3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal itu. Saya justru terjatuh dalam melakukan suatu pemikiran yang agak liar. 

Dalam pidatonya pada peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, Presiden kala itu menyebut bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Bahkan sampai dua kali kalimat itu diucapkan. Kalimat itu disampaikan dalam konteks membicarakan perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Baiklah, sampai di situ dulu. Menurut saya kita jangan buru-buru protes, pula jangan buru-buru membuat meme. Mari kita anggap kalimat tersebut sebagai sebuah eksperimen pemikiran. Sebab, kalau kalimat itu kita tarik sedikit saja ke kiri, lalu sedikit ke kanan, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kalau kecerdasan bukan berasal dari sekolah, jangan-jangan masalah pendidikan kita bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena sekolah kita belum cukup pandai untuk membuat mereka menjadi cerdas? Karena yang berbicara adalah Presiden Indonesia, maka tentu ini konteks Indonesia. Dari sini saya yakin sidang pembaca yang budiman mulai paham arahnya. Tapi tenang saja, karena Ini cuma permainan pikiran.

Sekolah Bukan Pabrik Orang Pintar

Selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang standar dalam memandang pendidikan. Anak mendapat nilai 95, artinya pintar. Nilai 60, kurang pintar. Begitu juga masuk sekolah favorit, anak pintar. Tapi kalau masuk sekolah biasa berarti anak biasa saja. Lanjut lagi, lulus universitas terkenal, wah, calon orang sukses. Lulus dari kampus yang tidak terkenal, yah, yang penting sudah sarjana.

Di sini kita seolah-olah membayangkan sekolah dan universitas sebagai semacam pabrik kecerdasan. Masuk gerbang dalam keadaan bodoh. Keluar membawa ijazah dan menjadi pintar. Kalau begitu, seharusnya semua orang yang sekolahnya lama menjadi sangat cerdas. Ijazah jadi penanda intelektualitas, tidak peduli ijazah asli ataupun ijazah KW. Sekedar info, KW singkatan dari bahasa Mandarin kèi wěi artinya tiruan, tidak ada terkait dengan nama orang.

Tapi kok kita lihat, ternyata tidak begitu. Ada orang bergelar tinggi yang gagap menghadapi persoalan sederhana.  Ada pula orang yang pendidikan formalnya biasa saja, tetapi mampu membaca situasi, bernegosiasi, memimpin orang, membangun usaha, dan mengambil keputusan dengan sangat baik. Dalam hal ini, Pak Bahlil memang contoh yang pas.

Robert Sternberg, psikolog yang banyak mengembangkan teori kecerdasan, bahkan membedakan kemampuan akademik dengan apa yang ia sebut sebagai practical intelligence. Sederhananya, ada orang yang hebat mengerjakan soal dari sekolah, tetapi belum tentu hebat menghadapi kehidupan. Karena dalam kehidupan, tidak pernah membagikan lembar soal dengan tulisan “Waktu mengerjakan 120 menit. Pilih jawaban A, B, C, atau D.” Kehidupan seringnya membagikan persoalan, tanpa petunjuk pengerjaan dan jawabannya silakan-silakan saja, bebas, terserah lu.  Nah, di situlah persoalannya.

Pendidikan dan Pengalaman

Sekali lagi, saudara, tidak sedang mengukur kualitas seseorang dari gelar atau almamaternya. Tetapi perjalanan Bahlil Lahadalia memang menarik sebagai contoh bahwa jalur pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan dan keberhasilan.  Kita sekali lagi belajar bahwa pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan sosial, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil risiko, pengalaman menghadapi konflik, membaca peluang, serta kemampuan beradaptasi juga merupakan sekolah.

Hanya saja sekolahnya tidak mempunyai gedung, tidak ada papan nama dan NPSN, apalagi akreditasi. Dan yang paling menyebalkan adalah, tidak ada ijazah.  Padahal bisa jadi, seseorang justru belajar lebih banyak tentang manusia dari sepuluh tahun berorganisasi, dibandingkan sepuluh semester duduk di kelas belajar antropologi, sosiologi atau psikologi. Inilah yang sebenarnya menarik.

Pada prinsipnya manusia yang dewasa akan tahu bahwa belajar bisa di mana-mana. John Dewey bahkan melihat pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Maka ketika seseorang keluar dari sekolah, sebenarnya ia tidak keluar dari proses pendidikan. Cuma pindah kelas saja. Kelas berikutnya yang bernama kehidupan. Di mana dosennya adalah pengalaman, ujiannya berupa masalah, dan nilainya baru keluar bertahun-tahun kemudian.

Kalau begitu, apakah sekolah tidak penting? Sepertinya pertanyaan itu bisa membuat kita kebablasan.  “Kecerdasan bukan dari sekolah” menjadi menarik.  Di sini kita bisa membacanya bukan sebagai sekolah tidak penting. Tetapi, kita baca, sekolah bukan satu-satunya sumber kecerdasan.  Dua kalimat itu tentu sangat berbeda.

Sekolah tetap penting. Karena tidak semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dari kehidupan. Situasinya begini, anak dari keluarga berada mungkin tumbuh dengan buku di rumah, internet cepat, orang tua berpendidikan, kursus lengkap, perjalanan, diskusi, dan berbagai fasilitas. 

Sementara di kehidupan sebelah, anak lain mungkin bahkan harus berbagi satu gawai dengan anggota keluarga. Kalau pendidikan kita serahkan sepenuhnya kepada “pengalaman hidup”, maka yang kaya pengalaman akan semakin kaya pengetahuan, yang miskin pengalaman akan semakin tertinggal.

Di sinilah negara diperlukan. Sekolah adalah salah satu cara negara memberi anak siapa pun berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pikirannya. Jadi sekolah mungkin bukan sumber kecerdasan, tetapi sekolah bisa menjadi infrastruktur pemerataan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan. Ini jauh lebih masuk akal.

Anak Tidak Datang ke Sekolah dengan Otak Kosong

Lev Vygotsky mengingatkan kita bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Anak tidak datang ke sekolah sebagai gelas kosong yang menunggu diisi guru. Ia datang membawa pengalaman, bahasa, keluarga, budaya, rasa ingin tahu, potensi, bahkan ketakutan.  Dan sekolah seharusnya membantu semua itu berkembang.

Nah, kalau Presiden Prabowo Subianto mengatakan kecerdasan itu bukan dari sekolah, maka kita boleh untuk sekadar latihan otak, membuat interpretasi paling nakal. Begini, berarti sekolah Indonesia selama ini belum berhasil membuat anak bangsa menjadi cerdas, dong. Asik.

Ya, tentu saja kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan demikian. Tetapi sebagai eksperimen pemikiran, tentu menarik. Karena kebijakan untuk membangun dan memperbaiki sekolah justru menjadi sangat logis. Sebab masalahnya bukan bahwa anak Indonesia bodoh. Masalahnya mungkin adalah bahwa potensi kecerdasan anak Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang cukup baik untuk berkembang.  Dan kalau itu benar, maka membangun sekolah bukanlah kontradiksi terhadap pernyataan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.

Justru sebaliknya. Kita membangun sekolah karena kita tahu kecerdasan tidak otomatis tumbuh hanya karena anak dilahirkan. Sekolah menyediakan ruang di mana para guru memberikan stimulasi.  Teman yang ada akan memberikan interaksi dan buku akan memberikan pengetahuan. Seiring itu masalah memberikan tantangan dan pengalaman memberikan konteks. Nah, dari pertemuan semuanya itu, kecerdasan kemudian berkembang.

Masalah pendidikan kita mungkin bukan hanya tentang kualitas sekolah. Bisa jadi kita juga mempunyai persoalan tentang definisi pintar. Kita mengukur anak dengan angka IQ, nilai, IPK dan ranking. Ada juga embel-embel lama studi, akreditasi, gelar, lantas kita mengira semua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada transkrip nilai.

Howard Gardner mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak sesederhana satu dimensi kecerdasan saja. Artinya, kita memang perlu berhati-hati. Jangan sampai anak merasa bahwa bersekolah hanya soal bagaimana terlihat pintar, bukan bagaimana menjadi manusia yang mampu berpikir. Sebab anak bisa belajar menjawab soal dan menghafal. Tetapi lebih jauh, apakah ia bisa bertanya dan bisa memahami? Anak bisa saja mendapat nilai tinggi, tapi apakah bisa mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan A, B, C, dan D?  Karena nanti di real life, yang ada  seringnya kondisi semacam itu.

Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?

Mungkin bukan membangun lebih banyak sekolah. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan manusia dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah usaha utuk membuat manusia mempunyai kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi persoalan, bekerja bersama orang lain, dan membuat dunia sedikit lebih baik.

Maka sekarang mungkin kita bisa berdamai dengan kalimat presiden di atas. Kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Tetapi sekolah tetap penting. Sebab sekolah adalah salah satu tempat terbaik yang pernah diciptakan manusia untuk menemukan, merawat, melatih, dan mengembangkan kecerdasan yang sudah dibawa manusia sejak awal. Kalau sekolah kita belum seperti itu, buat apabangun sekolah lagi? Tabik. [T]

Tags: kecerdasansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Next Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin
Ulas Buku

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

by Chusmeru
September 3, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co