29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno di Rumah Petani   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
in Esai
Bung Karno di Rumah Petani   

Soekarno | Ilustrasi tatkala.co | Canva

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lahirnya Pancasila itu judul pidatonya. Empat puluh empat tahun sebelumnya, tetapnya 6 Juni 1901, Kusno lahir. Kelak Kusno dikenal dengan nama Soekarno. Zaman Pergerakan, orang lebih suka menyebut Bung Karno. Enam puluh Sembilan tahun setelah kelahirannya, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan dimakamkan di Blitar Jawa Timur. Begitulah 3 hari bersejarah selama bulan Juni bagi Bung Karno.

Bung Karno adalah teladan semangat juang di mata orang Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahkan sesaat setelah wafat, orang Bali “menyaksikan” Bung Karno di bulan. Begitulah orang Bali yang merasa dekat dengan sang pemimpin. Seperti syair lagu Bungan Jepun dari D. Antoni yang menjadi lagu maskot Badung, “…sarinyane neket di bunga, cihna manggala raket ring rakyate..” (manunggalnya rakyat dengan pemimpin). Hubungan kedekatan itu terasa benar pada 1970-an bagi masyarakat Bali ketika kabar wafatnya Bung Karno beredar melalui siaran radio.

Soal Bung Karno ketika berpidato di Alun-alun Denpasar, I Meme pangalu dagang uyah  punya cerita menarik. “Meme buta huruf. Baat nyuun uyah. Majalan joh lantas mareren di alun-alun. Ningehang Soekarno mapidarto.” I Meme tersentuh dengan kata-kata Bung Karno. Bung Karno memang menyentuh rakyat kecil pun menggugah orang besar. Tidak tanggung-tanggung sampai dunia mengagumi. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengatakan, “Saya murid ideologinya Soekarno.”

Kisah Marhein adalah kisah perjumpaan Bung Karno dengan petani miskin serba kekurangan pada 1923 di daerah Cigelereng, Bandung Selatan. Saat itu Si Bung berusia 22 tahun. Dalam usia belia Si Bung berdialog dengan petani yang minim peralatan tetapi tetap eksis melakoni hidup tak mengenal lelah dan keluh kesah. Dari perjumpaan inilah lahir  ideologi Marheinisme dengan fokus perjuangan pada wong cilik. Tidak berlebihan bila Soekarno sampai pada rumusan, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin”.

Si miskin adalah mereka yang petani minim lahan, minim peralatan, minim ilmu, minim akses. Pokoknya minim segalanya. Paling mudah tergeser dan tergusur.  Namun, merekalah yang paling takut tetapi paling taat. Ia takut pada Tuhan. Taat berbakti kepada-Nya, selalu hormat pada junjungannya, termasuk kepada pemerintah dengan segala kewenangannya. Ia takut menunggak pajak. “Orang bijak taat bayar pajak”, cocok bagi Si Marhein.

Perjumpaan antara Si Marhein dengan Bung Karno ibarat pertemuan murid dengan guru. Bagi Bung Karno, ia sedang berguru pada si murid dengan segala keterbatasan. Tugas guru adalah mengangkat muridnya mengatasi persoalan belajar agar nilai-nilai kemanusiaannya meningkat. Bukan malah menggenjetnya hingga tertatih-tatih jalannya. Luka batinnya. Kelaparan hidupnya.  Tidak! Bung Karno tidak demikian.

Ada dua puisi yang menunjukkan alasannya Bung Karno berpihak pada rakyat kecil. Puisi pertama berjudul, “Kami Bukan Bangsa yang Pandir” dan puisi  berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon”. Dalam puisi “Kami Bukan Bangsa yang Pandir”, Bung Karno menegaskan :

Aku ingin menyampaikan kepada dunia
Bahwa kami bukan “bangsa yang pandir’
Seperti orang Belanda berulang-ulang
Menagatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi
Seperti Belanda mengatakan kepada kami
berkali-kali

Bung Karno bukanlah politikus salon yang mendandani rakyatnya dengan janji palsu. Puisinya berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” menegaskan :

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
Mendengarkan kehendak-kehendak mereka
Menyadarkan mereka akan diri sendiri

Dari kutipan dua puisi di atas, Bung Karno bukan hanya ingin memerdekakan rakyatnya dari kaum penjajah, melainkan juga menunjukkan kepada dunia untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan. Projek mercusuarnya pun diterakan dalam alinea ke-4 UUD 1945 khususnya tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa  Dan itu perlu terus-menerus diperjuangkan, saudara-saudara. “Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah daripada perjuanganmu setelah merdeka. Karena yang kauhadapi adalah bangsamu sendiri”, kata Bung Karno. Zaman kemerdekaan kini, kita berhadapan dengan tantangan internal : egosektoral, korupsi, kolusi, nepotisme, degradasi moral, dan hoaks.

Selain itu, pemimpin mesti terus-menerus mendengarkan suara rakyat untuk dicarikan saluran yang baik tanpa sumbatan. Suara rakyat ibarat aliran air yang jernih tanpa sumbatan menuju Samudera Indonesia Raya. Tugas pemimpin mewadahi dengan pendekatan cinta yang dalam Bahasa Inggris disebut love (listen, observer,value, emphaty). Seorang pemimpin perlu memiliki telinga yang baik (Soekarno) untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia juga perlu terus-menerus merakyat melakukan observasi terhadap keberadaan lingkungannya. Pemimpin juga dituntut selalu menghargai dan memastikan nilai (value) kebangsaan dan kenegaraan berjalan sealir dan sealur sesuai dengan semangat yang dicita-citakan bersama. Pemimpin juga seyogyanya peka dan tersentuh atas persoalan yang dialami rakyatnya. Membangun emphaty di tengah situasi yang tidak menentu. Menghindari keselio lidah dalam merespon masukan dan keluhan sehingga tidak menambah kegaduhan. Kegaduhan berpeluang menambah persoalan baru yang beranak pinak.

Demikianlah pemimpin sejati sebagaimana dipuisikan oleh Sutrisno Martoatmojo dalam buku Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 1 dengan editor Linus Suryadi AG (1987). Sebuah puisinya berjudul “Pemimpin Sejati” dengan anak judul :  ”kepada proklamator”. Bait terakhir puisi Sutrisno Martoatmojo menuliskan :

Bung Karno-Bung Hatta, dwitunggal bangsanya,
Satu tapi dua, dua tapi satu
Sama lahir di tengah rakyat penuh derita ditindas,
Hidup mengabdi layan rakyat dalam kemiskinan,
Mati terkubur di antara rakyat cilik sederhana,
Sebagai rakyat jelata awam, ditangisi rakyat di tepi jalan.

Petikan puisi Sutrisno Martoatmojo tersebut menegaskan kembali Bung Karno pemimpin yang peduli pada rakyat kecil yang tertindas dalam kemiskinan. Rakyat kecil pada umumnya adalah petani yang menjadi buruh di tanah orang. Bung Karno begitu dekat dengan mereka.  Oleh karena itu, kematiannya pun ditangisi rakyat yang dipimpinnya. Tangis kehilangan Si Bung yang tak akan kembali. Di Bali Si Bung diimajinasikan tampak di bulan sesaat setelah wafat. Foto/gambar  Bung Karno memegang keris  dipasang dengan anggun di rumah-rumah petani desa. Kaum Marheinis memuliakannya sembari mengenang pidatonya, Jasmerah. Merdeka !

Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan sembari menikmati sajian Pesta Kesenian Bali ke-48 bersamaan dengan Bulan Bung Karno. Dengan seni, hidup lebih indah. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnopetaniSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Next Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails
Next Post
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul 'Galungan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co