8 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno di Rumah Petani   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
in Esai
Bung Karno di Rumah Petani   

Soekarno | Ilustrasi tatkala.co | Canva

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lahirnya Pancasila itu judul pidatonya. Empat puluh empat tahun sebelumnya, tetapnya 6 Juni 1901, Kusno lahir. Kelak Kusno dikenal dengan nama Soekarno. Zaman Pergerakan, orang lebih suka menyebut Bung Karno. Enam puluh Sembilan tahun setelah kelahirannya, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan dimakamkan di Blitar Jawa Timur. Begitulah 3 hari bersejarah selama bulan Juni bagi Bung Karno.

Bung Karno adalah teladan semangat juang di mata orang Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahkan sesaat setelah wafat, orang Bali “menyaksikan” Bung Karno di bulan. Begitulah orang Bali yang merasa dekat dengan sang pemimpin. Seperti syair lagu Bungan Jepun dari D. Antoni yang menjadi lagu maskot Badung, “…sarinyane neket di bunga, cihna manggala raket ring rakyate..” (manunggalnya rakyat dengan pemimpin). Hubungan kedekatan itu terasa benar pada 1970-an bagi masyarakat Bali ketika kabar wafatnya Bung Karno beredar melalui siaran radio.

Soal Bung Karno ketika berpidato di Alun-alun Denpasar, I Meme pangalu dagang uyah  punya cerita menarik. “Meme buta huruf. Baat nyuun uyah. Majalan joh lantas mareren di alun-alun. Ningehang Soekarno mapidarto.” I Meme tersentuh dengan kata-kata Bung Karno. Bung Karno memang menyentuh rakyat kecil pun menggugah orang besar. Tidak tanggung-tanggung sampai dunia mengagumi. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengatakan, “Saya murid ideologinya Soekarno.”

Kisah Marhein adalah kisah perjumpaan Bung Karno dengan petani miskin serba kekurangan pada 1923 di daerah Cigelereng, Bandung Selatan. Saat itu Si Bung berusia 22 tahun. Dalam usia belia Si Bung berdialog dengan petani yang minim peralatan tetapi tetap eksis melakoni hidup tak mengenal lelah dan keluh kesah. Dari perjumpaan inilah lahir  ideologi Marheinisme dengan fokus perjuangan pada wong cilik. Tidak berlebihan bila Soekarno sampai pada rumusan, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin”.

Si miskin adalah mereka yang petani minim lahan, minim peralatan, minim ilmu, minim akses. Pokoknya minim segalanya. Paling mudah tergeser dan tergusur.  Namun, merekalah yang paling takut tetapi paling taat. Ia takut pada Tuhan. Taat berbakti kepada-Nya, selalu hormat pada junjungannya, termasuk kepada pemerintah dengan segala kewenangannya. Ia takut menunggak pajak. “Orang bijak taat bayar pajak”, cocok bagi Si Marhein.

Perjumpaan antara Si Marhein dengan Bung Karno ibarat pertemuan murid dengan guru. Bagi Bung Karno, ia sedang berguru pada si murid dengan segala keterbatasan. Tugas guru adalah mengangkat muridnya mengatasi persoalan belajar agar nilai-nilai kemanusiaannya meningkat. Bukan malah menggenjetnya hingga tertatih-tatih jalannya. Luka batinnya. Kelaparan hidupnya.  Tidak! Bung Karno tidak demikian.

Ada dua puisi yang menunjukkan alasannya Bung Karno berpihak pada rakyat kecil. Puisi pertama berjudul, “Kami Bukan Bangsa yang Pandir” dan puisi  berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon”. Dalam puisi “Kami Bukan Bangsa yang Pandir”, Bung Karno menegaskan :

Aku ingin menyampaikan kepada dunia
Bahwa kami bukan “bangsa yang pandir’
Seperti orang Belanda berulang-ulang
Menagatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi
Seperti Belanda mengatakan kepada kami
berkali-kali

Bung Karno bukanlah politikus salon yang mendandani rakyatnya dengan janji palsu. Puisinya berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” menegaskan :

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
Mendengarkan kehendak-kehendak mereka
Menyadarkan mereka akan diri sendiri

Dari kutipan dua puisi di atas, Bung Karno bukan hanya ingin memerdekakan rakyatnya dari kaum penjajah, melainkan juga menunjukkan kepada dunia untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan. Projek mercusuarnya pun diterakan dalam alinea ke-4 UUD 1945 khususnya tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa  Dan itu perlu terus-menerus diperjuangkan, saudara-saudara. “Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah daripada perjuanganmu setelah merdeka. Karena yang kauhadapi adalah bangsamu sendiri”, kata Bung Karno. Zaman kemerdekaan kini, kita berhadapan dengan tantangan internal : egosektoral, korupsi, kolusi, nepotisme, degradasi moral, dan hoaks.

Selain itu, pemimpin mesti terus-menerus mendengarkan suara rakyat untuk dicarikan saluran yang baik tanpa sumbatan. Suara rakyat ibarat aliran air yang jernih tanpa sumbatan menuju Samudera Indonesia Raya. Tugas pemimpin mewadahi dengan pendekatan cinta yang dalam Bahasa Inggris disebut love (listen, observer,value, emphaty). Seorang pemimpin perlu memiliki telinga yang baik (Soekarno) untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia juga perlu terus-menerus merakyat melakukan observasi terhadap keberadaan lingkungannya. Pemimpin juga dituntut selalu menghargai dan memastikan nilai (value) kebangsaan dan kenegaraan berjalan sealir dan sealur sesuai dengan semangat yang dicita-citakan bersama. Pemimpin juga seyogyanya peka dan tersentuh atas persoalan yang dialami rakyatnya. Membangun emphaty di tengah situasi yang tidak menentu. Menghindari keselio lidah dalam merespon masukan dan keluhan sehingga tidak menambah kegaduhan. Kegaduhan berpeluang menambah persoalan baru yang beranak pinak.

Demikianlah pemimpin sejati sebagaimana dipuisikan oleh Sutrisno Martoatmojo dalam buku Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 1 dengan editor Linus Suryadi AG (1987). Sebuah puisinya berjudul “Pemimpin Sejati” dengan anak judul :  ”kepada proklamator”. Bait terakhir puisi Sutrisno Martoatmojo menuliskan :

Bung Karno-Bung Hatta, dwitunggal bangsanya,
Satu tapi dua, dua tapi satu
Sama lahir di tengah rakyat penuh derita ditindas,
Hidup mengabdi layan rakyat dalam kemiskinan,
Mati terkubur di antara rakyat cilik sederhana,
Sebagai rakyat jelata awam, ditangisi rakyat di tepi jalan.

Petikan puisi Sutrisno Martoatmojo tersebut menegaskan kembali Bung Karno pemimpin yang peduli pada rakyat kecil yang tertindas dalam kemiskinan. Rakyat kecil pada umumnya adalah petani yang menjadi buruh di tanah orang. Bung Karno begitu dekat dengan mereka.  Oleh karena itu, kematiannya pun ditangisi rakyat yang dipimpinnya. Tangis kehilangan Si Bung yang tak akan kembali. Di Bali Si Bung diimajinasikan tampak di bulan sesaat setelah wafat. Foto/gambar  Bung Karno memegang keris  dipasang dengan anggun di rumah-rumah petani desa. Kaum Marheinis memuliakannya sembari mengenang pidatonya, Jasmerah. Merdeka !

Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan sembari menikmati sajian Pesta Kesenian Bali ke-48 bersamaan dengan Bulan Bung Karno. Dengan seni, hidup lebih indah. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnopetaniSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Next Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails
Next Post
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul 'Galungan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co