1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi epigenetik. Nah, lalu saya membayangkan Indonesia sebagai tubuh raksasa. Tubuh itu membentang dari Sabang sampai Merauke, memiliki lebih dari 280 juta sel bernama manusia, memiliki organ bernama pemerintah, polisi, kejaksaan, pengadilan, parlemen, birokrasi, sekolah, pasar, media, dan berbagai institusi sosial.

Tubuh ini tentu butuh oksigen. Masalahnya, belakangan udara yang dihirupnya tidak selalu segar.  Kementerian Kehutanan mencatat, pada semester pertama 2026 saja, indikasi luas kebakaran hutan dan lahan mencapai 107.465,47 hektare. Angka itu meningkat sekitar 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sebanyak 54 persen berada di kawasan hutan dan 46 persen di luar kawasan hutan.  Pada Juli 2026, hampir 95.000 hektare lahan terbakar. Pada Agustus, lebih dari 9.000 titik panas terdeteksi.. Kalau dari penjelasan meteorologi ini karena kondisi kering dan fenomena El Nino yang memperbesar risiko kebakaran.

Mendiagnosis Indonesia

Tetapi mengapa tubuh yang sehat ini begitu mudah sakit dan penyakit berdatangan. Pertanyaan ini lalu membawa kita kepada sebuah kata yang mungkin terdengar seperti milik laboratorium biologi di Harvard tadi, terapi epigenetik yang akan membaca kode DNA dengan benar. Dalam bahasa sederhana, DNA dapat dibayangkan sebagai buku resep yang menyimpan berbagai instruksi. Epigenetik bukan mengganti buku resep tersebut, tapi ikut menentukan resep mana yang dibaca dan bagaimana instruksi itu dilakukan. 

Bukunya sebenarnya masih sama, tetapi cara membacanya bisa berubah. Nah, bagaimana kalau metafora ini kita gunakan untuk mendiagnosis Indonesia. Pancasila adalah DNA nilai bangsa. Ada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

Kode dasarnya jelas, jadi Indonesia sebenarnya tidak kekurangan rumusan nilai. Bahkan Pembukaan UUD 1945 sudah merumuskan tujuan negara dengan sangat terang, melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, nah itu.

Lalu mengapa kita masih merasa ada sesuatu yang tidak beres? Mungkin persoalannya bukan pada DNA Pancasila. Mungkin persoalannya ada pada epigenetik kebangsaan. Istilah ini tentu sekadar metafora, bukan konsep biologi yang dapat begitu saja diterapkan kepada negara. Tetapi bagi saya, sebagai cara membaca hubungan antara nilai, institusi, kebudayaan politik, hukum, dan perilaku sosial, metafora ini cukup menggoda. Sebab nilai yang baik tidak otomatis menghasilkan kehidupan yang baik. Begitulah kondisi kita saat ini. Pancasila memberikan kode nilai, dan institusi menentukan bagaimana kode itu diekspresikan. DNA bagus tapi badan sakit-sakitan, pasti ada yang tidak beres.

Lihat saja salah satu indikator yang cukup terang dan jelas, korupsi. Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2025, yang dirilis Februari 2026, menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100, peringkat 109 dari 182 negara. Skala tersebut menempatkan skor 0 sebagai persepsi sangat korup dan 100 sebagai sangat bersih. Angka ini tidak mengatakan bahwa seluruh pejabat Indonesia korup.  Tentu tidak, angka ini soal persepsi.

Jadi, indeks tersebut mengukur persepsi korupsi sektor publik, bukan menghitung satu demi satu orang yang melakukan korupsi. Nah, justru karena ia mengukur persepsi, angka tersebut jadi penting.  Sebab negara demokratis tidak cuma butuh hukum, tapi membutuhkan kepercayaan. Warga harus percaya bahwa aturan yang ada itu bekerja, bahwa prosedur tidak ditentukan oleh kedekatan atau hubungan keluarga. Masyarakat juga harus percaya bahwa kekuasaan dapat diawasi. 

Yang menarik, indikator demokrasi oleh Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Demokrasi Indonesia 2025 sebesar 78,19, dan mengkategorikan kualitas demokrasi Indonesia dalam kategori sedang.  Jadi Indonesia tidak dalam kondisi tiba-tiba kehilangan demokrasi. Tidak sesempit itu, saudara. Indonesia toh masih menyelenggarakan pemilu, ada pluralisme politik, media masih tumbuh, dan pergantian kekuasaan terjadi secara damai. 

Sekali lagi, ini bukan berarti demokrasi Indonesia mati. Jika dia manusia, maka masih hidup, tetapi butuh pemeriksaan kesehatan, suatu medical check up. Dan demokrasi yang sehat memang seharusnya menyediakan dirinya sendiri diperiksa. Ada kabar bagus pada akhir Agustus 2026 kemarin, Mahkamah Konstitusi membatalkan ketentuan dalam KUHP baru yang mengkriminalisasi penghinaan terhadap pemerintah.

Saya baca dari Reuters, hal itu dipuji sebagai penguatan kebebasan berpendapat. Tapi ya, tetap ada kekhawatiran dari sejumlah aktivis soal kemungkinan penggunaan instrumen hukum lain untuk membungkam kritik. Misal penyalahgunaan wewenang dan jabatan demi kepentingan segelintir orang. Hukum jadi tajam tapi hanya menyasar pada mereka yang lemah dan tak berdaya.

Masyarakat Membutuhkan Negara yang Lebih Pasti

Bukan rahasia kalau masyarakat kini merasa hukum tidak konsisten. Warga merasa wajah keadilan berbeda tergantung siapa yang berhadapan dengannya, dan lahirlah frustrasi.  Dari frustrasi itulah kadang muncul fantasi yang sebenarnya berbahaya, kerinduan pada negara yang “tegas”. Sampai muncul nostalgia terhadap petrus. Itu lho, penembakan misterius pada masa lalu, seolah persoalan kriminalitas dapat diselesaikan dengan membuat semua orang takut.

Kita harus memahami keresahan di balik nostalgia itu tanpa meromantisasinya. Karena saya yakin yang dirindukan masyarakat sesungguhnya bukan penembakan. Yang dirindukan adalah ketertiban, suatu kepastian, ingin mengalami lagi zaman di mana orang yang melanggar hukum benar-benar diproses. Tetapi tentu negara hukum tidak boleh membalas keresahan dengan kekerasan di luar hukum.

Saya kira, kita tidak membutuhkan penembak misterius. Justeru kita membutuhkan penegak hukum yang tidak misterius. Yang prosesnya transparan, buktinya jelas, putusannya dapat diuji. Dan hukum berlaku kepada orang biasa maupun orang berkuasa. Dalam hemat saya, itulah bentuk “reprogramming” yang sesungguhnya.

Bukan “petrus”, bahkan bukan juga mengganti Pancasila atau membuat ideologi baru. Yang perlu adalah memperbaiki mekanisme ekspresi nilai. Jika Pancasila berbicara tentang kemanusiaan, maka prosedur penegakan hukum harus manusiawi.  Jika Pancasila berbicara tentang kerakyatan, maka kritik harus mendapatkan ruang.

Jika Pancasila berbicara tentang keadilan sosial, maka kebijakan publik harus dapat diuji dari dampaknya terhadap mereka yang paling rentan.  Jika Pancasila berbicara tentang persatuan, maka perbedaan tidak boleh otomatis dianggap sebagai ancaman.  Dan jika Pancasila berbicara tentang Ketuhanan, maka kehidupan beragama semestinya melahirkan penghormatan terhadap martabat manusia, bukan justru menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Begitu pula persoalan lingkungan. Karhutla bukan sekadar urusan pohon yang terbakar. Data karhutla 2026 seharusnya tidak hanya dibaca sebagai statistik lingkungan. Kondisi itu merupakan laporan autentik yang menggambarkan seberapa jauh negara benar-benar mampu mewujudkan kesejahteraan umum dan melindungi segenap bangsa. Sama pula dengan data korupsi. Ia bukan sekadar urusan angka 34. Karena itu adalah indikator apakah kekuasaan masih dipahami sebagai amanah publik, atau sudah berubah menjadi kesempatan pribadi.

Epigenetik Pancasila

Pancasila tidak perlu dibuang atau diganti. Yang harus diperiksa adalah lingkungan tempat Pancasila hidup, yang akan mengkondisikan Pancasila hidup ataukah mati suri. Ini berarti institusinya, hukumnya, budaya politiknya, pendidikannya, ekonominya, medianya, dan tentu saja perilaku kita sebagai warga negara.

Evaluasi dari atas ke bawah. Sebab agak tidak adil juga, jika setiap penyakit tubuh Indonesia selalu kita tuduhkan kepada kepala. Kita mengutuk korupsi besar, tetapi kadang masih menganggap pemberian kecil kepada petugas sebagai hal biasa. Kita menuntut pejabat menghormati aturan, tetapi kadang mencari jalan pintas ketika aturan tabrakan dengan kepentingan pribadi.

Kita menuntut toleransi, tetapi mudah sekali memaki orang yang berbeda pilihan politik. Kita menuntut pemerintah mendengarkan rakyat, tetapi sesama warga pun kita sering ogah mendengarkan. Maka persoalannya memang tidak sederhana. Tapi saya yakin kok, warga hanya butuh contoh, karena kalau atas baik, warga di bawah cenderung ikut baik.

Epigenetik Kebangsaan adalah Pekerjaan Bersama

Kalau persoalannya adalah DNA Pancasila yang rusak, kita akan berhadapan dengan masalah yang tampaknya hampir mustahil diperbaiki. Tetapi kalau DNAnya masih ada, dan yang bermasalah adalah cara ia diekspresikan, maka masih ada ruang untuk memperbaiki.

Mungkin kita harus mulai mendidik diri kita sendiri dengan lebih baik. Sehingga anak-anak kita, generasi muda kita, tumbuh menjadi sel-sel baru yang akan mengembalikan fungsi kerja DNA kita sebagai bangsa,  dapat membangun Indonesia lebih sehat. Dan sepertinya, itulah pekerjaan besar kemerdekaan Indonesia yang belum selesai. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: negarapancasila
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

Next Post

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co