupan di tempat yang secara geografis bukan tanah kelahirannya.

Tetapi dalam konflik, semua kerumitan itu dapat diperas menjadi satu kata, yakni, pendatang. Atau, orang luar. Itulah saat identitas berubah dari penjelasan menjadi senjata.

Bali sendiri bukan masyarakat yang hidup dalam ruang tertutup. Bali adalah ruang perjumpaan. Orang datang, orang pergi. Ada yang tinggal sebentar, ada yang tinggal puluhan tahun. Ada yang datang untuk bekerja, belajar, menikah, membangun usaha. Ada yang akhirnya lahir dan besar di Bali meskipun orang tuanya berasal dari daerah lain.

Pariwisata, urbanisasi, pendidikan, dan ekonomi jasa membuat perjumpaan itu semakin intens. Di warung, kos-kosan, pasar, kampus, hotel, restoran, proyek bangunan, toko, kantor dan ruang-ruang publik lainnya, orang Bali hidup berdampingan dengan orang dari berbagai daerah.

Karena itu, pendatang bukan fenomena asing dalam kehidupan Bali kontemporer. Mereka sudah menjadi bagian dari keseharian Bali. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah pendatang ada di Bali. Mereka jelas ada. Pertanyaannya adalah bagaimana orang lokal dan pendatang hidup bersama.

Di mana batasnya? Bagaimana rasa memiliki dibentuk? Kapan seseorang dianggap orang Bali? Dan kapan ia kembali disebut orang luar? Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih menarik daripada sekadar menyimpulkan bahwa Bali rasis atau tidak rasis.

Saya justru terganggu oleh kalimat “Bali rasis”. Bukan karena saya ingin menyangkal bahwa tindakan rasis bisa terjadi di Bali. Tentu bisa. Bali bukan ruang tanpa prasangka. Orang Bali juga manusia. Sebagaimana masyarakat lain, masyarakat Bali memiliki stereotip, prasangka, konflik dan ketegangan sosial.

Tetapi satu orang tidak bisa begitu saja dijadikan wakil seluruh masyarakat. Kalau seseorang melakukan tindakan rasis, kita seharusnya mengatakan, “Ia melakukan tindakan rasis”, bukan; “Orang Bali rasis”. Perbedaannya tampak kecil. Tetapi akibatnya besar.

Kalimat pertama menempatkan tanggung jawab pada tindakan seseorang. Kalimat kedua menjatuhkan penilaian kepada kelompok. Ironisnya, ketika kita menggeneralisasi jutaan orang berdasarkan tindakan satu orang, kita sedang melakukan sesuatu yang secara struktur mirip dengan stereotip yang sedang kita lawan.

Media sosial membuat persoalan seperti ini semakin rumit. Ia bekerja dengan potongan. Potongan video, suara kalimat, dan potongan emosi. Kita menonton beberapa menit, kemudian merasa memiliki seluruh cerita.

Padahal sebelum kamera merekam, mungkin ada percakapan panjang yang tidak kita ketahui. Ada hari ketika pakaian diserahkan, ada janji kapan selesai, ada keterlambatan. Ada komunikasi sebelumnya, ada rasa kecewa, ada rasa lelah. Dan, ada mungkin kata-kata yang keluar sebelum bagian video yang kita lihat.

Semua itu hilang ketika sebuah video menjadi konten. Yang tersisa adalah ledakan. Dan ledakan jauh lebih mudah dibagikan daripada konteks. Media sosial kemudian melakukan sesuatu yang lebih besar, yakni, mengubah konflik personal menjadi konflik kolektif.

Orang-orang yang tidak mengenal Bu Sintya merasa harus membela Bali. Orang-orang yang tidak mengenal Hilda merasa harus membela kelompoknya. Pengalaman pribadi yang pernah mereka alami ikut masuk ke kolom komentar.

Orang yang pernah merasa didiskriminasi menemukan alasan untuk marah. Orang yang pernah merasa diperlakukan tidak adil oleh pendatang menemukan alasan untuk membalas. Video itu akhirnya bukan lagi milik dua orang yang bertengkar. Ia menjadi milik semua orang.

Dan ketika sebuah konflik menjadi milik semua orang, ia menjadi jauh lebih sulit diselesaikan. Yang menarik, konflik itu sebenarnya sempat selesai. Pada 19 Juli 2026, Bu Sintya dan Hilda dipertemukan dalam mediasi di Polsek Abiansemal. Keduanya sepakat berdamai, saling memaafkan, membuat pernyataan damai, dan tidak melanjutkan persoalan ke ranah hukum.

Secara manusiawi, cerita seharusnya selesai di sana. Tetapi internet mempunyai pengertian yang berbeda tentang kata selesai. Sebuah video dapat mati hari ini dan hidup kembali beberapa minggu kemudian. Konteks berubah. Tokoh baru masuk, video baru muncul. Perdebatan baru dimulai.

Pada Agustus, rekaman pertemuan yang melibatkan Arya Wedakarna kembali beredar. Sejumlah pihak menilai cara AWK berbicara kepada Hilda terkesan menyudutkan atau mengintimidasi. Empat senator asal NTB kemudian melaporkan dugaan tersebut ke Badan Kehormatan DPD RI. Laporan itu diberitakan telah diproses.

Tetapi di sini kita juga perlu berhati-hati. Yang terverifikasi adalah adanya tudingan dan laporan dugaan intimidasi, bukan bahwa intimidasi tersebut sudah terbukti sebagai fakta.

Perbedaan kecil dalam bahasa jurnalistik ini penting. Sebab kalau kita ingin mengkritik cara media sosial menghakimi orang berdasarkan potongan video, kita sendiri harus berhati-hati agar tidak melakukan hal yang sama.

Maka perkara ini mengalami perluasan. Dari penjahit dan pelanggan menjadi persoalan identitas. Dari identitas menjadi persoalan relasi lokal dan pendatang. Kemudian berkembang lagi menjadi persoalan kuasa dan cara seseorang membela pihak yang dianggap menjadi korban.

Begitulah konflik sosial bekerja di zaman ketika hampir semua orang membawa kamera di dalam saku. Sebuah peristiwa tidak lagi berakhir ketika orang-orang yang bertengkar pulang ke rumah. Ia dapat terus hidup di layar.

Saya tidak tahu apakah Bu Sintya adalah orang rasis. Saya juga tidak mempunyai alasan untuk mengatakan Hilda sepenuhnya benar. Saya tidak berada di sana ketika percakapan awal terjadi. Saya tidak mendengar seluruh percakapan sebelum kamera merekam. Karena itu, saya lebih tertarik pada apa yang dapat kita pelajari daripada pada posisi sebagai hakim.

Yang dapat kita katakan dengan lebih pasti adalah bahwa ucapan bernuansa SARA dalam pertengkaran tersebut memang problematis dan telah diakui sebagai kesalahan oleh Bu Sintya sendiri. Ia meminta maaf, dan kedua pihak kemudian berdamai.

Tetapi Bali tidak otomatis rasis karena satu orang Bali mengucapkan kalimat rasis. Begitu pula orang Lombok tidak otomatis menjadi korban hanya karena satu orang dari Lombok mengalami perlakuan buruk. Manusia harus dikembalikan kepada dirinya sendiri, bukan kepada labelnya.

Mungkin inilah yang sering hilang dari perdebatan media sosial. Kita begitu cepat mencari kelompok untuk disalahkan sehingga lupa bahwa konflik sebenarnya terjadi antara manusia dengan manusia.

Kita ingin tahu siapa yang mewakili Bali. Siapa yang mewakili Lombok, siapa yang mewakili pendatang, dan siapa yang mewakili pribumi. Padahal mungkin tidak ada yang perlu mewakili siapa pun. Ada seorang penjahit, seorang pelanggan, pakaian yang terlambat. Ada seorang ibu yang sedang makan. Dan ada dua manusia yang kehilangan kesabaran.

Saya kembali kepada adegan pertama. Seorang ibu sedang makan. Adegan ini sekarang terasa jauh lebih penting bagi saya daripada video yang viral. Bukan karena adegan itu membuktikan siapa yang benar. Justru sebaliknya.

Ia mengingatkan kita bahwa orang yang kita lihat di layar adalah manusia sebelum ia menjadi tokoh viral. Ia bisa lapar, lelah, bisa marah, dan bisa salah Begitu juga pelanggan. Ia bisa kecewa, tidak sabar, bisa marah, dan juga bisa salah. Manusia seperti itu. Tidak hitam-putih, tidak berdurasi dua menit. Tidak dapat diringkas dalam satu caption. Mungkin kita perlu belajar melihat manusia lebih lama daripada durasi videonya. Sebab sebelum Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Dan mungkin sebelum kita menghakimi Bali, kita seharusnya bertanya lebih dulu; apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamera dinyalakan? Pertanyaan itu mungkin tidak akan menghasilkan video yang viral. Tetapi mungkin membuat kita sedikit lebih adil kepada manusia. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balirasismetoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

Next Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
0
Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

Read moreDetails

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

Read moreDetails

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails
Next Post
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co