18 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

I Putu Gede Pradipta Utama by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
in Panggung
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

Pertunjukan Tari Sanghyang Janger Maborbor (Dok: Pradipta, 2026)

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan, adat, dan kehidupan spiritual masyarakatnya. Tari tersebut adalah Sanghyang Janger Maborbor, sebuah pertunjukan sakral yang tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, musik, tetapi juga menjadi bagian dari praktik ritual masyarakat. Tari ini ditarikan oleh 24 orang penari diantaranya 12 orang penari perempuan (janger) dan 12 orang penari laki-laki (Kecak) diiringi dengan gamelan Gong Kebyar dengan 25 orang penabuh. Tarian ini dipentaskan setiap upacara piodalan pura-pura di Desa Metra, khususnya pada rerahinan Buda Cemeng Warigadean di Pura Puseh Ulun Suwi Desa Metra.

Awal mula munculnya Janger Maborbor di Desa Metra berkaitan dengan kisah orang tua dari Bapak I Wayan Menek, yang saat ini menjadi pemangku pura di Banjar Dinas Suka Jiwa, Desa Metra. Dahulu, orang tua beliau pernah mengalami sakit yang tidak biasa, di mana setiap kali mandi, orang tuanya menggunakan api sebagai media pembersihan. Sebagaimana yang dituturkan oleh I Wayan Menek (59 tahun) sebagai pemangku, pada wawancara pada tanggal 7 April 2026 dinyatakan bahwa:

“……………Reraman titiange dumun naenin sakit keras. Seantukan wenten pawisik ngamedalang Tari Janger Meborbor, reraman titiang seger uger.  Jantos mangkin raris kramane deriki tetep nyolahang Tari Jangere puniki.”

“……………Dahulu orang tua saya pernah menderita sakit keras. Kemudian mendapat pawisik atau petunjuk spiritual untuk mementaskan Tari Janger Maborbor. Setelah tari tersebut dipentaskan, orang tua saya pun sembuh. Hingga saat ini, masyarakat di sini tetap melestarikan Tari Janger tersebut.”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas dapat diketahui bahwa Tari Sanghyang Janger Maborbor memiliki fungsi sebagai sarana penolak bala. Keberadaannya berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat Desa Metra serta hubungan antara sekala dan niskala. Karena itu, pertunjukan ini tidak dapat dipahami hanya sebagai tontonan, atau hanyasebatas pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dengan kata “Nak mula keto uling pidan” tetapi sebagai sebuah peristiwa budaya dan ritual yang memiliki makna, aturan, serta tahapan tertentu.

Wawancara penulis dengan pemangku pura | Dok: Pradipta, 2026

LIMA TAHAPAN MENUJU PUNCAK RITUAL

Pertunjukan Sanghyang Janger Maborbor tersusun dalam lima tahapan utama, yaitu Nedunang, Pepeson, Pejangeran, Maborbor, dan Ngaluhur. Kelima tahapan tersebut memiliki simbol dan makna spiritual yang menjadi satu kesatuan serta tidak boleh dirubah. Masyarakat memandang urutan pertunjukan tersebut sebagai pakem sakral yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki konsekuensi spiritual.

Pertunjukan diawali dengan Nedunang, yaitu prosesi ritual Nedunang Tapakan Ida Betara Barong Singa Mara kelanturan Ida Betara mesolah napak pertiwi. Selanjutnya tahap Pepeson, ketika penari kecak dan janger memulai pertunjukan dengan menari di dalam langse dan selanjutnya memasuki kalangan pertunjukan.

Prosesi Ida Betara Barong Singa Mara Napak Pertiwi | Dok: Pradipta, 2026

Pada tahap berikutnya adalah Pejangeran. Pada bagian ini, penari kecak dan janger menampilkan gerak tari disertai gending-gending janger serta pantun yang dinyanyikan secara berbalas-balasan.

Tahap Pejangeran | Dok: Pradipta,2026

DARI SEKALA MENUJU NISKALA

Keunikan Sanghyang Janger Maborbor juga terlihat dari cara masyarakat memaknai sebagai unsur pertunjukannya. Gerak, vokal, iringan, busana, properti, hingga ruang pertunjukannya tidak berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari sistem simbol yang saling berkaitan.

Vokal atau gegendingan janger pada lirik ini sebagai media komunikasi dalam prosesi ritual pemanggil roh leluhur.

Widyadara mangkin pacang temurun
Sanghyang dari saking kedewatan
Sane mangkin melingga ring janger
Janger suci saking suka jiwa
Sane mangkin pacang mesolah
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger seriang ento rora roti

Dari pertunjukan yang awalnya terlihat profan kemudian berubah sakral setelah gending tersebut dinyanyikan. Beberapa penari, pemangku, dan masyarakat akan mengalami trance atau kerauhan.

KETIKA API MENJADI BAGIAN DARI RITUAL

Puncak pertunjukan berada pada pada tahap maborbor. Pada tahap ini beberapa penari mengalami kondisi trance atau kerauhan. Dalam keadaan tersebut penari melakukan interaksi dengan bara api, seperti menginjak, menendang, bahkan memasukkan serabut kelapa yang sudah terbakar ke dalam mulut. Api yang terlihat sering kali tidak dirasakan panas, bahkan oleh penari kerap dirasakan seperti air atau bahkan makanan. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ni Luh Cipta Tasya Listyani (17 tahun), salah satu penari Janger yang menjelaskan bahwa pengalaman yang dirasakan ketika berada dalam kondisi kerauhan berbeda dengan keadaan normal. Fenomena tersebut dalam kepercayaan masyarakat Desa Metra berkaitan dengan hadirnya kekuatan niskala dalam prosesi ritual, sehingga kemampuan penari dalam berinteraksi dengan api dipandang sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang menyertai pelaksanaan ritual maborbor.

Api menjadi salah satu unsur yang paling kuat dalam pertunjukan ini. Api terbuat dari tumpukan serabut kelapa kering yang ditempatkan di tengah kalangan. kemudian dibakar menggunakan 11 batang dupa sebagai simbol Gni dan disiram menggunakan bahan bakar agar proses pembakaran dapat dilakukan secara cepat dan maksimal. Secara simbolik, api dimaknai sebagai pelebur segala bentuk lara, loba, dan gering (segala hal negatif). Api bukan sekedar unsur visual yang menarik perhatian, tetapi menjadi makna penting dari prosesi ritual Sanghyang Janger Maborbor.

Tahap penari mengalami kerauhan nguyak api | Dok: Pradipta, 2026

PENUTUP YANG MENGEMBALIKAN KESADARAN

Setelah melewati tahap maborbor, pertunjukan memasuki tahap ngaluhur. Pada tahap ini penari yang mengalami trance atau kerauhan akan disadarkan kembali melalui prosesi pemberian air suci atau tirtha oleh pemangku. Tahap tersebut menjadi penutup tahapan ritual sekaligus mengembalikan kondisi penari setelah mengalami pengalaman spiritual.

Prosesi  Ngaluhur | Dok: Pradipta, 2026

Sanghyang Janger Maborbor, pada akhirnya bukan sekedar pertunjukan yang memperlihatkan keberanian penari menginjak bara api. Di balik kobaran api dan kondisi kerauhan terdapat sistem budaya yang mengatur urutan ritual, peran pelaku, penggunaan ruang, bunyi, gerak, serta berbagai perlengkapan pertunjukan.

Dalam perspektif etnoestetika, keindahan Sanghyang Janger Maborbor tidak hanya dilihat dari bentuk gerak, tata rias, busana, gegendingan, serta irangan dalam pertunjukannya. Keindahan juga terletak pada kesesuaian pertunjukan dengan nilai adat, ketepatan struktur ritual, serta pengalaman spiritual yang dirasakan secara kolektif oleh masyarakat Desa Metra.

Bagi masyarakat Desa Metra, keberadaan Sanghyang Janger Maborbor merupakan bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan simbolik. Pelestarian pertunjukan ini tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan keberlangsungannya, tetapi juga untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keberadaan Sanghyang Janger Maborbor sebagai salah satu warisan budaya Desa Metra. Melalui penelitian dan pendokumentasian, masyarakat mengenali nama pertunjukan, memahami tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya, serta mengetahui berbagai unsur pertunjukan yang mengandung makna simbolik. Pemahaman tersebut penting agar Sanghyang Janger Maborbor tidak hanya dikenal sebagai pertunjukan yang menampilkan atraksi maborbor atau permainan api, tetapi juga dipahami sebagai sebuah tradisi yang memiliki struktur, tahapan, fungsi, serta makna simbolik yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Desa Metra. Dengan demikian, pengetahuan mengenai Sanghyang Janger Maborbor dapat diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga keberadaan dan makna tradisi tersebut tetap terjaga.[T]

Foto Bersama penari janger | Dok: Sekar Kumala 2026

Penulis: I Putu Gede Pradipta Utama
Editor: Adnyana Ole

Narasumber    :

  • I Wayan Menek (59 tahun, Pemangku)
  • I Made Pasek Arjana (34 tahun, Kepala Subak)
  • Ni Luh Cipta Tasya Listyani (17 tahun, Penari Janger)
  • I Wayan Budaya (49 tahun, Warga Desa Metra)                  
Tags: BangliDesa Metrajangerjanger balijanger maborbor
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

Next Post

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

I Putu Gede Pradipta Utama

I Putu Gede Pradipta Utama

Lahir di Sempidi, Badung 20 Oktober 2004. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 pada Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Bali.

Related Posts

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails
Next Post
Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

Calistung: Membaca, Menulis, dan Berhitung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co