3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka!

Tahun ini kita memperingati 81 tahun Indonesia merdeka. Sebuah usia yang tidak lagi muda. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang sebuah bangsa. Anak-anak yang lahir pada hari kemerdekaan 1945, jika masih hidup, kini telah berusia lebih dari delapan puluh tahun. Mereka telah menyaksikan negeri ini melewati berbagai zaman: pergantian pemerintahan, krisis ekonomi, perubahan sosial, revolusi teknologi, bahkan berbagai kegaduhan politik.

Tetapi barangkali ada pertanyaan sederhana yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: Setelah 81 tahun merdeka, apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini?

Tema kemerdekaan tahun ini, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, sesungguhnya bukan sekadar rangkaian kata yang dipasang di spanduk, baliho, atau latar belakang panggung upacara. Ia adalah cita-cita yang mengandung tanggung jawab.

Berdaulat berarti kita menjadi tuan di negeri sendiri. Adil berarti kemerdekaan tidak hanya menjadi milik mereka yang kuat, kaya, dekat dengan kekuasaan, atau memiliki akses terhadap berbagai sumber daya. Makmur berarti kekayaan negeri ini tidak berhenti menjadi angka dalam laporan pembangunan, tetapi benar-benar menjadi kesejahteraan yang dirasakan rakyat.

Bukankah negeri ini luar biasa kaya? Kita memiliki laut yang luas, tanah yang subur, hutan, gunung, sungai, hujan, iklim tropis, mineral, energi, serta kekayaan hayati yang tidak sedikit. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap jengkal tanah dan setiap bentang laut menyimpan potensi.

Dan kita tahu, kekayaan itu bukan semata-mata hasil kerja manusia. Ada sesuatu yang lebih besar dari kemampuan kita untuk menciptakannya. Allah SWT yang memiliki seluruh kekayaan itu.

Tanah yang kita pijak bukan kita yang menciptakan. Air yang kita minum bukan kita yang membuatnya. Hujan yang turun bukan hasil rekayasa manusia. Laut yang membentang bukan kita yang membangunnya. Matahari yang menerangi bumi tidak pernah mengirimkan tagihan kepada kita.

Maka, sebelum berbicara tentang kekayaan Indonesia, barangkali kita perlu belajar kembali satu kata yang sering kita ucapkan tetapi kadang lupa kita praktikkan: Syukur.

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan maksud diberikannya nikmat itu.

Kalau kita diberi tanah yang subur, syukurnya adalah mengelolanya dengan baik. Kalau kita diberi laut yang luas, syukurnya adalah menjaganya, bukan menghabiskannya. Kalau kita diberi hutan, syukurnya adalah merawatnya, bukan menebangnya tanpa batas.

Kalau kita diberi ilmu, syukurnya adalah menggunakannya untuk mencerdaskan, bukan memperdaya. Dan kalau kita diberi kemerdekaan, syukurnya adalah mengisinya dengan kerja, keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab.

Karena itu, saya sering merasa agak aneh melihat sebagian kita yang begitu mudah mencintai Indonesia ketika berada di panggung, tetapi begitu mudah pula mencaci Indonesia ketika tidak berada di lingkaran kekuasaan.

Ketika pemerintah membuat kebijakan, kita berteriak. Ketika pemerintah tidak membuat kebijakan, kita juga berteriak. Ketika pemerintah membangun, dicari kesalahannya. Ketika belum membangun, dituduh tidak bekerja. Kritik tentu penting.

Saya sendiri tidak pernah menganggap kritik sebagai musuh pembangunan. Pemerintah justru membutuhkan kritik. Pers membutuhkan kebebasan. Akademisi membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat. Masyarakat sipil harus tetap dapat mengawasi kekuasaan.

Tetapi ada perbedaan antara kritik dan provokasi. Ada perbedaan antara mengawasi dan mengganggu. Ada perbedaan antara berbeda pendapat dan sengaja membuat bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Kritik seharusnya membuat kita lebih baik. Bukan membuat kita saling membenci. Kritik seharusnya menunjukkan jalan keluar. Bukan hanya menunjukkan kesalahan. Kritik seharusnya lahir dari kecintaan kepada negeri. Bukan dari kebencian karena seseorang tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Maka, kepada pemerintah: jangan alergi terhadap kritik. Kepada masyarakat: jangan menjadikan kritik sebagai alasan untuk terus-menerus menciptakan kegaduhan. Dan kepada kita semua: jangan hanya bernyanyi.

Jangan hanya menyanyikan Indonesia Raya setahun sekali, sementara sepanjang tahun kita merusak persaudaraan. Jangan hanya menyanyikan Bagimu Negeri, tetapi ketika mendapatkan kesempatan mengabdi justru bertanya, “Apa yang saya dapat?”

Jangan hanya menyanyikan Hari Merdeka, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih senang mengambil hak orang lain. Kemerdekaan bukan lagu. Kemerdekaan adalah perilaku. Kemerdekaan adalah ketika seorang petani dapat hidup layak dari tanahnya.

Ketika nelayan tidak merasa menjadi orang asing di lautnya sendiri. Ketika guru dapat mendidik dengan tenang. Ketika anak-anak dari keluarga sederhana memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang baik.

Ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ketika pelayanan publik tidak membedakan manusia berdasarkan isi dompetnya.

Dan ketika kekayaan alam negeri ini dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Maka marilah kita membantu pemerintah mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Membantu tidak berarti kehilangan sikap kritis. Mendukung tidak berarti harus menjadi bagian dari pemerintah. Mengkritik tidak berarti harus menjadi musuh pemerintah.

Kita bisa berbeda pilihan politik, tetapi tetap memiliki satu rumah bernama Indonesia. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa memiliki terhadap negeri sendiri.

Sebab pemerintah akan berganti. Presiden akan berganti. Menteri akan berganti. Partai politik akan berganti. Tetapi Indonesia tetap milik kita bersama.

Di sinilah barangkali makna baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menemukan relevansinya: negeri yang baik, yang kehidupan masyarakatnya tumbuh dalam kebaikan, kesejahteraan, dan keberkahan, dengan kesadaran bahwa seluruh nikmat pada akhirnya berasal dari Allah SWT.

Negeri yang baik tidak lahir hanya karena pemerintah yang baik. Ia lahir dari pertemuan antara pemerintahan yang bekerja dan masyarakat yang ikut bekerja.

Pemerintah mempunyai kewajiban. Rakyat mempunyai kewajiban. Media mempunyai kewajiban. Akademisi mempunyai kewajiban. Pengusaha mempunyai kewajiban. Tokoh agama mempunyai kewajiban. Dan kita, sebagai individu, juga mempunyai kewajiban.

Jangan semuanya kita serahkan kepada pemerintah. Sebab Indonesia bukan hanya urusan mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Indonesia adalah urusan kita semua.

***

Pada usia 81 tahun ini, mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit cara mencintai Indonesia. Tidak cukup dengan bendera. Tidak cukup dengan upacara. Tidak cukup dengan lagu. Tidak cukup dengan kritik. Mari bekerja.

Kalau kita petani, bertanilah dengan baik. Kalau kita nelayan, jagalah laut. Kalau kita guru, didiklah anak bangsa. Kalau kita akademisi, berikan ilmu yang berguna. Kalau kita pengusaha, bangunlah usaha yang membuka pekerjaan. Kalau kita pejabat, tunaikan amanah.Kalau kita wartawan, beritakan kebenaran dengan tanggung jawab. Kalau kita pengguna media sosial, jangan jadikan jempol sebagai senjata untuk memecah persaudaraan.

Dan kalau kita belum mampu melakukan semuanya, setidaknya jangan menambah kerusakan. Sebab mencintai Indonesia tidak selalu harus dengan melakukan sesuatu yang besar. Kadang-kadang mencintai Indonesia cukup dengan tidak membuat Indonesia semakin buruk.

Delapan puluh satu tahun merdeka adalah usia untuk menjadi dewasa. Kita tidak perlu terus-menerus bertengkar tentang siapa yang paling nasionalis. Kita tidak perlu sibuk membuktikan bahwa kelompok kitalah yang paling mencintai negeri.

Lebih baik kita bertanya: Apa yang sudah saya berikan kepada Indonesia? Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada: Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya? Karena bangsa yang dewasa bukan bangsa yang hanya pandai menuntut.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang tahu bersyukur, tahu bekerja, tahu mengkritik, tahu menghargai perbedaan, dan tahu menjaga rumah besarnya. Rumah itu bernama Indonesia.

Maka pada 17 Agustus 2026 nanti, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang dan Sang Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang, marilah kita tidak hanya berdiri tegak. Mari kita juga menundukkan hati sejenak.

Mensyukuri tanah yang kita pijak. Mensyukuri air yang kita minum. Mensyukuri udara yang kita hirup. Mensyukuri kekayaan alam yang Allah titipkan. Dan mensyukuri kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Kemudian setelah upacara selesai, setelah lagu berhenti, setelah bendera berkibar sendirian di langit pagi, marilah kita kembali bekerja. Sebab Indonesia yang berdaulat, adil, makmur dan baldatun thayyibatun tidak akan lahir dari nyanyian semata.

Ia lahir dari rasa syukur yang berubah menjadi kerja, kritik yang berubah menjadi perbaikan, dan kemerdekaan yang berubah menjadi pengabdian. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan hanya karena kita bebas dari penjajahan. Merdeka adalah ketika kita mampu menjadi bangsa yang bersyukur atas nikmat Allah, menjaga persaudaraan, mengelola kekayaan negeri dengan amanah, dan bekerja bersama untuk kemakmuran. Jangan hanya bernyanyi. Mari berkontribusi. [T]

Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Next Post

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co