24 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal itu. Saya justru terjatuh dalam melakukan suatu pemikiran yang agak liar. 

Dalam pidatonya pada peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, Presiden kala itu menyebut bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Bahkan sampai dua kali kalimat itu diucapkan. Kalimat itu disampaikan dalam konteks membicarakan perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Baiklah, sampai di situ dulu. Menurut saya kita jangan buru-buru protes, pula jangan buru-buru membuat meme. Mari kita anggap kalimat tersebut sebagai sebuah eksperimen pemikiran. Sebab, kalau kalimat itu kita tarik sedikit saja ke kiri, lalu sedikit ke kanan, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kalau kecerdasan bukan berasal dari sekolah, jangan-jangan masalah pendidikan kita bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena sekolah kita belum cukup pandai untuk membuat mereka menjadi cerdas? Karena yang berbicara adalah Presiden Indonesia, maka tentu ini konteks Indonesia. Dari sini saya yakin sidang pembaca yang budiman mulai paham arahnya. Tapi tenang saja, karena Ini cuma permainan pikiran.

Sekolah Bukan Pabrik Orang Pintar

Selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang standar dalam memandang pendidikan. Anak mendapat nilai 95, artinya pintar. Nilai 60, kurang pintar. Begitu juga masuk sekolah favorit, anak pintar. Tapi kalau masuk sekolah biasa berarti anak biasa saja. Lanjut lagi, lulus universitas terkenal, wah, calon orang sukses. Lulus dari kampus yang tidak terkenal, yah, yang penting sudah sarjana.

Di sini kita seolah-olah membayangkan sekolah dan universitas sebagai semacam pabrik kecerdasan. Masuk gerbang dalam keadaan bodoh. Keluar membawa ijazah dan menjadi pintar. Kalau begitu, seharusnya semua orang yang sekolahnya lama menjadi sangat cerdas. Ijazah jadi penanda intelektualitas, tidak peduli ijazah asli ataupun ijazah KW. Sekedar info, KW singkatan dari bahasa Mandarin kèi wěi artinya tiruan, tidak ada terkait dengan nama orang.

Tapi kok kita lihat, ternyata tidak begitu. Ada orang bergelar tinggi yang gagap menghadapi persoalan sederhana.  Ada pula orang yang pendidikan formalnya biasa saja, tetapi mampu membaca situasi, bernegosiasi, memimpin orang, membangun usaha, dan mengambil keputusan dengan sangat baik. Dalam hal ini, Pak Bahlil memang contoh yang pas.

Robert Sternberg, psikolog yang banyak mengembangkan teori kecerdasan, bahkan membedakan kemampuan akademik dengan apa yang ia sebut sebagai practical intelligence. Sederhananya, ada orang yang hebat mengerjakan soal dari sekolah, tetapi belum tentu hebat menghadapi kehidupan. Karena dalam kehidupan, tidak pernah membagikan lembar soal dengan tulisan “Waktu mengerjakan 120 menit. Pilih jawaban A, B, C, atau D.” Kehidupan seringnya membagikan persoalan, tanpa petunjuk pengerjaan dan jawabannya silakan-silakan saja, bebas, terserah lu.  Nah, di situlah persoalannya.

Pendidikan dan Pengalaman

Sekali lagi, saudara, tidak sedang mengukur kualitas seseorang dari gelar atau almamaternya. Tetapi perjalanan Bahlil Lahadalia memang menarik sebagai contoh bahwa jalur pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan dan keberhasilan.  Kita sekali lagi belajar bahwa pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan sosial, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil risiko, pengalaman menghadapi konflik, membaca peluang, serta kemampuan beradaptasi juga merupakan sekolah.

Hanya saja sekolahnya tidak mempunyai gedung, tidak ada papan nama dan NPSN, apalagi akreditasi. Dan yang paling menyebalkan adalah, tidak ada ijazah.  Padahal bisa jadi, seseorang justru belajar lebih banyak tentang manusia dari sepuluh tahun berorganisasi, dibandingkan sepuluh semester duduk di kelas belajar antropologi, sosiologi atau psikologi. Inilah yang sebenarnya menarik.

Pada prinsipnya manusia yang dewasa akan tahu bahwa belajar bisa di mana-mana. John Dewey bahkan melihat pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Maka ketika seseorang keluar dari sekolah, sebenarnya ia tidak keluar dari proses pendidikan. Cuma pindah kelas saja. Kelas berikutnya yang bernama kehidupan. Di mana dosennya adalah pengalaman, ujiannya berupa masalah, dan nilainya baru keluar bertahun-tahun kemudian.

Kalau begitu, apakah sekolah tidak penting? Sepertinya pertanyaan itu bisa membuat kita kebablasan.  “Kecerdasan bukan dari sekolah” menjadi menarik.  Di sini kita bisa membacanya bukan sebagai sekolah tidak penting. Tetapi, kita baca, sekolah bukan satu-satunya sumber kecerdasan.  Dua kalimat itu tentu sangat berbeda.

Sekolah tetap penting. Karena tidak semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dari kehidupan. Situasinya begini, anak dari keluarga berada mungkin tumbuh dengan buku di rumah, internet cepat, orang tua berpendidikan, kursus lengkap, perjalanan, diskusi, dan berbagai fasilitas. 

Sementara di kehidupan sebelah, anak lain mungkin bahkan harus berbagi satu gawai dengan anggota keluarga. Kalau pendidikan kita serahkan sepenuhnya kepada “pengalaman hidup”, maka yang kaya pengalaman akan semakin kaya pengetahuan, yang miskin pengalaman akan semakin tertinggal.

Di sinilah negara diperlukan. Sekolah adalah salah satu cara negara memberi anak siapa pun berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pikirannya. Jadi sekolah mungkin bukan sumber kecerdasan, tetapi sekolah bisa menjadi infrastruktur pemerataan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan. Ini jauh lebih masuk akal.

Anak Tidak Datang ke Sekolah dengan Otak Kosong

Lev Vygotsky mengingatkan kita bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Anak tidak datang ke sekolah sebagai gelas kosong yang menunggu diisi guru. Ia datang membawa pengalaman, bahasa, keluarga, budaya, rasa ingin tahu, potensi, bahkan ketakutan.  Dan sekolah seharusnya membantu semua itu berkembang.

Nah, kalau Presiden Prabowo Subianto mengatakan kecerdasan itu bukan dari sekolah, maka kita boleh untuk sekadar latihan otak, membuat interpretasi paling nakal. Begini, berarti sekolah Indonesia selama ini belum berhasil membuat anak bangsa menjadi cerdas, dong. Asik.

Ya, tentu saja kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan demikian. Tetapi sebagai eksperimen pemikiran, tentu menarik. Karena kebijakan untuk membangun dan memperbaiki sekolah justru menjadi sangat logis. Sebab masalahnya bukan bahwa anak Indonesia bodoh. Masalahnya mungkin adalah bahwa potensi kecerdasan anak Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang cukup baik untuk berkembang.  Dan kalau itu benar, maka membangun sekolah bukanlah kontradiksi terhadap pernyataan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.

Justru sebaliknya. Kita membangun sekolah karena kita tahu kecerdasan tidak otomatis tumbuh hanya karena anak dilahirkan. Sekolah menyediakan ruang di mana para guru memberikan stimulasi.  Teman yang ada akan memberikan interaksi dan buku akan memberikan pengetahuan. Seiring itu masalah memberikan tantangan dan pengalaman memberikan konteks. Nah, dari pertemuan semuanya itu, kecerdasan kemudian berkembang.

Masalah pendidikan kita mungkin bukan hanya tentang kualitas sekolah. Bisa jadi kita juga mempunyai persoalan tentang definisi pintar. Kita mengukur anak dengan angka IQ, nilai, IPK dan ranking. Ada juga embel-embel lama studi, akreditasi, gelar, lantas kita mengira semua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada transkrip nilai.

Howard Gardner mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak sesederhana satu dimensi kecerdasan saja. Artinya, kita memang perlu berhati-hati. Jangan sampai anak merasa bahwa bersekolah hanya soal bagaimana terlihat pintar, bukan bagaimana menjadi manusia yang mampu berpikir. Sebab anak bisa belajar menjawab soal dan menghafal. Tetapi lebih jauh, apakah ia bisa bertanya dan bisa memahami? Anak bisa saja mendapat nilai tinggi, tapi apakah bisa mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan A, B, C, dan D?  Karena nanti di real life, yang ada  seringnya kondisi semacam itu.

Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?

Mungkin bukan membangun lebih banyak sekolah. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan manusia dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah usaha utuk membuat manusia mempunyai kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi persoalan, bekerja bersama orang lain, dan membuat dunia sedikit lebih baik.

Maka sekarang mungkin kita bisa berdamai dengan kalimat presiden di atas. Kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Tetapi sekolah tetap penting. Sebab sekolah adalah salah satu tempat terbaik yang pernah diciptakan manusia untuk menemukan, merawat, melatih, dan mengembangkan kecerdasan yang sudah dibawa manusia sejak awal. Kalau sekolah kita belum seperti itu, buat apabangun sekolah lagi? Tabik. [T]

Tags: kecerdasansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Next Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails

Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

by I Ketut Suar Adnyana
September 19, 2026
0
Kuncup Bunga Kopi di Tengah Kemarau: Antara Tanda Alam dan Ancaman El Niño

Di antara pepohonan kopi yang tumbuh di lereng dan kebun-kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah pengetahuan...

Read moreDetails

Ramai Penulis Menjadi Pelukis

by Angga Wijaya
September 19, 2026
0
Ramai Penulis Menjadi Pelukis

SAYA mulai curiga ketika beberapa nama penulis yang biasa saya temui di halaman buku, koran, dan media sosial tiba-tiba muncul...

Read moreDetails
Next Post
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga
Esai

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati
Esai

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

by Angga Wijaya
September 22, 2026
Guci Nasib di Titik Nol Kota
Ulas Rupa

Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

by I Wayan Westa
September 22, 2026
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi
Ulas Film

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir
Lingkungan

Berdampak Jaga Lingkungan Bali, FIB Unud Gelar Aksi Bersih Pesisir

DENPASAR | TATKALA.CO -- Ekosistem pesisir dan hutan mangrove di Bali kini menghadapi ancaman krisis lingkungan yang sangat serius, salah...

by tatkala
September 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

by Chusmeru
September 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co