19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno di Rumah Petani   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
in Esai
Bung Karno di Rumah Petani   

Soekarno | Ilustrasi tatkala.co | Canva

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lahirnya Pancasila itu judul pidatonya. Empat puluh empat tahun sebelumnya, tetapnya 6 Juni 1901, Kusno lahir. Kelak Kusno dikenal dengan nama Soekarno. Zaman Pergerakan, orang lebih suka menyebut Bung Karno. Enam puluh Sembilan tahun setelah kelahirannya, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan dimakamkan di Blitar Jawa Timur. Begitulah 3 hari bersejarah selama bulan Juni bagi Bung Karno.

Bung Karno adalah teladan semangat juang di mata orang Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahkan sesaat setelah wafat, orang Bali “menyaksikan” Bung Karno di bulan. Begitulah orang Bali yang merasa dekat dengan sang pemimpin. Seperti syair lagu Bungan Jepun dari D. Antoni yang menjadi lagu maskot Badung, “…sarinyane neket di bunga, cihna manggala raket ring rakyate..” (manunggalnya rakyat dengan pemimpin). Hubungan kedekatan itu terasa benar pada 1970-an bagi masyarakat Bali ketika kabar wafatnya Bung Karno beredar melalui siaran radio.

Soal Bung Karno ketika berpidato di Alun-alun Denpasar, I Meme pangalu dagang uyah  punya cerita menarik. “Meme buta huruf. Baat nyuun uyah. Majalan joh lantas mareren di alun-alun. Ningehang Soekarno mapidarto.” I Meme tersentuh dengan kata-kata Bung Karno. Bung Karno memang menyentuh rakyat kecil pun menggugah orang besar. Tidak tanggung-tanggung sampai dunia mengagumi. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengatakan, “Saya murid ideologinya Soekarno.”

Kisah Marhein adalah kisah perjumpaan Bung Karno dengan petani miskin serba kekurangan pada 1923 di daerah Cigelereng, Bandung Selatan. Saat itu Si Bung berusia 22 tahun. Dalam usia belia Si Bung berdialog dengan petani yang minim peralatan tetapi tetap eksis melakoni hidup tak mengenal lelah dan keluh kesah. Dari perjumpaan inilah lahir  ideologi Marheinisme dengan fokus perjuangan pada wong cilik. Tidak berlebihan bila Soekarno sampai pada rumusan, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin”.

Si miskin adalah mereka yang petani minim lahan, minim peralatan, minim ilmu, minim akses. Pokoknya minim segalanya. Paling mudah tergeser dan tergusur.  Namun, merekalah yang paling takut tetapi paling taat. Ia takut pada Tuhan. Taat berbakti kepada-Nya, selalu hormat pada junjungannya, termasuk kepada pemerintah dengan segala kewenangannya. Ia takut menunggak pajak. “Orang bijak taat bayar pajak”, cocok bagi Si Marhein.

Perjumpaan antara Si Marhein dengan Bung Karno ibarat pertemuan murid dengan guru. Bagi Bung Karno, ia sedang berguru pada si murid dengan segala keterbatasan. Tugas guru adalah mengangkat muridnya mengatasi persoalan belajar agar nilai-nilai kemanusiaannya meningkat. Bukan malah menggenjetnya hingga tertatih-tatih jalannya. Luka batinnya. Kelaparan hidupnya.  Tidak! Bung Karno tidak demikian.

Ada dua puisi yang menunjukkan alasannya Bung Karno berpihak pada rakyat kecil. Puisi pertama berjudul, “Kami Bukan Bangsa yang Pandir” dan puisi  berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon”. Dalam puisi “Kami Bukan Bangsa yang Pandir”, Bung Karno menegaskan :

Aku ingin menyampaikan kepada dunia
Bahwa kami bukan “bangsa yang pandir’
Seperti orang Belanda berulang-ulang
Menagatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi
Seperti Belanda mengatakan kepada kami
berkali-kali

Bung Karno bukanlah politikus salon yang mendandani rakyatnya dengan janji palsu. Puisinya berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” menegaskan :

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
Mendengarkan kehendak-kehendak mereka
Menyadarkan mereka akan diri sendiri

Dari kutipan dua puisi di atas, Bung Karno bukan hanya ingin memerdekakan rakyatnya dari kaum penjajah, melainkan juga menunjukkan kepada dunia untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan. Projek mercusuarnya pun diterakan dalam alinea ke-4 UUD 1945 khususnya tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa  Dan itu perlu terus-menerus diperjuangkan, saudara-saudara. “Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah daripada perjuanganmu setelah merdeka. Karena yang kauhadapi adalah bangsamu sendiri”, kata Bung Karno. Zaman kemerdekaan kini, kita berhadapan dengan tantangan internal : egosektoral, korupsi, kolusi, nepotisme, degradasi moral, dan hoaks.

Selain itu, pemimpin mesti terus-menerus mendengarkan suara rakyat untuk dicarikan saluran yang baik tanpa sumbatan. Suara rakyat ibarat aliran air yang jernih tanpa sumbatan menuju Samudera Indonesia Raya. Tugas pemimpin mewadahi dengan pendekatan cinta yang dalam Bahasa Inggris disebut love (listen, observer,value, emphaty). Seorang pemimpin perlu memiliki telinga yang baik (Soekarno) untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia juga perlu terus-menerus merakyat melakukan observasi terhadap keberadaan lingkungannya. Pemimpin juga dituntut selalu menghargai dan memastikan nilai (value) kebangsaan dan kenegaraan berjalan sealir dan sealur sesuai dengan semangat yang dicita-citakan bersama. Pemimpin juga seyogyanya peka dan tersentuh atas persoalan yang dialami rakyatnya. Membangun emphaty di tengah situasi yang tidak menentu. Menghindari keselio lidah dalam merespon masukan dan keluhan sehingga tidak menambah kegaduhan. Kegaduhan berpeluang menambah persoalan baru yang beranak pinak.

Demikianlah pemimpin sejati sebagaimana dipuisikan oleh Sutrisno Martoatmojo dalam buku Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 1 dengan editor Linus Suryadi AG (1987). Sebuah puisinya berjudul “Pemimpin Sejati” dengan anak judul :  ”kepada proklamator”. Bait terakhir puisi Sutrisno Martoatmojo menuliskan :

Bung Karno-Bung Hatta, dwitunggal bangsanya,
Satu tapi dua, dua tapi satu
Sama lahir di tengah rakyat penuh derita ditindas,
Hidup mengabdi layan rakyat dalam kemiskinan,
Mati terkubur di antara rakyat cilik sederhana,
Sebagai rakyat jelata awam, ditangisi rakyat di tepi jalan.

Petikan puisi Sutrisno Martoatmojo tersebut menegaskan kembali Bung Karno pemimpin yang peduli pada rakyat kecil yang tertindas dalam kemiskinan. Rakyat kecil pada umumnya adalah petani yang menjadi buruh di tanah orang. Bung Karno begitu dekat dengan mereka.  Oleh karena itu, kematiannya pun ditangisi rakyat yang dipimpinnya. Tangis kehilangan Si Bung yang tak akan kembali. Di Bali Si Bung diimajinasikan tampak di bulan sesaat setelah wafat. Foto/gambar  Bung Karno memegang keris  dipasang dengan anggun di rumah-rumah petani desa. Kaum Marheinis memuliakannya sembari mengenang pidatonya, Jasmerah. Merdeka !

Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan sembari menikmati sajian Pesta Kesenian Bali ke-48 bersamaan dengan Bulan Bung Karno. Dengan seni, hidup lebih indah. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnopetaniSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Next Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul 'Galungan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co