29 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno di Rumah Petani   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 18, 2026
in Esai
Bung Karno di Rumah Petani   

Soekarno | Ilustrasi tatkala.co | Canva

JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lahirnya Pancasila itu judul pidatonya. Empat puluh empat tahun sebelumnya, tetapnya 6 Juni 1901, Kusno lahir. Kelak Kusno dikenal dengan nama Soekarno. Zaman Pergerakan, orang lebih suka menyebut Bung Karno. Enam puluh Sembilan tahun setelah kelahirannya, tepatnya 21 Juni 1970, Bung Karno wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta dan dimakamkan di Blitar Jawa Timur. Begitulah 3 hari bersejarah selama bulan Juni bagi Bung Karno.

Bung Karno adalah teladan semangat juang di mata orang Bali dan Indonesia pada umumnya. Bahkan sesaat setelah wafat, orang Bali “menyaksikan” Bung Karno di bulan. Begitulah orang Bali yang merasa dekat dengan sang pemimpin. Seperti syair lagu Bungan Jepun dari D. Antoni yang menjadi lagu maskot Badung, “…sarinyane neket di bunga, cihna manggala raket ring rakyate..” (manunggalnya rakyat dengan pemimpin). Hubungan kedekatan itu terasa benar pada 1970-an bagi masyarakat Bali ketika kabar wafatnya Bung Karno beredar melalui siaran radio.

Soal Bung Karno ketika berpidato di Alun-alun Denpasar, I Meme pangalu dagang uyah  punya cerita menarik. “Meme buta huruf. Baat nyuun uyah. Majalan joh lantas mareren di alun-alun. Ningehang Soekarno mapidarto.” I Meme tersentuh dengan kata-kata Bung Karno. Bung Karno memang menyentuh rakyat kecil pun menggugah orang besar. Tidak tanggung-tanggung sampai dunia mengagumi. Presiden Mesir Gamal Abdul Naser mengatakan, “Saya murid ideologinya Soekarno.”

Kisah Marhein adalah kisah perjumpaan Bung Karno dengan petani miskin serba kekurangan pada 1923 di daerah Cigelereng, Bandung Selatan. Saat itu Si Bung berusia 22 tahun. Dalam usia belia Si Bung berdialog dengan petani yang minim peralatan tetapi tetap eksis melakoni hidup tak mengenal lelah dan keluh kesah. Dari perjumpaan inilah lahir  ideologi Marheinisme dengan fokus perjuangan pada wong cilik. Tidak berlebihan bila Soekarno sampai pada rumusan, “Tuhan bersemayam di gubuk si miskin”.

Si miskin adalah mereka yang petani minim lahan, minim peralatan, minim ilmu, minim akses. Pokoknya minim segalanya. Paling mudah tergeser dan tergusur.  Namun, merekalah yang paling takut tetapi paling taat. Ia takut pada Tuhan. Taat berbakti kepada-Nya, selalu hormat pada junjungannya, termasuk kepada pemerintah dengan segala kewenangannya. Ia takut menunggak pajak. “Orang bijak taat bayar pajak”, cocok bagi Si Marhein.

Perjumpaan antara Si Marhein dengan Bung Karno ibarat pertemuan murid dengan guru. Bagi Bung Karno, ia sedang berguru pada si murid dengan segala keterbatasan. Tugas guru adalah mengangkat muridnya mengatasi persoalan belajar agar nilai-nilai kemanusiaannya meningkat. Bukan malah menggenjetnya hingga tertatih-tatih jalannya. Luka batinnya. Kelaparan hidupnya.  Tidak! Bung Karno tidak demikian.

Ada dua puisi yang menunjukkan alasannya Bung Karno berpihak pada rakyat kecil. Puisi pertama berjudul, “Kami Bukan Bangsa yang Pandir” dan puisi  berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon”. Dalam puisi “Kami Bukan Bangsa yang Pandir”, Bung Karno menegaskan :

Aku ingin menyampaikan kepada dunia
Bahwa kami bukan “bangsa yang pandir’
Seperti orang Belanda berulang-ulang
Menagatakan kepada kami
Bahwa kami bukan lagi
Inlander goblok yang hanya baik untuk diludahi
Seperti Belanda mengatakan kepada kami
berkali-kali

Bung Karno bukanlah politikus salon yang mendandani rakyatnya dengan janji palsu. Puisinya berjudul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” menegaskan :

Tetapi betapakah orang dapat menarik rakyat jelata
Jika tidak terjun di kalangan mereka
Mendengarkan kehendak-kehendak mereka
Menyadarkan mereka akan diri sendiri

Dari kutipan dua puisi di atas, Bung Karno bukan hanya ingin memerdekakan rakyatnya dari kaum penjajah, melainkan juga menunjukkan kepada dunia untuk membebaskan mereka dari kebodohan dan kemiskinan. Projek mercusuarnya pun diterakan dalam alinea ke-4 UUD 1945 khususnya tujuan bernegara : mencerdaskan kehidupan bangsa  Dan itu perlu terus-menerus diperjuangkan, saudara-saudara. “Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah daripada perjuanganmu setelah merdeka. Karena yang kauhadapi adalah bangsamu sendiri”, kata Bung Karno. Zaman kemerdekaan kini, kita berhadapan dengan tantangan internal : egosektoral, korupsi, kolusi, nepotisme, degradasi moral, dan hoaks.

Selain itu, pemimpin mesti terus-menerus mendengarkan suara rakyat untuk dicarikan saluran yang baik tanpa sumbatan. Suara rakyat ibarat aliran air yang jernih tanpa sumbatan menuju Samudera Indonesia Raya. Tugas pemimpin mewadahi dengan pendekatan cinta yang dalam Bahasa Inggris disebut love (listen, observer,value, emphaty). Seorang pemimpin perlu memiliki telinga yang baik (Soekarno) untuk mendengarkan keluhan rakyatnya. Ia juga perlu terus-menerus merakyat melakukan observasi terhadap keberadaan lingkungannya. Pemimpin juga dituntut selalu menghargai dan memastikan nilai (value) kebangsaan dan kenegaraan berjalan sealir dan sealur sesuai dengan semangat yang dicita-citakan bersama. Pemimpin juga seyogyanya peka dan tersentuh atas persoalan yang dialami rakyatnya. Membangun emphaty di tengah situasi yang tidak menentu. Menghindari keselio lidah dalam merespon masukan dan keluhan sehingga tidak menambah kegaduhan. Kegaduhan berpeluang menambah persoalan baru yang beranak pinak.

Demikianlah pemimpin sejati sebagaimana dipuisikan oleh Sutrisno Martoatmojo dalam buku Tonggak Antologi Puisi Indonesia Modern 1 dengan editor Linus Suryadi AG (1987). Sebuah puisinya berjudul “Pemimpin Sejati” dengan anak judul :  ”kepada proklamator”. Bait terakhir puisi Sutrisno Martoatmojo menuliskan :

Bung Karno-Bung Hatta, dwitunggal bangsanya,
Satu tapi dua, dua tapi satu
Sama lahir di tengah rakyat penuh derita ditindas,
Hidup mengabdi layan rakyat dalam kemiskinan,
Mati terkubur di antara rakyat cilik sederhana,
Sebagai rakyat jelata awam, ditangisi rakyat di tepi jalan.

Petikan puisi Sutrisno Martoatmojo tersebut menegaskan kembali Bung Karno pemimpin yang peduli pada rakyat kecil yang tertindas dalam kemiskinan. Rakyat kecil pada umumnya adalah petani yang menjadi buruh di tanah orang. Bung Karno begitu dekat dengan mereka.  Oleh karena itu, kematiannya pun ditangisi rakyat yang dipimpinnya. Tangis kehilangan Si Bung yang tak akan kembali. Di Bali Si Bung diimajinasikan tampak di bulan sesaat setelah wafat. Foto/gambar  Bung Karno memegang keris  dipasang dengan anggun di rumah-rumah petani desa. Kaum Marheinis memuliakannya sembari mengenang pidatonya, Jasmerah. Merdeka !

Selamat Hari Suci Galungan dan Kuningan sembari menikmati sajian Pesta Kesenian Bali ke-48 bersamaan dengan Bulan Bung Karno. Dengan seni, hidup lebih indah. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bulan Bung KarnoBung KarnopetaniSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Becek Tuban, Kuliner Jamuan Hari-Hari Besar

Next Post

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
0
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

Read moreDetails

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

Read moreDetails

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

Read moreDetails

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

by Pande Susan
July 24, 2026
0
Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

Read moreDetails

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

Read moreDetails
Next Post
Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul ‘Galungan’

Wikan Satya, Musisi Cilik Kelas 6 SD Rilis Karya Terbaru Berjudul 'Galungan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali
Pendidikan

Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Drama Tari Berbahasa Inggris ——Dari FGD ISI Bali

DENPASAR | TATKALA.CO -- Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis...

by Dewi Yulianti
July 29, 2026
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik
Esai

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
Layar Redup, Pembelajaran Hidup
Esai

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”
Pameran

27 Pelukis Indonesia Pameran di Jerman ——Niluh Swati Buka Jalan “Go Internasional”

JAKARTA | TATKALA.CO -- Niluh Swati Indonesian Art Program (NSIAP) akan memamerkan karya 27 pelukis Indonesia dalam ajang ARTe Kunstmesse...

by Nyoman Budarsana
July 29, 2026
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka
Khas

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD
Pemerintahan

DPRD Buleleng Gelar Rapat Gabungan Komisi Bersama Eksekutif: Soroti Evaluasi SiLPA dan Penguatan BUMD

BULELENG | TATKALA -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Gabungan Komisi bersama jajaran Eksekutif Pemerintah Kabupaten...

by tatkala
July 28, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Ulas Pentas

Fragmentari “Jro Luh” dan Sinkronisitas: Sebuah Pembacaan Estetika atas Pertemuan Dramaturgi dan Fenomena Alam

PANGGUNG seni pertunjukan pada dasarnya merupakan ruang rekayasa artistik. Di dalamnya, setiap unsur dirancang dengan cermat, struktur dramatik disusun melalui...

by I Gusti Made Darma Putra
July 28, 2026
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja
Panggung

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

by Yahya Umar
July 28, 2026
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati
Ulas Rupa

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

by Angga Wijaya
July 28, 2026
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata
Khas

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 
Pemerintahan

Rapat Bersama TAPD, Banggar DPRD Buleleng Bahas Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025 dan Penyehatan BUMD 

BULELENG | TATKALA.CO -- Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kabupaten Buleleng menggelar Rapat Kerja bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kabupaten...

by tatkala
July 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co