15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal itu. Saya justru terjatuh dalam melakukan suatu pemikiran yang agak liar. 

Dalam pidatonya pada peluncuran 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia, Presiden kala itu menyebut bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Bahkan sampai dua kali kalimat itu diucapkan. Kalimat itu disampaikan dalam konteks membicarakan perjalanan hidup Bahlil Lahadalia.

Baiklah, sampai di situ dulu. Menurut saya kita jangan buru-buru protes, pula jangan buru-buru membuat meme. Mari kita anggap kalimat tersebut sebagai sebuah eksperimen pemikiran. Sebab, kalau kalimat itu kita tarik sedikit saja ke kiri, lalu sedikit ke kanan, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang lumayan menggelitik.

Kalau kecerdasan bukan berasal dari sekolah, jangan-jangan masalah pendidikan kita bukan karena anak-anak Indonesia tidak cerdas, tetapi karena sekolah kita belum cukup pandai untuk membuat mereka menjadi cerdas? Karena yang berbicara adalah Presiden Indonesia, maka tentu ini konteks Indonesia. Dari sini saya yakin sidang pembaca yang budiman mulai paham arahnya. Tapi tenang saja, karena Ini cuma permainan pikiran.

Sekolah Bukan Pabrik Orang Pintar

Selama bertahun-tahun kita mempunyai kebiasaan yang standar dalam memandang pendidikan. Anak mendapat nilai 95, artinya pintar. Nilai 60, kurang pintar. Begitu juga masuk sekolah favorit, anak pintar. Tapi kalau masuk sekolah biasa berarti anak biasa saja. Lanjut lagi, lulus universitas terkenal, wah, calon orang sukses. Lulus dari kampus yang tidak terkenal, yah, yang penting sudah sarjana.

Di sini kita seolah-olah membayangkan sekolah dan universitas sebagai semacam pabrik kecerdasan. Masuk gerbang dalam keadaan bodoh. Keluar membawa ijazah dan menjadi pintar. Kalau begitu, seharusnya semua orang yang sekolahnya lama menjadi sangat cerdas. Ijazah jadi penanda intelektualitas, tidak peduli ijazah asli ataupun ijazah KW. Sekedar info, KW singkatan dari bahasa Mandarin kèi wěi artinya tiruan, tidak ada terkait dengan nama orang.

Tapi kok kita lihat, ternyata tidak begitu. Ada orang bergelar tinggi yang gagap menghadapi persoalan sederhana.  Ada pula orang yang pendidikan formalnya biasa saja, tetapi mampu membaca situasi, bernegosiasi, memimpin orang, membangun usaha, dan mengambil keputusan dengan sangat baik. Dalam hal ini, Pak Bahlil memang contoh yang pas.

Robert Sternberg, psikolog yang banyak mengembangkan teori kecerdasan, bahkan membedakan kemampuan akademik dengan apa yang ia sebut sebagai practical intelligence. Sederhananya, ada orang yang hebat mengerjakan soal dari sekolah, tetapi belum tentu hebat menghadapi kehidupan. Karena dalam kehidupan, tidak pernah membagikan lembar soal dengan tulisan “Waktu mengerjakan 120 menit. Pilih jawaban A, B, C, atau D.” Kehidupan seringnya membagikan persoalan, tanpa petunjuk pengerjaan dan jawabannya silakan-silakan saja, bebas, terserah lu.  Nah, di situlah persoalannya.

Pendidikan dan Pengalaman

Sekali lagi, saudara, tidak sedang mengukur kualitas seseorang dari gelar atau almamaternya. Tetapi perjalanan Bahlil Lahadalia memang menarik sebagai contoh bahwa jalur pendidikan formal bukan satu-satunya jalan menuju kemampuan dan keberhasilan.  Kita sekali lagi belajar bahwa pengalaman organisasi, dunia usaha, jaringan sosial, kemampuan berkomunikasi, keberanian mengambil risiko, pengalaman menghadapi konflik, membaca peluang, serta kemampuan beradaptasi juga merupakan sekolah.

Hanya saja sekolahnya tidak mempunyai gedung, tidak ada papan nama dan NPSN, apalagi akreditasi. Dan yang paling menyebalkan adalah, tidak ada ijazah.  Padahal bisa jadi, seseorang justru belajar lebih banyak tentang manusia dari sepuluh tahun berorganisasi, dibandingkan sepuluh semester duduk di kelas belajar antropologi, sosiologi atau psikologi. Inilah yang sebenarnya menarik.

Pada prinsipnya manusia yang dewasa akan tahu bahwa belajar bisa di mana-mana. John Dewey bahkan melihat pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Maka ketika seseorang keluar dari sekolah, sebenarnya ia tidak keluar dari proses pendidikan. Cuma pindah kelas saja. Kelas berikutnya yang bernama kehidupan. Di mana dosennya adalah pengalaman, ujiannya berupa masalah, dan nilainya baru keluar bertahun-tahun kemudian.

Kalau begitu, apakah sekolah tidak penting? Sepertinya pertanyaan itu bisa membuat kita kebablasan.  “Kecerdasan bukan dari sekolah” menjadi menarik.  Di sini kita bisa membacanya bukan sebagai sekolah tidak penting. Tetapi, kita baca, sekolah bukan satu-satunya sumber kecerdasan.  Dua kalimat itu tentu sangat berbeda.

Sekolah tetap penting. Karena tidak semua anak mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dari kehidupan. Situasinya begini, anak dari keluarga berada mungkin tumbuh dengan buku di rumah, internet cepat, orang tua berpendidikan, kursus lengkap, perjalanan, diskusi, dan berbagai fasilitas. 

Sementara di kehidupan sebelah, anak lain mungkin bahkan harus berbagi satu gawai dengan anggota keluarga. Kalau pendidikan kita serahkan sepenuhnya kepada “pengalaman hidup”, maka yang kaya pengalaman akan semakin kaya pengetahuan, yang miskin pengalaman akan semakin tertinggal.

Di sinilah negara diperlukan. Sekolah adalah salah satu cara negara memberi anak siapa pun berhak memperoleh kesempatan untuk mengembangkan pikirannya. Jadi sekolah mungkin bukan sumber kecerdasan, tetapi sekolah bisa menjadi infrastruktur pemerataan kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan. Ini jauh lebih masuk akal.

Anak Tidak Datang ke Sekolah dengan Otak Kosong

Lev Vygotsky mengingatkan kita bahwa perkembangan kognitif manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan. Anak tidak datang ke sekolah sebagai gelas kosong yang menunggu diisi guru. Ia datang membawa pengalaman, bahasa, keluarga, budaya, rasa ingin tahu, potensi, bahkan ketakutan.  Dan sekolah seharusnya membantu semua itu berkembang.

Nah, kalau Presiden Prabowo Subianto mengatakan kecerdasan itu bukan dari sekolah, maka kita boleh untuk sekadar latihan otak, membuat interpretasi paling nakal. Begini, berarti sekolah Indonesia selama ini belum berhasil membuat anak bangsa menjadi cerdas, dong. Asik.

Ya, tentu saja kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan demikian. Tetapi sebagai eksperimen pemikiran, tentu menarik. Karena kebijakan untuk membangun dan memperbaiki sekolah justru menjadi sangat logis. Sebab masalahnya bukan bahwa anak Indonesia bodoh. Masalahnya mungkin adalah bahwa potensi kecerdasan anak Indonesia belum mendapatkan lingkungan yang cukup baik untuk berkembang.  Dan kalau itu benar, maka membangun sekolah bukanlah kontradiksi terhadap pernyataan bahwa kecerdasan bukan berasal dari sekolah.

Justru sebaliknya. Kita membangun sekolah karena kita tahu kecerdasan tidak otomatis tumbuh hanya karena anak dilahirkan. Sekolah menyediakan ruang di mana para guru memberikan stimulasi.  Teman yang ada akan memberikan interaksi dan buku akan memberikan pengetahuan. Seiring itu masalah memberikan tantangan dan pengalaman memberikan konteks. Nah, dari pertemuan semuanya itu, kecerdasan kemudian berkembang.

Masalah pendidikan kita mungkin bukan hanya tentang kualitas sekolah. Bisa jadi kita juga mempunyai persoalan tentang definisi pintar. Kita mengukur anak dengan angka IQ, nilai, IPK dan ranking. Ada juga embel-embel lama studi, akreditasi, gelar, lantas kita mengira semua angka itu sudah cukup untuk menjelaskan kualitas manusia. Padahal manusia jauh lebih rumit daripada transkrip nilai.

Howard Gardner mengingatkan bahwa kemampuan manusia tidak sesederhana satu dimensi kecerdasan saja. Artinya, kita memang perlu berhati-hati. Jangan sampai anak merasa bahwa bersekolah hanya soal bagaimana terlihat pintar, bukan bagaimana menjadi manusia yang mampu berpikir. Sebab anak bisa belajar menjawab soal dan menghafal. Tetapi lebih jauh, apakah ia bisa bertanya dan bisa memahami? Anak bisa saja mendapat nilai tinggi, tapi apakah bisa mengambil keputusan ketika tidak ada pilihan A, B, C, dan D?  Karena nanti di real life, yang ada  seringnya kondisi semacam itu.

Jadi, Apa yang Harus Kita Bangun?

Mungkin bukan membangun lebih banyak sekolah. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan perlombaan mengumpulkan manusia dengan nilai tinggi. Pendidikan adalah usaha utuk membuat manusia mempunyai kemampuan untuk memahami dunia, menghadapi persoalan, bekerja bersama orang lain, dan membuat dunia sedikit lebih baik.

Maka sekarang mungkin kita bisa berdamai dengan kalimat presiden di atas. Kecerdasan bukan berasal dari sekolah. Tetapi sekolah tetap penting. Sebab sekolah adalah salah satu tempat terbaik yang pernah diciptakan manusia untuk menemukan, merawat, melatih, dan mengembangkan kecerdasan yang sudah dibawa manusia sejak awal. Kalau sekolah kita belum seperti itu, buat apabangun sekolah lagi? Tabik. [T]

Tags: kecerdasansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Next Post

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co