19 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebelum Bali Dituduh Rasis, Ada Seorang Ibu yang Sedang Makan

Angga Wijaya by Angga Wijaya
August 29, 2026
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

SEBELUM Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Kalimat itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perkara yang kemudian membawa-bawa Bali, Lombok, pendatang, rasisme, bahkan seorang anggota DPD RI. Tetapi hampir semua keributan besar sering bermula dari sesuatu yang sederhana.

Di sebuah tempat usaha jahit di Sibangkaja, Badung, Bali, seorang pelanggan datang menanyakan pakaian yang belum selesai. Pemilik Sintya Tailor, Ni Made Tiadnyani alias Bu Sintya, mengatakan saat itu dirinya sedang makan. Ia mengaku meminta pelanggan menunggu sekitar 15 menit.

Lalu percakapan berubah menjadi pertengkaran. Kamera merekamnya, video beredar, ucapan bernuansa SARA terdengar. Dan tiba-tiba, persoalannya bukan lagi pakaian yang terlambat. Nama Bali ikut terseret.

Saya tertarik pada perkara ini bukan karena ingin menentukan siapa yang paling benar di antara penjahit dan pelanggan. Saya juga tidak ingin membela ucapan yang salah hanya karena orang yang mengucapkannya sedang marah.

Saya justru tertarik pada sesuatu yang terjadi setelah pertengkaran itu. Bagaimana sebuah persoalan personal dapat berubah menjadi perkara identitas. Sebab video hanya memperlihatkan beberapa menit. Kehidupan orang-orang di dalam video itu jauh lebih panjang daripada beberapa menit yang kita tonton.

Ada pesanan yang terlambat, pelanggan yang kecewa, seorang penjahit yang mengatakan dirinya sedang makan. Ada emosi, kalimat yang seharusnya tidak keluar. Ada kamera dan media sosial. Kemudian ada kita, orang-orang yang tidak berada di tempat kejadian tetapi merasa mengetahui seluruh cerita.

Barangkali di situlah persoalan sebenarnya dimulai. Saya kira kita perlu membedakan dua hal. Memahami konteks tidak sama dengan membenarkan tindakan. Bu Sintya memang mengatakan kepada media bahwa pelanggan datang ketika dirinya sedang makan. Ia mengaku sudah meminta waktu sekitar 15 menit untuk menyelesaikan makan. Ia juga mengatakan dirinya dicaci lebih dulu dan merasa tidak dihormati. Pada saat yang sama, ia mengakui ada pesanan yang terlambat dikerjakan karena banyak pekerjaan lain.

Itu konteks. Tetapi konteks tidak menghapus kesalahan ketika ucapan bernuansa SARA keluar dalam pertengkaran. Bu Sintya sendiri mengakui salah mengucapkannya dan kemudian meminta maaf. Itu tanggung jawab. Dua hal tersebut bisa berjalan bersama.

Kita dapat memahami mengapa seseorang marah tanpa mengatakan bahwa semua yang dikatakannya ketika marah menjadi benar. Sebaliknya, kita dapat mengkritik ucapan seseorang tanpa menjadikan orang tersebut wakil dari seluruh kelompok sosialnya.

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Pelanggan itu juga datang bukan tanpa alasan. Menurut keterangan yang diberitakan, Hilda menyerahkan tiga potong pakaian untuk dikecilkan pada 30 Juni. Ia mengaku dijanjikan pakaian tersebut selesai pada 1 Juli. Karena belum selesai, tenggat kemudian bergeser. Dalam kronologi yang disampaikan dari pihak pelanggan, pengerjaan baru selesai pada 3 Juli. Ia kemudian meminta uangnya dikembalikan.

Dari sudut pandang pelanggan, tentu ada alasan untuk kecewa. Tetapi Bu Sintya mempunyai cerita yang berbeda. Ia mengatakan pesanan telah dikerjakan bertahap dan beberapa pekerjaan tertunda karena banyak pesanan kebaya. Ketika pelanggan datang, menurutnya ia sedang makan dan meminta waktu untuk menyelesaikan makan sebelum melanjutkan pekerjaan.

Saya tidak berada di sana. Karena itu, saya tidak ingin berpura-pura mengetahui seluruh detail yang tidak terekam kamera. Tetapi dari dua versi tersebut, ada sesuatu yang sebenarnya sangat manusiawi.

Pelanggan mempunyai hak untuk kecewa. Penjahit mempunyai hak untuk makan. Masalahnya adalah dua hak itu bertemu dalam situasi yang sudah dipenuhi kekecewaan. Bagi pelanggan, waktu adalah janji. Bagi pekerja, waktu juga adalah tubuh.

Ada pekerjaan yang menumpuk, rasa lelah, kebutuhan untuk berhenti sebentar, dan makan yang tidak mungkin selalu ditunda. Konflik muncul ketika dua pengalaman tentang waktu itu tidak menemukan ruang untuk saling memahami.

Seandainya pertengkaran berhenti pada soal itu, mungkin ia hanya akan menjadi persoalan biasa antara pelanggan dan penyedia jasa. Tetapi percakapan tidak berhenti di sana. Identitas masuk. Mula-mula mereka adalah penjahit dan pelanggan, kemudian identitas bekerja.

Orang tidak lagi dilihat sebagai individu, melainkan sebagai kategori. Orang Bali, orang Jawa, orang Lombok, pendatang, orang luar. Menurut pemberitaan, dalam pertengkaran itu Hilda disebut sebagai orang Jawa. Namun dalam proses mediasi kemudian terungkap bahwa ia berasal dari Lombok.

Detail ini bagi saya bukan sekadar kejanggalan kecil. Ia memperlihatkan betapa mudahnya identitas seseorang disederhanakan ketika konflik sedang berlangsung.Manusia sebenarnya tidak pernah hanya mempunyai satu identitas. Seseorang dapat lahir di Lombok, tinggal di Bali, bekerja di Bali, mempunyai pasangan dari daerah lain, berteman dengan orang Bali, dan membangun kehidupan di tempat yang secara geografis bukan tanah kelahirannya.

Tetapi dalam konflik, semua kerumitan itu dapat diperas menjadi satu kata, yakni, pendatang. Atau, orang luar. Itulah saat identitas berubah dari penjelasan menjadi senjata.

Bali sendiri bukan masyarakat yang hidup dalam ruang tertutup. Bali adalah ruang perjumpaan. Orang datang, orang pergi. Ada yang tinggal sebentar, ada yang tinggal puluhan tahun. Ada yang datang untuk bekerja, belajar, menikah, membangun usaha. Ada yang akhirnya lahir dan besar di Bali meskipun orang tuanya berasal dari daerah lain.

Pariwisata, urbanisasi, pendidikan, dan ekonomi jasa membuat perjumpaan itu semakin intens. Di warung, kos-kosan, pasar, kampus, hotel, restoran, proyek bangunan, toko, kantor dan ruang-ruang publik lainnya, orang Bali hidup berdampingan dengan orang dari berbagai daerah.

Karena itu, pendatang bukan fenomena asing dalam kehidupan Bali kontemporer. Mereka sudah menjadi bagian dari keseharian Bali. Maka pertanyaannya bukan lagi apakah pendatang ada di Bali. Mereka jelas ada. Pertanyaannya adalah bagaimana orang lokal dan pendatang hidup bersama.

Di mana batasnya? Bagaimana rasa memiliki dibentuk? Kapan seseorang dianggap orang Bali? Dan kapan ia kembali disebut orang luar? Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih menarik daripada sekadar menyimpulkan bahwa Bali rasis atau tidak rasis.

Saya justru terganggu oleh kalimat “Bali rasis”. Bukan karena saya ingin menyangkal bahwa tindakan rasis bisa terjadi di Bali. Tentu bisa. Bali bukan ruang tanpa prasangka. Orang Bali juga manusia. Sebagaimana masyarakat lain, masyarakat Bali memiliki stereotip, prasangka, konflik dan ketegangan sosial.

Tetapi satu orang tidak bisa begitu saja dijadikan wakil seluruh masyarakat. Kalau seseorang melakukan tindakan rasis, kita seharusnya mengatakan, “Ia melakukan tindakan rasis”, bukan; “Orang Bali rasis”. Perbedaannya tampak kecil. Tetapi akibatnya besar.

Kalimat pertama menempatkan tanggung jawab pada tindakan seseorang. Kalimat kedua menjatuhkan penilaian kepada kelompok. Ironisnya, ketika kita menggeneralisasi jutaan orang berdasarkan tindakan satu orang, kita sedang melakukan sesuatu yang secara struktur mirip dengan stereotip yang sedang kita lawan.

Media sosial membuat persoalan seperti ini semakin rumit. Ia bekerja dengan potongan. Potongan video, suara kalimat, dan potongan emosi. Kita menonton beberapa menit, kemudian merasa memiliki seluruh cerita.

Padahal sebelum kamera merekam, mungkin ada percakapan panjang yang tidak kita ketahui. Ada hari ketika pakaian diserahkan, ada janji kapan selesai, ada keterlambatan. Ada komunikasi sebelumnya, ada rasa kecewa, ada rasa lelah. Dan, ada mungkin kata-kata yang keluar sebelum bagian video yang kita lihat.

Semua itu hilang ketika sebuah video menjadi konten. Yang tersisa adalah ledakan. Dan ledakan jauh lebih mudah dibagikan daripada konteks. Media sosial kemudian melakukan sesuatu yang lebih besar, yakni, mengubah konflik personal menjadi konflik kolektif.

Orang-orang yang tidak mengenal Bu Sintya merasa harus membela Bali. Orang-orang yang tidak mengenal Hilda merasa harus membela kelompoknya. Pengalaman pribadi yang pernah mereka alami ikut masuk ke kolom komentar.

Orang yang pernah merasa didiskriminasi menemukan alasan untuk marah. Orang yang pernah merasa diperlakukan tidak adil oleh pendatang menemukan alasan untuk membalas. Video itu akhirnya bukan lagi milik dua orang yang bertengkar. Ia menjadi milik semua orang.

Dan ketika sebuah konflik menjadi milik semua orang, ia menjadi jauh lebih sulit diselesaikan. Yang menarik, konflik itu sebenarnya sempat selesai. Pada 19 Juli 2026, Bu Sintya dan Hilda dipertemukan dalam mediasi di Polsek Abiansemal. Keduanya sepakat berdamai, saling memaafkan, membuat pernyataan damai, dan tidak melanjutkan persoalan ke ranah hukum.

Secara manusiawi, cerita seharusnya selesai di sana. Tetapi internet mempunyai pengertian yang berbeda tentang kata selesai. Sebuah video dapat mati hari ini dan hidup kembali beberapa minggu kemudian. Konteks berubah. Tokoh baru masuk, video baru muncul. Perdebatan baru dimulai.

Pada Agustus, rekaman pertemuan yang melibatkan Arya Wedakarna kembali beredar. Sejumlah pihak menilai cara AWK berbicara kepada Hilda terkesan menyudutkan atau mengintimidasi. Empat senator asal NTB kemudian melaporkan dugaan tersebut ke Badan Kehormatan DPD RI. Laporan itu diberitakan telah diproses.

Tetapi di sini kita juga perlu berhati-hati. Yang terverifikasi adalah adanya tudingan dan laporan dugaan intimidasi, bukan bahwa intimidasi tersebut sudah terbukti sebagai fakta.

Perbedaan kecil dalam bahasa jurnalistik ini penting. Sebab kalau kita ingin mengkritik cara media sosial menghakimi orang berdasarkan potongan video, kita sendiri harus berhati-hati agar tidak melakukan hal yang sama.

Maka perkara ini mengalami perluasan. Dari penjahit dan pelanggan menjadi persoalan identitas. Dari identitas menjadi persoalan relasi lokal dan pendatang. Kemudian berkembang lagi menjadi persoalan kuasa dan cara seseorang membela pihak yang dianggap menjadi korban.

Begitulah konflik sosial bekerja di zaman ketika hampir semua orang membawa kamera di dalam saku. Sebuah peristiwa tidak lagi berakhir ketika orang-orang yang bertengkar pulang ke rumah. Ia dapat terus hidup di layar.

Saya tidak tahu apakah Bu Sintya adalah orang rasis. Saya juga tidak mempunyai alasan untuk mengatakan Hilda sepenuhnya benar. Saya tidak berada di sana ketika percakapan awal terjadi. Saya tidak mendengar seluruh percakapan sebelum kamera merekam. Karena itu, saya lebih tertarik pada apa yang dapat kita pelajari daripada pada posisi sebagai hakim.

Yang dapat kita katakan dengan lebih pasti adalah bahwa ucapan bernuansa SARA dalam pertengkaran tersebut memang problematis dan telah diakui sebagai kesalahan oleh Bu Sintya sendiri. Ia meminta maaf, dan kedua pihak kemudian berdamai.

Tetapi Bali tidak otomatis rasis karena satu orang Bali mengucapkan kalimat rasis. Begitu pula orang Lombok tidak otomatis menjadi korban hanya karena satu orang dari Lombok mengalami perlakuan buruk. Manusia harus dikembalikan kepada dirinya sendiri, bukan kepada labelnya.

Mungkin inilah yang sering hilang dari perdebatan media sosial. Kita begitu cepat mencari kelompok untuk disalahkan sehingga lupa bahwa konflik sebenarnya terjadi antara manusia dengan manusia.

Kita ingin tahu siapa yang mewakili Bali. Siapa yang mewakili Lombok, siapa yang mewakili pendatang, dan siapa yang mewakili pribumi. Padahal mungkin tidak ada yang perlu mewakili siapa pun. Ada seorang penjahit, seorang pelanggan, pakaian yang terlambat. Ada seorang ibu yang sedang makan. Dan ada dua manusia yang kehilangan kesabaran.

Saya kembali kepada adegan pertama. Seorang ibu sedang makan. Adegan ini sekarang terasa jauh lebih penting bagi saya daripada video yang viral. Bukan karena adegan itu membuktikan siapa yang benar. Justru sebaliknya.

Ia mengingatkan kita bahwa orang yang kita lihat di layar adalah manusia sebelum ia menjadi tokoh viral. Ia bisa lapar, lelah, bisa marah, dan bisa salah Begitu juga pelanggan. Ia bisa kecewa, tidak sabar, bisa marah, dan juga bisa salah. Manusia seperti itu. Tidak hitam-putih, tidak berdurasi dua menit. Tidak dapat diringkas dalam satu caption. Mungkin kita perlu belajar melihat manusia lebih lama daripada durasi videonya. Sebab sebelum Bali dituduh rasis, ada seorang ibu yang sedang makan. Dan mungkin sebelum kita menghakimi Bali, kita seharusnya bertanya lebih dulu; apa yang sebenarnya terjadi sebelum kamera dinyalakan? Pertanyaan itu mungkin tidak akan menghasilkan video yang viral. Tetapi mungkin membuat kita sedikit lebih adil kepada manusia. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: balirasismetoleransi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Duta Bahasa Provinsi Bali Serahkan Model Pembelajaran Serasi kepada SLB Negeri 2 Denpasar

Next Post

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

by Isran Kamal
September 18, 2026
0
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

Read moreDetails

Menulis Kok Seperti Muntah?

by Angga Wijaya
September 18, 2026
0
Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

Read moreDetails

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

Read moreDetails

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
0
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

Read moreDetails

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails
Next Post
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

“Mindfulness, Privilege”, dan LPDP: Ketika “Self-Care” Bertemu Realitas Sosial

Beberapa waktu terakhir, nama Maudy Ayunda kembali ramai diperbincangkan. Kali ini bukan karena film, musik, atau pendidikan di luar negeri,...

by Isran Kamal
September 18, 2026
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha
Khas

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”
Pop

Dari Kehilangan hingga Memulai Kembali, Dialog Dini Hari Hadirkan “Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi”

RUMAH tidak selalu berupa tempat. Ia bisa menjadi ruang untuk beristirahat, menjadi diri sendiri, atau sekadar merasa aman. Namun, rumah...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”
Pop

Jangar Kembali Bersuara Melawan Represi Lewat “Air Keras”

KATA-kata bisa lebih menggentarkan kekuasaan ketimbang pedang atau senjata api. Gagasan itulah yang menjadi denyut utama “Air Keras”, single terbaru...

by Dede Putra Wiguna
September 18, 2026
Menulis Kok Seperti Muntah?
Esai

Menulis Kok Seperti Muntah?

SEJAK kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk semakin jauh ke dalam kehidupan sehari-hari, semua orang tampaknya bisa menulis. Tidak...

by Angga Wijaya
September 18, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Lalat Pengganggu Kebijakan MBG

SIDANG pembaca yang budiman, pernahkah singgah ke kedai makanan sederhana di pinggir jalan atau pojok pasar? Kadang banyak lalat ya?...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 18, 2026
Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali
Esai

Teater Bali dan Kehidupan Orang Bali —Catatan Pengalaman Kecil Saya di Teater Bali

TEATER Bali adalah pertunjukan kesenian-kesenian, tempat para penjual es ganefo, kacang rebus, rokok eceran, serta permen pedas cap Semar tetap...

by Nanoq da Kansas
September 18, 2026
“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara
Pameran

“The Wings of the Sanghyang Dance” Kalahkan Ribuan Lukisan dari 85 Negara

JAKARTA | TATKALA.CO -- Lukisan berjudul The Wings of the Sanghyang Dance (2026) karya Putu Fajar Arcana, berhasil mengalahkan ribuan...

by tatkala
September 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co