15 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka!

Tahun ini kita memperingati 81 tahun Indonesia merdeka. Sebuah usia yang tidak lagi muda. Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang sebuah bangsa. Anak-anak yang lahir pada hari kemerdekaan 1945, jika masih hidup, kini telah berusia lebih dari delapan puluh tahun. Mereka telah menyaksikan negeri ini melewati berbagai zaman: pergantian pemerintahan, krisis ekonomi, perubahan sosial, revolusi teknologi, bahkan berbagai kegaduhan politik.

Tetapi barangkali ada pertanyaan sederhana yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: Setelah 81 tahun merdeka, apa yang sudah kita lakukan untuk negeri ini?

Tema kemerdekaan tahun ini, Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, sesungguhnya bukan sekadar rangkaian kata yang dipasang di spanduk, baliho, atau latar belakang panggung upacara. Ia adalah cita-cita yang mengandung tanggung jawab.

Berdaulat berarti kita menjadi tuan di negeri sendiri. Adil berarti kemerdekaan tidak hanya menjadi milik mereka yang kuat, kaya, dekat dengan kekuasaan, atau memiliki akses terhadap berbagai sumber daya. Makmur berarti kekayaan negeri ini tidak berhenti menjadi angka dalam laporan pembangunan, tetapi benar-benar menjadi kesejahteraan yang dirasakan rakyat.

Bukankah negeri ini luar biasa kaya? Kita memiliki laut yang luas, tanah yang subur, hutan, gunung, sungai, hujan, iklim tropis, mineral, energi, serta kekayaan hayati yang tidak sedikit. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap jengkal tanah dan setiap bentang laut menyimpan potensi.

Dan kita tahu, kekayaan itu bukan semata-mata hasil kerja manusia. Ada sesuatu yang lebih besar dari kemampuan kita untuk menciptakannya. Allah SWT yang memiliki seluruh kekayaan itu.

Tanah yang kita pijak bukan kita yang menciptakan. Air yang kita minum bukan kita yang membuatnya. Hujan yang turun bukan hasil rekayasa manusia. Laut yang membentang bukan kita yang membangunnya. Matahari yang menerangi bumi tidak pernah mengirimkan tagihan kepada kita.

Maka, sebelum berbicara tentang kekayaan Indonesia, barangkali kita perlu belajar kembali satu kata yang sering kita ucapkan tetapi kadang lupa kita praktikkan: Syukur.

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah menggunakan nikmat sesuai dengan maksud diberikannya nikmat itu.

Kalau kita diberi tanah yang subur, syukurnya adalah mengelolanya dengan baik. Kalau kita diberi laut yang luas, syukurnya adalah menjaganya, bukan menghabiskannya. Kalau kita diberi hutan, syukurnya adalah merawatnya, bukan menebangnya tanpa batas.

Kalau kita diberi ilmu, syukurnya adalah menggunakannya untuk mencerdaskan, bukan memperdaya. Dan kalau kita diberi kemerdekaan, syukurnya adalah mengisinya dengan kerja, keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab.

Karena itu, saya sering merasa agak aneh melihat sebagian kita yang begitu mudah mencintai Indonesia ketika berada di panggung, tetapi begitu mudah pula mencaci Indonesia ketika tidak berada di lingkaran kekuasaan.

Ketika pemerintah membuat kebijakan, kita berteriak. Ketika pemerintah tidak membuat kebijakan, kita juga berteriak. Ketika pemerintah membangun, dicari kesalahannya. Ketika belum membangun, dituduh tidak bekerja. Kritik tentu penting.

Saya sendiri tidak pernah menganggap kritik sebagai musuh pembangunan. Pemerintah justru membutuhkan kritik. Pers membutuhkan kebebasan. Akademisi membutuhkan ruang untuk berbeda pendapat. Masyarakat sipil harus tetap dapat mengawasi kekuasaan.

Tetapi ada perbedaan antara kritik dan provokasi. Ada perbedaan antara mengawasi dan mengganggu. Ada perbedaan antara berbeda pendapat dan sengaja membuat bangsa kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

Kritik seharusnya membuat kita lebih baik. Bukan membuat kita saling membenci. Kritik seharusnya menunjukkan jalan keluar. Bukan hanya menunjukkan kesalahan. Kritik seharusnya lahir dari kecintaan kepada negeri. Bukan dari kebencian karena seseorang tidak berada di dalam lingkaran kekuasaan.

Maka, kepada pemerintah: jangan alergi terhadap kritik. Kepada masyarakat: jangan menjadikan kritik sebagai alasan untuk terus-menerus menciptakan kegaduhan. Dan kepada kita semua: jangan hanya bernyanyi.

Jangan hanya menyanyikan Indonesia Raya setahun sekali, sementara sepanjang tahun kita merusak persaudaraan. Jangan hanya menyanyikan Bagimu Negeri, tetapi ketika mendapatkan kesempatan mengabdi justru bertanya, “Apa yang saya dapat?”

Jangan hanya menyanyikan Hari Merdeka, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih senang mengambil hak orang lain. Kemerdekaan bukan lagu. Kemerdekaan adalah perilaku. Kemerdekaan adalah ketika seorang petani dapat hidup layak dari tanahnya.

Ketika nelayan tidak merasa menjadi orang asing di lautnya sendiri. Ketika guru dapat mendidik dengan tenang. Ketika anak-anak dari keluarga sederhana memiliki kesempatan memperoleh pendidikan yang baik.

Ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Ketika pelayanan publik tidak membedakan manusia berdasarkan isi dompetnya.

Dan ketika kekayaan alam negeri ini dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Maka marilah kita membantu pemerintah mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Membantu tidak berarti kehilangan sikap kritis. Mendukung tidak berarti harus menjadi bagian dari pemerintah. Mengkritik tidak berarti harus menjadi musuh pemerintah.

Kita bisa berbeda pilihan politik, tetapi tetap memiliki satu rumah bernama Indonesia. Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan rasa memiliki terhadap negeri sendiri.

Sebab pemerintah akan berganti. Presiden akan berganti. Menteri akan berganti. Partai politik akan berganti. Tetapi Indonesia tetap milik kita bersama.

Di sinilah barangkali makna baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur menemukan relevansinya: negeri yang baik, yang kehidupan masyarakatnya tumbuh dalam kebaikan, kesejahteraan, dan keberkahan, dengan kesadaran bahwa seluruh nikmat pada akhirnya berasal dari Allah SWT.

Negeri yang baik tidak lahir hanya karena pemerintah yang baik. Ia lahir dari pertemuan antara pemerintahan yang bekerja dan masyarakat yang ikut bekerja.

Pemerintah mempunyai kewajiban. Rakyat mempunyai kewajiban. Media mempunyai kewajiban. Akademisi mempunyai kewajiban. Pengusaha mempunyai kewajiban. Tokoh agama mempunyai kewajiban. Dan kita, sebagai individu, juga mempunyai kewajiban.

Jangan semuanya kita serahkan kepada pemerintah. Sebab Indonesia bukan hanya urusan mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Indonesia adalah urusan kita semua.

***

Pada usia 81 tahun ini, mungkin sudah waktunya kita mengubah sedikit cara mencintai Indonesia. Tidak cukup dengan bendera. Tidak cukup dengan upacara. Tidak cukup dengan lagu. Tidak cukup dengan kritik. Mari bekerja.

Kalau kita petani, bertanilah dengan baik. Kalau kita nelayan, jagalah laut. Kalau kita guru, didiklah anak bangsa. Kalau kita akademisi, berikan ilmu yang berguna. Kalau kita pengusaha, bangunlah usaha yang membuka pekerjaan. Kalau kita pejabat, tunaikan amanah.Kalau kita wartawan, beritakan kebenaran dengan tanggung jawab. Kalau kita pengguna media sosial, jangan jadikan jempol sebagai senjata untuk memecah persaudaraan.

Dan kalau kita belum mampu melakukan semuanya, setidaknya jangan menambah kerusakan. Sebab mencintai Indonesia tidak selalu harus dengan melakukan sesuatu yang besar. Kadang-kadang mencintai Indonesia cukup dengan tidak membuat Indonesia semakin buruk.

Delapan puluh satu tahun merdeka adalah usia untuk menjadi dewasa. Kita tidak perlu terus-menerus bertengkar tentang siapa yang paling nasionalis. Kita tidak perlu sibuk membuktikan bahwa kelompok kitalah yang paling mencintai negeri.

Lebih baik kita bertanya: Apa yang sudah saya berikan kepada Indonesia? Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada: Apa yang sudah Indonesia berikan kepada saya? Karena bangsa yang dewasa bukan bangsa yang hanya pandai menuntut.

Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang tahu bersyukur, tahu bekerja, tahu mengkritik, tahu menghargai perbedaan, dan tahu menjaga rumah besarnya. Rumah itu bernama Indonesia.

Maka pada 17 Agustus 2026 nanti, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang dan Sang Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang, marilah kita tidak hanya berdiri tegak. Mari kita juga menundukkan hati sejenak.

Mensyukuri tanah yang kita pijak. Mensyukuri air yang kita minum. Mensyukuri udara yang kita hirup. Mensyukuri kekayaan alam yang Allah titipkan. Dan mensyukuri kemerdekaan yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Kemudian setelah upacara selesai, setelah lagu berhenti, setelah bendera berkibar sendirian di langit pagi, marilah kita kembali bekerja. Sebab Indonesia yang berdaulat, adil, makmur dan baldatun thayyibatun tidak akan lahir dari nyanyian semata.

Ia lahir dari rasa syukur yang berubah menjadi kerja, kritik yang berubah menjadi perbaikan, dan kemerdekaan yang berubah menjadi pengabdian. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan hanya karena kita bebas dari penjajahan. Merdeka adalah ketika kita mampu menjadi bangsa yang bersyukur atas nikmat Allah, menjaga persaudaraan, mengelola kekayaan negeri dengan amanah, dan bekerja bersama untuk kemakmuran. Jangan hanya bernyanyi. Mari berkontribusi. [T]

Tags: HUT Kemerdekaan RIkemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

Next Post

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co