4 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal itu. Saya justru terjatuh dalam melakukan suatu pemikiran yang agak liar. 

Dalam pidatonya pada peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, Presiden kala itu menyebut bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Bahkan sampai dua kali kalimat itu diucapkan. Kalimat itu disampaikan dalam konteks membicarakan perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Baiklah, sampai di situ dulu. Menurut saya kita jangan buru-buru protes, pula jangan buru-buru membuat meme. Mari kita anggap kalimat tersebut sebagai sebuah eksperimen pemikiran. Sebab, kalau kalimat itu kita tarik sedikit saja ke kiri, lalu sedikit ke kanan, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kalau kecerdasan bukan berasal dari sekolah, jangan-jangan masalah pendidikan kita bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena sekolah kita belum cukup pandai untuk membuat mereka menjadi cerdas? Karena yang berbicara adalah Presiden Indonesia, maka tentu ini konteks Indonesia. Dari sini saya yakin sidang pembaca yang budiman mulai paham arahnya. Tapi tenang saja, karena Ini cuma permainan pikiran.

Sekolah Bukan Pabrik Orang Pintar

Selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang standar dalam memandang pendidikan. Anak mendapat nilai 95, artinya pintar. Nilai 60, kurang pintar. Begitu juga masuk sekolah favorit, anak pintar. Tapi kalau masuk sekolah biasa berarti anak biasa saja. Lanjut lagi, lulus universitas terkenal, wah, calon orang sukses. Lulus dari kampus yang tidak terkenal, yah, yang penting sudah sarjana.

Di sini kita seolah-olah membayangkan sekolah dan universitas sebagai semacam pabrik kecerdasan. Masuk gerbang dalam keadaan bodoh. Keluar membawa ijazah dan menjadi pintar. Kalau begitu, seharusnya semua orang yang sekolahnya lama menjadi sangat cerdas. Ijazah jadi penanda intelektualitas, tidak peduli ijazah asli ataupun ijazah KW. Sekedar info, KW singkatan dari bahasa Mandarin kèi wěi artinya tiruan, tidak ada terkait dengan nama orang.

Tapi kok kita lihat, ternyata tidak begitu. Ada orang bergelar tinggi yang gagap menghadapi persoalan sederhana.  Ada pula orang yang pendidikan formalnya biasa saja, tetapi mampu membaca situasi, bernegosiasi, memimpin orang, membangun usaha, dan mengambil keputusan dengan sangat baik. Dalam hal ini, Pak Bahlil memang contoh yang pas.

Robert Sternberg, psikolog yang banyak mengembangkan teori kecerdasan, bahkan membedakan kemampuan akademik dengan apa yang ia sebut sebagai practical intelligence. Sederhananya, ada orang yang hebat mengerjakan soal dari sekolah, tetapi belum tentu hebat menghadapi kehidupan. Karena dalam kehidupan, tidak pernah membagikan lembar soal dengan tulisan “Waktu mengerjakan 120 menit. Pilih jawaban A, B, C, atau D.” Kehidupan seringnya membagikan persoalan, tanpa petunjuk pengerjaan dan jawabannya silakan-silakan saja, bebas, terserah lu.  Nah, di situlah persoalannya.

Pendidikan dan Pengalaman

Sekali lagi, saudara, tidak sedang mengukur kualitas seseorang dari gelar atau almamaternya. Tetapi perjalanan Bahlil Lahadalia memang menarik sebagai contoh bahwa jalur pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan dan keberhasilan.  Kita sekali lagi belajar bahwa pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan sosial, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil risiko, pengalaman menghadapi konflik, membaca peluang, serta kemampuan beradaptasi juga merupakan sekolah.

Hanya saja sekolahnya tidak mempunyai gedung, tidak ada papan nama dan NPSN, apalagi akreditasi. Dan yang paling menyebalkan adalah, tidak ada ijazah.  Padahal bisa jadi, seseorang justru belajar lebih banyak tentang manusia dari sepuluh tahun berorganisasi, dibandingkan sepuluh semester duduk di kelas belajar antropologi, sosiologi atau psikologi. Inilah yang sebenarnya menarik.

Pada prinsipnya manusia yang dewasa akan tahu bahwa belajar bisa di mana-mana. John Dewey bahkan melihat pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Maka ketika seseorang keluar dari sekolah, sebenarnya ia tidak keluar dari proses pendidikan. Cuma pindah kelas saja. Kelas berikutnya yang bernama kehidupan. Di mana dosennya adalah pengalaman, ujiannya berupa masalah, dan nilainya baru keluar bertahun-tahun kemudian.

Kalau begitu, apakah sekolah tidak penting? Sepertinya pertanyaan itu bisa membuat kita kebablasan.  “Kecerdasan bukan dari sekolah” menjadi menarik.  Di sini kita bisa membacanya bukan sebagai sekolah tidak penting. Tetapi, kita baca, sekolah bukan satu-satunya sumber kecerdasan.  Dua kalimat itu tentu sangat berbeda.

Sekolah tetap penting. Karena tidak semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dari kehidupan. Situasinya begini, anak dari keluarga berada mungkin tumbuh dengan buku di rumah, internet cepat, orang tua berpendidikan, kursus lengkap, perjalanan, diskusi, dan berbagai fasilitas. 

Sementara di kehidupan sebelah, anak lain mungkin bahkan harus berbagi satu gawai dengan anggota keluarga. Kalau pendidikan kita serahkan sepenuhnya kepada “pengalaman hidup”, maka yang kaya pengalaman akan semakin kaya pengetahuan, yang miskin pengalaman akan semakin tertinggal.

Di sinilah negara diperlukan. Sekolah adalah salah satu cara negara memberi anak siapa pun berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pikirannya. Jadi sekolah mungkin bukan sumber kecerdasan, tetapi sekolah bisa menjadi infrastruktur pemerataan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan. Ini jauh lebih masuk akal.

Anak Tidak Datang ke Sekolah dengan Otak Kosong

Lev Vygotsky mengingatkan kita bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Anak tidak datang ke sekolah sebagai gelas kosong yang menunggu diisi guru. Ia datang membawa pengalaman, bahasa, keluarga, budaya, rasa ingin tahu, potensi, bahkan ketakutan.  Dan sekolah seharusnya membantu semua itu berkembang.

Nah, kalau Presiden Prabowo Subianto mengatakan kecerdasan itu bukan dari sekolah, maka kita boleh untuk sekadar latihan otak, membuat interpretasi paling nakal. Begini, berarti sekolah Indonesia selama ini belum berhasil membuat anak bangsa menjadi cerdas, dong. Asik.

Ya, tentu saja kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan demikian. Tetapi sebagai eksperimen pemikiran, tentu menarik. Karena kebijakan untuk membangun dan memperbaiki sekolah justru menjadi sangat logis. Sebab masalahnya bukan bahwa anak Indonesia bodoh. Masalahnya mungkin adalah bahwa potensi kecerdasan anak Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang cukup baik untuk berkembang.  Dan kalau itu benar, maka membangun sekolah bukanlah kontradiksi terhadap pernyataan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.

Justru sebaliknya. Kita membangun sekolah karena kita tahu kecerdasan tidak otomatis tumbuh hanya karena anak dilahirkan. Sekolah menyediakan ruang di mana para guru memberikan stimulasi.  Teman yang ada akan memberikan interaksi dan buku akan memberikan pengetahuan. Seiring itu masalah memberikan tantangan dan pengalaman memberikan konteks. Nah, dari pertemuan semuanya itu, kecerdasan kemudian berkembang.

Masalah pendidikan kita mungkin bukan hanya tentang kualitas sekolah. Bisa jadi kita juga mempunyai persoalan tentang definisi pintar. Kita mengukur anak dengan angka IQ, nilai, IPK dan ranking. Ada juga embel-embel lama studi, akreditasi, gelar, lantas kita mengira semua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada transkrip nilai.

Howard Gardner mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak sesederhana satu dimensi kecerdasan saja. Artinya, kita memang perlu berhati-hati. Jangan sampai anak merasa bahwa bersekolah hanya soal bagaimana terlihat pintar, bukan bagaimana menjadi manusia yang mampu berpikir. Sebab anak bisa belajar menjawab soal dan menghafal. Tetapi lebih jauh, apakah ia bisa bertanya dan bisa memahami? Anak bisa saja mendapat nilai tinggi, tapi apakah bisa mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan A, B, C, dan D?  Karena nanti di real life, yang ada  seringnya kondisi semacam itu.

Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?

Mungkin bukan membangun lebih banyak sekolah. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan manusia dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah usaha utuk membuat manusia mempunyai kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi persoalan, bekerja bersama orang lain, dan membuat dunia sedikit lebih baik.

Maka sekarang mungkin kita bisa berdamai dengan kalimat presiden di atas. Kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Tetapi sekolah tetap penting. Sebab sekolah adalah salah satu tempat terbaik yang pernah diciptakan manusia untuk menemukan, merawat, melatih, dan mengembangkan kecerdasan yang sudah dibawa manusia sejak awal. Kalau sekolah kita belum seperti itu, buat apabangun sekolah lagi? Tabik. [T]

Tags: kecerdasansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Next Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

by I Wayan Artika
November 1, 2026
0
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

Read moreDetails

Saraswati dan Kenaikan Kelas

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
0
Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

Read moreDetails

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

by tatkala
October 31, 2026
0
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

Read moreDetails

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
0
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

Read moreDetails

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
0
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

Read moreDetails

Di Ruang Tunggu Kehidupan

by Ahmad Sihabudin
October 30, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

PAGI itu, saya kembali terbangun dengan pikiran yang sama: hari ini harus ke rumah sakit mana lagi? Hampir setengah tahun...

Read moreDetails
Next Post
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif
Pariwisata

COCA Ubud, Merajut Musik, Film, Kuliner, dan Seni dalam Satu Rumah Kreatif

DI Ubud, pengalaman menikmati musik, menonton film, menyantap hidangan, dan mengapresiasi seni kini memiliki satu ruang pertemuan. Namanya COCA Ubud....

by tatkala
November 3, 2026
Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co